Kalau kamu pikir pertemanan itu selalu hangat, penuh tawa, dan saling ngerti, kamu salah. Kadang, yang paling dekat sama kita justru bikin capek. Kadang, kita tersenyum di tengah keramaian tapi tetap merasa sendiri.
Aku—Naya—sering berada di posisi itu. Selalu ada, selalu bergerak, tapi jarang disebut. Aku bantu semua orang, tapi yang diingat cuma orang lain. Aku ketawa supaya terlihat aman, padahal di dalam, capeknya nggak ketulungan.
Novel ini bukan tentang keajaiban atau penyelesaian dramatis. Ini cerita tentang hari-hari yang panjang, keputusan kecil yang bikin greget, dan hubungan yang tetap ada tapi nggak lagi sama. Tentang bagaimana rasanya ikut bergerak di tengah orang-orang yang nggak selalu peduli, dan belajar bertahan sambil menahan rasa bingung dan lelah.
Kalau kamu pernah merasa tersisih meski berada di tengah keramaian, atau tersenyum padahal capek banget, cerita ini mungkin bakal terasa familiar.
Selamat membaca. Jangan kaget kalau....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 Motor Malam dan Toko Tutup
Malam itu, suasana kota terasa aneh. Lampu jalan menyala tapi dingin, orang-orang sudah mulai pulang ke rumah masing-masing. Aku duduk di motor Tara, tangan sedikit gemetar karena capek. Capek fisik, capek mental, semua bercampur jadi satu. Kepala cenat-cenut. Kaki pegal. Tapi aku tahu, tugas masih belum selesai. Semua belum beres. “Siap?” Tara tanya sambil nyalain lampu motor. Suaranya pelan, tapi aku masih bisa dengar jelas. Aku cuma angguk, menahan capek yang berat di dada. Rasanya greget banget, seperti ada yang nyubit-nyubit tapi nggak kelihatan.
Kami mulai jalan pelan, muter kota. Tujuannya sederhana: beli beberapa alat tambahan yang lupa dibawa, snack, minuman, tenda kecil. Tapi jalanan malam itu bikin aku makin sadar betapa capeknya aku. Jalanan sepi, tapi suara motor kecil kami mengganggu sunyi. Rasanya kepala cenat-cenut makin nyerang. Setiap belokan, aku liat toko-toko yang mulai tutup. Rasanya frustasi, pengin ketok-ketok pintu tapi nggak mungkin. Tara muter lagi ke jalan lain, nyari toko yang masih buka. Aku cuma diam, kadang ngelirik dia, kadang liat tangan sendiri yang pegal. Aku bingung, capek, tapi tetap harus fokus. “Ini terakhir, Naya. Kalau tutup lagi, kita pulang aja,” kata Tara pelan. Aku cuma angguk lagi. Aku tahu maksudnya, tapi di dalam hati rasanya greget. Semua harus kelar malam ini, tapi situasinya kayak main petak umpet sama toko. Capek banget.
Akhirnya, kami berhenti di toko kecil yang masih nyala lampunya. Rasanya lega campur greget. Tangan aku pegal karena pegang motor lama, kaki pegal karena duduk terlalu lama, kepala cenat-cenut karena capek yang nggak kelar. Tapi aku tahu, kalau nggak beli sekarang, besok bakal tambah ribet. Tara masuk duluan, aku belakangan. Rasanya kayak masuk ke dunia yang berbeda. Dalam toko kecil itu, semua barang berjejer rapih tapi berantakan di mata aku yang capek. Aku liat daftar belanjaan di handphone, ngecek satu per satu. Rasanya pengin ngeluh tapi aku tahan. Semua harus selesai.
Aku ambil snack, minuman, tenda mini yang masih kurang. Tara di dekat kasir, cek harga, bayar. Aku cuma berdiri sambil narik napas dalam-dalam. Kepala cenat-cenut makin terasa. Tangan pegal. Greget di dada nggak hilang. Tapi tugas harus selesai. Aku nggak boleh mundur. “Udah beres, Naya?” Tara tanya sambil liat aku yang masih bengong. Aku cuma angguk pelan. Rasanya lega tapi tetap capek. Rasanya kayak, aku udah ngelakuin banyak hal, tapi kepala nggak mau berhenti cenat-cenut, greget masih nempel.
Kami keluar dari toko, udara malam langsung masuk ke paru-paru. Rasanya dingin, tapi enak. Rasanya sedikit nge-refresh kepala yang cenat-cenut. Tapi capek tetap ada, tangan pegal, kaki capek, greget nggak hilang.
Kami jalan lagi di motor, kembali ke sekolah. Rasanya absurd banget, muter kota malam-malam cuma buat beli beberapa hal kecil. Tapi aku tahu, kalau nggak gitu, besok bakal tambah ribet. Rasanya greget karena semua tanggung jawab kayak jatuh ke aku, padahal aku capek. Tara nyalain lampu motor pelan, aku cuma duduk di belakang sambil nahan capek. Aku lihat ke kanan, liat toko-toko yang udah tutup, jalan sepi, orang-orang yang udah masuk rumah. Rasanya kayak semua orang bisa santai, tapi aku nggak. Aku harus muter-muter, beli ini itu, ngerjain semuanya.
Setelah beberapa saat, motor berhenti di depan sekolah. Rasanya lega, tapi capek tetap numpuk di seluruh badan. Kepala cenat-cenut, tangan pegal, kaki capek. Aku tarik napas panjang, rasanya greget banget. Semua kerja keras ini rasanya nggak keliatan orang lain. Semua orang bisa santai, tapi aku harus kelarin semuanya.
Kami turun dari motor, bawa semua barang ke ruang penyimpanan. Rasanya kayak nge-drag semua capek fisik dan mental ke satu ruangan. Tapi akhirnya semua beres. Barang-barang udah ditempatkan di rak, tenda mini udah siap, snack dan minuman juga udah rapi. Aku liat Tara, dia tersenyum tipis. Aku senyum balik, tapi senyum aku nggak hangat. Capek banget, kepala cenat-cenut, greget nggak hilang. Aku duduk sebentar di tangga ruang penyimpanan, tarik napas panjang. Rasanya kayak habis perang, tapi musuhnya nggak kelihatan. Capek mental lebih nyerang daripada capek fisik. Rasanya pengin nangis, tapi aku tahan. Aku cuma duduk, ngerasain semua capek itu sendiri.
Tara pamit pulang duluan. Aku liat dia pergi, rasanya kosong sedikit. Aku berdiri, liat sekitar. Semua beres. Tapi capek mental masih nempel. Kepala cenat-cenut, tangan pegal, kaki capek. Rasanya kayak semua kerja keras ini nggak dihargai, tapi aku nggak peduli. Aku cuma pengin tugas selesai. Aku tarik napas panjang, jalan ke ruang guru buat naruh barang-barang kecil yang masih ada. Rasanya kayak berat banget, tapi aku tahan. Semua harus beres. Semua harus kelar. Capek mental dan greget tetap ada, tapi aku harus jalan.
Setelah semua beres, aku keluar dari sekolah. Malam makin larut, lampu jalan makin sepi. Aku jalan pelan ke motor, duduk, tarik napas dalam-dalam. Capek fisik, capek mental, greget, bingung, semua bercampur. Rasanya kayak nggak ada habisnya. Tapi aku tahu, besok semua akan mulai lagi. Semua tanggung jawab masih menunggu. Aku hidup dengan capek ini sendiri. Semua orang bisa santai, tapi aku nggak bisa. Rasanya greget banget, kepala cenat-cenut, tangan pegal, kaki capek. Tapi aku harus jalan lagi besok. Semua harus kelar. Aku tarik napas panjang, nyalain motor, dan jalan pelan pulang.
Malam itu, aku sadar satu hal: capek ini nggak bakal hilang, greget ini nggak bakal hilang, bingung juga nggak bakal kelar. Tapi aku tetap harus jalan. Karena nggak ada yang bisa ngerjain selain aku. Rasanya berat, tapi aku tahan. Aku pulang, kepala cenat-cenut, tangan pegal, kaki capek, greget di dada tetap nempel.
Aku sampai rumah, jatuh di kasur. Mata berat, tangan pegal, kaki capek. Tapi ada sedikit lega karena semua udah kelar. Tapi capek mental nggak hilang. Greget nggak hilang. Bingung nggak hilang. Tapi aku tahu, besok semuanya akan mulai lagi.Aku cuma bisa tarik napas panjang, ngerasain semua capek, greget, dan bingung sendiri. Aku tahu, ini belum berakhir. Tapi malam itu, aku tidur dengan satu hal: semua tanggung jawab ada di aku, semua capek mental dan fisik juga aku yang ngerasain. Dan aku harus jalan lagi besok.
hanya anggota biasa..
🙂🙂🙂
semoga authornya sehat selalu dan tetap semangat, ya..
semangat trs utk berkarya, yah..
🤭🤭🤭