Winny adalah seorang gadis preman yang pekerjaannya selalu berhubungan dengan nyawa. Malam itu dia berada di sirkuit balap mobil, ketika dia hendak sampai di garis finis tiba-tiba mobilnya mengeluarkan api di bagian mesin. suara ledakan terdengar begitu keras, cahaya putih tiba-tiba muncul dan membawa Winny pergi ke suatu tempat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shafrilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3 Reinkarnasi
Nyawa si wanita melayang tanpa ada yang menolongnya, namun seorang pelayan wanita hanya bisa menangis ketika kedua tangannya diikat. Dia hanya bisa meratapi junjungannya yang sudah tidak bernyawa.
"Yang mulia, permaisuri sudah meninggal." ucap tabib yang mendekat.
Kaisar terdiam, dia menatap wanita yang sudah dia nikahi beberapa tahun itu, namun sayangnya Kaisar tidak pernah menyentuhnya bahkan menginjakkan kakinya di paviliun sang permaisuri pun tidak pernah ia lakukan.
"Jadi dia sudah mati ya, kalau begitu seret tubuhnya dan makamkan dia, tidak usah ada acara kematian di istana untuk wanita tidak tahu diri itu." jawab Kaisar dengan nada dingin. Tak ada rasa bersalah, tak ada penyesalan diraut wajahnya, hanya tergambar kekesalan dan sakit hati.
Berbeda dengan seorang wanita tua yang tidak lain adalah ibu suri, wanita tua itu baru mendapatkan kabar bahwa permaisuri telah meninggal di tangan putranya. "Apa maksudmu?!" teriak ibu suri dengan keras.
"Hamba barusan mendapatkan kabar Ini dari para pelayan, Ibu suri." jawab dayang Jung.
"Bagaimana bisa yang mulia Kaisar melakukan hal itu pada istrinya hanya gara-gara selir rendahan itu! dia berani menghabisi nyawa istrinya!" teriak ibu suri dengan amarah yang begitu luar biasa, dia segera mengajak dayang Jang untuk ke paviliun sang Kaisar.
seorang wanita diletakkan di peti mati seadanya, peti mati tua tanpa ada acara sembahyang. Pelayan bernama Yura terus menangis permaisuri, tubuh yang sudah menjadi mayat kulit berwarna coklat itu perlahan berubah warna sedikit putih pucat tanpa ada darah yang mengalir, tak ada dayang ataupun pelayan yang datang ke tempat itu, hanya beberapa orang yang memberanikan diri untuk pergi ke paviliun kosong yang sekarang ditempati oleh mayat permaisuri.
Suara isak tangis terdengar begitu memilukan, ibu suri dan dayang Jung yang baru datang ke tempat itu nampak mereka berdua langkahnya terhenti, menatap pelayan sang permaisuri yang terus menangis. seketika tubuh ibu suri terhuyung, tubuhnya gemetar mulutnya tidak bisa berucap ketika melihat tubuh pucat dari permaisuri.
"Oh dewa... bagaimana bisa terjadi, bagaimana ini bisa terjadi." ucap ibu suri berulang kali. air matanya menetes berlinang perlahan ketika dia melihat tubuh pucat yang belum kaku itu.
"Mengapa yang mulia Kaisar begitu kejam, yang mulia." ucap pelan dayang Jung ketika melihat mayat dari permaisuri kerajaan Hanzo.
Tak ada upacara kematian, namun Kaisar Han Yuan-zi yang berada di kamarnya Dia hanya bisa terdiam tanpa berucap, entah dia merasa bersalah atau dia merasa bahagia, namun dengan tangannya sendiri dia telah membunuh istrinya.
Melihat Kaisar Han diam tanpa mengatakan apapun, selir Jia-li benar-benar merasa tidak senang, niat hati sudah tercapai namun sang Kaisar terlihat begitu murung. tak ada kata namun hati jahatnya terus berbisik untuk memprovokasi sang Kaisar.
"Akhirnya wanita itu sudah meninggalkan kita, yang mulia. Aku tidak akan disiksa lagi, aku tidak akan menderita lagi." ucap selir Jia yang terlihat berpura-pura kesakitan. dia memeluk Kaisar Han dengan air mata penuh kepalsuan.
"Kamu tenang saja, dia tidak akan pernah menyakitimu, Dia adalah wanita jahat yang pantas mendapatkan hukuman ini." jawab Kaisar Han setelah mengatakan itu dia mengajak selir kesayangannya itu untuk segera tidur.
Ketika sang Kaisar terlelap dalam mimpinya, tiba-tiba mimpi buruk terus melandanya mimpi mengenai kematian permaisurinya. siksaan yang terus dia berikan karena hasutan dari selirnya sang Kaisar bermimpi didatangi oleh permaisuri Ling Mina. di dalam mimpi itu sang permaisuri terus menangis bahkan dia terus menyebutnya penjahat, sesaat kemudian Kaisar Han terbangun dari tidurnya, wajahnya dipenuhi dengan keringat dengan jantung yang berdebar begitu kencang.
Di tempat permaisuri Ling, tiba-tiba saja angin berhembus kencang, ibu suri, dayang Jung serta pelayan Yura masih bersimpuh mereka menangisi permaisuri Ling yang sudah meninggal.
Zdarrrr!!!
tiba-tiba saja petir menyambar dengan begitu hebatnya, petir itu menyambar tepat di atas atap tempat permaisuri Ling.
"Oh dewa, apa yang terjadi?" ucap ibu suri dan dayang Jung.
Setelah petir menyambar dan angin berhembus kencang, peti mati sang permaisuri mulai bergoyang, hal itu membuat ibu suri, dayang Jung dan pelayan Yura langsung terkejut. Mereka berteriak kemudian saling memeluk satu sama lain.
"Aduh..., kepalaku sakit sekali." ucap seorang wanita yang ada di peti mati. wanita yang tidak lain permaisuri dan yang berada di dalam tubuh permaisuri adalah Winny.
"Aaaaa!!!!" teriakan itu menggema memenuhi ruangan gelap, membelah keheningan yang mencekam. Dari balik tutup peti mati yang tampak rapuh, perlahan sebuah tangan pucat muncul, menggenggam udara dengan jari-jari yang menggigil seolah berusaha meraih kehidupan.
Ibu Suri dan pelayan Yura menatap dengan mata membelalak, napas mereka tercekat oleh ketakutan yang tiba-tiba menyergap. "Hantu! Hantu!" jerit Dayang Jung sambil mundur tergesa-gesa, wajahnya berubah pucat pasi. Tubuhnya yang gemetar tak mampu menahan serangan panik, hingga akhirnya ia terjatuh lemas dan terkulai tak sadarkan diri di lantai. Suasana berubah menjadi neraka kecil, dengan bisikan ketakutan dan tatapan panik yang saling bertukar, seakan-akan peti itu menyimpan sesuatu yang tak seharusnya bangkit dari kematian.
Winny membuka matanya perlahan, tubuhnya masih terasa berat dan kepala berdenyut samar akibat tidur yang terganggu. Tiba-tiba, teriakan nyaring mengusiknya. "Suara siapa sih yang berisik banget? Kalian tidak tahu apa aku ini baru bangun!" seru Winny dengan geram, dia kemudian terduduk sambil mengerutkan kening. Matanya menatap dua sosok wanita yang berdiri.
Winny mengerjapkan matanya, bingung dan waspada, mencoba memahami situasi aneh ini. "Kalian ini siapa?" tanyanya dengan suara tajam, menahan amarah yang mulai berubah menjadi kekhawatiran. Wajahnya yang biasanya tenang kini memancarkan kebingungan.
"Aaaaa!!" teriak ibu suri dan pelayan Yura secara bersamaan, tangan mereka menunjuk ke arah peti mati, setelah itu ibu suri dan pelayan Yura ikut pingsan.
"Aduh... kok mereka pada pingsan sih." ucap Winny yang hendak menolong namun sesaat kemudian dia merasakan tubuhnya remuk redam. "Aku seperti habis dihajar para preman." ucapnya. setelah itu dia melihat tangannya yang dipenuhi dengan luka juga kepalanya terasa sakit.
Winny menatap di sekitar tempatnya berada, tempat yang asing, tempat yang mirip dengan bangunan lama. "Ini di mana?" ucapnya sembari menggaruk kepala. setelah itu dia melihat tubuhnya memakai pakaian putih, menatap tempatnya berada bukan di atas ranjang melainkan di dalam peti mati.
"Ini?" ucap Winny kebingungan, setelah itu dia keluar dari peti mati sembari menatap peti itu dengan seksama. "Oh my god..., aku berada di dalam peti mati?" ucapnya bingung. setelahnya dia menaruh jari telunjuknya di dahi, mengingat kembali kalau dia berada di arena balap mobil. "Bukankah aku berada di sirkuit balap mobil? lalu kenapa tiba-tiba berada di sini?" Winny kebingungan. Dia menarik pakaiannya sembari memperhatikan di sekitarnya, dia tidak memperdulikan tiga wanita yang pingsan di tempat itu.
"Dayang Jung mulai tersadar, dia menggelengkan kepalanya kemudian melihat di sampingnya ibu suri dan pelayan Yura sudah pingsan. "Kenapa aku mimpi aneh?" ucap dayang Jung yang kemudian menatap ke depan. di depannya wanita yang seharusnya meninggal itu malah sekarang berjalan-jalan memutar bahkan Dia seolah mencari sesuatu. "Ha.. Ha..han...," dayang Jung kemudian kembali pingsan.
*Bersambung*
semangat berkaryaa