sebuah kehancuran adalah sebuah derita bagiku, seperti kutukan akan kelakuan berat masa laluku. nyatanya itu hanyalah sebatas prasangka. _Ailavati Keysa Maharani.
wajah datar tampak acuh adalah penguat ku, aku terlalu takut untuk dikasihani sebagai alasan pertemanan ku. hidupku telah luluh lantah atas kehancuran.~Alga Mahensa Putra
Di sinilah kisahku dimulai.
Aku Aila Putri cantika yang memiliki trauma akan masalalu, yang di pertemukan dengannya Alga Mahensa Putra.
Pria yang memiliki parasa tampan dan berwajah datar.
Akankah Aku bisa bersamanya?
Apakah ego kita yang akan sama sama menyakiti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetya_nv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kenapa
Panas dengan sinar matahari yang mulai menuju sore hari ini, adalah waktu di bubarkannya semua murid. Kini aku dan Nala bergegas untuk pulang, seperti biasa aku akan pulang dengan Nala.
" La, kayaknya aku gak bisa antar kamu pulang, ehhh, kak Al antar Ila pulang ya kak, aku ada perlu kak!!!" Nala memberitahuku dengan tiba tiba, dan seakan ada konspirasi Al muncul di saat yang tepat. Seperti mereka sudah merencanakan ini.
" Tapi Na, lo kan udah janji anterin gue. Gak bisa gitu dong." aku berkata dengan kesal ke pandanya.
Seperti biasa aku selalu merasa deg-degan saat bersamanya. Seolah aku tak pernah bisa mengontrol diriku sendiri, aku takut Al akan mengetahui bahwa aku mempunyai perasaan padanya . Walaupun tanpa aku ketahui Al pun tahu, aku menyukainya bukanlah paras tampannya tapi, karena dia mampu bertahan menjadi temanku seperti Nala yang bertahan menjadi temanku.
" sudahlah, pergi saja La. Urusan Ila biar sama gue, seratus persen akan aku jaga" dia menggenggam tanganku sambil memandang Nala dengan pasangan yang sulit aku artikan. Dia memberi Nala kepastian bahwa dia mau mengantarkanku pulang dengan selamat. Tapi apa kabar dengan hatiku yang sudah bergejolak saat tangan itu menggenggam tanganku.
" Ucapan Al terasa seperti perisai, manis tapi membunuhku perlahan. " aku bergumam lirih sambil menyembunyikan semburat merah yang tiba tiba mewarnai pipiku.
" kenapa La?? Pipimu kok merah?? Kamu sakit?? " Semakin dia berulah memegang pipiku dengan tiba tiba. Aku di buat diam dengan serangan yang secara tiba tiba itu.
" Ehhh, enggak kok. Ayo pulang." aku berjalan mendahuluinya untuk menyembunyikan keadaan pipiku yang semakin memerah. Tapi genggaman tangan itu belum terlepas sehingga Alga ikut terseret.
Pada akhirnya aku putuskan pulang diantar olehnya, karena Nala dengan kurag ajarnya menghilang meninggalkanku di sini denga Al.
Di sisi lain, Nala dari kejauhan memperhatikanku.
" Maaf La, tapi aku harus bertemu dengan tante Reta. Ku harap Al adalah orang yang mampu menjagamu, semoga dia mampu menjadi malaikat penjagamu. Kehadiranmu sepertinya juga penawar lukanya La" Nala berucap sambil memperhatikan mereka berdua.
" Ya ampun pasti tante Reta sudah menungguku, aku harus cepat cepat pergi." Lanjutnya dengan bergegas ke parkiran untuk mengambil mobil nya.
Nala pergi mengedarai mobil dengan tenang.
Setelah sekian lama memutari jalan akhirnya sampai juga di resto mama Nala, Nala langsung datang keruang privat dan menghubungi tante Reta. Tak lama menunggu tante Reta.
" hai tan,. Kenapa tante ingin bertemu???" Nala tidak memberi kesempatan tante Reta untuk duduk tenang dulu. Karena waktunya terbatas dan harap cemas takut sang sahabat tiba tiba datang.
" tante hanya ingin bertanya?? Apa Ila sering melamun lagi dikelas???? Kondisi Ila sekarang sepertinya mulai kembali kambuh La, tante binggung, dia semakin hari sering menghindari tante. Yang tante khawatir Ila akan mengalami hal seperti dulu." tante Rita berkata dengan wajah mengernyit khawatir akan keadaan sang anak.
" tante jangan khawatir sepertinya lla memang kembali seperti dulu, banyak yang dia sembunyikan dari Nala tapi, aku usaha in Ila jujur pada Nala" Nala meyakinkan mama sang sahabat agar percaya padanya.
Sementara Nala berpikir bagaimana dia bisa membuat Ila jujur apa yang di alaminya. Karena bagaimanapun itu Ila adalah seorang yang pandai menyembunyikan semuanya dari Nala. Seperti dulu ketika awal ketemu dengannya.
Ingatan itu kembali. Hati ketika aku menyadari bahwa Ila tak sekuat yang di lihat. Saat itu, saat aku dan Ila awal mengenal, Ila adalah gadis yang sangat misterius. Tak ada yang mengetahui fakta bahwa dia kecenderungan memiliki masalah. Wajahnya yang selalu galak tak menyurutkan sifat angkuhnya. Tampa aku ketahui dia adalah seoarang yang lemah.
" La, lo mau kemana??" Aku bertanya kepadanya.
" gue mau ke toilet mau ikut lo." Dia menjawab seadanya.
" iya gue ikut." Setelah gue menjawab ikut, kami berjalan ke toilet yang ada di gedung bawah. Tampa kami ketahui bahwa ada dua gadis yang sedang berkelahi di tangga, kami lewat dengan tenang karena saat itu mereka tak menunjukkan sebuah perkelahian, kami berfikir bahwa mereka hanya sedang mengobrol di tengah tanggah. Saat berada di bawah tangga tiba tiba terdengar bunyi jatuh dan salah satu gadis itu telah terjatuh dan mengeluarkan banyak darah, aku tak pernah berpikir bahwa Ila mengalami trauma yang berat atas kecelakaan yang menimpa keluarganya dulu. Banyak orang berkerumun menyaksikan gadis yang tergelatak tanpa nyawa dan berlumuran darah tersebut.
Sementara Ila mulai gemeteran dan histeris dia selalu berteriak bahwa dia tak mau di tinggalkan. Semakin lama dia semakin histeris jika berteriak, aku kuwalahan menjaga dia karenanya yang selalu berontak.
Semua yang menyaksikan peristiwa tersebut akhirnya selalu membuli Ila, dia di nyatakan gadis gila yang tak pantas bersekolah. Ila yang awal mulanya terbiasa kini menjadi gadis yang amat pendiam dengan kesan sombong yang dia berikan kini terganti dengan suatu kesan yang menimbulkan luka baru untuknya.
Berbagai upaya telah di usahakan oleh tante Reta, terapi yang terus di jalaninya terhenti begitu saja karena Ila mulai berpikir pesimis akan hal itu. Kesembuhan tak akan pernah di alaminya. Tapi sang kakak tercinta yang kini telah menghilang aku tak pernah tahu bagaimana kabarnya, terakhir aku lihat saat dia menasehati Ila agar kembali menjalani terapi. Keajaiban bagi seorang Ila yang mampu mendengarkan apa ucapan kakaknya.
" Ehhh, La kok ngelamun, kamu bisakan bantu tante jaga Ila, tante khawatir nantinya Ila akan semakin parah. Teman temanya belum ada yang tahu akan keadaan Ila. Yang tante khawatirkan jika itu terjadi akan menyulitkan Ila untuk sembuh." Celetuk tante Reta.
" Akan aku usahain tante." Jawab Nala.
Akhirnya pertemuan hari ini dengan tante Reta berjalan sesuai rencana, untungnya Ila tak mengetahui hal itu.
Untungnya Ila tak pernah tahu. Dan semoga, dia tak pernah tahu... Betapa rapuhnya dirinya dimata orang yang menyayanginya.