NovelToon NovelToon
Sumpah! Arwah

Sumpah! Arwah

Status: tamat
Genre:Hantu / Horor / Kutukan / Tamat
Popularitas:101.3k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Kematian Tragis Aning membuat desa Kalung Ganu di teror. satu persatu pemuda di temukan mati mengenaskan. ketakutan mulai menyelubungi penduduk desa..

Namun, yang menjadi anda tanya besar siapa pemerkosa dan pembunuh Aning?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dukun sakti Ki Kawi

Menjelang maghrib, suasana di rumah Pak Warsito sudah dipenuhi warga.

Halaman hingga teras dipadati orang-orang yang duduk berkelompok. Beberapa berdiri di pinggir, saling berbisik, menunggu dengan penuh harap.

"Sudah datang belum?"tanya seseorang pelan.

"Katanya sebentar lagi." Sahut yang lain.

Suara langkah kaki terdengar dari arah jalan.Beberapa warga yang berada di depan langsung menoleh. Dan seketika suasana menjadi lebih senyap.

Sosok itu muncul dari ujung jalan.

Seorang pria.

Usianya tidak terlalu tua, sekitar lima puluhan. Wajahnya masih terlihat segar, tidak renta, tapi juga bukan muda. dengan sorot mata yang tajam dan penuh perhitungan.

Dia mengenakan pakaian serba hitam yang longgar. Di bahunya tersampir selendang gelap. Rambutnya tidak terlalu panjang, sedikit bergelombang, dengan beberapa helai putih di sisi kepala.

Di lehernya tergantung kalung-kalung dari benda-benda aneh, batu hitam, potongan kayu kecil, dan sesuatu yang tampak seperti tulang.

Di tangannya, dia membawa tongkat kayu tua.

Langkahnya pelan, tapi mantap.

Saat ia berhenti di depan rumah Pak Warsito, semua mata langsung tertuju padanya. Beberapa warga saling berpandangan.

Namun tidak ada yang berani bertanya.

Pak Warsito yang berdiri di teras sedikit ragu, tapi tetap turun menyambut.

"Silakan, Pak.." Katanya sopan.

Pria itu tidak menjawab.

Hanya mengangguk kecil.

Lalu melangkah naik ke teras.

Tongkatnya menyentuh lantai kayu pelan. Setiap langkahnya terasa menggema di telinga warga.

Bisik-bisik mulai terdengar.

"Itu dia orangnya."

"Kenapa dia diam saja ya.

"Memang begitu kali, orang pintar."

Alih-alih takut, sebagian warga justru semakin kagum.

Mereka menganggap sikap diam itu sebagai tanda kewibawaan.

Sebagai tanda kekuatan.

Dukun itu duduk di lantai bersama dengan Pak Warsito dan beberapa warga.

Matanya kembali menyapu ruangan.

Kini semua warga diam total.

Menunggu.

Dengan harapan yang menggantung.

Pak Yuda berdiri di samping, memperhatikan dengan hati-hati.

Sementara warga lain semakin mendekat, ingin melihat lebih jelas.

Pria itu akhirnya sedikit mengangkat kepalanya.

"Ehm…" Pak Warsito berdehem pelan.

"Terima kasih sudah berkenan datang ke desa kami, Pak." Ucapnya hati-hati.

Dukun itu tetap diam.

Hanya matanya yang bergerak perlahan, menatap Pak Warsito.

Pak Warsito melanjutkan, meski sedikit gugup.

"Kami memanggil panjenengan karena, ada sesuatu yang tidak beres di desa ini."

Beberapa warga langsung menunduk.

Sebagian lain menatap dukun itu penuh harap.

"Kejadian-kejadian aneh sudah terjadi beberapa waktu terakhir." Lanjut Pak Warsito.

"Satu per satu pemuda desa meninggal dengan cara yang tidak wajar."

Suasana langsung terasa semakin berat.

Pak Yuda ikut menimpali.

"Mulai dari Sapri, lalu Herman kemudian Seno."

Beberapa warga bergumam lirih, menyebut nama-nama itu dengan nada takut.

"Dan, semalam ada lagi kejadian, Ki."

Kali ini, dukun itu sedikit mengangkat kepalanya.

Tatapannya langsung tertuju pada Pak Warsito.

Pak Warsito sempat terdiam sesaat, lalu melanjutkan.

"Beberapa pemuda, bahkan melihat penampakan."

Suara bisik-bisik langsung terdengar di antara warga.

"Iya… benar itu."

Pak Yuda menguatkan.

"Mereka melihat sosok yang sudah meninggal, Pak."

Semua mata tertuju pada dukun itu. Namun dia masih belum berbicara.

Lama, hening. Hingga suara napas orang-orang sendiri terasa begitu jelas.

"Hmm… kene iki ora resik."

Suaranya rendah. Serak. Seperti keluar dari tenggorokan yang lama tak dipakai bicara.

Beberapa warga saling pandang.

Pak Warsito menelan ludah.

"Maaf, Ki… maksudnya?"

Ki Kawi tidak langsung menjawab. Ia justru perlahan membuka kain hitam yang sedari tadi ia bawa di sampingnya. Gerakannya tenang. Terukur. Seolah sudah sangat biasa. Dari dalam kain itu, satu per satu benda mulai ia keluarkan.

Pertama,sebuah tengkorak manusia. Bukan tengkorak biasa. Warnanya kehitaman, seperti pernah terbakar. Di bagian dahi, ada guratan aneh, seperti ukiran simbol yang sudah pudar.

Beberapa warga langsung mundur.

"Astagfirullah…" Ucap seseorang.

Ki Kawi tidak peduli.

Dia meletakkan tengkorak itu tepat di hadapannya. Lalu tangannya kembali masuk ke dalam kain.

Kali ini ia mengeluarkan, segenggam rambut panjang yang sudah menggumpal, seperti pernah terkena darah yang mengering.

Kemudian, kuku-kuku hitam panjang, tidak utuh, beberapa patah, ujungnya tajam seperti sengaja diruncingkan. Lalu disusul dengan botol kecil berisi cairan keruh kemerahan, yang ketika digoyang sedikit, tampak lebih kental dari air biasa.

Dan terakhir…

Sebuah kantong kain kecil. Saat kantong itu dibuka, bau anyir langsung menyebar.

Beberapa warga spontan menutup hidung.

Di dalamnya terlihat potongan kecil, seperti daging yang sudah menghitam.

Pak Yuda langsung bergidik.

"Itu… itu apa, Ki…?"

Ki Kawi akhirnya menoleh.

Matanya tajam.

"Sing kowe delok iki, dudu barang dolanan." Ucapnya pelan.

Dia menggeser tengkorak itu sedikit ke tengah.

Lalu dengan ujung jarinya, ia mengetuk pelan bagian atas tengkorak.

Tok… tok… tok…

Suara itu menggema aneh di telinga.

"Desa iki. Wis kena kutuk. " Lanjutnya, kini mencampur bahasa Indonesia,

Pak Warsito semakin tegang.

Pak Warsito menelan ludah. Dadanya terasa sesak melihat benda-benda yang tergeletak di depan Ki Kawi. Bau anyir yang memenuhi ruangan membuat beberapa warga mulai gelisah.

"Ma… maksudnya bagaimana, Ki?" tanya Pak Warsito akhirnya, suaranya terdengar lebih kecil dari biasanya.

"Panjenengan tadi bilang desa ini kena kutukan."

Beberapa warga langsung mengangguk, menunggu jawaban dengan wajah tegang.

Ki Kawi tidak langsung menjawab. Dia justru menunduk.

Tangannya menyentuh tengkorak di depannya, mengusap perlahan seperti sedang membangunkan sesuatu.

Lalu, bibirnya mulai bergerak, pelan. Hampir tak terdengar.

"Lelembut sing keno lara, sing ora nrimo, sing kebek getih lan tangis." gumamnya lirih.

Suasana langsung berubah. Angin yang tadinya tenang tiba-tiba berhembus masuk dari celah-celah rumah.

Lampu di ruang tamu bergoyang pelan. Beberapa warga langsung merapat satu sama lain.

Tangannya menggenggam rambut panjang itu.

Lalu ia mengangkatnya sedikit.

Krekk…

Kayu rumah berderit.

Pak Yuda menoleh ke sekeliling, wajahnya mulai pucat.

"Ki…" Panggilnya pelan, tapi tidak berani memotong.

Ki Kawi seperti tidak mendengar. Matanya kini terpejam.

Bibirnya bergerak semakin cepat. Bahasanya semakin tidak jelas.

Campuran Jawa kuno, bisikan lirih, dan nada yang membuat bulu kuduk meremang.

tok!

Dia kembali memukul tengkorak itu dengan kayu yang mungkin memang kusus.

Beberapa warga tersentak karena kaget.

Ki Kawi membuka matanya.

"Sing mati, ora mati biasa." Ucapnya pelan.

Pak Warsito semakin tegang.

"Ki... tolong jelaskan." Pinta Pak Warsito.

Ki Kawi menatap lurus ke arah Pak Warsito.

Tatapannya tajam. Dalam, Seolah bisa menembus isi kepala orang yang ada di hadapannya.

Suasana di dalam rumah semakin sunyi.

Bahkan suara napas warga terdengar jelas satu per satu.

Perlahan… Ki Kawi membuka mulutnya.

"Sing mati kuwi." Ucapnya pelan.

Semua orang menahan napas.

"Ora mati biasa."

Pak Warsito menelan ludah.

"Lha terus, Ki?" tanyanya lirih.

Ki Kawi sedikit memiringkan kepala. Lalu jari tangannya menunjuk ke tengkorak di depannya.

"Mati mergo kiriman."

Beberapa warga langsung saling pandang.

"Kiriman?" ulang Pak Yuda.

Ki Kawi mengangguk pelan.

"Santet."

1
Mur Wati
ternyata kepala desa pun sama bejadnya 😡😡
Mur Wati
kenapa gak ada yg mengaku sama pak kades bicara sendiri saja siapa saja pelaku nya supaya aning yg di salahkan terus
Mur Wati
hantu aning yg di salahkan terus tapi gak ada yg mencari penyebab nya aning bisa balas dendam seperti itu😡😡 dasar
Zainuri Zaira
bgus ceritax..aq smpai nangis dn emosi bacax..utk cerita ini aq ksih bintang 5 dech😊👍
Zainuri Zaira
kl gtu ceritax bunuh semua warga desa biar jdi kampung mati..biadap
Zainuri Zaira
habisi semua warga desa itu sma mirasih biar jdi kampung mati
Zainuri Zaira
knp arwah miratih tk merasauk warga biar tau pembinuhuh dia yg sebnarx..ini mlha ibux di siksa.
Mur Wati
lah koq minta ampun min min di mana kesombongan mu min .. tunjukkan 🤣🤣
Mur Wati
khilaf koq di rencanakan min Karmin 😡
Nurr Tika
ceritanya tidak membosankan, semangat berkarya terus thor
si kecil nikkey
😄😄
si kecil nikkey
oh ini manusia pertama ketemu aning kok modarnya justru terakhir Ning?
Kenzo Andius Haryo P
thanks atas karyanya Thor... sukses terus dalam berkarya... 😍😍😍
Itoh
kerennnn
Itoh
🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳
Mur Wati
gak usah berkoar terus min kenapa kau lari kalau gak takut
Mur Wati
eeh minta tolong pak Karmin bukannya paling berani paling songong nik aki"
Mamake Nayla
trima ksh jg kak...akhirnya and jg👍👍👍👍👍
di tunggu crta horor2 nya lg....
May Maya
makasih jg Thor dah kasih kami hiburan gratis lewat karya mu ini,,
d tunggu karya mu yg lain nya semoga bs lbh keren lg . salam dari kyu
Maple latte: Baca karya baruku ya. judul: The Mask Of Love🤗🙏
total 1 replies
Cucu Doank
ceritanya seru
Maple latte: Baca karya baruku ya. judul: The Mask Of Love🤗🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!