Bagi Syren Fauzana, nasib sial itu bentuknya nyata: menabrak pria angkuh di lobi kantor, merusakkan jam tangannya yang "kelihatan butek", dan dengan berani menuduh pria itu penipu.
Syren pikir urusannya selesai setelah ia memaki pria itu. Namun, dunianya runtuh saat ia masuk ke ruang wawancara dan menemukan pria "penipu" yang sama duduk di kursi CEO dengan senyum menyeringai.
Satu jam tangan rusak, utang seratus juta, dan sebuah kontrak kerja paksa tanpa gaji. Syren terjebak. Ia tidak tahu bahwa menjadi sekretaris Julian Aldrin bukan sekadar soal melunasi utang, tapi awal dari drama panjang yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terjebak Nostalgia: Syren Dilema Antara Gio dan Julian
"Aduhh, kebelet pipis nih gue!" seru Syren sambil memegangi perutnya.
"Gue ke toilet dulu ya!"
"Hati-hati, Ren!" balas Gaby, Ardi, dan Lea hampir bersamaan.
Syren pun berlari kencang mencari toilet terdekat. Setelah selesai dan merasa lega, Syren keluar dari toilet untuk melanjutkan berbelanja. Pikirannya sudah tertuju pada toko sepatu selanjutnya. Syren berlari kecil di koridor mal yang ramai.
Di jalan, tiba-tiba...
Brukk!
Syren menabrak sesuatu yang keras yang pasti bukan beton, tapi mirip seperti daging manusia. Tubuhnya oleng ke belakang, tapi tangan yang kokoh segera menahannya. Syren menoleh ke atas, pandangannya bertemu dengan sepasang mata yang sangat familiar.
"Gio!" ucap Syren kaget setengah mati.
"Syren," balas Gio, ekspresinya sulit diartikan. Gio pun membantu Syren berdiri tegak.
"Aduhh," keluh Syren, memegangi kakinya yang terasa nyeri luar biasa.
"Kenapa, Ren?" tanya Gio panik.
"Eh, nggak tahu, sakit," jawab Syren, wajahnya meringis menahan sakit di pergelangan kakinya.
Gio pun berjongkok, mengecek kaki Syren dengan hati-hati. "Kayaknya terkilir, nih. Sini biar aku bantu," ucap Gio.
Tanpa aba-aba, Gio langsung menggendong Syren ala bridal style. Syren yang kaget langsung memukul dada Gio pelan.
"Gio, nggak usah! Turunin aja! Malu dilihat orang!" protes Syren, wajahnya memerah karena menjadi pusat perhatian di tengah mal.
"Nggak apa-apa, Syren. Pasti kaki kamu sakit banget. Kita ke klinik mal dulu, ya," balas Gio lembut, mengabaikan protes Syren dan mulai berjalan menuju klinik terdekat.
"Lama bener deh Syren," keluh Gaby.
"Udah sepuluh menitan, lho, Mbak. Apa kita cari aja?" tanya Ardi dan Lea yang mulai khawatir.
"Ya udah, kita cari aja. Takutnya nyasar, udah setahun nggak ke sini," jawab Gaby akhirnya setuju.
Mereka pun akhirnya mencari Syren, berpencar di area sekitar toko sepatu dan food court.
Sementara itu...
Syren tampak malu dalam gendongan Gio, menjadi pusat perhatian orang-orang yang melintas. Gio dengan langkah mantap membawanya ke klinik mal.
Gio meletakkan Syren di kasur UKS dengan hati-hati. "Aku urut, ya, kaki kamu?"
"Iya," jawab Syren singkat, menahan napas.
Gio dengan hati-hati memegang kaki Syren dan mulai mengurutnya perlahan. Syren meringis kecil menahan nyeri, tapi sentuhan Gio terasa lembut dan familiar, membuatnya sedikit rileks.
"Masih sakit banget, Ren?" tanya Gio, tatapannya penuh kekhawatiran.
"Lumayan," jawab Syren singkat, mencoba mengalihkan pandangannya dari wajah Gio yang begitu dekat. Jantungnya berdebar kencang, bingung dengan perasaannya sendiri; antara sakit di kaki dan rasa canggung karena mantan terindahnya merawatnya.
"Makasih, Gio," ucap Syren pelan, kakinya sudah terasa sedikit lebih baik setelah diurut.
"Sama-sama." Gio pun membantu Syren berdiri, namun karena kaki Syren masih terasa nyeri, Gio kembali membopongnya dan keluar dari UKS. Syren hanya bisa pasrah, menyembunyikan wajahnya yang memerah di bahu Gio.
"Kamu sama siapa ke sini, Syren?" tanya Gio pada Syren sambil berjalan menuju area mal.
"Sama Gaby, Ardi, dan Lea," jawab Syren. "Mereka lagi nunggu di toko sepatu."
"Kamu sendiri sama siapa ke sini?" tanya Syren balik, penasaran.
"Sendiri. Sebenarnya aku ke sini mau beliin kamu boneka," jawab Gio, suaranya terdengar lembut. "Untung kamu ke sini, kamu pilih sendiri ya."
Syren tertegun. Gio masih ingat kebiasaannya dulu yang suka mengoleksi boneka. Hatinya menghangat, namun bayangan Julian dan Vanya kembali melintas.Gio masih ingat banget kebiasaan Syren dan mau beliin boneka! Tapi di sisi lain, Gaby, Ardi, dan Lea pasti sudah panik nyariin Syren yang hilang tiba-tiba.
Gaby, Ardi, dan Lea berlarian menyusuri koridor mal, panik mencari Syren yang menghilang entah ke mana.
"Ren! Syren, lo di mana sih?!" teriak Gaby, mengabaikan tatapan heran pengunjung mal lainnya.
"Udah 20 menit lebih nih, Mbak. Jangan-jangan diculik om-om hidung belang!" celetuk Ardi asal.
"Hus! Sembarangan lo!" semprot Gaby, tapi wajahnya sendiri terlihat khawatir.
Tiba-tiba, Ardi menghentikan langkahnya. Matanya membelalak melihat pemandangan di depannya. "Mbak Gaby... lihat itu!" Ardi menunjuk ke arah kerumunan kecil yang sedang memperhatikan dua orang di tengah mal.
Mereka berempat mendekat dan terkejut setengah mati. Di sana, Gio sedang menggendong Syren ala bridal style! Syren tampak menunduk malu, sementara Gio berjalan santai seolah itu hal paling normal di dunia.
Gaby langsung melotot dan menghampiri mereka. "SYRENNN! LO NGAPAIN DIGENDONG BEGITU?! LO BENERAN PACARAN LAGI SAMA DIA?!" teriak Gaby histeris, membuat satu lantai mal menoleh ke arah mereka.
Syren langsung mengangkat wajahnya yang semerah tomat matang. "Diem lo, Gaby! Malu-maluin! Kaki gue terkilir!" bisik Syren kesal.
"Wihh, gaya juga ya Mas Gio, habis putus setahun lebih langsung to the point gendong pacar! Mbak Syren sih hobi banget bikin drama di tempat umum!" sahut Ardi cekikikan sambil merekam momen langka itu dengan ponselnya. Lea hanya bisa tersenyum malu melihat tingkah heboh Ardi dan Gaby.
Gio hanya tersenyum tipis melihat tingkah teman-teman Syren yang luar biasa heboh itu. "Syren terkilir habis nabrak aku. Kami baru dari klinik," jelas Gio tenang.
"Gio, turunin! Aku bisa jalan sendiri!" protes Syren lagi. Ia sudah cukup malu menjadi tontonan satu mal.
Akhirnya Gio pun menuruti, menurunkan Syren perlahan. Gaby dengan sigap membantu memapah Syren.
"Lo mau balikan nih sama dia, Ren? Pikir dulu lah, Ren," bisik Gaby tepat di telinga Syren, matanya melirik sinis ke arah Gio.
"Udah deh, diem dulu," jawab Syren lirih.
Gio menghampiri Syren dan Gaby. "Syren, kamu mau 'kan aku belikan boneka? Sekarang kamu pilih sesuka kamu," tawar Gio dengan tulus.
Ihhh, kenapa sih Gio romantis banget? batin Syren, hatinya kembali menghangat mengingat masa-masa indah bersama Gio dulu. [INDEX]
"Emm, nggak usah, Gio," tolak Syren halus.
"Udah, nggak apa-apa. Anggap aja permintaan maafku yang dulu," desak Gio.
"Idihh, mau balikan kok beliin boneka? Ya beliin emas lah!" ketus Gaby, membuat Syren langsung menginjak kaki Gaby dengan kakinya yang tidak terkilir.
"Mulut lo ya!" desis Syren kesal.
Syren menatap Gio dengan ragu, tapi tidak bisa menolak ketulusan di mata pria itu. "Eem, ya udah, Gio... makasih."
Syren akhirnya menerima tawaran Gio untuk dibelikan boneka, membangkitkan kembali kenangan manis masa lalu mereka.
Akhirnya mereka pun ke toko boneka. Syren dengan mata berbinar melihat-lihat berbagai koleksi boneka lucu. Matanya tertuju pada boneka beruang berwarna pink dengan mata cokelat cantik yang memegang pita.
"Emm, aku mau ini aja," ucap Syren sambil menunjuk boneka beruang besar itu.
Gio tersenyum melihat Syren yang kembali ceria seperti dulu. "Oke, ambil yang itu."
Setelah selesai berbelanja dan membayar boneka beruang pink Syren, serta beberapa barang belanjaan lainnya, mereka pun pulang dari mal. Ardi dan Lea tampak lelah tapi senang, Gaby masih menggerutu soal emas, sementara Syren tampak bahagia menenteng boneka barunya.
Syren pun sampai rumah dengan sangat bahagia. Setelah Ardi mengantar Lea pulang dan Gaby sudah di rumahnya sendiri, Syren merebahkan tubuhnya di kasur, memeluk erat boneka beruang pink dari Gio.
Ia membuka ponselnya dan mendapat pesan dari Gio.
Gio: "Makasih ya kamu udah mau nerima pemberianku."
"Aaaaaaa!" Syren tampak salting (salah tingkah) menerima pesan dari Gio. Pipinya merona merah.
Syren: "Aku juga makasih, Gio."
Gio: "Sama-sama. Good night, Ciren."
Syren: "Malam, Cio."
Syren mengguling-gulingkan badannya di kasurnya itu, merasa hatinya berbunga-bunga kembali. Kenangan manis bersama Gio seolah terulang lagi.
Tiba-tiba, Syren mendapat notifikasi dari Bos peot .
Bos peot : "Jangan lupa besok kamu saya jemput jam tujuh. Saya sudah sampai di sana."
"Nyebelin banget sih ni orang!" gerutu Syren, mood-nya yang tadinya bagus langsung sedikit rusak. Ia membalas dengan malas.
Syren: "Iya iya Pak Bos, siapp."
Syren meletakkan ponselnya dan memeluk boneka beruangnya lagi. Pikirannya kini bercabang, antara Gio yang romantis dan Julian yang posesif.
denger kelrg mu bangkrut,, lgsg g drestui