Di pesta 1 tahun pernikahan, dia dikhianati oleh suami dan sahabatnya. Terlibat dalam kecelakaan mobil yang membuatnya meregang nyawa,
Namun tuhan memberi Reta kesempatan untuk menjalani kehidupan kedua.
Kali ini, dia berjanji akan mengambil kembali semua yang pernah menjadi miliknya. Berencana menghubungi satu-satunya keluarga,
"Mulai sekarang kamu adalah wanitaku." tegas Max menatap tajam gadis yang telah ia lucuti,
Secuil tragedi mengantar mereka ke hubungan yang salah.
Bisakah Reta membalas dendam sembari mengatur takdir yang membelenggu tubuh keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tugas dan siksaan
"Hai..." sapa Fero, menyengir pada gadis yang berdiri di sampingnya.
"Kita bertemu lagi," berbisik.
Ana hanya diam tak berani menoleh, melihat wajah garang Max yang terus memandangi mereka berdua.
Rautnya tampak muak, membuka salah satu rak meja, mengambil sebuah ipad. Segera dilemparkan ke atas meja,
"Kalian berdua maju." suruh Max berpangku dagu,
"Di dalam sini ada banyak file tentang rencana perjalanan, pertemuan dan beberapa catatan rapat dari tahun lalu."
"Sekarang siapkan kertas dan bolpoin, pilih 5 file dari sini untuk kalian salin."
"T-tulis? semua yang tadi Bapak bilang, harus ditulis?" sontak Ana terkejut,
"Iya. Apa kamu tidak bisa menulis?" timpalnya dingin,
"B-bisa! Saya pandai menulis,"
"Pft..." Fero terkekeh, melihat reaksi polos Ana yang berlari mengambil tas seperti anak kecil.
"Kamu kenapa ketawa? Cepat siapkan kertas dan pulpen."
"Lho, saya juga?"
Fero tercengang, mengacungkan telunjuk pada dirinya sendiri.
"Iya. Apa kamu tuli?" Max menjawab datar,
"Aku lupa bawa alat tulis."
Ana bergumam lirih, tubuhnya terduduk lemas di atas lantai. Seakan jadi orang terbodoh sedunia, bagaimana bisa dia melupakan alat sepenting itu?
"Apa?! Ga bawa alat tulis?"
"Ng…" Ana menoleh pelan,
Menggelengkan kepala dengan raut ketakutan.
"Hh...ambil di rak sana dan cepat kerjakan. Dalam waktu dua jam harus selesai,"
"Dua jam?!" Ana terbelalak,
Kenapa rasanya seperti sedang dikejar target?
"Tugasnya terlalu banyak--"
"...?" Max mengerutkan alis, mengerang bak hewan buas, berhasil menakuti gadis yang hendak protes.
"Tidak. Tugasnya sudah cukup...akan saya kerjakan sekarang,"
Ana tersenyum pasrah, bangkit dari duduknya. Mengambil satu buku juga satu buah bolpoin,
"Bukankah anda terlalu keras? Inikan baru hari pertama..." Fero berbisik,
Bermaksud menolong tanpa sadar kalau dirinya juga tak terjebak dalam perlakuan yang sama.
"Mana kertas dan pulpenmu?" tanya Max dengan ketus,
Menyodorkan benda tipis tadi. "Cepat bawa ini, dan duduk di sana...2 JAM HARUS SELESAI."
"Baik..." Fero mengangguk pasrah,
Dengan muka masam, pergi menyusul Ana yang sudah duduk bersiap.
Ana melirik kesal pada pria di sampingnya. "Sialan. Ini pasti gara-gara kopi tadi!"
2 jam kemudian.
"Huft...akhirnya beres juga,"
Fero bersandar, melepas pulpen hitam ditangannya, mengangkat kedua tangan ke atas sambil menenangkan punggung yang terasa kaku.
"Hah? Sudah?"
"Hm..." mengangguk santai, menyerahkan tumpukan kertas pada gadis yang masih tercengang.
Ana merebut, membuka setiap lembaran yang ditulis rapi. "Mustahil..."
"Aku sudah 5 tahun jadi sekretaris pribadi direktur. Tugas kayak gini sudah biasa buatku," sahut Fero menyombongkan diri.
"Sekretaris? Jadi dia sekretaris---tapi, kenapa aku tidak pernah mengenalnya?" batin Ana terheran,
Memandang pria yang telah bangun menghampiri Max. Keduanya tampak biasa berbincang, dan Fero masih berlagak santai menghadapi atasannya yang begitu seram.
"Hih?!" Ana terjingkat, tak sengaja mata mereka saling menatap.
Max berjalan menghampiri dengan raut angkuh, melepas kacamatanya dan berdiri tepat di depan Ana.
"Apa kamu sudah selesai?"
"Belum..."
"Cih, lemot." menatap malas,
"Catat 5 file lagi. Jangan pulang sebelum selesai," imbuh Max melangkah pergi meninggalkan ruang.
Diikuti Fero, mereka meninggalkan gadis yang nyaris pingsan kelelahan. Ana mematung dengan mulut terbuka, merasakan jiwanya yang hendak kabur.
"Apa yang Bapak lakukan?" bisik Fero merasa iba,
"Apa maksudmu? Melakukan apa?"
Max bertanya remeh tak menoleh, masih berjalan menuju lift.
"Bukankah, gadis itu adik Leo Prawira? Bapak pasti ingat dengannya, minggu lalu---di kedai es krim."
"Iya, aku ingat."
"Terus? Kenapa Bapak memberinya tugas sebanyak itu?" gumam Fero, menggaruk tengkuk.
Menekan tombol angka yang mebawa mereka turun ke lantai bawah.
"Aku mau dia mengundurkan diri." jawab Max dengan nada datar,
"Hh! Kenapa? Apa anda tidak menyukainya? Kelihatannya dia gadis ceria dan penurut,"
"Apa kamu tidak lihat tubuhnya? Sangat kurus, wajahnya pucat sekali-"
"Wah, jangan-jangan anda mau dicarikan asisten bahenol?" lugas Fero tertawa girang,
"Bodoh! Aku hanya tidak suka, mempekerjakan gadis penyakitan."
"Jadi, anda sengaja memberi puluhan tugas untuk membuatnya menyerah?"
"Hm..." Max berdehem mengiyakan,
"Tapi, sepertinya gadis itu tidak akan menyerah. Soalnya setahu saya...keluarga mereka sedang ada masalah,"
"Ayahnya mengkorupsi dana perusahaan sebesar 2 milliar."
Pukul 16.00
Langkah Ana baru saja melewati pintu yang telah terbuka, membawanya masuk ke dalam rumah.
Ikat rambutnya tampak kusut, Ana begitu letih memaksakan diri untuk menaiki anak tangga. Tak sabar rasanya untuk segera merebahkan tubuh ke atas ranjang,
"Aduh. Jariku rasanya mau patah,"
"Badan pegel semua!" gumam Ana merengek,
Jemari Ana merogoh tas, mendengar dering dari hp miliknya.
"Halo?" Ana menyapa dengan nada malas,
"H-halo. Bagaimana hari pertamamu?"
Meski di balik telfon, suara Alfio tetap terdengar gugup, terlebih lagi mendapat respon singkat dari Ana.
"Buruk. Ini hari yang buruk! Aku bertemu dengan para bajingan!"
Ana mengoceh lantang, meletakkan lubang suara itu ke depan mulutnya. Emosinya meluap tanpa sadar menjadikan Alfio sebagai objek pelampiasan,
"Sepertinya sangat buruk ya? M-maaf, ya...gara-gara aku kamu jadi mengalami kejadian buruk."
"Eh--lho, Al?" panggil Ana, menyadari ucapannya terlalu berlebihan.
"Padahal kamu baru saja pindah, dan belum punya teman. Anak-anak juga mengganggumu karena duduk di sebelahku..."
"Seharusnya, aku tidak memberi-"
"Cukup!" bentak Ana,
"Berhenti minta maaf, kamu tidak salah. Aku tidak sedang menyalahkanmu...maaf, seharusnya aku tidak berteriak seperti tadi."
"..." Alfio diam tak lagi menggumamkan kalimat penyesalan,
"Kamu tahu. Teman juga tempat kita berkeluh kesah, jadi terkadang hal kayak tadi bisa saja terjadi."
"Aku tidak sedang menyalahkanmu. Tapi aku cuma menceritakan apa yang kuhadapi tadi," Ana menunduk lesu.
Kehabisan energi untuk berpikir, entah kalimat apa yang harus digunakan agar temannya tidak salah paham.
"Maksudmu curhat?" celetuk Al dengan lirih,
"Iya! Curhat. Aku tadi sedang curhat kepadamu," Ana tersenyum riang,
Dari jauh Citra melihat anaknya yang begitu semangat berceloteh. Langkah itu hendak menghampiri, sebab melihat Ana yang pulang dalam keadaan murung.
Namun sepertinya Ana sudah kembali normal, alhasil Citra hanya tersenyum memandang punggung putrinya yang masuk ke dalam kamar.