Bagaimana rasa nya tak mendapatkan kasih sayang dari orangtua sedari kecil, selalu di bedakan dengan saudari kembar nya yang gemilang namun pada akhir nya ia di paksa menikah sebagai penebusan hutang keluarga nya. Hal menyakitkan itulah yang di rasakan oleh Aira.
×××××××
"Jaminan? Ayah menjualku? Ayah menjual anak kandung Ayah sendiri hanya untuk menutupi hutang-hutang konyol itu?"
"Jangan sebut itu menjual!" teriak Ratna, berdiri dari kursinya.
"Ini adalah pengorbanan! Kau seharusnya bersyukur. Aristhide itu kaya raya, tampan, dan berkuasa. Banyak wanita di luar sana yang rela merangkak hanya untuk mendapatkan perhatiannya. Kau hanya perlu tinggal di sana, melayaninya, dan memastikan dia puas dengan kesepakatan ini."
Penasaran bagaimana perjalanan Aira, baca di sini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik Merah Menara Kaca
Mobil baja milik Adipati Narendra melesat seperti peluru hitam di antara kemacetan Sudirman. Sirene pengawal meraung, memaksa kendaraan lain menyingkir, namun bagi Aira, setiap detik yang berlalu terasa seperti satu tahun penderitaan. Matanya tak lepas dari foto di ponselnya—titik laser merah yang menempel di dahi Aristhide. Pria itu tampak tenang di foto itu, seolah tidak menyadari bahwa maut hanya berjarak satu tarikan pelatuk.
"Ayah, lebih cepat!" seru Aira, suaranya parau karena ketakutan yang mencekik.
Adipati sedang berbicara melalui saluran radio terenkripsi dengan tim taktisnya. "Dengarkan aku, jangan ada yang masuk lewat lobi utama. Oswald pasti sudah menempatkan orang-orangnya di sana. Gunakan akses pembersih jendela di sisi utara. Dan pastikan penembak jitu kita sudah berada di posisi kontra-sniper di gedung seberang dalam tiga menit!"
Adipati menoleh ke arah Aira, wajahnya yang keras menunjukkan empati yang jarang terlihat. "Aira, kau harus tenang. Aristhide adalah pria yang cerdik. Dia tidak akan membiarkan dirinya menjadi sasaran empuk begitu saja."
"Tapi dia tidak tahu, Ayah! Dia pikir ancamannya hanya audit saham, bukan peluru!"
Di lantai 52 Malik Group, suasana tampak normal secara menipu. Aristhide duduk di balik meja mahoninya, menatap tumpukan berkas digital yang dikirimkan oleh auditor independen. Namun, ada sesuatu yang mengganggu nalurinya. Kesunyian di luar ruangannya terasa terlalu... steril. Biasanya, ia bisa mendengar sayup-sayup aktivitas sekretarisnya atau denting lift. Hari ini, semuanya senyap.
Aristhide menyesap kopinya, lalu matanya menangkap pantulan cahaya kecil di permukaan gelasnya. Sebuah titik merah yang bergerak perlahan.
Ia tidak panik. Sebagai pria yang tumbuh di lingkungan yang keras, Aristhide telah melatih dirinya untuk tetap dingin dalam situasi ekstrem. Ia tahu, jika ia bergerak tiba-tiba, penembak jitu itu akan melepaskan tembakan. Ia tetap menunduk pada berkasnya, namun tangannya perlahan merayap ke bawah meja, menekan sebuah tombol darurat yang terhubung langsung dengan sistem pengamanan blackout ruangannya.
Tunggu... pikir Aristhide. Jika aku mematikan lampu sekarang, mereka mungkin akan menembak membabi buta. Aku harus tahu siapa yang memegang kendali.
Tiba-tiba, interkom di mejanya berbunyi. Bukan suara sekretarisnya, melainkan suara berat yang sangat ia kenali sebagai suara Oswald, sang tetua Narendra Group.
"Tuan Malik," suara Oswald terdengar melalui speaker, penuh dengan nada kemenangan. "Jangan bergerak. Sensor gerak di ruanganmu telah dihubungkan dengan pemicu sniper di gedung seberang. Satu gerakan bahu yang terlalu lebar, dan otakmu akan menghiasi dinding kantormu yang mahal itu."
Aristhide tersenyum tipis, menatap langsung ke arah jendela kaca besar yang menghadap ke gedung seberang. "Oswald. Aku sudah menduga kau adalah tikus yang bersembunyi di balik kekacauan Yudha. Apa maumu? Saham Malik Group sudah tidak berharga jika kau membunuh CEO-nya."
"Aku tidak menginginkan perusahaanmu, Aristhide. Aku menginginkan Aira kembali ke jalurnya yang benar. Dia adalah ancaman bagi stabilitas Narendra. Jika kau mati, dia akan hancur secara mental, dan Adipati akan lebih mudah dikendalikan. Kau adalah 'gangguan' yang harus dieliminasi."
Di bawah, mobil Adipati tiba di basement Malik Group. Aira tidak menunggu pintu dibuka sepenuhnya; ia langsung melompat keluar. Adipati mencoba menahannya, namun Aira berlari menuju lift pribadi yang membutuhkan pemindaian retina.
"Nona, berbahaya!" teriak pengawal.
"Buka liftnya! Aku yang paling tahu letak ruangannya!" seru Aira.
Adipati mengangguk pada pengawalnya. Mereka menyerbu lift bersama Aira. Di dalam kotak besi yang bergerak naik dengan cepat itu, Aira mencoba berpikir. Jika Oswald menggunakan sniper, maka sniper itu pasti berada di Gedung Kencana yang terletak tepat 500 meter di depan meja kerja Aristhide.
"Ayah, suruh timmu menyerang Gedung Kencana, bukan hanya ruangan Aristhide!" ujar Aira. "Jika snipernya mati, titik merahnya hilang!"
"Sudah dilakukan, Aira. Tapi Oswald bilang dia punya sensor gerak. Kita tidak bisa langsung menyerbu ruangan Aristhide tanpa memicu tembakan otomatis," jawab Adipati.
Lift berdenting. Lantai 52.
Pintu terbuka, menampakkan lobi kantor yang kosong. Dua pengawal Oswald tergeletak di lantai, dilumpuhkan oleh sistem gas tidur yang ternyata sempat diaktifkan Aristhide secara diam-diam. Aira berlari menuju pintu jati besar ruang kerja Aristhide.
"Aris!" teriaknya, namun ia berhenti tepat di ambang pintu saat melihat Aristhide duduk mematung dengan titik merah tepat di tengah dadanya sekarang.
"Jangan masuk, Aira!" suara Aristhide menggelegar, namun tetap stabil. "Tetap di sana. Ada sensor di bawah lantai karpet ini."
Aira menatap lantai. Ia melihat kabel-kabel halus yang hampir tak terlihat, dipasang secara terburu-buru namun efektif. Oswald benar-benar berniat menjadikan ruangan ini sebuah peti mati.
"Oswald, kau dengar aku?!" Aira berteriak ke arah kamera CCTV di sudut ruangan. "Aku tahu kau melihat ini! Jika kau menyentuh sehelai rambutnya, aku bersumpah akan membakar seluruh aset Narendra di luar negeri! Aku punya kunci Zurich dari Ibu Saraswati! Aku akan menghancurkan yayasanmu, dana pensiunmu, dan namamu!"
Suara tawa Oswald kembali terdengar dari speaker. "Gadis pintar. Tapi kau lupa, Aira. Aku sudah tua. Aku tidak takut kehilangan uang. Aku lebih takut melihat Narendra jatuh ke tangan orang-orang emosional seperti kalian."
Titik merah itu mulai bergerak naik, dari dada menuju leher Aristhide.
Aira memejamkan mata sejenak, mencoba mengingat pelajaran seni yang pernah ia pelajari—tentang sudut pandang dan cahaya. Ia melihat ke arah jendela. Matahari sore sedang berada di posisi yang tepat di belakang Gedung Kencana.
"Ayah, beri aku cermin! Atau apa pun yang memantulkan cahaya!" bisik Aira pada Adipati.
Adipati memberikan sebuah plakat penghargaan berbahan perak mengkilap yang diambilnya dari dinding lobi. Aira mengambilnya, menarik napas panjang, dan menghitung dalam hati.
"Aris, saat aku bilang 'sekarang', merunduklah ke kiri!" seru Aira.
"Aira, jangan gila—"
"Lakukan saja! Percayalah padaku!"
Aira melemparkan plakat perak itu ke arah jendela dengan sudut tertentu, tepat saat sinar matahari menghantamnya. Pantulan cahaya yang sangat menyilaukan meledak di kaca jendela, mengarah langsung ke lensa bidik sniper di gedung seberang.
"SEKARANG!"
Aristhide berguling ke kiri, menghantam lantai. Di saat yang sama, suara dentuman keras terdengar. Kaca jendela pecah berkeping-keping. Peluru sniper itu melesat, namun karena silau sesaat, peluru itu meleset beberapa inci dan menghantam kursi kosong Aristhide.
Dalam sepersekian detik, tim taktis Adipati mendobrak masuk dari balkon, memberondong sudut-sudut ruangan yang dicurigai sebagai tempat sensor. Aira berlari melewati pecahan kaca, tidak peduli pada kakinya yang mungkin terluka, dan menjatuhkan dirinya ke pelukan Aristhide yang masih berada di lantai.
"Kau gila... kau benar-benar gila," gumam Aristhide, memeluk Aira dengan erat, napasnya tersengal karena adrenalin yang baru saja memuncak.
"Aku belajar dari yang terbaik," bisik Aira, air mata akhirnya tumpah membasahi kemeja Aristhide.
Adipati masuk ke ruangan, wajahnya dipenuhi kemuraman. Ia melihat ponselnya. "Sniper di gedung seberang sudah dilumpuhkan. Tapi Oswald... dia baru saja mengaktifkan protokol penghancuran data di pusat server kita. Dia ingin menghapus semua jejak kejahatannya dan membawa seluruh rahasia ibumu bersamanya."
Aristhide bangkit berdiri, membantu Aira berdiri. "Dia tidak akan bisa, Tuan Adipati. Saat aku duduk di sana tadi, aku tidak hanya diam. Aku mengirimkan virus 'backdoor' ke sistem komunikasinya saat dia bicara denganku lewat interkom. Kita punya lokasinya sekarang."
Aristhide menatap Aira dengan tatapan yang kini bukan lagi penuh ketakutan, melainkan penuh tekad. "Dia tidak berada di kantornya. Dia berada di sebuah bunker di pinggiran Bogor. Tempat di mana dia menyimpan semua dokumen asli tentang Sofia."
Aira menghapus air matanya. "Maka kita pergi ke sana. Kita selesaikan ini sekarang juga."
Namun, di balik kegembiraan karena selamat, Aira tidak menyadari bahwa di saku jas Aristhide yang terjatuh tadi, terdapat sebuah amplop kecil yang sempat ia ambil dari laci mejanya sebelum penyerangan dimulai. Sebuah hasil laboratorium yang belum sempat ia tunjukkan pada Aira. Hasil yang akan mengubah dinamika hubungan mereka selamanya.
"(Apakah rahasia dalam amplop itu? Dan kejutan apa yang disiapkan Oswald di bunkernya?)"