Tiga hari ia bergulat dengan maut. Bayinya lahir tanpa tangis. Lalu diam selama 25 tahun.
Aryo hanya penarik becak. Istrinya buruh cuci. Mereka tak punya uang untuk rumah sakit, apalagi untuk terapi. Tapi ketika dokter bilang anaknya tak akan pernah normal, Aryo cuma berkata: "Dia tetap anakku."
Warga bilang anaknya kena guna-guna. Tetangga bergunjing di setiap pos kamling. Batu dilempar ke rumahnya tengah malam. Tapi Aryo bertahan. Sampai suatu hari, istrinya batuk darah. Dan Aryo harus memilih: selamatkan istri, atau rawat anak yang tak pernah bisa memanggilnya Bapak?
Kisah nyata seorang ayah yang mengajarkan arti cinta tanpa syarat.
Siap-siap sediakan tisu. Karena setiap bab akan membuatmu terisak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: KEMBALI KE DOKTER
Mobil itu berhenti. Aryo nggak tahu siapa pengemudinya. Yang ia tahu, ia dan Risma masuk ke dalam mobil itu. Dewi di sampingnya. Tangan Dewi gemetar. Wajahnya pucat pasi. Seperti kertas.
"Pak, tenang. Saya antar ke rumah sakit."
Suara itu asing. Tapi Aryo nggak peduli. Yang penting Risma.
Di perjalanan, Aryo pegang tangan Risma. Tangan mungil itu dingin. Sangat dingin. Seperti es batu yang baru diambil dari kulkas. Aryo tiup-tiup, usahakan hangat. Tapi dinginnya seperti nggak mau pergi. Meresap sampai ke tulang.
"Nak... bentar lagi... bentar lagi sampai..."
Risma diam. Matanya terpejam. Napasnya cepat. Cepat sekali. Seperti orang habis lari maraton. Dada mungil itu naik turun, naik turun, nggak berhenti.
Aryo hitung: satu... dua... tiga... empat... lima... enam... tujuh... delapan... sembilan... sepuluh. Sepuluh napas dalam sepuluh detik. Terlalu cepat. Aryo tahu itu nggak normal.
"Cepet, Pak! Cepet!" teriaknya ke supir.
Mobil berhenti di UGD. Aryo turun, lari masuk. Risma di gendongannya. Tubuh anaknya lemas. Kepalanya terkulai. Dewi di belakang, nangis. Suara isaknya pecah di lorong rumah sakit.
"TOLONG! ANAK SAYA!"
Perawat-perawat langsung sigap. Risma diambil, diletakkan di brankar. Dibawa masuk ke ruang tindakan. Pintu besi itu tertutup rapat. Bunyinya dentang. Membuat hati Aryo ikut tertutup.
Aryo mau ikut. Tapi pintu ditutup di depan mukanya.
"Pak, tunggu di luar," kata seorang suster. Matanya iba.
Aryo diam. Ia duduk di kursi. Tangan dan kakinya gemetar. Badannya panas. Kepalanya pusing. Tapi ia paksakan.
Dewi duduk di sampingnya. "Mas... Mas... gimana?" Suaranya bergetar.
Aryo pegang tangannya. Tangannya sendiri dingin. "Nggak tahu, Ri... kita tunggu..."
Mereka berdua duduk di lorong itu. Menunggu. Lagi-lagi menunggu.
Jam dinding berdetak. Tek... tek... tek... Aryo benci suara itu. Setiap detaknya seperti palu yang menghantam jantung. Matanya nggak lepas dari pintu itu. Lampu merah di atas pintu menyala. Menakutkan.
Lima menit. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Aryo hitung semua.
Dewi pegang tangannya. Erat. Sangat erat. Aryo bisa rasakan kuku Dewi nyaris menusuk kulitnya. Tapi ia nggak protes. Rasa sakit itu malah membuatnya sadar: ini nyata. Ini bukan mimpi.
"Mas, aku takut." Mata Dewi basah. Bulu matanya basah. Air mata jatuh satu per satu.
"Iya, Ri... aku juga takut..."
Setengah jam. Satu jam. Satu setengah jam.
Pintu terbuka. Dokter keluar. Wajahnya lelah. Mata merah. Ada lingkaran hitam di bawah mata. Maskernya diturunkan, ada bekas merah di pipi.
"Pak, anak Bapak selamat. Tapi... ini sudah tiga kali kejang dalam sebulan. Kami harus lakukan pemeriksaan lebih lanjut."
Aryo menghela napas panjang. Lega. Tapi kata "pemeriksaan lebih lanjut" bikin ia cemas.
"Pemeriksaan apa, Dok?" Aryo berdiri. Lututnya lemas.
"EEG. Untuk merekam gelombang otak. Untuk melihat apakah ada aktivitas epilepsi."
Dewi bertanya, "Mbah, bahaya nggak, Dok?" Matanya membelalak.
"Tidak, Bu. Hanya merekam. Anak Ibu cuma dipasangi kabel di kepala. Nggak sakit."
Aryo nggak paham. Tapi ia mengangguk. "Iya, Dok. Kami setuju."
Risma dipindahkan ke ruang rawat. Bukan NICU lagi. Tapi ruang anak biasa. Itu kabar baik.
Aryo dan Dewi masuk. Risma terbaring di ranjang. Masih pucat. Tapi napasnya mulai teratur. Dada kecil itu naik turun pelan. Teratur. Indah dipandang.
Dewi duduk di sampingnya. Pegang tangan Risma. Tangannya yang kecil itu. Aryo lihat jari-jari mungil Risma. Kuku-kuku kecil. Bersih. Mungil.
"Nak... Nak... kamu jangan sakit lagi ya... Ibu takut..." Dewi bicara sambil nangis. Air matanya jatuh. Jatuh di sprei rumah sakit. Membasahi kain putih itu.
Aryo berdiri di samping tempat tidur. Memandangi anaknya. Risma tidur. Dadanya naik turun pelan. Bulu matanya panjang. Hidungnya mungil.
"Nak, Bapak minta maaf. Bapak belum bisa kasih yang terbaik buat kamu. Bapak cuma penarik becak. Tapi Bapak janji, Bapak nggak akan berhenti berjuang."
Dari luar, suster memanggil. "Pak, administrasi." Suaranya nyaring.
Aryo keluar. Suster itu memberikan kertas. Panjang. Rincian biaya. Aryo baca. Angka 2,1 juta. Dilihatnya. Jantungnya berhenti sejenak.
"Bisa dicicil, Pak," kata suster itu. Matanya ramah. "Tapi uang muka dulu 500 ribu."
Aryo mengangguk. "Saya usahakan, Mbak." Suaranya serak.
Ia ke luar rumah sakit. Jalan kaki ke pasar. Matahari terik. Kulitnya terbakar. Tapi ia nggak peduli. Kakinya melangkah cepat. Mikir. Mikir utangan lagi.
Di pasar, ia ketemu Kirman, rentenir itu. Kirman lagi duduk di warung kopi. Minum kopi hitam. Asap rokok mengepul.
"Pak Kirman, saya pinjam lagi. 500 ribu."
Kirman tersenyum. Senyum yang nggak pernah sampai ke mata. "Pak Aryo, utang Bapak masih 1,5 juta. Plus bunga. Sekarang mau nambah lagi?"
Aryo mengangguk. "Anak saya sakit. Di rumah sakit." Matanya berkaca.
Kirman diam. Menatap Aryo. Lalu berkata, "Pak, saya nggak tega lihat Bapak. Tapi ini bisnis. Bunga 20 persen. Jaminan?"
Aryo mikir keras. Becak udah digadaikan. Rumah? Nggak mungkin. "BPKB mobil? Nggak punya. Sertifikat rumah? Nggak punya."
Kirman menghela napas. Panjang. Asap rokoknya mengepul ke atas. "Pak, saya pinjemin. Tapi ini terakhir. Kalau Bapak nunggak lagi, saya ambil becak Bapak. Setuju?"
Aryo mengangguk. "Setuju." Suaranya lirih.
Ia terima uang 500 ribu. Merasa kertas itu berat. Sangat berat. Lari balik ke rumah sakit. Napasnya ngos-ngosan. Keringat bercucuran di dahi.
Di rumah sakit, ia bayar uang muka. Sisa 1,6 juta bisa dicicil. Kertas itu ditandatangani. Tanda tangannya jelek. Tapi itu tanda tangannya.
Ia ke ruang rawat. Risma sudah bangun. Matanya terbuka. Menatap langit-langit. Langit-langit putih. Lampu neon. Risma menatapnya nggak berkedip.
"Nak, Bapak udah bayar. Kamu nggak usah khawatir."
Dewi menatap Aryo. "Mas, utang lagi?" Keningnya berkerut.
Aryo mengangguk. "Nggak papa, Ri. Yang penting Risma sembuh."
Dewi nangis. "Mas... aku takut... utang numpuk... nanti kita gimana?" Tangannya memegang kepala.
Aryo peluk istrinya. Rambut Dewi bau. Tapi ia nggak peduli. "Kita jalani aja, Ri. Tuhan pasti kasih jalan." Ia usap punggung Dewi.
Tapi dalam hati, Aryo juga takut. Utang 2 juta plus bunga. Penghasilan nggak menentu. Risma butuh biaya terus. Sampai kapan?
Malam harinya, Aryo nggak bisa tidur. Ia duduk di kursi rumah sakit. Kursi besi, dingin. Memandangi Risma yang tidur. Risma tidur dengan mulut sedikit terbuka. Lucu.
Ia ingat kata dokter. "Pemeriksaan EEG." Ia nggak tahu apa itu. Tapi pasti mahal.
Ia ingat utang ke Kirman. Bunga 20 persen. Kalau nggak bayar, becak diambil. Narik apa?
Ia ingat Dewi. Istrinya makin kurus. Lingkaran hitam di mata makin pekat. Rambutnya rontok. Tapi Dewi nggak pernah ngeluh.
Ia ingat Risma. Anaknya mungil. Rapuh. Tapi kuat. Terus berjuang.
Aryo menangis. Menangis dalam diam. Biar nggak kedengeran siapa-siapa. Bahunya bergetar. Rahangnya ngunci.
Tiba-tiba, Risma bergerak. Tangannya meraih. Seperti mencari sesuatu.
Aryo dekati. "Nak, Bapak di sini." Suaranya berbisik.
Ia ulurkan jarinya. Risma pegang jari itu. Erat. Kuat. Luar biasa kuat untuk bayi sekecil itu.
Aryo tersenyum. "Makasih, Nak... makasih udah kuat..." Air matanya jatuh lagi.
Esok harinya, Risma menjalani EEG. Suster-suster memasang kabel-kabel kecil di kepala Risma. Kabel warna-warni. Merah, kuning, biru. Risma nggak rewel. Ia diam saja. Matanya menatap ke mana-mana.
Aryo lihat dari balik kaca. Kabel-kabel itu seperti jaring laba-laba di kepala anaknya. Menyeramkan. Tapi Risma diam. Matanya terpejam.
Dokter datang. Membawa kertas panjang. Grafik-grafik. Garis naik turun. Menjelaskan hasilnya.
"Pak, dari rekaman EEG, anak Bapak menunjukkan aktivitas epilepsi. Artinya, dia butuh obat anti-kejang rutin. Mungkin seumur hidup."
Aryo diam. Kata "seumur hidup" lagi. Seumur hidup sakit. Seumur hidup minum obat. Seumur hidup perjuangan.
"Tapi, Pak, jangan putus asa. Dengan obat rutin, kejang bisa dikontrol. Dia bisa tumbuh."
Aryo mengangguk. "Siap, Dok."
Dokter itu menulis resep. Panjang. Banyak. Aryo lihat daftar obat itu. Lima macam. Nama-nama asing. Susah diucapkan.
"Obat ini harus rutin, Pak. Pagi dan malam. Jangan sampai telat. Kalau telat, bisa kejang lagi."
Aryo catat di buku kecilnya. Buku itu makin tebal. Makin banyak coretan. Tangannya gemetar saat menulis.
Mereka pulang tiga hari kemudian. Aryo gendong Risma. Kain gendongan lusuh. Risma ringan. Terlalu ringan. Dewi bawa tas berisi pakaian dan obat-obatan. Tas plastik warna merah. Murahan.
Sepanjang jalan, Aryo diam. Mikir. Mikir uang. Mikir masa depan.
Sampai rumah, ia buka pintu. Pintu kayu, bunyi nyaring. Rumah masih sama. Dinding bambu, lantai tanah, atap bocor. Bau apek menyengat.
Ia letakkan Risma di dipan. Risma tidur. Lelah.
Dewi duduk di sampingnya. "Mas, kita bisa bertahan kan?" Matanya mencari kepastian.
Aryo pegang tangannya. Tangan Dewi kasar. Kapalan. "Bisa, Ri. Kita pasti bisa." Ia paksakan tersenyum.
Tapi malam harinya, Aryo nggak tidur. Ia duduk di beranda. Hitung-hitungan. Pakai kertas bekas bungkus rokok.
Utang ke Kirman: 2 juta plus bunga 20 persen \= 2,4 juta.
Cicilan rumah sakit: 1,6 juta.
Kebutuhan sehari-hari: 500 ribu per bulan.
Obat Risma: 300 ribu per bulan.
Total: 4,8 juta.
Ia penarik becak. Penghasilan rata-rata 400-500 ribu per bulan.
Selisih: 4,3 juta.
Aryo nggak bisa tidur. Matanya terbuka lebar. Menatap langit malam.
Bintang-bintang berkerlip. Indah. Tapi Aryo nggak lihat keindahan itu. Yang ia lihat cuma angka-angka. Utang. Bunga. Cicilan.
"Tuhan... gimana ini? Gimana aku bisa bayar semua?" Ia berbisik.
Nggak ada jawaban. Hanya angin malam yang berhembus. Dingin. Menusuk tulang. Aryo menggigil.
Esok harinya, Aryo putuskan narik becak lebih keras. Pagi-pagi buta udah berangkat. Jam 4 pagi. Gelap. Dingin. Malam baru pulang. Jam 10 malam. Capek. Tapi ia lakukan.
Dewi di rumah urus Risma. Mandi, suap, ganti popok, kasih obat. Semua sendiri.
Setiap hari begitu. Nggak ada libur. Nggak ada istirahat.
Suatu sore, Aryo pulang lebih awal. Jam 5 sore. Biasanya belum pernah. Ia lihat Dewi duduk di samping Risma. Risma lagi tidur. Dewi pegang tangannya. Air matanya jatuh.
"Ri, aku pulang."
Dewi menoleh. Matanya sembab. Merah. Habis nangis.
"Ada apa, Ri?"
Dewi geleng. "Nggak apa-apa, Mas."
Aryo duduk di sampingnya. Lantai tanah, dingin. "Bohong. Kamu nangis." Ia pegang dagu Dewi, arahkan wajahnya.
Dewi diam. Lalu berkata, "Mas, aku takut. Takut kita nggak kuat." Suaranya pecah.
Aryo pegang tangannya. Tangan itu dingin. "Kita harus kuat, Ri. Buat Risma."
Dewi nangis. Nangis keras. "Tapi Mas... aku capek... capek banget..." Tubuhnya gemetar.
Aryo peluk istrinya. Erat. Sangat erat. "Maafin aku, Ri. Maafin aku nggak bisa jadi suami yang baik. Maafin aku cuma penarik becak. Maafin aku nggak bisa kasih hidup enak buat kamu." Ia nangis juga.
Dewi nangis lebih keras. "Bukan itu, Mas. Bukan itu. Aku nggak minta enak. Aku cuma minta... aku cuma minta kamu sehat. Risma sehat. Kita bisa bareng-bareng."
Aryo diam. Ia nggak bisa janji. Ia nggak tahu besok sakit atau sehat. Ia cuma tahu, hari ini ia harus kuat. Buat Dewi. Buat Risma.
Malam itu, mereka tidur bertiga. Aryo, Dewi, Risma. Di dipan bambu yang sempit. Berdesakan. Tapi hangat.
Aryo pegang tangan Risma. Risma pegang jarinya. Erat. Genggaman itu hangat.
"Nak, Bapak janji. Bapak akan jagain kamu. Sampai kapan pun."
Dari luar, terdengar suara jangkrik. Malam makin larut. Tapi Aryo nggak bisa tidur.
Ia memandangi Risma. Anaknya tidur. Wajahnya tenang. Seperti nggak punya beban.
"Nak... kamu nggak tahu ya... betapa beratnya hidup ini? Kamu nggak tahu ya... bapak ibumu berjuang mati-matian buat kamu?"
Risma diam. Tapi napasnya teratur. Pelan. Menenangkan.
"Tapi nggak apa-apa, Nak. Bapak ikhlas. Bapak rela capek. Rela utang. Rela apa aja. Yang penting kamu hidup. Kamu sehat."
Air matanya jatuh. Lagi-lagi. Di pipi Risma.
Di sampingnya, Dewi juga nggak tidur. Ia dengar semua. Ia pegang tangan Aryo. Tangannya hangat.
"Mas, aku sayang kamu."
Aryo tersenyum. Senyum di tengah air mata. "Aku juga sayang kamu, Ri. Dan aku sayang Risma. Kita akan kuat bareng-bareng."
Di luar, hujan mulai turun. Rintik-rintik di atap bocor. Air menetes di beberapa tempat. Tapi mereka nggak peduli.
Mereka bertiga tidur. Berpelukan. Menghangatkan satu sama lain.
Di tengah keterbatasan, di tengah utang, di tengah penyakit, ada cinta.
Cinta yang nggak pernah pudar.
Cinta yang membuat mereka terus bertahan.
Pagi harinya, Aryo bangun lebih awal. Jam 4 pagi. Masih gelap. Ia mau narik becak. Tapi saat buka pintu, ia kaget.
Di depan rumah, ada Kirman. Rentenir itu. Duduk di kursi bambu. Pake kemeja lusuh. Wajahnya nggak ramah.
"Selamat pagi, Pak Aryo." Suaranya datar.
Aryo diam. Jantungnya berdegup kencang. Keringat dingin keluar.
"Pak Kirman... ada apa pagi-pagi?" Suaranya bergetar.
Kirman tersenyum. Tapi senyum itu nggak sampai ke mata. Matanya dingin. Tajam.
"Pak, saya hitung-hitung utang Bapak. Sudah 2,4 juta plus bunga. Sudah jatuh tempo. Saya mau ambil jaminan."
Aryo pucat. Wajahnya berubah. "Pak Kirman, tolong... kasih saya waktu..." Tangannya memohon.
Kirman geleng. "Sudah, Pak. Saya sudah kasih waktu. Sekarang saya mau ambil becak Bapak."
Aryo mau protes. Tapi dari belakang Kirman, muncul dua orang. Badan besar. Muka galak. Tato di lengan. Mereka mematung. Menakutkan.
Aryo diam. Ia nggak bisa lawan.
Mereka masuk ke halaman. Ambil becak. Becak tua itu. Satu-satunya sumber penghasilan. Dicongkel, didorong keluar.
Dewi keluar rumah. Lihat itu. Ia menjerit. Jeritan melengking.
"JANGAN! JANGAN AMBIL! ITU SATU-SATUNYA!"
Tapi mereka nggak peduli. Becak itu didorong keluar. Dibawa pergi. Roda-rodanya berderit di jalan tanah.
Aryo jatuh berlutut di tanah. Menangis. Lututnya berdarah kena kerikil.
Dewi lari ke arah Kirman. "Pak Kirman! Pak Kirman! Kasihan kami! Anak kami sakit!" Ia tarik baju Kirman.
Kirman menatap Dewi. Lalu berkata, "Bu, ini bisnis. Saya juga butuh makan." Ia lepaskan tangan Dewi. Pergi.
Mereka pergi. Meninggalkan Aryo dan Dewi yang hancur. Aryo masih berlutut di tanah. Dewi jatuh duduk di sampingnya. Nangis. Nangis sejadi-jadinya.
Risma di dalam rumah, terbaring. Tak tahu apa-apa.
Tapi ia menangis. Menangis keras. Suaranya pecah di pagi buta. Seperti tahu, bapak ibunya sedang hancur. Seperti tahu, hidup mereka baru saja runtuh.
Aryo mendengar tangis itu. Ia bangkit. Berlari masuk. Tanah becek, kakinya tergelincir. Tapi ia paksakan.
Ia gendong Risma. Tubuh kecil itu hangat. "Nak... Nak... jangan nangis... Bapak di sini..." Ia cium kening Risma.
Tapi air matanya sendiri nggak berhenti jatuh. Jatuh di wajah Risma.
Sekarang, mereka nggak punya apa-apa. Nggak punya becak. Nggak punya penghasilan. Utang masih ada. Risma butuh obat.
Hidup mereka hancur. Berserakan.
Dan Aryo nggak tahu, harus mulai dari mana.
Ia hanya bisa menggendong Risma. Memeluknya erat. Berharap ada keajaiban.
Tapi keajaiban itu nggak datang.
Yang datang cuma tangis. Tangis mereka bertiga. Di pagi yang dingin. Di rumah bambu yang bocor.
Di tengah dunia yang seolah nggak peduli.
[BERSAMBUNG]