Di tengah kekacauan lima klan bela diri yang saling berebut pengaruh dan rahasia kuno, lahirlah sebuah organisasi bernama bayangan kegelapan. Mereka adalah sekelompok pembunuh bayaran yang dilatih untuk menjadi mesin kematian tanpa emosi, sering kali ditugaskan untuk menghabisi para petinggi klan yang dianggap mengganggu keseimbangan atau menyimpan kekuatan terlarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 - LABIRIN CERMIN
Langkah kaki Kaelan bergema di atas lantai marmer yang permukaannya begitu bersih hingga tampak seperti genangan air yang membeku. Setelah melewati Jalur Embun Pagi, ia kini berdiri di dalam sebuah ruang yang menentang logika arsitektur manusia. Inilah Labirin Cermin, sebuah tempat yang dirancang bukan hanya untuk menahan fisik musuh, melainkan untuk menghancurkan kewarasan siapa pun yang berani menginjakkan kaki di dalamnya.
Sejauh mata memandang, hanya ada cermin. Cermin-cermin raksasa setinggi sepuluh meter berdiri berjejer, saling berhadapan dalam sudut-sudut yang rumit, menciptakan pantulan tak terbatas yang memusingkan. Di tempat ini, cahaya seolah-olah terperangkap dalam siklus pantulan yang abadi, membuat jarak antara kenyataan dan bayangan menjadi kabur. Kaelan merasa seolah-olah ia sedang berjalan di atas langit dan di bawah bumi secara bersamaan.
"Hati-hati, Kaelan..." Suara Penatua Wu terdengar sangat lemah di punggungnya. Napas pria tua itu terasa hangat namun pendek-pendek di leher Kaelan. "Cermin-cermin ini tidak hanya memantulkan wajahmu. Mereka adalah 'Cermin Pemakan Roh'. Aliansi telah mengurung ribuan jiwa prajurit yang gagal di dalam lapisan kaca ini. Mereka tidak memiliki detak jantung, tidak memiliki hawa panas, dan mereka sangat haus akan kehidupan."
Kaelan menghentikan langkahnya. Ia memejamkan mata, mencoba mengaktifkan Domain Kesunyian—kemampuan andalannya untuk mendeteksi getaran di sekitarnya. Namun, untuk pertama kalinya, Kaelan merasakan gelombang kepanikan kecil. Getaran yang kembali kepadanya sangat kacau. Setiap permukaan cermin memantulkan kembali gelombang suaranya sendiri, menciptakan ribuan gema palsu yang tumpang tindih. Dalam radar mentalnya, seolah-olah ada ribuan Kaelan yang bergerak di sekelilingnya.
"Sial," bisik Kaelan. "Tempat ini dirancang untuk menetralisir indra sensorikku."
Tiba-tiba, Kaelan melihat pergerakan di cermin di sebelah kanannya. Pantulannya di sana tidak mengikuti gerakannya. Saat Kaelan berdiri diam, pantulannya di dalam cermin justru perlahan-lahan menarik belati dari pinggangnya. Dengan gerakan yang sangat halus, sosok di dalam cermin itu melangkah keluar dari permukaan kaca, seolah-olah permukaan padat itu hanyalah riak air.
Lalu, hal yang sama terjadi di cermin sebelah kiri. Di belakangnya. Di depannya.
Dalam hitungan detik, Kaelan dikelilingi oleh belasan sosok yang identik dengan dirinya sendiri. Mereka memiliki rambut putih yang sama, mata merah yang sama, dan jubah hitam yang sama. Namun, ada satu perbedaan yang mengerikan: wajah mereka tidak memiliki fitur manusia. Di tempat di mana seharusnya ada mata dan mulut, hanya ada permukaan kaca halus yang memantulkan kegelapan ruangan.
Inilah "Bayang Tanpa Wajah"—penjaga abadi Labirin Cermin.
"Mereka tidak menyerang fisikmu secara langsung," Wu memperingatkan lagi, suaranya kini hampir seperti bisikan maut. "Mereka menyerang sinkronisasi antara tubuh dan jiwamu. Setiap kali mereka melukaimu, mereka tidak hanya mencuri darahmu, mereka mencuri identitasmu."
Salah satu penjaga cermin itu menerjang maju. Gerakannya bukan hanya cepat, tapi identik dengan teknik Langkah Bayang Rembulan milik Kaelan. Kaelan menangkis serangan belati kaca itu dengan belati meteorit hitamnya.
*Clang!*
Suara benturan logamnya terasa asing. Tidak ada getaran yang merambat ke lengan Kaelan, seolah-olah ia baru saja menangkis udara kosong yang dipadatkan. Namun, saat pedang kaca itu bergesekan dengan belatinya, Kaelan merasakan rasa dingin yang luar biasa merayap ke otaknya. Ingatan masa kecilnya di desa kayu bakar tiba-tiba berkedip di pikirannya, lalu memudar, seolah-olah dihapus oleh penghapus gaib.
"Mereka mencuri ingatanku..." Kaelan menyadari dengan ngeri.
Penjaga cermin lainnya mulai menyerang secara serentak. Mereka bergerak dengan koordinasi yang mustahil bagi manusia biasa. Kaelan bersalto ke belakang, mendarat di atas permukaan lantai yang licin, lalu melepaskan Sutra Rembulan. Benang-benang perak melesat dari jemarinya, namun saat benang itu mengenai tubuh para penjaga, benang-benang itu hanya melewati tubuh transparan mereka tanpa memberikan luka sedikit pun.
"Senjata fisik tidak berguna melawan mereka!" Kaelan menggeram.
Ia harus berpikir cepat. Kaelan menyadari bahwa penjaga-penjaga ini bergantung pada cahaya dan pantulan untuk eksistensi mereka. Jika ia terus bertarung di bawah aturan labirin ini, ia akan habis dikuliti sedikit demi sedikit hingga menjadi salah satu dari mereka—sosok tanpa wajah yang terjebak dalam kaca.
Kaelan menarik napas panjang, membiarkan Inti Bulan Sejati di dadanya berdenyut kencang. Ia berhenti bergerak. Ia membiarkan para penjaga itu mendekat, belati-belati kaca mereka kini hanya berjarak beberapa senti dari jantungnya.
"Kaelan! Apa yang kau lakukan?!" Rian berteriak di dalam pikiran Kaelan (seolah ikatan batin mereka memanggil).
Kaelan tidak menjawab. Ia justru menarik seluruh energi dingin dari ruangan itu ke dalam dirinya sendiri. Ia bukan lagi memancarkan hawa dingin ke luar; ia menciptakan "Vakum Suhu" di pusat tubuhnya. Suhu di Labirin Cermin tiba-tiba naik drastis karena kalornya tersedot paksa, membuat permukaan cermin mulai berembun dan retak karena perubahan tekanan molekuler.
"Teknik Puncak: Kehancuran Kristal Jiwa Mutlak!"
Kaelan menghantamkan kedua telapak tangannya ke lantai. Bukan ledakan fisik yang terjadi, melainkan gelombang frekuensi ultrasonik yang dialiri Qi es. Gelombang ini mencari frekuensi resonansi dari kaca dan kristal.
*PRANGGGGGGGGG!*
Suara itu begitu memekakkan telinga hingga Penatua Wu pingsan seketika. Ribuan cermin raksasa di seluruh labirin pecah secara bersamaan menjadi jutaan serpihan kecil. Cahaya yang terperangkap di dalamnya meledak keluar dalam kilatan perak yang membutakan. Para penjaga tanpa wajah itu menjerit—suara yang terdengar seperti ribuan kaca yang digoreskan pada logam—saat tubuh mereka hancur berkeping-keping karena kehilangan media pantulannya.
Seluruh Labirin Cermin runtuh. Dinding-dinding kaca yang tadinya megah kini hanya menjadi tumpukan debu intan di atas lantai marmer.
Saat debu itu mengendap, Kaelan berdiri di tengah reruntuhan. Napasnya terengah-engah, dan darah segar mengalir dari telinga serta hidungnya akibat tekanan teknik tersebut. Namun, di depannya, pemandangan yang sebenarnya kini terungkap.
Labirin itu ternyata hanyalah ilusi yang menutupi sebuah gerbang besar yang terbuat dari akar pohon hitam yang berdenyut. Akar-akar itu tampak seperti pembuluh darah raksasa yang masuk ke dalam tanah. Bau harum yang memabukkan—bau Bunga Hitam yang murni—menguar dari balik gerbang tersebut.
Kaelan melihat ke bawah. Di kakinya, serpihan cermin terakhir memperlihatkan bayangannya. Wajahnya tampak lebih pucat dari sebelumnya, dan sebagian rambut putihnya kini benar-benar transparan. Ia telah membayar harga yang mahal untuk melewati labirin ini. Sebagian dari ingatan masa kecilnya telah hilang selamanya, dikonsumsi oleh para penjaga cermin.
"Siapa aku?" Kaelan bergumam pada dirinya sendiri.
Ia memegang dadanya. Ia tidak ingat nama ibunya. Ia tidak ingat warna bunga di desa asalnya. Namun, ia masih ingat satu hal: Rasa benci pada Aliansi Langit Merah. Rasa benci itu adalah satu-satunya hal yang tersisa, yang jangkar jiwanya agar tidak melayang pergi.
Kaelan menyesuaikan posisi Wu di punggungnya, lalu melangkah menuju gerbang akar hitam. Setiap langkahnya terasa berat, seolah-olah gravitasi di tempat ini berusaha menariknya masuk ke dalam inti bumi.
Di depan gerbang itu, berdiri seorang pria yang tampak sangat kontras dengan lingkungan bawah tanah yang kotor. Pria itu mengenakan jubah sutra putih bersih dengan sulaman benang emas yang membentuk pola matahari terbit. Di tangannya, ia memegang tongkat dengan permata merah darah yang menyala terang.
"Selamat, 07. Kau adalah orang pertama yang menghancurkan Labirin Cermin dalam tiga ratus tahun terakhir," pria itu berucap dengan nada yang hampir terdengar bangga.
Kaelan menatapnya dengan tatapan kosong. "Kau... Malakor."
"Aku adalah Penatua Agung yang mengawasi kelahiranmu," Malakor tersenyum, sebuah senyum yang tidak memiliki kehangatan. "Dan di balik gerbang ini, adalah alasan mengapa kau dilahirkan. Wadah aslimu sudah menunggu. Apakah kau siap untuk melihat apa yang tersisa dari ibumu setelah kami memanen darahnya selama tujuh tahun?"
Kaelan tidak bicara. Ia hanya menarik belati hitamnya. Kebenciannya yang dingin kini telah mencapai titik didih. Tidak perlu lagi kata-kata. Ruang Nadi Bumi akan menjadi saksi dari akhir sebuah era, atau awal dari kegelapan yang lebih besar.