Asiyah Musfiroh adalah fenomena di Pondok Pesantren Ar-Rahma. Kecerdasannya melampaui logika; mengkhatamkan 30 juz Al-Qur'an hanya dalam setahun hingga dijuluki sang "Permata". Namun, cahaya itu justru mengundang takdir yang tak pernah ia pilih.
Ustadz Ahmad Zafran Al Varo, pengajar muda yang karismatik, terpikat pada kedalaman ilmu dan adab Asiyah. Tanpa menunggu lama, di depan wali santri, Zafran mengutarakan khitbahnya. Tanpa diskusi, apalagi restu sang putri, orang tua Asiyah langsung menerima lamaran sang Ustadz.
Bagi semua orang, ini adalah pernikahan impian. Namun bagi Asiyah, ini adalah penjara. Ia terjepit di antara pengabdian kepada orang tua dan kejujuran hatinya yang menolak sosok Zafran yang dianggapnya terlalu "sempurna".
"Bagaimana mungkin aku bisa menjaga wahyu Tuhan di dalam dadaku, jika hatiku dipenuhi kepura-puraan terhadap imam yang tidak pernah kupinta?"
Saat ketaatan berbenturan dengan rasa, mampukah cinta tumbuh di sela-sela ayat suci...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khaassyakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGEJAR CAHAYA, PENJAGA HATI
Malam di Pesantren Ar-Rahma terasa lebih sunyi dari biasanya. Angin pegunungan berhembus pelan, menggoyahkan dedaunan pohon sawo di halaman rumah utama. Zafran duduk termenung di kursi kayu teras depan, menatap kosong ke arah deretan lampu asrama yang mulai dipadamkan satu per satu. Di atas pangkuannya, terdapat paspor milik Asiyah dan selembar tiket pesawat yang baru saja ia cetak sore tadi. Tangannya mengusap sampul paspor itu dengan perlahan, seolah sedang menyentuh luka yang tak terlihat.
Pikirannya melayang pada kepergian Asiyah yang tinggal menghitung hari. Sebagai pemilik pondok, Zafran terbiasa mengambil keputusan besar bagi ribuan santri, namun kali ini ia merasa tak berdaya menghadapi ego istrinya sendiri. Ia merasa berat hati, bukan karena ingin menghalangi ilmu, tapi karena ia tahu keberangkatan Asiyah dalam kondisi hubungan yang membeku seperti ini akan menjadi awal dari perpisahan yang permanen.
"Kenapa belum istirahat, Zafran? Udara malam tidak baik untuk pikiran yang sedang penuh," suara serak Kiai Hilman memecah lamunan Zafran.
Zafran segera berdiri dan membungkuk hormat. "Abah. Kenapa belum tidur? Dokter bilang Abah harus banyak istirahat."
Kiai Hilman duduk di samping Zafran, matanya yang bijak beralih pada paspor di tangan menantunya. "Bagaimana Abah bisa tidur tenang jika melihat menantu Abah sedang memikul beban gunung di pundaknya sendirian? Kau sangat berat melepaskannya, bukan?"
Zafran menunduk, mencoba menyembunyikan matanya yang mulai memerah. "Saya hanya takut, Abah. Saya takut jarak Kairo dan Indonesia akan membuat Asiyah benar-benar lupa bahwa ada hati yang sedang menunggunya di sini. Tapi saya tidak punya alasan untuk menahannya."
"Kau lelaki yang luar biasa, Zafran. Kau memiliki Ar-Rahma, kau memiliki segalanya, tapi kau memilih untuk mengalah demi mimpi istrimu. Kejujuranmu ini membuat Abah merasa sangat bersalah telah mendidik Asiyah menjadi wanita yang terlalu keras kepala," ujar Kiai Hilman sembari menepuk bahu Zafran.
"Ini bukan salah Abah. Mungkin saya saja yang belum mampu menjadi imam yang baik baginya," balas Zafran rendah hati.
Kiai Hilman terdiam sejenak, menatap langit malam. Sebuah keputusan besar baru saja matang di kepalanya. "Zafran, dengarkan Abah. Ilmu tidak akan berkah jika didapat dengan cara melukai hati suami. Besok pagi, panggilah Asiyah ke ruang tengah. Ada hal yang harus Abah sampaikan sebagai penengah kalian."
Keesokan paginya, suasana di ruang tengah rumah utama terasa sangat tegang. Asiyah duduk di sofa dengan wajah dinginnya yang khas, tangannya sibuk memeriksa daftar barang bawaan yang akan dimasukkan ke dalam koper. Zafran duduk di hadapannya, tetap diam dan hanya memperhatikan. Kiai Hilman masuk ke ruangan dengan membawa sebuah kitab kecil di tangannya.
"Asiyah, letakkan dulu daftarmu itu. Abah ingin bicara serius sebelum kau berangkat," ujar Kiai Hilman dengan nada bicara yang tidak bisa dibantah.
Asiyah meletakkan kertasnya. "Ada apa, Bah? Apakah ada keperluan tambahan yang Abah butuhkan?"
"Ini bukan soal keperluan Abah, tapi soal keselamatanmu dan kehormatan suamimu. Kau tahu hukum seorang wanita melakukan perjalanan jauh sendirian dalam agama kita?" tanya Kiai Hilman sembari membuka lembaran kitabnya.
"Asiyah sudah riset, Bah. Untuk menuntut ilmu, ada beberapa ulama yang memberikan keringanan jika situasinya aman," jawab Asiyah dengan nada membela diri.
Kiai Hilman menggelengkan kepala. Beliau membacakan sebuah hadis dengan suara yang lantang. "Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: Janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya. Asiyah, hadis ini bukan sekadar aturan fisik, tapi soal perlindungan dan ridha. Kau pergi membawa nama besar Ar-Rahma dan nama suamimu."
"Lalu maksud Abah, Asiyah harus membatalkan beasiswa ini?" tanya Asiyah dengan suara yang mulai meninggi karena panik.
"Tidak. Abah tidak memintamu batal. Tapi Abah meminta suamimu ikut bersamamu ke Mesir," ucap Kiai Hilman dengan tegas.
Asiyah dan Zafran serentak terbelalak. Ruangan itu seketika menjadi sunyi senyap.
"Abah? Bagaimana mungkin? Mas Zafran harus mengurus pondok. Ar-Rahma adalah tanggung jawab besarnya!" seru Asiyah dengan wajah tidak percaya.
Zafran juga tampak terguncang. "Abah, saya tidak bisa meninggalkan pondok begitu saja. Siapa yang akan memimpin santri?"
Kiai Hilman menatap Zafran dengan senyum tipis. "Pondok ini sudah memiliki sistem yang kuat. Ada Ayah mu,kiai Sepuh Usman dan pamanmu, Kiai Mansur, dan dewan asatidz yang bisa menjalankan harian pesantren di bawah pantauanmu secara daring. Lagipula, bukankah kau juga punya keinginan untuk mengambil gelar doktoral di Al-Azhar? Ini adalah waktu yang tepat bagi kalian berdua untuk belajar bersama."
"Tapi Bah, ini akan sangat merepotkan Mas Zafran. Asiyah bisa menjaga diri sendiri di sana," protes Asiyah, hatinya merasa terancam karena rencana pelariannya gagal.
"Menjaga diri bukan soal kemampuan fisikmu, Asiyah, tapi soal adabmu pada suamimu. Jika Zafran ikut, kau tetap bisa kuliah, dan dia juga bisa kuliah. Kalian akan tinggal di sana sebagai suami istri yang menuntut ilmu. Inilah ridha yang Abah maksud," jelas Kiai Hilman.
Zafran menatap Asiyah yang tampak sangat gelisah. Ia merasa ada secercah harapan di tengah keputusasaannya. "Jika ini perintah Abah, dan jika Asiyah tidak merasa keberatan, saya akan mengatur kepindahan saya dalam waktu singkat."
"Asiyah merasa keberatan, Mas! Ini akan mengubah banyak hal. Saya ingin mandiri di sana!" seru Asiyah dengan ego yang masih tinggi.
Kiai Hilman memukul meja dengan pelan namun bermakna. "Kemandirian bukan berarti lepas dari tanggung jawab, Asiyah! Kau pergi ke negeri orang tanpa mahram adalah beban bagi batin Abah. Jika kau tetap menolak Zafran ikut, maka Abah yang akan mencabut restu keberangkatanmu hari ini juga. Pilihlah!"
Asiyah terdiam seribu bahasa. Ia tahu ayahnya tidak pernah main-main dengan ucapannya. Ia menatap Zafran yang kini menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada rasa syukur sekaligus cemas di mata lelaki itu.
"Bagaimana, Asiyah? Apakah kau lebih memilih egomu atau restu Abah?" tanya Zafran dengan suara pelan namun menuntut jawaban.
Asiyah menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia merasa tembok yang ia bangun perlahan mulai diguncang oleh takdir. "Baiklah. Jika itu maunya Abah. Mas Zafran boleh ikut. Tapi Asiyah tetap ingin kita fokus pada urusan kuliah masing-masing di sana."
"Soal itu, biarlah waktu yang menjawab. Yang penting, kalian berangkat bersama sebagai satu kesatuan," ujar Kiai Hilman dengan wajah lega.
Zafran merasa jantungnya berdegup kencang. Ia tidak menyangka mertuanya akan memberikan jalan keluar yang begitu berani. Pergi ke Kairo bersama Asiyah berarti ia punya waktu empat tahun untuk mencairkan hati istrinya tanpa gangguan dari pihak luar.
"Terima kasih, Abah. Saya akan segera mengurus paspor dan pendaftaran saya di Al-Azhar. Kebetulan saya punya relasi dosen di sana yang bisa membantu proses administrasi cepat," ujar Zafran dengan semangat yang kembali muncul.
Asiyah berdiri dan langsung masuk ke kamarnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Di dalam kamar, ia mengunci pintu dan terduduk di balik daun pintu. Perasaannya campur aduk. Ada rasa kesal karena privasinya terganggu, namun di sudut hatinya yang paling dalam, ada rasa aman yang tiba-tiba muncul saat tahu bahwa ia tidak akan sendirian di negeri asing.
"Kenapa kau selalu punya cara untuk tetap berada di dekatku, Mas?" bisik Asiyah pada dirinya sendiri.
Sementara itu di teras, Kiai Hilman tersenyum menatap Zafran. "Gunakan kesempatan ini dengan baik, Zafran. Wanita seperti Asiyah tidak bisa ditaklukkan dengan paksaan, tapi dengan kehadiran yang terus menerus. Jadilah pelindungnya di negeri orang, maka dia akan menyadari siapa pemilik hatinya yang sesungguhnya."
"Saya akan berusaha, Abah. Terima kasih sudah memberikan saya kesempatan kedua untuk memenangkan hati putri Abah," jawab Zafran penuh tekad.
Persiapan keberangkatan yang semula hanya untuk satu orang kini berubah menjadi persiapan untuk dua orang. Seluruh pesantren gempar mendengar kabar bahwa pimpinan mereka akan ikut mendampingi sang istri belajar ke Mesir. Ustadzah Salamah yang mendengar kabar itu dari kejauhan hanya bisa meradang karena rencananya untuk melihat kehancuran rumah tangga Zafran kembali gagal.
Malam itu, Zafran mulai mengemas pakaiannya ke dalam koper yang diletakkan di samping koper Asiyah. Melihat dua koper itu berdampingan, Zafran merasa bahwa perjalanannya kali ini bukan sekadar perjalanan menuntut ilmu, melainkan perjalanan untuk menjemput kembali cinta istrinya yang selama ini membeku di balik dinding keangkuhan.