Di balik kemewahan keluarga Mahendra, tersembunyi sebuah rahasia kelam. Bertahun-tahun lalu, Alisha Pratiwi diculik dan dipisahkan dari orang tua kandungnya, Ragendra dan Helena Mahendra. Sementara itu, kebohongan besar ditanam rapi oleh dalang licik bernama Bram Santoso.
Tanpa menyadari takdir yang terhubung, Alvaro tumbuh sebagai pewaris keluarga Mahendra, sedangkan Alisha hidup dalam kesederhanaan dengan identitas yang bukan miliknya. Ketika kebenaran perlahan terkuak, cinta, pengkhianatan, dan perebutan hak waris tak lagi bisa dihindari.
Siapakah pewaris yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 — Obsesi
Pagi itu langit cerah. Matahari sudah tinggi ketika Alvaro duduk di ruang kerja seorang pengacara senior yang direkomendasikan Detektif Damar.
Ruangan itu luas dan rapi. Rak buku hukum memenuhi hampir seluruh dinding. Berkas perkara tersusun di meja besar yang menghadap jendela.
Suasananya tenang.
Hanya suara klik mouse dari laptop yang terdengar.
Dokumen arsip rumah sakit ditampilkan di layar. Catatan lama tentang kelahiran dua bayi yang lahir di hari yang sama.
Pengacara itu membaca satu per satu dengan wajah serius.
Alvaro duduk di kursi depan meja. Tangannya saling menggenggam. Ia menunggu keputusan yang bisa mengubah hidup banyak orang.
Beberapa menit berlalu.
Pengacara itu akhirnya bersandar di kursinya.
“Dokumen ini kuat,” katanya.
Alvaro langsung menegakkan badan.
“Seberapa kuat?”
Pengacara menunjuk beberapa bagian di layar laptop.
“Perubahan nomor gelang bayi.”
Ia memindahkan kursor ke baris lain.
“Catatan perawat yang tidak sinkron.”
Kemudian ia menunjuk bagian terakhir.
“Jam kelahiran dua bayi yang hampir bersamaan.”
Ia menoleh pada Alvaro.
“Kalau semua ini diajukan ke pengadilan, peluang membuktikan adanya penukaran bayi cukup besar.”
Jantung Alvaro berdetak lebih keras.
“Artinya Alisha memang pewaris asli keluarga Mahendra?”
Pengacara mengangguk pelan.
“Secara hukum kemungkinan itu sangat besar.”
Ruangan kembali sunyi.
Alvaro tidak merasa senang mendengar kalimat itu.
Yang ia rasakan justru berat.
“Kalau ini terbukti,” lanjut pengacara, “keluarga Mahendra selama ini membesarkan anak yang bukan darah mereka.”
Alvaro menghembuskan napas panjang.
Ia tahu kebenaran ini bisa menghancurkan banyak hubungan.
“Masalah seperti ini biasanya tidak hanya berdampak pada satu orang,” kata pengacara lagi.
“Seluruh keluarga akan terguncang.”
Alvaro berdiri dari kursinya.
“Terima kasih. Untuk sekarang saya hanya ingin memastikan semuanya dulu.”
Pengacara mengangguk.
“Kalau Anda memutuskan membawa ini ke pengadilan, hubungi saya.”
Alvaro keluar dari gedung kantor itu dengan pikiran penuh.
Di sisi lain kota, rumah besar keluarga Mahendra terlihat tenang seperti biasa.
Halaman depan rapi. Mobil mewah terparkir di garasi.
Namun di dalam rumah suasana berbeda.
Alisha Mahendra berjalan melewati koridor menuju tangga.
Ia tidak berniat mendekati ruang kerja Ragendra. Ia hanya lewat seperti biasa.
Namun suara dari dalam ruangan membuat langkahnya berhenti.
Pintu ruang kerja itu tidak tertutup rapat.
Suara Helena terdengar dari dalam.
“Aku takut dugaanku benar.”
Tubuh Alisha langsung menegang.
“Alisha Pratiwi itu benar-benar anak kita.”
Beberapa detik sunyi.
Kemudian suara Ragendra terdengar pelan.
“Aku juga mulai percaya ke arah sana.”
Jantung Alisha berdetak semakin cepat.
Ia berdiri diam di depan pintu tanpa berani bergerak.
“Apa kita harus terus menyembunyikan ini?” tanya Helena dengan suara bergetar.
“Selama ini kita hidup bersama anak yang bukan darah kita.”
Kalimat itu membuat napas Alisha tertahan.
Beberapa detik hening.
“Kebenaran ini tidak bisa kita tutup selamanya,” kata Ragendra.
Helena terdengar hampir menangis.
“Aku merasa bersalah setiap kali melihatnya.”
“Dia tidak tahu apa-apa.”
Alisha semakin bingung.
Siapa yang mereka maksud?
Helena berkata lagi dengan suara pelan.
“Kalau Alisha tahu… hidupnya pasti hancur.”
Nama itu membuat tubuh Alisha membeku.
Tangannya langsung mencengkeram dinding.
Ragendra menghela napas panjang.
“Dia memang bukan anak kita sejak awal.”
Kaki Alisha terasa lemas.
Helena menutup wajahnya.
“Bertahun-tahun kita membesarkannya… tapi dia bukan darah keluarga Mahendra.”
Air mata Helena jatuh.
“Anak kita yang sebenarnya ada di luar sana.”
Kepala Alisha terasa berdengung.
Ia hampir tidak bisa bernapas.
Di dalam ruangan Ragendra melanjutkan dengan suara berat.
“Yang membuatku lebih khawatir adalah reaksinya nanti.”
Helena menunduk.
“Dia pasti akan membenci kita.”
Ragendra menggeleng pelan.
“Bukan hanya kita.”
Tatapannya menjadi serius.
“Dia juga akan membenci gadis yang sebenarnya adalah putri kita.”
Nama itu tidak perlu disebut lagi.
Alisha sudah tahu siapa yang dimaksud.
Alisha Pratiwi.
Alisha mundur perlahan dari pintu.
Kakinya terasa lemah.
Ia berjalan kembali ke kamarnya dengan langkah tidak stabil.
Begitu pintu tertutup, tubuhnya langsung bersandar ke dinding.
Matanya kosong.
“Jadi… aku bukan anak mereka.”
Air matanya jatuh perlahan.
Selama ini ia hidup sebagai putri keluarga Mahendra.
Semua orang menghormatinya.
Semua orang memanggilnya Nona Mahendra.
Sekarang semuanya bisa hilang.
Namun tiba-tiba satu pikiran muncul di kepalanya.
Alvaro.
Ia langsung mengangkat kepala.
Selama ini ia selalu menahan perasaannya.
Karena semua orang menganggap mereka saudara.
Karena ia percaya Alvaro adalah kakaknya.
Sekarang kenyataan itu berubah.
Ia berdiri di depan cermin besar.
Wajahnya terlihat pucat.
“Aku bukan anak mereka…”
Ia menatap bayangannya lebih lama.
“Berarti Alvaro bukan kakakku.”
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia teringat semua momen bersama Alvaro.
Cara pria itu selalu melindunginya.
Cara pria itu selalu berada di dekatnya.
Perasaan yang selama ini ia sembunyikan terasa semakin jelas.
Senyum kecil muncul di bibirnya.
“Kalau begitu…”
Ia mendekat ke cermin.
“Tidak ada yang bisa melarangku lagi.”
Namun senyum itu perlahan berubah dingin.
Karena ada satu orang yang selalu berada di dekat Alvaro sekarang.
Alisha Pratiwi.
Tatapan Alisha menjadi tajam.
“Gadis itu mengambil semuanya dariku.”
Tangannya meraih ponsel di atas meja.
Ia menekan sebuah nomor.
Begitu panggilan tersambung, suaranya terdengar tenang.
“Aku butuh bantuan.”
Ia berhenti sejenak.
“Cari semua informasi tentang seorang gadis bernama Alisha Pratiwi.”
Orang di seberang telepon menjawab singkat.
“Alamatnya juga,” lanjut Alisha.
Tatapannya masih tertuju pada bayangan dirinya di cermin.
“Aku ingin tahu di mana dia sekarang.”
Telepon ditutup.
Senyumnya kembali muncul.
Namun kali ini tidak lagi hangat.
Lebih mirip rencana.
Di sisi lain kota, Alvaro berjalan bersama Alisha Pratiwi di sebuah toko kecil.
Mereka membeli beberapa kebutuhan sehari-hari.
Alisha mengenakan topi agar tidak mudah dikenali orang.
“Kak…” katanya pelan.
“Aku takut masalah ini semakin besar.”
Alvaro menoleh.
“Kenapa?”
“Aku takut hidup kakak jadi hancur karena aku.”
Alvaro berhenti berjalan.
Ia menatap Alisha dengan serius.
“Kamu bukan penyebab masalah.”
“Tapi semua ini terjadi karena aku,” kata Alisha.
Alvaro menggeleng.
“Hidupku sudah berubah sejak lama.”
Ia tersenyum tipis.
“Kamu justru alasan aku terus bergerak.”
Alisha menunduk sedikit.
Wajahnya memerah.
Mereka kembali berjalan menuju mobil.
Tak ada yang sadar seseorang sedang memperhatikan dari kejauhan.
Dari dalam mobil hitam yang terparkir di ujung jalan, sepasang mata memperhatikan mereka.
Alisha Mahendra duduk di kursi belakang mobil.
Di tangannya ada kertas kecil berisi alamat.
Ia menatap rumah kos sederhana di depan.
“Jadi ini tempatmu.”
Senyum tipis muncul di bibirnya.
Ia mengambil ponsel.
“Awasi rumah itu.”
Suara di seberang telepon bertanya sesuatu.
Alisha menjawab dengan tenang.
“Jangan lakukan apa pun dulu.”
Tatapannya kembali tertuju pada rumah itu.
“Kita lihat dulu… sampai sejauh mana Alvaro akan melindungimu.”
Mobil itu tetap terparkir di tempatnya.
Sementara di dalam rumah kos kecil itu, Alisha Pratiwi sama sekali tidak menyadari bahwa seseorang sedang mulai mengatur hidupnya dari kejauhan.
bagi Alisha Mahendra…
#Bersambung