17 Agustus 1996.
Bagi Julian "Lian" Pratama, hari ini seharusnya menjadi titik akhir. Di balik senyum sempurna sang Ketua OSIS, jiwanya telah lama kosong. Ia menaiki rooftop sekolah, siap untuk pergi selamanya.
Namun, alih-alih keheningan, yang terdengar hanya bunyi "KLIK" dari sebuah Walkman tua.
Lian terbangun kembali di pagi yang sama. Upacara yang sama. Kebosanan yang sama. Terjebak dalam loop waktu yang tak berujung, dunia Lian perlahan memudar menjadi hitam-putih. Hingga ia menemukan satu anomali: Kara Anjani.
Gadis pecinta musik grunge itu adalah satu-satunya yang tetap berwarna di mata Lian. Anehnya, setiap kali hari berulang, ada detail kecil pada Kara yang tidak ikut terhapus.
Apa hubungan Kara dengan putaran waktu ini? Dan jika Lian berhasil menekan tombol Stop pada kaset misterius itu, apakah ia akan bebas... atau justru kehilangan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vorlagh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eksperimen Warna
KLIK.
Suara mekanik itu terdengar lagi. Kaset habis.
Lian memejamkan mata di kamarnya yang gelap pada tanggal 17 Agustus, pukul 23:59.
Kali ini, dia tidak melompat dari rooftop. Dia sengaja menunggu di kasur. Dia ingin tahu batasnya.
Suara statis membanjiri telinganya.
Kresek... krak...
Satu detik hening.
Lalu...
"Selamat pagi, Bandung! Sabtu, 17 Agustus 1996..."
Lian membuka mata. Napasnya teratur. Tidak ada kejutan lagi. Tidak ada teriakan horor.
Dia menatap langit-langit kamar. Sinar matahari pagi kembali menyeruak masuk, menghina kewarasannya.
Lian bangun, tapi kali ini gerakannya efisien. Dingin. Seperti robot yang sudah diprogram ulang.
Dia tidak menatap cermin. Dia tidak peduli seragamnya rapi atau tidak.
Dia melewati meja makan, mengabaikan ibunya yang sedang menuang nasi goreng.
"Mas, makan du—"
"Nanti di kantin, Bu!" potong Lian cepat sambil menyambar kunci motor.
"Duit sakunya..." Ayahnya belum selesai bicara.
"Masih ada sisa kemarin!" Lian berbohong. Toh, uang di dompetnya juga akan reset. Semuanya akan kembali utuh besok pagi.
Motor Astrea Grand itu menderu keluar pagar rumah jauh lebih pagi dari biasanya.
Di balik helm batoknya, mata Lian tidak lagi kosong.
Ada api kecil di sana. Api kegilaan, atau mungkin... harapan?
Dia punya misi: Validasi Teori.
Apakah warna dunia benar-benar kembali jika dia dekat dengan Kara?
Apakah Kara benar-benar Trigger-nya?
Seberapa gila jika dia melakukan hal nekat?
Toh, besok semuanya lupa.
Pikiran itu memabukkan. Bebas konsekuensi. Bagi penderita depresi yang selalu terkekang ekspektasi "sempurna" sebagai Ketua OSIS, ide tentang ketiadaan konsekuensi ini adalah obat terlarang yang manis.
Koridor Kelas 2 Sosial 3.
Masih jam 06:15 pagi. Sekolah masih lengang. Hanya ada petugas kebersihan yang menyapu daun kering.
Dunia masih hitam-putih di mata Lian. Sepi dan mati.
Lian bersandar di tembok depan kelas Kara. Dia menunggu layaknya predator yang sabar, atau mungkin orang gila yang nyasar. Siswa-siswa rajin yang datang lebih awal menatapnya bingung.
"Kak Lian? Ngapain di sini?" tanya seorang adik kelas.
Lian hanya mengangguk tanpa suara.
Pukul 06:30.
Sosok itu muncul dari ujung lorong.
Kara Anjani berjalan menunduk, memeluk dua buku perpustakaan tebal di dadanya. Tas ranselnya terlihat berat.
Di detik Kara muncul, lorong sekolah itu berubah.
Lantai ubin yang abu-abu mulai memiliki rona krem. Pot tanaman di pinggir koridor yang tadi terlihat seperti onggokan sampah hitam, kini menyemburat hijau samar.
Dan Kara... dia tetap definisi High Definition (Jelas & Tajam) di mata Lian.
Rok abu-abunya bergerak seiring langkah kakinya. Kuncir kudanya sedikit bergoyang.
Lian menegakkan punggung. Jantungnya berdetak tidak nyaman.
Eksperimen 1: Interaksi Langsung.
Saat Kara hendak melewati pintu kelasnya, Lian melangkah memotong jalan.
Gerakannya terlalu tiba-tiba, membuat Kara hampir menabrak dada bidang Lian.
"Astaga!" Kara mundur selangkah, buku-bukunya hampir jatuh.
Dia mendongak, matanya membelalak mengenali siapa penghadangnya. "K-kak Lian?"
Lian tidak menjawab. Dia malah menunduk, mendekatkan wajahnya ke wajah Kara. Terlalu dekat.
Dia mengamati bola mata Kara. Cokelat terang dengan sedikit flek emas di irisnya.
Cantik.
Sangat detail.
Lian bisa melihat pori-pori di hidung Kara yang sedikit berkeringat.
"Kak...?" Suara Kara bergetar. Dia merapatkan punggung ke kusen pintu, terjebak. Wajahnya merah padam—dan merah itu terlihat sangat vibrant bagi Lian.
"Warnanya nyata," gumam Lian tanpa sadar.
"Hah? A-apa?"
Lian sadar dia bertingkah aneh. Tapi persetan. Besok gadis ini juga akan lupa.
Lian mengangkat tangannya, ragu-ragu sejenak, lalu nekat menyentuh jepit rambut merah Kara.
Saat ujung jarinya menyentuh benda itu, gelombang hangat kembali merambat ke lengannya. Warna tembok di belakang Kara meledak menjadi kuning gading cerah. Langit di luar jendela menjadi biru pekat. Suara burung gereja terdengar merdu, bukan lagi statis radio rusak.
Confirmed.
Dia baterainya. Dia antenanya.
"Jepitnya... bagus," kata Lian kaku. Sumpah, itu kalimat terbodoh yang pernah dia ucapkan seumur hidup. Sang Ketua OSIS yang biasanya pandai berpidato, kini tergagap seperti anak TK.
Kara menatapnya ngeri bercampur bingung. "Kak Lian... sakit ya?"
Lian terkekeh pelan. Tawa yang kering. "Mungkin. Sakit banget, Ra."
Kata-kata itu memiliki makna ganda yang tidak Kara mengerti.
Lian menurunkan tangannya. Dia menatap tumpukan buku di pelukan Kara.
Judulnya: Paradoks Waktu & Metafisika dan Kumpulan Cerpen Jorge Luis Borges.
Lian mengangkat alis. Bacaan berat untuk anak SMA tahun 90-an.
"Lo suka baca beginian?"
Kara mengeratkan pelukannya pada buku itu, defensif. "Cuma... iseng."
"Lo bohong," tembak Lian langsung. Matanya menatap tajam, mengunci Kara. "Lo suka puisi tentang pengulangan waktu. Lo baca buku soal paradoks. Dan lo..."
Lian mencondongkan tubuhnya lagi, berbisik di telinga Kara. Aroma sampo melati menguar dari rambut gadis itu, menenangkan badai di kepala Lian.
"...dan lo ngasih gue kaset itu, kan?"
Tubuh Kara menegang kaku. Buku-buku di tangannya meluncur jatuh ke lantai.
BRAK.
Suara jatuhnya menggema keras di koridor sepi.
Reaksi itu.
Bukan kaget biasa. Itu reaksi orang yang ketahuan.
Kara tidak menjawab. Napasnya pendek-pendek. Dia buru-buru berjongkok memunguti bukunya dengan tangan gemetar parah.
"Aku... aku nggak ngerti Kakak ngomong apa."
"Jangan bohong, Ra," desak Lian. Dia ikut berjongkok, menahan tangan Kara yang hendak mengambil buku.
Kulit ketemu kulit.
Lagi. Sensasi shock itu.
Kali ini lebih kuat. Lian merasa pusing, seolah dunianya diputarbalikkan. Dia tidak hanya melihat warna, dia bisa merasakan denyut nadi Kara di bawah jempolnya. Kencang. Takut.
"Kenapa gue?" tanya Lian lirih, nada suaranya berubah dari interogasi menjadi putus asa. Tatapannya meredup, topeng ketua OSIS-nya retak. "Dari semua orang di sekolah ini... kenapa lo ngasih kaset itu ke gue? Kenapa lo mau gue dengerin itu?"
Mata Kara berkaca-kaca. Dia menatap Lian dengan ekspresi yang sulit diartikan. Ada kesedihan mendalam di sana. Seolah dia sedang melihat hantu orang yang dicintainya.
"Karena..." Kara berbisik, nyaris tak terdengar. "Karena musiknya... belum selesai, Kak."
Jawaban macam apa itu?
Sebelum Lian sempat bertanya lagi, bel masuk berbunyi.
Teng-teng-teng!
Lonceng besi dipukul keras oleh penjaga sekolah.
Kara menyentak tangannya lepas dari genggaman Lian. Dia menyambar bukunya dan langsung masuk ke kelas, membanting pintu di depan hidung Lian.
Lian ditinggalkan sendirian di depan pintu Kelas 2 Sos 3.
Jantungnya berpacu cepat.
"Musiknya belum selesai?" gumam Lian pada pintu kayu yang tertutup rapat.
Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan Walkman perak itu.
Pita kaset di dalamnya diam membisu.
Lian sadar satu hal mengerikan sekaligus melegakan.
Jika jawaban Kara benar, berarti Lian terjebak di sini bukan karena dikutuk.
Dia terjebak karena ada side B (Sisi B) dari kaset ini yang belum pernah dia dengar. Dan kaset ini...
Lian memencet tombol Eject.
Dia membalik kasetnya.
Kosong.
Sisi B-nya kosong melompong. Pitanya putih bersih, belum ada rekaman.
Lian tertawa kecil, tawa gila di koridor sekolah.
"Jadi ini tugas gue? Gue harus ngisi sisi yang kosong ini biar bisa mati dengan tenang?"
Di dalam kelas, di balik pintu, Kara Anjani menyandar lemas ke tembok.
Air matanya jatuh satu per satu, membasahi seragam. Tangannya mencengkeram dada kiri yang terasa sesak.
Dia tahu.
Dia tahu Lian mulai sadar. Dan itu hal yang paling Kara takutkan.
Karena jika Lian tahu kebenarannya, Lian akan pergi. Dan Kara akan kembali sendirian di dunia yang nyata namun hampa ini.