NovelToon NovelToon
Penjara Suci

Penjara Suci

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Perjodohan / Romansa pedesaan
Popularitas:96.2k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Tak semua tempat suci adalah rumah, sebagian hanya penjara bagi hati yang pernah salah.

Hanin dibesarkan dengan keyakinan bahwa cinta hanya halal setelah akad. Di desanya tabu seorang berpacaran. Namun, ia memilih mencintai diam-diam, hingga satu foto tanpa hijab, dalam pelukan Fahmi, menjadikannya aib keluarga.

Hanin dikirim ke pesantren. Sebuah penjara yang dibungkus kesucian. Pesantren berada di suatu desa yang jauh dari kota dan keramaian.

Di sana, ia bertemu Ghania, sahabat yang terasa seperti rumah. Sampai hari pertunangan itu tiba, hari ketika Hanin diperkenalkan pada calon suami Ghania. Pria itu ternyata Fahmi, mantan kekasihnya.

Di balik tembok Penjara Suci, Hanin terjebak antara iman, persahabatan, dan cinta lama yang belum benar-benar mati.
Diam demi menjaga kehormatan,
atau jujur dengan risiko menghancurkan segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Tiga Puluh Lima

Mobil yang membawa Hanin, Arsenio, dan Mama Arsenio melaju perlahan meninggalkan jalan kecil di sekitar pesantren. Pepohonan tinggi yang tadi menaungi halaman pondok kini berganti dengan jalan desa yang lebih ramai.

Hanin duduk di kursi belakang bersama Mama Arsenio. Tangannya masih menggenggam tas kecil berisi beberapa pakaian. Sesekali ia menatap ke luar jendela mobil. Perasaannya masih campur aduk.

Ini pertama kalinya ia pergi ke kota bersama keluarga Arsenio sejak lamaran mereka disetujui. Bahkan sampai sekarang pun ia masih merasa semua ini seperti berjalan terlalu cepat.

Mama Arsenio yang duduk di sampingnya sesekali melirik Hanin dengan senyum lembut.

“Kamu kelihatan tegang sekali, Hanin.”

Hanin langsung tersadar dari lamunannya. “Eh … tidak, Ma.”

Arsenio yang sedang menyetir tertawa kecil dari kursi depan. “Itu wajah orang yang tidak tegang?”

Hanin langsung menatap ke depan dengan sedikit kesal. “Aku memang tidak tegang.”

Mama Arsenio tertawa pelan.

“Sudah, santai saja. Mama tidak akan menculik kamu.”

Hanin ikut tersenyum kecil mendengar candaan itu. Mobil mereka akhirnya memasuki jalan raya kota yang jauh lebih ramai. Gedung-gedung pertokoan mulai terlihat di kiri kanan jalan.

Beberapa menit kemudian mobil berhenti di depan sebuah butik yang tampak cukup besar dan elegan.

Hanin melihat papan nama butik itu dengan sedikit ragu. “Ma … kita ke sini?”

Mama Arsenio membuka pintu mobil sambil tersenyum lebar. “Iya.”

Arsenio ikut turun lalu menoleh ke arah Hanin yang masih duduk di dalam mobil. “Ayo.”

Hanin akhirnya keluar dengan langkah pelan. Ia menatap bangunan butik itu sekali lagi sebelum mengikuti mereka masuk.

Begitu pintu butik terbuka, aroma wangi lembut langsung menyambut mereka.

Di dalam ruangan, berbagai gaun pengantin tergantung rapi di rak-rak kaca. Ada yang berwarna putih bersih, ada pula yang berwarna krem lembut, bahkan beberapa dengan sentuhan warna pastel.

Lampu-lampu hangat membuat seluruh ruangan terlihat sangat elegan.

Seorang wanita yang tampaknya pegawai butik segera mendekat dengan ramah. “Selamat sore. Ada yang bisa kami bantu?”

Mama Arsenio tersenyum. “Kami ingin memesan gaun pengantin.”

Wanita itu langsung terlihat antusias. “Silakan, Bu. Pengantin wanitanya yang mana?”

Mama Arsenio langsung menunjuk Hanin. “Ini.”

Hanin yang tiba-tiba ditunjuk langsung merasa canggung.

Wanita itu tersenyum hangat kepada Hanin. “Selamat ya.”

Hanin membalas dengan senyum kecil. “Terima kasih.”

Mereka kemudian dipersilakan duduk di sebuah sofa empuk di tengah ruangan. Tak lama kemudian beberapa katalog gaun pengantin diletakkan di atas meja.

Mama Arsenio langsung membuka salah satunya dengan penuh semangat. “Hanin, coba lihat ini.”

Hanin ikut mendekat. Gaun-gaun di dalam katalog itu benar-benar indah. Banyak yang dihiasi renda halus dan bordiran yang sangat detail.

Namun Hanin tiba-tiba berkata pelan, “Ma .…”

Mama Arsenio menoleh. “Iya?”

“Kalau boleh … sebenarnya tidak perlu beli gaun baru.”

Mama Arsenio terlihat sedikit bingung. “Kenapa?”

Hanin menjawab dengan jujur. “Kan hanya dipakai sekali. Lebih baik menyewa saja.”

Arsenio yang sejak tadi berdiri di belakang kursi langsung tertawa kecil. Mama Arsenio juga ikut tersenyum. “Hanin .…”

“Iya, Ma?”

“Gaun pengantin itu memang biasanya hanya dipakai sekali.”

Hanin mengangguk. “Makanya lebih baik disewa saja.”

Mama Arsenio langsung menggeleng pelan. “Tidak.”

Hanin terdiam.

Mama Arsenio melanjutkan dengan nada lembut. “Gaun pengantin itu kenangan, Hanin.”

Ia menatap Hanin dengan hangat. “Nanti suatu hari kamu bisa menyimpannya. Atau mungkin … suatu hari anak perempuanmu bisa memakainya juga.”

Hanin langsung terdiam mendengar itu.

Arsenio ikut menimpali dari belakang. “Lagipula Mama sudah memutuskan.”

Hanin menoleh. “Memutuskan apa?”

“Beli saja.”

Hanin langsung menghela napas kecil. “Tapi itu pasti mahal sekali.”

Arsenio hanya tersenyum santai. “Tenang saja. Itu bukan masalah.”

Mama Arsenio menepuk tangan Hanin dengan lembut. “Sekali saja dalam hidup. Mama ingin kamu memakai yang terbaik.”

Hanin akhirnya tidak bisa membantah lagi. Ia hanya tersenyum kecil. Beberapa saat kemudian pegawai butik mulai membawa beberapa contoh gaun untuk dicoba Hanin.

Gaun pertama berwarna putih dengan renda panjang yang menjuntai hingga lantai.

Hanin masuk ke ruang ganti dengan sedikit gugup. Ketika ia keluar beberapa menit kemudian, Mama Arsenio langsung berdiri.

“MasyaAllah .…”

Arsenio juga menoleh. Untuk beberapa detik pria itu benar-benar tidak mengatakan apa-apa.

Hanin terlihat sangat berbeda dengan gaun pengantin itu. Gaun putih itu membuat wajahnya terlihat semakin lembut dan anggun.

Mama Arsenio sampai memegang pipinya sendiri. “Cantik sekali.”

Hanin langsung tersipu malu.

Arsenio akhirnya berkata pelan, “Saya setuju.”

Hanin langsung meliriknya. “Setuju apa?”

“Pakai yang ini saja.”

Hanin menggeleng cepat. “Belum tentu. Yang lain masih ada.”

Mama Arsenio tertawa kecil. Mereka akhirnya mencoba beberapa model lagi sebelum akhirnya memilih satu gaun yang paling disukai.

Setelah semua urusan selesai, mereka kembali ke mobil. Namun perjalanan mereka belum selesai.

“Kita ke mana lagi, Ma?” tanya Hanin.

Mama Arsenio tersenyum misterius. “Ada satu tempat lagi.”

Tak lama kemudian mobil berhenti di sebuah kantor yang cukup modern. Di depan pintunya tertulis: Wedding Organizer.

Hanin langsung menatap Arsenio dengan bingung. “Kita ke sini juga, Mas?”

Arsenio hanya tersenyum.

Mama Arsenio langsung membuka pintu mobil. “Ayo.”

Begitu masuk ke dalam kantor, mereka langsung disambut oleh seorang wanita yang tampaknya adalah pemilik WO tersebut.

“Selamat datang, Bu.”

Mama Arsenio menjabat tangannya. “Kami ingin mulai membicarakan konsep pernikahan.”

Mereka kemudian duduk di sebuah ruang meeting yang nyaman. Wanita itu membuka buku catatan.

“Baik, Bu. Pernikahannya ingin seperti apa?”

Mama Arsenio langsung berkata tanpa ragu. “Akad pagi.”

Ia menoleh kepada Hanin. “Setelah itu siang langsung resepsi.”

Wanita itu menulis dengan cepat. “Sampai malam?”

Mama Arsenio mengangguk. “Iya. Sampai malam.”

Ia lalu berkata dengan nada antusias. “Resepsinya pesta kebun.”

Hanin yang sejak tadi duduk diam akhirnya menoleh. “Pesta kebun?”

Mama Arsenio tersenyum. “Iya. Mama suka suasana yang natural.”

Wanita WO itu ikut menjelaskan. “Biasanya dekorasi akan dibuat seperti taman. Banyak lampu gantung, bunga, dan panggung kecil.”

Arsenio mengangguk setuju. “Kedengarannya bagus.”

Hanin hanya mendengarkan. Wanita itu lalu bertanya lagi. “Tema warnanya?”

Mama Arsenio berpikir sebentar. “Putih dan hijau.”

“Baik.”

Pembicaraan mereka terus berlanjut cukup lama. Mulai dari dekorasi, jumlah tamu, hingga susunan acara.

Hanin hanya duduk tenang sambil sesekali mengangguk.

Arsenio sempat berbisik kepadanya. “Kamu tidak mau memberi pendapat?”

Hanin tersenyum kecil. "Aku percaya mama akan memilih yang terbaik.”

Arsenio mengangkat alis. “Percaya kepada mama aja?”

“Sama Mas juga ....”

Arsenio langsung tertawa pelan. Setelah hampir satu jam, akhirnya semua pembicaraan selesai.

Mama Arsenio terlihat sangat puas. “Baik, nanti kami hubungi lagi kalau ada tambahan.”

Setelah keluar dari kantor WO, hari sudah mulai malam. Lampu-lampu kota mulai menyala.

Arsenio kembali menyetir mobil. “Kita langsung pulang, Ma?”

Mama Arsenio menggeleng. “Tidak.”

Hanin menoleh. “Ke mana lagi, Ma?”

Mama Arsenio tersenyum. “Makan malam.”

Tak lama kemudian mobil berhenti di sebuah restoran yang cukup elegan. Begitu mereka masuk, seorang pria yang sudah duduk di meja langsung berdiri.

Ternyata Papa Arsenio. “Halo.”

Arsenio tersenyum. “Pa.”

Mama Arsenio ikut duduk di kursi. "Sudah lama Papa menunggu?”

“Baru saja.”

Papa Arsenio lalu menatap Hanin dengan ramah. “Hanin.”

Hanin langsung menunduk sopan. “Assalamu’alaikum, Om.”

“Wa’alaikumussalam.”

Ia tersenyum hangat. “Bagaimana? Hari ini capek?”

Hanin tersenyum kecil. “Sedikit.”

Arsenio langsung berkata santai. “Seharian Mama menyeret Hanin ke mana-mana.”

Mama Arsenio langsung memukul pelan lengan anaknya. “Seret apanya?”

Papa Arsenio tertawa. “Memangnya kalian dari mana saja?”

Mama Arsenio langsung menjawab dengan semangat. “Dari butik. Lalu ke WO.”

Papa Arsenio mengangguk puas. “Bagus.”

Ia lalu menatap Hanin lagi. “Kamu sudah siap dengan semua ini, Nak?”

Hanin sempat terdiam sejenak. Lalu ia menjawab dengan jujur. “Masih belajar siap, Om.”

Papa Arsenio tersenyum. “Itu jawaban yang bagus. Tapi jangan panggil Om, papa aja.”

Hanin mengangguk setuju. Pelayan restoran datang membawa menu.

Beberapa menit kemudian mereka mulai makan malam bersama. Suasana meja makan itu terasa hangat.

Arsenio sesekali bercanda. Mama Arsenio masih semangat membicarakan dekorasi pesta. Papa Arsenio mendengarkan sambil sesekali tertawa.

Sementara Hanin duduk di tengah mereka dengan perasaan yang perlahan berubah. Dulu hidupnya hanya berkisar antara pesantren, kitab, dan santri kecil yang diajarinya.

Namun sekarang ia sedang duduk bersama keluarga yang sebentar lagi akan menjadi keluarganya sendiri.

Hanin menatap Arsenio yang sedang berbicara dengan papanya. Lalu ia menatap Mama Arsenio yang terlihat begitu bahagia.

Perlahan senyum kecil muncul di wajahnya. Mungkin benar. Ia memang sedang melangkah menuju babak baru dalam hidupnya. Hanin berharap inilah awal dari kebahagiaannya.

1
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Teh Euis Tea
yg datang pasti di fahri nih
Teh Euis Tea
syukurlah hanin sudah berdamai dgn hatinya, memaafkan arsen wlu tdk terucap tp dari tingkahnya udah membuktikan klu hanin memaafkan arsen, tinggal emaknya di fahri nih yg blm jujur, berani ga dia jujur sm hanin?
ken darsihk
Lupakan masa lalu mu yng menyakitkan Hanin , ambil sisi baik nya sajah sekarang saat nya meniti hari bersama Arsenio suami mu
Eka ELissa
Hanin udh berdamai dgn. knyataan Fahmi dan dia udh bahagia..
jdi kini giliran kmu bhgia...dn bhgiain gania clon bini mu
vania larasati
lanjut kak
Ida Nur Hidayati
saling memaafkan itu membawa kita kekedamaian
Ilfa Yarni
alhamdulillah udah berdamai semuanya ske hanin tinggal menara masa sekarang apan dgn kluarga kecilnya nanti dan bahagia
Radya Arynda
semangaaat hanin,,arsen,,,selalu ber sama dalam suka duka,,,biar kan orang orang yang sudah jahat sama kamu mendapat karma ya sepadan...
Maulana ya_Rohman
lanjut lagi thor
Lela Angraini
uuhhh so sweet 😍😍🥰🥰. semga kebahagiaan sellu berlimpah utk mu haniin amiinnn 🙏🙏
Ayu Ayuningtiyas
Suka sama Hanin yg sdh ikhlas dan sdh bisa move on dgn masa lalunya.
Nani Rahayu
sudah saatnya Hanin bahagia setelah kesakitan yg dilewati nya♥️..semoga ghania juga bisa menemukan kebahagiaan nya
Rieya Yanie
bagus hanin..berdamia dengan masa lalu dan memaafkan semua takdir..
semoga bahagia selalu..
Hikari_민윤기
aihhh thorrr, kebalik..

masak orang hidup minta do'a sama yg udah almarhum, Pak Ustadz lihat author ini Pak Ustadz... 🤭
Hikari_민윤기: wkwkwk
pun, ini fiksi ye kan...
total 5 replies
Retno ataramel
kaya si weni udah ngaku kefahmi makanya dia kemakam
Eka ELissa
mo ngapain....kmu Fahmi...
GK usah bikin huru hara...
lah.... ribet bgt....
Ida Nur Hidayati
pasti Fahmi....
ken darsihk
Fahmi kah ??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!