Kepulangan Andrea adalah hal yang paling Vhirel tunggu-tunggu. Hubungan mereka tidak pernah bisa di larang, selalu ada canda dan tawa meski kerap kali ada permusuhan yang pada akhirnya mereka saling mengerti bahwa sebuah perbedaan adalah sesuatu yang indah dalam sebuah hubungan. Namun sayangnya, status mereka hanyalah sebatas kakak beradik.
Lantas mengapa bisa mereka menganggapnya lebih dari sekedar itu?
Mereka bahkan tak pernah peduli jika keduanya telah menentang takdir Tuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEMANGAT DEA
Cahaya matahari pagi menyelinap halus melalui celah-celah jendela besar di rumah minimalis yang berdiri megah itu. Guratan emasnya jatuh di atas lantai marmer, menandai awal hari yang cerah. Tak seperti biasanya, Dea sudah terjaga lebih awal dengan semangat yang sulit disembunyikan.
Langkah kakinya membawa ia menuju dapur, di mana aroma masakan sudah mulai memenuhi udara. Di sana, ia mendapati Bik Minah yang sedang sibuk berkutat dengan alat-alat masak.
"Eh, Non Dea? Tumben sudah bangun," Sapa Bik Minah ramah, tangannya tetap lincah mengaduk bumbu di penggorengan. "Gimana liburan kemarin, Non? Seru?"
Dea tidak langsung menjawab. Ia hanya terdiam dengan senyum yang perlahan merekah lebar di wajahnya. Ada binar kebahagiaan di matanya yang seolah mewakili ribuan kata yang tak terucap.
"Wah, kayaknya Non seneng banget ya? Sampai nggak bisa jawab gitu," Goda Bik Minah ikut tertawa kecil melihat ekspresi majikan mudanya itu.
Pertanyaan sederhana itu terasa begitu berat untuk dijawab dengan jujur. Bagaimana mungkin Dea menjelaskan pada Bik Minah bahwa keseruan liburan kemarin bukan karena pemandangan kebun teh yang asri atau nyamannya vila tempat mereka menginap?
Ia tak mungkin bisa berkata bahwa momen terindah dari seluruh perjalanan itu adalah saat-saat ia hanya berdua dengan Vhirel. Saat dunia seolah menyempit hanya menjadi milik mereka berdua, tanpa gangguan, tanpa jarak.
"Seru dong! Banget malah!"
Suara bariton itu tiba-tiba memecah suasana.
Vhirel muncul di ambang pintu dapur dengan penampilan yang seketika membuat napas Dea tertahan. Pria itu mengenakan pakaian olahraga kasual, dengan kaus dry-fit putih yang melekat pas di tubuh bidangnya dan sport watch di lengan yang semakin mempertegas lekuk otot bahu yang kokoh. Sementara, untuk bawahannya, ia mengenakan celana training abu-abu serta sepatu lari melengkapi penampilannya yang terlihat sangat segar pagi itu.
Dea terpaku sejenak, matanya tak berkedip menatap sosok di depannya. "Kak Vhirel... mau ke mana?" Tanyanya sedikit gugup.
"Jogging," jawab Vhirel singkat sambil melakukan peregangan kecil pada pergelangan tangannya. Ia melirik Dea dengan senyum tipis. "Mau ikut?"
Mata Dea seketika berbinar. Tanpa pikir panjang, ia mengangguk mantap. "Mau, Kak! Mau banget!"
Vhirel terkekeh melihat antusiasme gadis itu yang meledak-ledak. "Ya udah, sana siap-siap dulu. Minimal gosok gigi lah! Kakak tunggu di ruang tamu, ya. Jangan lama-lama."
"Siap, Bos!" Dea mengangguk patuh sembari memberikan gerakan hormat dengan tangan di dahi, lalu segera berlari menuju kamarnya dengan hati yang berbunga-bunga.
Vhirel masih berdiri di tempatnya, memperhatikan punggung Dea yang kian menjauh di ujung lorong dan mulai menaiki anak tangga penuh semangat. Senyum tipis mengembang di sudut bibirnya—senyum yang datang tanpa sadar. Ada rasa hangat yang menyelinap, sesuatu yang sulit ia jelaskan, campuran lega dan gemas.
Vhirel menghela napas pelan, menggeleng kecil seolah menertawakan dirinya sendiri.
Gadis itu selalu punya cara sederhana untuk mengacaukan pertahanannya. Dan entah sejak kapan, Vhirel membiarkan hal itu terjadi.
Non Dea semangat sekali ya, Den." Ucap Bik Minah, suaranya muncul begitu saja, hingga menarik Vhirel keluar dari setengah lamunannya.
Vhirel tersentak kecil, lalu berdeham pelan seolah baru sadar bahwa ia tak lagi sendiri. Matanya masih sempat melirik ke arah lorong tempat Dea menghilang sebelum akhirnya beralih pada Bik Minah. "Harus dong, Bik!" jawabnya datar, menahan rasa riang yang berkecamuk di hatinya.
"Biasanya... Non Dea kalau di ajak olahraga suka nolak."
“Itu kan lima tahun yang lalu,” jawab Vhirel akhirnya. “Mungkin di Amerika… dia baru benar-benar sadar hidup mandiri dan olahraga itu penting.”
Bik Minah mengangguk-angguk setuju, wajahnya tampak puas dengan jawaban sederhana itu. “Iya juga ya, Den. Anak sekarang beda kalau sudah lama di luar.”
Anggukan itu justru membuat dada Vhirel terasa lebih lega, meski ia sendiri tahu betul apa yang sebenarnya berputar di kepala Dea sejak tadi. Semangat yang terlalu cerah, langkah yang terlalu ringan—bukan soal olahraga semata. Itu tentang dirinya. Tentang kebersamaan kecil yang mereka curi diam-diam, tanpa saksi, tanpa perlu penjelasan. Dan tak seorang pun tahu. Termasuk Bik Minah, yang sudah bertahun-tahun mengabdi di rumah keluarga mereka, menyaksikan Dea tumbuh dari gadis kecil hingga dewasa kini.
“Bik,” ucap Vhirel lagi, kali ini lebih pelan, “tolong bilang sama Papa dan Mama kalau nyariin, l kami berdua olahraga keliling komplek.”
“Iya, Den,” jawab Bik Minah sigap, tanpa curiga sedikit pun.
Vhirel mengangguk singkat. Hatinya kembali menghangat, membayangkan Dea yang pastinya tengah sibuk mempersiapkan diri untuk jalan pagi bersamanya hari ini.
****
kekasih tetapi ingat sebagai kakak beradik,,,