Alya tak pernah menyangka hidupnya akan terikat pada haruka— pria dingin, tenang dan berbahaya, seseorang dari kalangan atas yang lebih tertarik dengan hidup di dunia mafia.
hubungan mereka bermula dari sebuah kontrak tanpa perasaan, namun jarak itu perlahan runtuh oleh kebiasaan kecil dan perlindungan tanpa kata.
Saat alya mulai masuk ke dunia haruka—kekuasaan, kekayaan dan rahasia kelam.
ia sadar bahwa mencintai seorang mafia berarti hidup di antara kelembutan dan bahaya.
Karena di dunia haruka, menjadi istri kesayangan bukan hanya soal cinta..
tapi juga bertahan hidup.
Thx udah mampir🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. di ruang tamu jarak mengalah
Kami selesai makan tanpa banyak kata, hanya bunyi sendok dan piring yang perlahan mereda. Haruka merapikan meja, aku berdiri—lalu sengaja meringis berlebihan.
“Aduh,” keluhku pelan, sambil memegang sisi perut.
Haruka langsung menoleh. Gerakannya cepat. Terlalu cepat untuk seseorang yang katanya tidak mudah panik.
“Kamu kenapa?” tanyanya, sudah di depanku.
Aku menghela napas panjang, dramatis. “Kayaknya… masih sakit dikit.”
Ia menatapku, menyelidik. Aku hampir tertawa melihat alisnya yang saling mendekat, tapi kutahan.
“Kamu mau ke mana?”
“Ruang tamu,” jawabku lemah-lemah. “Kayaknya enakan rebahan.”
Ia mengangguk singkat. “Aku bantu.”
Aku pura-pura melangkah—lalu berhenti. “Eh… gendong boleh?”
Ia terdiam sepersekian detik. Lalu menghela napas pasrah. “Alya…”
“Iya?”
“…baik.”
Ia menunduk sedikit, satu tangan menyokong punggungku, satu lagi di bawah lutut. Tubuhku terangkat dengan mantap. Aman. Hangat. Jarak kami hilang begitu saja.
Aku menahan senyum—lalu tidak menahannya lagi.
Saat ia melangkah menuju ruang tamu, aku mencondongkan wajah dan mencium pipinya. Sekali. Cepat.
Ia tersentak kecil.
“Alya,” katanya tegang.
Aku terkikik pelan, lalu mencium pipinya lagi. Kali ini sedikit lebih lama.
Langkahnya goyah. Tangannya refleks menguat.
“jatuh nanti,” katanya.
Aku tertawa. “Jangan dijatuhin dong. Nanti tambah sakit.”
Ia mendengus, setengah kesal setengah panik. “Kamu ini—”
Aku tidak menunggu kalimatnya selesai. Kucium pipinya lagi.
Dan lagi.
“Kalau jatuh, kamu yang tanggung jawab,” katanya, suaranya menurun, hampir menyerah.
“Makanya jangan jatuhin,” balasku ringan.
Ia akhirnya sampai di ruang tamu dan menurunkanku perlahan ke sofa. Tangannya masih menahan sebentar, memastikan aku benar-benar aman sebelum melepas.
Aku mendongak, menatap wajahnya yang kini sedikit memerah.
“Terima kasih, Pak.”
Ia memalingkan wajah. “Jangan panggil aku begitu.”
Aku tersenyum, puas.
Aku menyipitkan mata, senyum jahil muncul tanpa izin.
“Terus… maunya dipanggil apa?”
Ia tidak menjawab.
Aku mendekat sedikit. “Suami?”
Haruka menoleh cepat. Tatapannya tajam—tapi telinganya memerah, dan itu cukup membuatku menang.
“Jangan sembarang bicara,” katanya.
Aku menggeser tubuhku di sofa, sengaja terlihat lemah. “Kalau begitu… pangku dong. Biar sembuh,” ujarku ringan. “Sambil nonton film. Enak, kan, Pak—eh, Haruka.”
Ia menghela napas panjang. Sangat panjang.
“Kamu duduk saja yang benar.”
Dan benar saja—alih-alih menuruti, ia justru duduk di sebelahku. Ada jarak. Tidak jauh, tapi jelas disengaja. Tangannya disilangkan, punggungnya tegak, seperti benteng kecil yang dipasang terburu-buru.
Aku menatapnya beberapa detik.
“Peliiit,” gumamku.
Ia pura-pura tidak dengar.
Film mulai diputar, tapi perhatianku sama sekali tidak ke layar. Aku meliriknya dari samping—profil wajahnya tegas, rahangnya mengeras setiap kali aku bergerak sedikit.
Aku lalu bertanya, seolah tiba-tiba teringat sesuatu.
“Pak—eh, Haruka.”
“Hm?”
“Bukannya kamu punya banyak kantor?”
Ia menoleh. “Kenapa?”
Aku tersenyum kecil, lalu mendekat. Bukan duduk—benar-benar mendekat. Wajahku kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya. Aku bisa merasakan napasnya. Hangat. Tertahan.
“Aku ingin lihat,” kataku pelan. “Salah satunya saja.”
Aku memiringkan kepala, suara dibuat manis. “Ajak aku dong.”
Haruka menegang. Bahunya kaku. Pandangannya turun sebentar ke bibirku—lalu cepat-cepat berpaling.
“Itu bukan tempat untuk jalan-jalan.”
“Kan aku bukan jalan-jalan,” bantahku lembut. “Aku cuma mau lihat duniamu sedikit.”
Ia terdiam. Lama. Terlalu lama.
Aku mendekat lagi, nyaris bersentuhan. “Sedikit saja,” ulangku.
Nada suaraku bukan memaksa—lebih seperti memohon yang dibungkus bercanda.
Haruka menutup mata sesaat, lalu membukanya kembali.
“Kamu ini,” katanya pelan, “selalu membuatku lupa cara menjaga jarak.”
Aku tersenyum puas.
“Berarti jaraknya memang nggak perlu dijaga.”
Sebelum ia sempat menjawab, aku sudah bergerak. Naik ke pangkuannya—gerakan spontan, tanpa rencana. Tanganku bertumpu di bahunya, dan sebelum pikiranku sempat ragu, bibirku sudah menyentuh bibirnya.
Haruka membeku.
Tidak mendorong.
Tidak membalas.
Hanya diam, seperti seseorang yang lupa bagaimana caranya bernapas.
Aku menarik diri sepersekian detik—lalu menciumnya lagi. Lebih lama kali ini. Bukan tergesa. Bukan liar. Hanya… jujur.
Dadanya naik turun. Tangannya yang semula menggantung akhirnya terangkat—ragu—lalu berhenti di udara, tidak benar-benar menyentuhku.
Aku menempelkan keningku ke keningnya.
“Aku sangat mencintaimu,” bisikku. “Bukan sebagai bagian dari kontrak.”
Aku menatap matanya. “Aku ingin lebih dari itu, Pak.”
Ia tidak menjawab.
Tatapannya kosong, seperti seseorang yang sedang bertarung dengan dirinya sendiri.
Dan sebelum keheningan itu berubah menjadi jarak, aku kembali mencium bibirnya. Lama. Tenang. Seolah aku ingin meyakinkan dunia—dan dirinya—bahwa perasaan ini nyata.
Detik-detik berlalu terlalu cepat… atau terlalu lama.
Lalu tiba-tiba, Haruka tersadar.
Tangannya bergerak cepat—bukan kasar, tapi tegas. Ia memegang bahuku dan menarikku menjauh, lalu mendudukkanku kembali ke sofa. Jarak tercipta lagi. Nafasnya berat.
“Alya,” katanya rendah, suaranya bergetar tipis. “Cukup.”
Aku menatapnya. Tidak marah. Tidak terluka. Hanya… memperhatikan.
Ia berdiri, membelakangiku, mengusap wajahnya dengan satu tangan.
“Kamu tidak tahu betapa berbahayanya kalimat barusan,” lanjutnya. “Bukan untukmu—untukku.”
Aku bangkit sedikit, tapi tidak mendekat.
“Kalau begitu,” kataku pelan, “kenapa kamu tidak mendorongku sejak awal?”
Ia terdiam.
“Kenapa kamu membeku?” tanyaku lagi, suaraku lembut. “Kenapa kamu membiarkanku sedekat itu?”
Haruka menoleh setengah. Matanya gelap, penuh sesuatu yang tidak pernah ia beri nama.
“Karena aku manusia,” jawabnya akhirnya. “Dan kamu… membuatku lupa bagaimana caranya menjadi dingin.”
Keheningan jatuh di antara kami.
Bukan keheningan yang menjauh.
Melainkan keheningan yang menahan.
Aku kembali duduk, menyandarkan punggung ke sofa.
“Tidak apa-apa,” ucapku pelan. “Aku tidak minta jawaban sekarang.”
Ia tidak bergerak.
Tapi ia juga tidak pergi.
Dan malam itu, di ruang tamu yang sama, dengan jarak yang kembali tercipta— aku tahu satu hal:
Ia mungkin menolak langkahku.
Tapi hatinya… tidak pernah benar-benar mundur.