NovelToon NovelToon
From Turis To Will You Marry Me

From Turis To Will You Marry Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ws. Glo

David Mendoza adalah pria paling menakutkan dan problematik di Sao Paulo, Brazil. Selain karena ia seorang Chief Executive Officer (CEO) perusahaan minyak dan gas terbesar kedua di negara itu, David merupakan ketua kartel kelas kakap. Sehingga membuatnya amat diwaspadai, baik di dunia bawah tanah maupun dalam pergulatan bisnis. Tidak ada yang berani menyentuhnya.
Sampai pada suatu hari, Laila Cakrawala yang merupakan seorang turis asal Indonesia, membuatnya terpana. Sejak saat itu, David terobsesi untuk mendapatkan Laila yang ternyata sudah menikah.
Tetapi, hubungan rumit itu jelas mendapat banyak tantangan, baik soal perasaan maupun alur kehidupan mereka, meski sekalipun David berhasil memenangkan Laila.

Akankah keduanya berakhir bahagia? Atau malah, sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ws. Glo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(Episode 17) Hubungan keluarga yang putus

Ruang tamu kecil itu terasa lebih sempit dari biasanya. Dimana seorang pria tampak berdiri membelakangi Dio. Tubuhnya tinggi, tegap, mengenakan kemeja putih yang pas di badan. Rambutnya tersisir rapi. Ada aura kemewahan yang tak pernah bisa dihapus, seberapa pun ia berusaha menyamarkannya.

Pria tersebut menoleh perlahan ketika mendengar pintu terbuka.

Mata mereka bertemu.

"Dio…" Suara itu berat, dalam, dan familiar. "Akhirnya kau kembali juga."

Darah Dio seperti berhenti mengalir. "Kau..."

Hanum Cakrawala.

Kakak kandung Laila. Pria yang dulu berdiri paling depan saat keluarga Cakrawala memutuskan untuk mengusir Laila dari rumah, dan mengatakan bahwa adiknya telah mempermalukan keluarga besar mereka karena memilih menikah dengan lelaki biasa, seperti Dio.

Langkah Dio menghentak lantai ketika ia mendekat.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya tajam. Tatapannya membara, penuh waspada.

Hanum menatapnya dengan wajah yang tak lagi setegas dulu. Ada garis lelah di sekitar matanya, dan sesuatu yang retak di sana.

"Aku ingin bertemu dengan Laila," jawabnya pelan.

Nama itu membuat jantung Dio bergetar.

"Untuk apa?" desisnya.

Hanum menarik napas panjang, seolah menelan ribuan kata sebelum akhirnya mengucapkannya. "Ibuku sedang sekarat di rumah sakit. Dan ia ingin bertemu dengan putrinya. Adikku… Laila."

Dunia Dio seperti runtuh dalam satu detik. Tetapi bukan rasa iba yang pertama muncul. Melainkan amarah.

Tanpa berpikir panjang, Dio melangkah maju dan mencengkeram kerah kemeja Hanum. Kancing bagian atas terlepas, bergulir di lantai.

"Dasar sialan! Bukankah kalian sudah lama memutuskan hubungan dengan Laila karena menikah dengan orang sepertiku?" suara Dio bergetar oleh emosi yang tertahan bertahun-tahun. "Kenapa sekarang malah tiba-tiba mencarinya, ketika dia sudah menghilang?!"

"Dio... hentikan nak," ujar Mira yang berada di antara mereka. Tetapi tidak berani melepas cengkraman Dio dari kerah Hanum. Sebab ia tahu, betapa emosi putranya yang jarang menunjukkan kemarahan itu.

Hanum tidak melawan. Ia hanya menatap Dio dengan mata yang mulai memerah.

"Dio... Lepaskan dulu," ucapnya pelan.

"TIDAK!" bentak Dio. "Apa kalian tidak tahu, betapa menderitanya Laila saat kalian mengusirnya? Tanpa uang, warisan, atau satu pun benda kenangan! Ia keluar dari rumah itu hanya dengan satu koper kecil dan harga diri yang kalian injak!"

Genggaman Dio semakin erat. Nafasnya memburu. Dan kenangan-kenangan itu, menghantamnya tanpa ampun.

Empat tahun sebelum pernikahan.

Ia dan Laila duduk berdampingan di bangku kampus, di jurusan manajemen bisnis yang sama. Laila dengan rambut panjang tergerai, mata berbinar setiap kali menjelaskan teori pemasaran. Dio yang selalu pura-pura tak peduli, padahal diam-diam mengagumi kecerdasannya.

"Aku yakin suatu hari kita bisa punya perusahaan sendiri," kata Laila waktu itu, penuh semangat.

Dio tersenyum kecil. "Perusahaan apa? Perusahaan yang modalnya cuma kopi sachet dan mie instan?"

Laila tertawa. Tawa itu renyah, jernih, dan membuat dunia terasa lebih ringan.

"Jangan meremehkanku, Tuan Dio," katanya sambil menunjuk dada Dio. "Aku serius. Kita bisa mulai dari kecil. Asal bersama."

Empat tahun mereka menjalin cinta dan membangun mimpi.

Namun keluarga Cakrawala tak pernah menyukai Dio. Bagi mereka, Dio hanyalah anak penjual kue yang tidak berarti apa-apa. Tanpa nama besar, aset, dan koneksi.

"Apa yang bisa kau beri pada putriku?" tanya Samuel Cakrawala, ayah Laila. Dengan nada meremehkan kala itu.

Dio menunduk. "Saya akan bekerja keras, Paman."

Hanum berdiri di sisi ayahnya, dengan tatapan dingin. "Kerja keras saja tidak cukup untuk masuk ke keluarga kami."

Tetapi Laila tetap memilihnya. "Aku tidak butuh kemewahan," ucap Laila di depan keluarganya. "Aku butuh seseorang yang mencintaiku."

Keputusan itu pun membuat Laila diusir. Tentunya tanpa warisan dan restu, bahkan pelukan terakhir dari ibunya.

Dio tersentak kembali ke masa kini. Tangannya masih mencengkeram Hanum.

"Kau juga tahu apa yang telah dia lalui?" suara Dio serak. "Dua tahun pernikahan kami penuh cobaan. Saat aku divonis kanker tulang, hanya Laila yang berdiri di sampingku. Tanpa uluran tangan dari sanak-saudara, Laila bekerja mati-matian demi menanggung biaya rumah sakit."

"Tetapi... Kala aku siuman, bukan senyuman indah Laila yang menyambutku. Melainkan kabar bahwa dia tidak tinggal lagi di Indonesia. Dia berada di Brazil. Bekerja disana untuk melunasi hutang-hutang yang digunakan untuk operasi kanker sialanku itu! Sudah hampir sebulan, Laila tidak dapat dihubungi. Entah dia benar ada di Brazil atau tidak, yang jelas aku selalu kepikiran apakah dia masih hidup atau malah sebaliknya...," tangis Dio meledak.

Hanum terdiam.

Suasana hening. Hanya terdengar suara isak tangis Dio dan detak jam dinding yang seakan mengejek.

Genggaman Dio perlahan melemah. Tangannya jatuh di samping tubuhnya.

"Kalau kau ingin membunuhku disini, silahkan. Karena akulah yang paling pantas untuk disalahkan," lanjut Dio dengan suara pecah.

Hanum maju satu langkah, memegang pundak Dio lalu berkata, "setelah mendengar tentang Laila dari ibumu, aku memang ingin sekali menghabisimu. Karena kau telah memberikan banyak derita kepada adikku, karena penyakit kankermu. Namun, jika dipikir-pikir lagi itu tidak sepenuhnya bukan salahmu. Toh dia mencintaimu. Kau adalah seseorang yang membuat dia selalu tersenyum."

"Aku yang sepantasnya disalahkan. Andai sejak awal kami sekeluarga merestui hubungan kalian dan tidak mengedepankan ego, mungkin Laila masih ada ditengah-tengah kita. Ini semua gara-gara aku," raut wajah Hanum menyendu. Betapa menyedihkannya nasib adik perempuannya.

"Maafkan aku Dio," lanjut Hanum penuh penyesalan.

Angin sore masuk lewat jendela, mengibaskan tirai tipis yang mulai usang. Cahaya matahari semakin redup, menyisakan warna jingga yang muram.

"Aku datang karena Ibu terus menyebut namanya," ucap Hanum. "Sejak kondisi ibu memburuk, ia hanya memanggil Laila. Aku, ayah dan bahkan ibu sangat menyesal, Dio."

Dio memejamkan mata.

Menyesal. Kata itu terasa terlambat.

"Menyesal tidak akan membuat Laila kembali," balas Dio.

"Aku tahu," jawab Hanum. "Aku salah. Kami semua salah."

"Karena itulah..." Hanum berlutut.

"Mewakili nama ayah dan ibu, mohon maafkan kami," ujarnya akhirnya. "Dan tolong, ceritakan padaku apa saja yang telah terjadi sebelum pada akhirnya Laila tiba-tiba hilang kabar."

"Aku ingin mengerahkan semua yang kubisa demi menemukan Laila, adikku tercinta. Tak peduli nyawa taruhannya."

Untuk pertama kalinya, Dio melihat Hanum bukan sebagai pria angkuh dari keluarga terpandang. Melainkan sebagai seorang anak sekaligus kakak, yang mungkin akan kehilangan ibu ataupun adiknya.

Dio menghela nafas panjang, "aku juga memang sedang berencana untuk mencari keberadaan Laila. Tanpanya, dunia ini seolah tidak ada artinya. Untuk apa aku hidup, sementara ketidakhadiran Laila membuat semangatku redup?"

"Tapi sebelum itu, kau berdirilah. Jangan seperti pengecut." Lanjut Dio, menatap dingin Hanum Cakrawala.

Dengan wajah yang masih suram, Hanum berdiri.

Dua pria itu saling menatap, mengisyaratkan segalanya lewat sorot mata yang menyala-nyala, bahwa keduanya memiliki satu tujuan. Yaitu Laila.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!