NovelToon NovelToon
Perjuangan Driver Ojol Poligami

Perjuangan Driver Ojol Poligami

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Selingkuh / Konflik etika
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Seorang Pria sederhana yang berprofesi sebagai Driver Ojol, ingin Berpoligami karena melihat teman SMA nya berhasil dalam poligami.

Namun Ia-Arman tidak mendapatkan restu dari Istrinya.

Berhasil kah Arman si Driver Ojol memperjuangkan Poligami nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ratu Es

Bulan kedua bekerja untuk Sarah, Arman mulai memahami pola hidup bosnya. Setiap hari sama. Pagi-pagi jemput, antar ke kantor, tunggu, antar meeting, antar pulang.

Malam harinya, Sarah sering pulang larut, kadang setelah acara dinner dengan klien atau setelah lembur menyelesaikan laporan.

Rumahnya di kawasan Pondok Indah—mewah, besar, dengan dua asisten rumah tangga yang selalu siap sedia. Tapi tidak ada suami yang menunggu.

Tidak ada anak yang berlarian menyambut. Hanya lampu-lampu otomatis yang menyala saat pintu terbuka, dan keheningan yang menyambut.

Suatu malam, setelah mengantar Sarah pulang dari acara amal di hotel mewah, Arman memarkir Fortuner di garasi. Biasanya, ia langsung pamit dan kembali ke mess. Tapi malam itu, Sarah tidak segera turun.

"Arman, tunggu sebentar," katanya, suara sedikit lelah.

Arman menunggu. Sarah diam di kursi belakang, memandangi rumahnya yang gelap. Lampu teras memang menyala, tapi itu hanya membuat rumah itu terlihat lebih sepi.

"Minum dulu sebelum pulang," ucap Sarah tiba-tiba. "Saya minta Bibi buatkan teh."

Arman agak terkejut. Selama dua bulan, Sarah tidak pernah mengajaknya masuk rumah. Tugasnya hanya antar jemput, tidak lebih. Tapi ia mengangguk sopan. "Baik, Bu."

Mereka masuk ke ruang tamu. Rumah itu sangat mewah—perabotan minimalis modern, warna netral, lampu-lampu temaram yang menciptakan suasana tenang.

Tapi juga terasa dingin, seperti galeri seni, bukan rumah tinggal. Tidak ada foto keluarga di dinding, tidak ada barang pribadi yang berserakan. Hanya beberapa lukisan abstrak dan vas-vas mahal.

"Silakan duduk." Sarah menunjuk sofa panjang berbahan beludru abu-abu. Ia sendiri duduk di kursi tunggal di seberangnya, melepas high heels-nya dengan sedikit desahan lega.

Malam itu ia mengenakan gaun panjang warna hitam dengan sedikit payet di bagian dada—penampilan yang sangat berbeda dari setelan kantor biasanya. Sekarang, tanpa riasan tebal, rambut yang mulai sedikit berantakan, ia terlihat lebih manusiawi, lebih rentan.

Bibi setengah baya datang membawa dua cangkir teh di atas nampan perak. Ia meletakkannya di meja, lalu pergi tanpa suara.

Sarah meraih cangkirnya, menyeruput pelan. Matanya menatap kosong ke suatu titik di dinding.

"Arman," panggilnya tiba-tiba.

"Iya, Bu?"

"Anda tahu, berapa lama saya tinggal di rumah ini sendiri?"

Arman menggeleng, tidak berani menjawab.

"Sepuluh tahun. Sepuluh tahun saya tinggal di sini sendirian." Sarah tersenyum getir.

"Sebelumnya ada suami. Tapi dia pergi. Tidak tahan dengan kesibukan saya, katanya. Padahal, dia yang menikahi saya karena uang."

Ia tertawa kecil, tawa yang tidak bahagia.

"Setelah cerai, saya pikir saya akan baik-baik saja. Saya punya karier, punya perusahaan, punya segalanya. Tapi ternyata..."

Suaranya menghilang. Arman diam, tidak tahu harus berkata apa.

"Maaf, saya jadi curhat," Sarah bangkit, mencoba tersenyum. "Mungkin karena lelah. Atau karena saya sudah terlalu lama tidak punya teman bicara."

"Tidak apa-apa, Bu," jawab Arman pelan. "Saya paham."

Sarah menatapnya. "Anda paham? Benarkah?"

Arman mengangguk. "Saya juga pernah merasa sendirian. Waktu istri saya pergi ke kampung, waktu rumah kosong. Rasanya... hampa."

Untuk pertama kalinya, Sarah tersenyum—bukan senyum profesional atau basa-basi, tapi senyum yang tulus, yang membuat garis-garis ketegangan di wajahnya sedikit melunak.

"Terima kasih, Arman. Anda pendengar yang baik."

Malam itu, Arman pulang ke mess dengan perasaan campur aduk. Ia melihat sisi lain Sarah—bukan CEO tegas yang selalu memerintah, tapi wanita kesepian yang butuh teman bicara. Ia merasa iba. Tapi ia juga ingat janjinya pada Rani. Ia harus menjaga jarak. Ini hanya hubungan profesional, tidak lebih.

Minggu-minggu berikutnya, Arman mulai lebih sering diajak ngobrol oleh Sarah. Bukan hal-hal pribadi yang dalam, tapi sekadar cerita ringan di sela perjalanan. Tentang proyek baru, tentang klien yang menyebalkan, tentang makanan favorit Sarah waktu kecil yang dibuat ibunya.

Arman belajar bahwa Sarah bukan berasal dari keluarga kaya. Ayahnya pernah punya usaha konstruksi, tapi bangkrut saat Sarah kuliah. Ia harus bekerja keras, membantu keluarga, dan perlahan membangun kembali nama Wijaya dari nol.

Usianya 45 tahun, belum pernah menikah lagi setelah bercerai 10 tahun lalu. Tidak punya anak. Dan tidak punya keluarga yang dekat—orang tuanya sudah meninggal, saudara-saudaranya tinggal di luar negeri dan jarang berkomunikasi.

"Jadi, perusahaan ini semua yang saya punya," ucapnya suatu hari, saat mereka terjebak macet di Sudirman.

"Saya bangun dari nol. Setiap gedung yang saya dirikan, setiap proyek yang saya menangkan, itu seperti anak-anak saya."

Arman memandangnya melalui spion. Ada kebanggaan di matanya, tapi juga kesedihan.

"Tapi anak-anak nggak bisa diajak ngobrol, Bu," celetuk Arman spontan.

Sarah terkejut, lalu tertawa. Tawa yang lepas, tulus. "Anda benar. Mereka tidak bisa diajak ngobrol." Ia menatap Arman.

"Syukurlah saya punya sopir yang bisa diajak ngobrol."

Arman tersenyum, agak canggung. Ia tahu batasnya. Tapi di balik kemudi, ia merasa senang bisa membuat Sarah tertawa.

Suatu malam, saat hujan deras mengguyur Jakarta, Arman mengantar Sarah pulang dari acara peluncuran proyek baru. Mereka terjebak macet parah akibat banjir di beberapa titik. Fortuner merayap pelan di tengah genangan air.

"Arman, saya lapar," kata Sarah tiba-tiba. "Ada tempat makan enak di sini?"

Arman berpikir. "Di daerah Blok M ada, Bu. Tapi mungkin tutup karena hujan."

"Atau kita beli makan di pinggir jalan?" usul Sarah, matanya berbinar—seperti anak kecil yang akan melakukan hal terlarang.

Arman terkejut. "Makan di pinggir jalan? Ibu?"

"Kenapa? Saya dulu juga sering jajan di pinggir jalan waktu kuliah. Sate, bakso, nasi goreng—saya suka semua." Sarah tersenyum.

"Ajak saya. Saya traktir."

Arman bingung, tapi akhirnya menurut. Ia memarkir mobil di tempat yang agak aman, lalu mereka berdua berjalan ke tenda sate di pinggir jalan.

Sarah, dengan gaun bahan mahal dan high heels, duduk di bangku plastik yang agak goyah. Ia memesan sate kambing dan es teh manis, seperti tidak pernah mencicipi makanan mewah di hotel berbintang.

"Ini enak banget," ucapnya sambil mengunyah. "Dagingnya empuk, bumbunya meresap. Kenapa saya baru makan sate di pinggir jalan lagi setelah bertahun-tahun?"

Arman tertawa. "Karena Ibu sibuk, Bu. Makan di hotel terus."

"Bodohnya saya." Sarah menggeleng. "Selama ini saya melewatkan banyak hal."

Mereka makan dalam keheningan yang nyaman. Hujan mulai reda, berganti gerimis. Lampu-lampu tenda sate menciptakan suasana hangat di tengah dinginnya malam.

"Arman," panggil Sarah.

"Iya, Bu?"

"Terima kasih sudah mau repot." Sarah menatapnya. "Anda tahu, selama ini saya selalu berusaha kuat sendiri. Tidak mau bergantung, tidak mau terlihat lemah. Tapi kadang... kadang saya capek. Capek sendirian."

Arman terdiam. Ia bisa merasakan kesepian itu. Ia pernah mengalaminya sendiri, setelah Rani pergi, setelah Nadia menjauh.

"Bu Sarah," katanya pelan. "Ibu itu hebat. Ibu bangun perusahaan sendiri, sukses besar, disegani banyak orang. Tapi kalau Ibu capek, nggak apa-apa istirahat. Nggak apa-apa ngaku lelah. Ibu juga manusia."

Sarah menatapnya lama. Matanya berkaca-kaca, tapi ia cepat mengusapnya.

"Anda benar. Saya juga manusia." Ia tersenyum. "Terima kasih sudah mengingatkan."

Malam itu, saat mengantar Sarah pulang, Arman merasa ada yang berubah. Bukan dalam dirinya, tapi dalam hubungan mereka.

Sarah tidak lagi hanya bos yang harus ia layani, tapi seorang wanita kesepian yang butuh teman. Dan Arman, dengan segala keterbatasannya, bisa menjadi teman itu—tanpa melewati batas, tanpa mengkhianati janji pada Rani.

Di depan pintu rumah Sarah, ia pamit seperti biasa. Tapi sebelum turun, Sarah berkata,

"Arman, Anda orang baik. Saya senang mempekerjakan Anda."

"Terima kasih, Bu. Saya juga senang bekerja untuk Ibu."

Mobil itu melaju meninggalkan rumah mewah yang kembali gelap. Di dalam, Sarah mungkin akan kembali pada kesepiannya, ditemani asisten rumah tangga dan televisi yang menyala tanpa suara. Tapi setidaknya, untuk beberapa jam, ia merasa tidak sendiri.

Dan Arman, di mess-nya yang sederhana, tersenyum sebelum tidur. Ia tidak melakukan hal yang salah. Ia hanya menjadi teman bagi seseorang yang membutuhkan. Itu tidak dilarang, bukan?

Tapi di lubuk hati yang paling dalam, ada bisikan kecil yang mengingatkan: Hati-hati, Arman. Jalan yang tampak lurus belum tentu aman. Dan godaan tak selalu datang dalam bentuk yang jelas. Kadang, ia datang sebagai kebaikan yang tulus.

1
La Rue
ehm ngeri² sedap ya Man 🤣🤣🤣
Nihayatuz Zain
ya ampun pak
udah 3 kali konfliknya,
mbok udah😌 aku ngeri bacanya 💃
La Rue
ehm the sound not good
Nihayatuz Zain
wah pak arman
La Rue
Semangat Arman
Suhainah Haris
apa Sarah wanita terakhir di hidup Arman,kita serahkan ke tangan Bp.Juenk😄
Suhainah Haris
ya memang kelihatan timpang,Sarah di ruangan yang megah sedangkan Arman di ruangan tunggu gak ngapa-ngapain, apa takdirnya Arman gak bisa berhasil dengan wanita kaya?
La Rue
Semangatttt, ditunggu selalu kelanjutan kisah Arman yang berliku ini 😁👏👍
Bp. Juenk: terimakasih Kaka support nya 🙏
total 1 replies
Suhainah Haris
perjuangan poligami nya hanya segitu
Bp. Juenk: haha iya ka, Arman ny gak punya kemampuan untuk poligami
total 1 replies
La Rue
wah Arman pada akhirnya 😁
Bp. Juenk: hahahaha 🤭
total 1 replies
Lee Mbaa Young
Cerita sangat buruk sekali
Bp. Juenk: Yoi. di kehidupan nyata ada cerita yg lebih buruk dr ini
total 1 replies
Lee Mbaa Young
tidak rekomend banget mlh terkesan menjijikan. poligami ngawur.
Halwah 4g: dimna letak menjijikan nya??? kcuali anda puny pnglman pribadi jdi ngawur o
bahasanya kmna2..wong nmanya novel kok,semua ide imajinasi author nya lah g suka tinggal skip.. kok harus cerita org ngikutin mau u . mnusia aneh..klo mau yg lempeng aja bacanya buku edukasi Bu .jgn novel
total 1 replies
Suhainah Haris
malas ngomentari hidup lu Man,terserah kamulah mau hidup dengan siapa
Bp. Juenk: 🤭 sabar ka
total 1 replies
Suhainah Haris
mah kejadian lagi,kali ini Arman harus tegas,ingat lho Man,pilihanmu kali ini sangat menentukan masa depan keluargamu,memilih Sarah berarti kamu kehilangan Aldi dan Rani,tapi kalau kamu tetap memilih keluargamu,kamu masih punya pekerjaan bukannya Sarah janji tidak akan memecat mu,
Suhainah Haris
ini Arman masih nyadar ya,sadar kalau sudah ada rasa aneh,sadar sudah mulai sering mikirin Sarah,sadar kalau mereka sama-sama kesepian
Bp. Juenk: sadar Kk, 🤭
total 1 replies
La Rue
waduh gawat ni, ada yang suka Arman lagi 🤭🤭
Bp. Juenk: hehe iya nih Ka. Sarah nya lebih tegas
total 2 replies
falea sezi
kn janda gatel
Lee Mbaa Young
bu CEO jablay plus arman laki murah an gampang mau ma wanita asal berlobang dan ngasih uang banyak. pasangan Klop.
tinggal nunggu karma semoga kena penyakit
Lee Mbaa Young
Lihat bu CEO dah mulai gatal, lama gk di garuk mkne sama sopir ae PDKT curhat curhat. si laki juga asal si wanita punya lobang dan ngasih uang mau an. wes pasangan Klop.
Bp. Juenk: 💪 thanks supportnya kaka
total 1 replies
La Rue
Ayo Arman buktikan bahwa kamu bisa menjadi Ayah yang baik bagi Aldi dan suami yang bertanggungjawab untuk Rani. tapi hati² jangan mengulang kesalahan yang sama🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!