Slamet, seorang pengangguran yang hobi main game dan punya utang pinjol (pinjaman online) di 12 aplikasi berbeda, saking frustasinya, dia mencoba melakukan ritual pesugihan yang dia temukan di grup Facebook "Cepat Kaya Tanpa Kerja".
Bukannya dapat emas setumpuk, Slamet malah salah kirim sesajen. Dia malah melakukan kontrak kerja dengan Koperasi Makhluk Halus Nasional. Ternyata, dunia ghaib sedang mengalami krisis eksistensi karena manusia zaman sekarang sudah tidak takut setan (lebih takut tagihan cicilan).Slamet tidak jadi tumbal, tapi dipekerjakan sebagai "Manager Citra & Viralitas" untuk hantu-hantu lokal supaya mereka bisa eksis lagi di TikTok dan menakuti manusia modern. Komedinya muncul dari Slamet yang harus mengajari Kuntilanak cara skincare-an biar nggak kusam saat live streaming, atau Pocong yang minta dicarikan jasa lari maraton karena bosan lompat terus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skincare untuk Kuntilanak
Bangun tidur dengan tanda 'Verified' biru di pergelangan tangan ternyata lebih berat daripada bangun dengan hangover. Slamet menatap tangannya, berharap itu cuma tato temporer hadiah permen karet. Tapi tidak, logo itu bercahaya redup setiap kali ada makhluk halus lewat di depan rumahnya.
"Slamet! Kamu itu ya, jam segini belum bangun! Itu di depan ada yang mengetok pintu dari tadi, suaranya kayak kucing kejepit!" teriak ibunya dari dapur.
Slamet tersentak. Kucing kejepit? Dia punya firasat buruk. Dengan nyawa yang belum terkumpul genap, dia membuka pintu depan. Benar saja, di balik pintu, tidak ada siapa-siapa secara kasat mata. Tapi bagi Slamet yang sudah 'terkoneksi' dengan server K.MN, dia melihat sesosok wanita berbaju putih kusam sedang jongkok sambil sesenggukan.
"Mbak... kalau mau nangis jangan di keset kaki saya dong, itu baru saya cuci," tegur Slamet pelan supaya ibunya nggak dengar.
Wanita itu menoleh. Rambutnya berantakan mirip sapu ijuk yang kena ledakan gas elpiji. Mukanya pucat, tapi bukan pucat mistis, melainkan pucat karena kurang nutrisi dan kebanyakan polusi Jakarta.
"Kamu... Mas Slamet yang katanya Manager Citra itu ya?" tanya si Kuntilanak dengan suara serak. "Kenalin, nama panggung saya Kunti Sari. Tapi netizen panggil saya 'Mbak Kunti Jamet'."
Slamet menghela napas, dia menarik kursi plastik ke teras dan duduk berhadapan dengan hantu itu. "Oke, Mbak Sari. Masalahnya apa? Kenapa sampai dipanggil Jamet?"
Kunti Sari mulai menangis lagi, kali ini suaranya lebih melengking, mirip rem bus ekonomi yang blong. "Mas, saya ini hantu legendaris! Dulu, orang denger suara saya aja langsung pingsan. Sekarang? Kemarin saya coba nakutin anak-anak kost di sebelah, mereka malah bilang, 'Eh, ada cosplayer gagal nih, bajunya kuning banget kayak jarang pake deterjen'. Terus ada satu cowok malah nanya, 'Mbak, pake skincare apa? Kok mukanya breakout parah gitu?'"
Slamet menatap wajah Sari dengan seksama. Dia mulai paham. "Ya wajar sih, Mbak. Mbak Sari tinggal di mana?"
"Di pohon mangga depan gudang rongsokan, Mas."
"Nah! Itu masalahnya! Lingkungan kerja Mbak nggak sehat. Debu rongsokan, asap knalpot, terus Mbak nggak pernah ngerawat diri. Hantu itu harus punya *brand identity*. Kalau Mbak penampilannya kayak begini, jangankan manusia, tikus aja kasihan liat Mbak."
Slamet masuk ke kamar, mengambil sisa gaji ojolnya yang tinggal beberapa puluh ribu, lalu pergi ke minimarket depan. Dia membeli satu botol air mawar, kapas, dan bedak dingin.
"Nih," kata Slamet sambil menyodorkan belanjaannya. "Kita mulai dengan rebranding . Pertama, baju Mbak itu harus putih bersih, bukan putih tulang yang menjurus ke cokelat tanah. Kedua, rambut Mbak jangan dibiarin nutupin muka semua, kasih sedikit curtain bangs biar kelihatan misterius tapi elegan."
"Tapi Mas, modalnya gimana? Saya nggak punya duit manusia," keluh Sari.
"Tenang, ini investasi. Nanti kalau Mbak viral karena 'Penampakan Hantu Paling Glowing 2024', komisi saya jangan lupa. Sekarang, ikutin instruksi saya. Kita bikin konten TikTok 'A Day in My Life as a Ghost' tapi versi estetik."
Slamet mulai mengarahkan. Dia menggunakan HP-nya yang layarnya retak seribu itu untuk merekam. Dia mengatur pencahayaan dari lampu teras.
"Oke, Mbak Sari. Sekarang Mbak berdiri di bawah pohon beringin, tapi jangan ketawa melengking dulu. Mbak senyum tipis aja, terus tatap kamera dengan tatapan 'I'm judging your life choices' . Itu lebih nakutin buat orang zaman sekarang daripada suara ketawa."
Proses syuting berlangsung alot. Ternyata mengarahkan hantu lebih susah daripada mengarahkan kucing buat mandi. Kunti Sari berkali-kali lupa naskah, atau tiba-tiba menghilang karena ada tukang bakso lewat (dia takut kena kuah panas).
"Mas Slamet, ini beneran bakal berhasil?" tanya Sari ragu sambil mengoleskan bedak dingin ke pipinya yang bolong sebelah.
"Percaya sama saya. Orang zaman sekarang itu nggak takut sama setan yang serem, mereka takut sama sesuatu yang 'beda'. Kita bikin narasi kalau Mbak ini adalah hantu yang sadar kesehatan mental. Judul kontennya: Self Care di Alam Baka ."
Sore harinya, Slamet mengedit video itu dengan musik yang lagi trending. Dia menambahkan caption: "Capek dihujat manusia karena muka kusam, saatnya hantu juga butuh glow up. #Ghost Life #Skincare Routine #Hantu Glowing #K.MN".
Baru satu jam diunggah, notifikasi HP Slamet meledak.
1.Luar Biasa_99: "Anjir, setannya pake toner! Lebih rajin daripada gue!"
Netizen Julid: "Ini hantu di mana? Mau nanya shade bedaknya, bagus banget buat nutupin dosa."
3.Pencinta Misteri: "Ini kayaknya editan, tapi kok bayangannya nggak ada ya? Keren sih marketingnya!"
Slamet tersenyum puas. Tiba-tiba, pergelangan tangannya bergetar hebat. Logo Verified-nya menyala hijau terang. Sebuah pesan masuk dari Pak Gendut:
[Pesan: Kerja bagus, Met! Kunti Sari masuk FYP. Rating ketakutan di sektor Jakarta Timur naik 15% karena banyak orang yang nggak berani ke kamar mandi bukan karena takut setan, tapi karena malu mukanya kalah glowing sama setan. Bonus pertama kamu sudah saya transfer ke saldo 'Ghaib-Pay'. Cek deh.]
Slamet buru-buru mengecek saldo aplikasi pinjolnya. Angka tujuh juta itu tiba-tiba berkurang menjadi lima juta.
"Alhamdulillah," gumam Slamet. "Ternyata jadi babu setan lebih menghasilkan daripada jadi babu korporat."
Tapi kesenangan Slamet tidak lama. Di depan rumahnya, sudah mengantre tiga hantu lainnya. Ada Pocong yang minta dicarikan jasa lulur karena kain kafannya gatal-gatal, dan Tuyul yang protes karena dia pengen pensiun dini mau jadi crypto miner saja.
Slamet memijat pelipisnya. "Satu-satu ya, Bapak-Ibu Makhluk Halus! Yang nggak bawa materai sepuluh ribu, silakan balik kanan!"
Tiba-tiba, dari arah jalan raya, sebuah motor gede berhenti di depan rumah Slamet. Pengendaranya memakai jaket kulit hitam, kacamata hitam, dan membawa tas koper besar. Dia turun dan melepas helmnya. Wajahnya ganteng, tapi tatapannya dingin.
"Slamet? Saya dari Divisi Audit K.MN Pusat," kata pria itu. "Ada laporan kamu menggunakan fasilitas ghaib untuk kepentingan pribadi. Ikut saya ke kantor pusat di TPU Jeruk Purut. Sekarang."
Slamet menelan ludah. "Waduh, Pak... saya baru mau mulai kerja, masa udah kena sidak?"
"Jangan banyak tanya. Nyi Blorong mau ketemu kamu. Beliau dengar kamu bisa bikin hantu jadi viral, dan dia mau kamu bikin kampanye buat 'Pemilihan Ketua Umum Alam Baka' tahun depan."
Slamet menoleh ke arah ibunya yang masih sibuk di dapur, lalu ke arah kerumunan hantu di terasnya. Realita memang lebih kejam daripada setan; baru punya kerjaan sehari, tanggung jawabnya sudah seberat dosa riba.