NovelToon NovelToon
Bayang Rembulan

Bayang Rembulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:808
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Di tengah kekacauan lima klan bela diri yang saling berebut pengaruh dan rahasia kuno, lahirlah sebuah organisasi bernama bayangan kegelapan. Mereka adalah sekelompok pembunuh bayaran yang dilatih untuk menjadi mesin kematian tanpa emosi, sering kali ditugaskan untuk menghabisi para petinggi klan yang dianggap mengganggu keseimbangan atau menyimpan kekuatan terlarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 - DARAH YANG TERBELAH

Ruangan di balik Gerbang Nadi Bumi bukan lagi sekadar gua batu. Tempat ini adalah katedral kristal yang berdenyut dengan cahaya perak yang menyakitkan mata. Di tengahnya, terikat oleh rantai energi yang menyedot setiap tetes kehidupannya, berdiri seorang wanita yang tampak seperti versi Kaelan yang lebih tua dan rapuh. Namun, fokus Kaelan teralih pada sosok yang berdiri di depan wanita itu—Sang Raja Aliansi.

Pria itu perlahan membuka tudung jubahnya. Wajahnya adalah pemandangan yang mengerikan sekaligus memukau. Ia memiliki struktur tulang yang identik dengan Kaelan, namun setengah dari wajahnya ditutupi oleh pola pembuluh darah perak yang menonjol, seolah-olah energi Inti Bulan telah menyatu secara permanen dengan dagingnya.

"Kau melihat kemiripan itu, bukan?" Sang Raja berbicara, suaranya memiliki getaran yang membuat Qi di dalam tubuh Kaelan bergolak tidak terkendali. "Mereka menyebutku penguasa, tiran, bahkan iblis. Tapi bagimu, aku adalah alasan mengapa kau memiliki bakat untuk membekukan dunia ini."

Kaelan mencengkeram belati hitamnya hingga buku jarinya memutih. Hawa dingin dari Inti Bulan Sejati di dadanya beresonansi dengan pria di depannya. "Siapa kau... sebenarnya?"

Sang Raja melangkah maju, membiarkan cahaya kristal menyinari matanya yang berwarna putih kebiruan murni—tingkat yang bahkan belum dicapai Kaelan sepenuhnya. "Namaku adalah Aristhos. Aku adalah kakak kandung dari wanita yang kau sebut ibu. Dan itu menjadikanku sebagai pamanmu, Kaelan. Kita adalah sisa-sisa terakhir dari Klan Rembulan Kuno, klan yang dikhianati oleh dunia ini dan dipaksa bersembunyi di bawah tanah."

Kaelan tertegun. Ingatannya yang samar tentang desa kayu bakar mulai terasa seperti kebohongan yang sengaja ditanamkan. "Lalu kenapa? Kenapa kau membiarkan adikmu sendiri disiksa seperti ini? Kenapa kau membiarkanku dibuang ke lubang kematian Sekte Gerhana Biru?"

"Karena Klan Rembulan tidak butuh kasih sayang. Kita butuh kebangkitan!" Aristhos berteriak, suaranya menggetarkan kristal-kristal di langit-langit. "Darah kita terlalu murni untuk dunia yang lemah ini. Untuk membuka Gerbang Rembulan dan mengembalikan kejayaan leluhur, dibutuhkan dua kutub energi: Wadah Pasif dan Pedang Aktif. Ibumu adalah wadahnya, yang menstabilkan energi nadi bumi. Dan kau... kau adalah pedang yang harus ditempa dalam neraka kegelapan agar cukup tajam untuk memutus segel dunia."

Kaelan merasakan mual yang luar biasa. Seluruh penderitaannya selama tujuh tahun, setiap ular yang ia makan, setiap nyawa teman yang ia cabut, semuanya adalah skenario yang disusun oleh keluarganya sendiri.

"Kau bukan paman bagiku," bisik Kaelan, auranya berubah dari biru menjadi hitam pekat yang meluap-luap. "Kau hanyalah target yang harus kuhancurkan."

Aristhos tersenyum pahit. "Kebencianmu adalah bahan bakar yang sempurna. Tapi lihatlah ibumu, Kaelan. Jantungnya terhubung langsung dengan Gerbang ini. Jika kau menyerangku dan merusak keseimbangan ruangan ini, dia akan meledak menjadi debu es dalam sekejap. Apakah kau sanggup membunuhnya demi membalaskan dendammu padaku?"

Kaelan melihat ke arah ibunya. Wanita itu perlahan membuka matanya. Di tengah kabut kesakitan, ia menatap Kaelan dengan tatapan yang sangat lembut, sebuah tatapan yang tidak pernah Kaelan rasakan seumur hidupnya. Bibirnya bergerak tanpa suara, mengucapkan satu kata yang bisa dibaca Kaelan: "Lari."

Di atas mereka, suara ledakan terdengar. Pasukan elit Aliansi telah berhasil menjebol pertahanan taman dan mulai turun ke ruang bawah tanah. Kaelan kini terjepit antara pengkhianatan darah keluarganya, ancaman pasukan musuh, dan nyawa ibu yang baru saja ia temukan.

"Pilih, Kaelan!" Aristhos merentangkan tangannya, melepaskan tekanan Qi yang membuat lantai kristal retak. "Menjadi raja di sampingku dan membuka era baru bagi klan kita, atau mati sebagai kegagalan terakhir di kaki ibumu!"

Kaelan mengangkat belatinya, bukan ke arah Aristhos, melainkan ke arah pergelangan tangannya sendiri. Ia menyayat kulitnya, membiarkan darah peraknya mengalir ke lantai kristal. "Aku memilih jalanku sendiri. Jalan yang tidak ditentukan oleh darahmu atau rencana busukmu."

Dengan darahnya sebagai perantara, Kaelan mulai merajut Sutra Rembulan dalam bentuk yang belum pernah dilihat Aristhos—sebuah teknik yang menggabungkan vitalitas hidup dan hawa kematian es.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!