NovelToon NovelToon
Script Of Love: The Secret Identity

Script Of Love: The Secret Identity

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Time Travel / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:691
Nilai: 5
Nama Author: Veline ll

"Dalam permainan naskah ini, siapa yang sedang berakting dan siapa yang benar-benar jatuh cinta?"

Lin Xia hanyalah seorang penulis naskah mystery game yang hidup tenang, sampai suatu malam ia diundang dalam sebuah permainan peran (Script Killing) bertema Era Republik China yang sangat nyata. Di sana, ia bertemu dengan Gu Yan, pria misterius berdarah dingin yang berperan sebagai Kepala Militer.

Masalahnya, Gu Yan bukan sekadar pemain biasa. Ia memiliki identitas rahasia di dunia nyata. Hingga alur permainan tiba-tiba diubah oleh Penulis bayangan yang ternyata Adik Gu jingshen yaitu "Gu Yanran. Saat garis antara naskah dan realita mulai kabur, Lin Xia harus memilih: Mengikuti skenario untuk selamat, atau menulis ulang takdirnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: Orang Asing di Menara Kaca

[Waktu: Senin, 20 April, Pukul 08.30 AM]

[Lokasi: Gedung Gu Corp, Distrik Futian, Shenzhen]

Sinar matahari pagi di Shenzhen memantul tajam pada dinding kaca gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Di antara hiruk-pikuk orang-orang yang terburu-buru dengan kopi di tangan dan langkah kaki yang cepat, Lin Xia berdiri di depan Menara Gu Corp—pusat kekuasaan ekonomi yang dimiliki oleh keluarga Gu.

Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya. Lin Xia tidak lagi mengenakan cheongsam merah marun yang indah. Hari ini, ia memakai setelan blazer hitam sederhana dengan kemeja putih. Di tangannya, ia mencengkeram erat sebuah map berisi resume dan, yang terpenting, sapu tangan putih bernoda darah yang ia simpan di saku rahasia tasnya.

"Kau gila, Lin Xia," bisiknya pada diri sendiri. "Dia itu CEO salah satu perusahaan terbesar di China, dan kau hanyalah penulis naskah lepas yang terjebak halusinasi permainan."

Namun, setiap kali ia memejamkan mata, ia masih bisa merasakan kehangatan pelukan Gu Jingshen di bawah hujan salju Suzhou. Rasa itu terlalu nyata untuk disebut halusinasi.

Lin Xia melangkah masuk ke lobi yang luas dan mewah. Lantai marmernya begitu mengilap hingga ia bisa melihat pantulan wajahnya yang tampak lelah. Ia menuju meja resepsionis.

"Selamat pagi. Saya Lin Xia, saya ingin menyerahkan lamaran untuk posisi staf kreatif atau penulis konten," katanya dengan suara yang diusahakan tetap teguh.

Resepsionis cantik di depannya menatap Lin Xia dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan meremehkan. "Apakah Anda sudah memiliki janji? Dan apakah Anda tahu bahwa posisi itu biasanya memerlukan referensi internal?"

"Saya... saya melihat lowongannya di portal internal kemarin," bohong Lin Xia. Sebenarnya, ia hanya nekat datang setelah meretas sedikit informasi tentang kebutuhan staf di divisi pengembangan game Gu Corp.

Saat resepsionis itu hendak menolak, tiba-tiba suasana di lobi berubah. Para staf yang tadinya berjalan santai mendadak berdiri tegak dan membungkuk hormat. Suasana menjadi sunyi senyap, hanya menyisakan suara langkah kaki yang berat dan berirama dari arah lift pribadi.

Lin Xia menoleh. Jantungnya seolah berhenti berdetak.

Di sana, dikelilingi oleh sekumpulan pria bersetelan jas hitam dan asisten yang sibuk mencatat, berdiri Gu Jingshen.

Pria itu mengenakan setelan jas tiga lapis berwarna abu-abu gelap yang sangat pas di tubuh tegapnya. Rambutnya disisir rapi ke belakang, memperlihatkan dahi yang tegas dan mata yang dingin—persis seperti Marsekal Gu Yan, namun kali ini tanpa seragam militer dan tanpa kehangatan di matanya.

Gu Jingshen berjalan melewati meja resepsionis dengan langkah lebar. Ia tidak melirik ke kiri maupun ke kanan, seolah orang-orang di sekitarnya hanyalah patung.

"Tuan Gu!" panggil Lin Xia tanpa sadar.

Langkah Gu Jingshen terhenti. Seluruh lobi seolah membeku. Para asistennya saling berpandangan dengan wajah pucat. Siapa wanita berani ini yang berani memanggil nama CEO mereka dengan begitu lancang?

Gu Jingshen berbalik perlahan. Ia menatap Lin Xia. Tatapannya datar, tajam, dan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda pengenalan.

"Siapa Anda?" suara pria itu rendah, dingin, dan sangat asing.

Lin Xia merasa lidahnya kelu. "Saya... saya Lin Xia. Kita bertemu di Suzhou... di wahana The Forgotten Chronicle hari Sabtu kemarin."

Gu Jingshen menyipitkan matanya sebentar, seolah mencoba mengingat, namun kemudian ia mendengus kecil. "Ah, salah satu pengunjung wahana. Jika Anda memiliki keluhan tentang sistem yang rusak kemarin, silakan hubungi bagian layanan pelanggan. Saya tidak punya waktu untuk urusan sepele."

Ia berbalik untuk melanjutkan langkahnya.

"Tunggu! Sapu tangan ini!" teriak Lin Xia, ia menarik sapu tangan putih itu dari tasnya. "Ini milikmu! Kau terluka di bahu kiri saat menyelamatkanku dari serangan di perpustakaan!"

Gu Jingshen berhenti lagi. Kali ini ia benar-benar berbalik dan berjalan mendekati Lin Xia. Atmosfer di sekitar mereka menjadi sangat menekan. Gu Jingshen berhenti tepat di depan Lin Xia, memaksa Lin Xia untuk mendongak menatapnya.

"Sapu tangan?" Gu Jingshen mengambil kain itu dengan dua jari, memeriksanya sebentar, lalu melemparkannya kembali ke arah Lin Xia. Kain itu jatuh ke lantai marmer. "Saya tidak pernah memiliki sapu tangan seperti itu. Dan bahu saya? Saya sehat-sehat saja."

Ia membuka sedikit jasnya, menunjukkan bahu kirinya yang tertutup kemeja mahal yang licin tanpa bekas luka sedikit pun.

"Nona, sepertinya Anda terlalu banyak berfantasi di dalam permainan simulasi kami. Wahana itu memang dirancang untuk membuat orang kehilangan akal sehat," kata Gu Jingshen dengan nada mengejek. "Keamanan, tolong bawa wanita ini keluar. Dia mulai mengganggu kenyamanan."

Dua petugas keamanan segera mendekat dan mencengkeram lengan Lin Xia.

"Tapi kau berjanji padaku! Kau berjanji akan mencari Yanran bersamaku!" jerit Lin Xia saat ia diseret keluar.

Langkah Gu Jingshen terhenti sesaat saat mendengar nama "Yanran". Otot rahangnya mengeras, dan ada kilatan emosi yang sangat cepat melintas di matanya—kesedihan, kemarahan, dan kebingungan. Namun, ia tidak berbalik. Ia terus berjalan masuk ke dalam lift pribadi yang kemudian tertutup rapat.

[Waktu: Senin, 20 April, Pukul 12.00 PM]

[Lokasi: Taman Kota di depan Gu Corp, Shenzhen]

Lin Xia duduk di bangku taman dengan kepala tertunduk. Ia memungut kembali sapu tangan yang kotor itu. Air matanya menetes. Semuanya terasa seperti mimpi buruk. Mengapa Gu Jingshen tidak ingat? Mengapa lukanya hilang?

"Mungkin dia benar," gumam Lin Xia pahit. "Mungkin aku sudah gila."

"Kau tidak gila, Lin Xia."

Sebuah suara yang akrab membuat Lin Xia mendongak. Di depannya berdiri seorang pria berkacamata dengan ekspresi serius. Itu adalah Zhou Ming, salah satu rekan penulis naskahnya yang juga merupakan seorang ahli teknologi game.

"Zhou Ming? Apa yang kau lakukan di sini?"

"Aku melihatmu diseret keluar dari gedung Gu Corp," kata Zhou Ming sambil duduk di sampingnya. "Lin Xia, dengarkan aku. Wahana di Suzhou itu... itu bukan wahana biasa. Itu adalah proyek rahasia bernama 'Project Mnemosyne'. Mereka menggunakan gelombang otak untuk menciptakan realitas alternatif."

Lin Xia menatapnya tak percaya. "Lalu kenapa dia tidak ingat aku? Kenapa lukanya hilang?"

"Karena ingatannya di dalam permainan 'dibersihkan' oleh sistem saat pemulihan darurat. Itu adalah protokol keamanan perusahaan untuk mencegah trauma pada subjek VVIP seperti Gu Jingshen," jelas Zhou Ming. "Tapi kau... entah bagaimana, ingatanmu tetap utuh. Dan sapu tangan itu? Itu adalah 'glitch' materi. Sebuah anomali di mana data digital berubah menjadi materi nyata karena kesalahan sistem saat penarikan paksa."

Lin Xia meremas sapu tangan itu. "Jadi, semua yang terjadi itu nyata? Perasaan itu... nyata?"

"Realitas adalah apa yang otakmu rasakan, Lin Xia. Bagi Gu Jingshen, kau hanyalah data yang sudah dihapus. Tapi bagimu, dia adalah pria yang menyelamatkan nyawamu."

Lin Xia berdiri dengan semangat baru. "Bagaimana caranya agar dia ingat? Bagaimana cara menemukan adiknya, Yanran?"

Zhou Ming menghela napas. "Satu-satunya cara adalah masuk kembali ke dalam sistem. Tapi kali ini, bukan sebagai pengunjung. Kau harus masuk ke dalam inti data sebagai staf pengembang. Kau harus berada di dekat Gu Jingshen saat dia melakukan sinkronisasi saraf berikutnya."

"Bagaimana aku bisa masuk ke sana jika aku baru saja diusir oleh keamanan?"

Zhou Ming tersenyum tipis dan mengeluarkan sebuah kartu identitas staf dari sakunya. "Aku bekerja di divisi teknis mereka. Dan mereka sedang butuh penulis naskah baru untuk memperbaiki 'naskah yang rusak' yang kau buat di Suzhou. Mereka tidak tahu itu naskahmu, karena kau menggunakan nama pena."

Lin Xia mengambil kartu itu. Matanya berkilat penuh tekad.

"Aku akan kembali ke sana," kata Lin Xia tegas. "Aku akan membuat Marsekal itu mengingat janjinya."

[Waktu: Senin, 20 April, Pukul 15.00 PM]

[Lokasi: Ruang Kerja CEO, Lantai 50 Gu Corp]

Gu Jingshen berdiri di depan jendela besar, menatap pemandangan kota Shenzhen yang sibuk. Di tangannya, ia memegang sebuah tablet yang menampilkan profil data pengunjung wahana Suzhou.

Foto Lin Xia muncul di layar.

"Lin Xia..." gumamnya pelan.

Entah mengapa, sejak pertemuan di lobi tadi, dadanya terasa sesak. Ada perasaan hampa yang tidak bisa ia jelaskan, seolah-olah ada bagian dari dirinya yang tertinggal di suatu tempat yang dingin dan bersalju. Ia menyentuh bahu kirinya. Tidak ada luka, tapi terkadang, ia merasa seperti ada rasa perih yang samar di sana saat ia melihat wanita itu menangis.

"Tuan Gu," asisten pribadinya masuk. "Penulis naskah baru dari divisi kreatif sudah sampai. Dia akan membantu kita merestorasi data yang hilang dari naskah 'Era Republik' untuk mencari petunjuk keberadaan Nona Yanran."

Gu Jingshen tidak berbalik. "Suruh dia masuk."

Pintu terbuka. Langkah kaki ringan terdengar memasuki ruangan yang luas itu.

"Selamat sore, Tuan Gu. Saya Lin Xia, staf baru yang akan menangani naskah Anda."

Gu Jingshen membeku. Ia berbalik dengan cepat dan mendapati wanita yang sama dari lobi tadi berdiri di depannya dengan senyum tipis yang mengandung luka, namun juga keberanian yang luar biasa.

"Kau lagi?" desis Gu Jingshen.

"Kali ini saya datang sebagai penulis Anda, Tuan Gu," kata Lin Xia sambil meletakkan laptopnya di meja besar sang CEO. "Dan saya berjanji, kali ini saya akan menulis akhir cerita yang jauh lebih baik untuk kita semua."

Mata mereka bertemu, dan untuk sesaat, aliran listrik yang sama seperti di kanal Suzhou terasa kembali. Meskipun Gu Jingshen tidak mengingatnya, sel-sel di tubuhnya tampaknya bereaksi terhadap kehadiran wanita di depannya.

"Baiklah, Lin Xia," ucap Gu Jingshen, suaranya kini tidak sedingin tadi. "Tunjukkan padaku seberapa hebat kau dalam menulis ulang takdir."

...****************...

1
Celine
Keren Author
Ika Anggriani
serem juga😭
Agry
/Hey/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!