NovelToon NovelToon
The Shadowed Psyche

The Shadowed Psyche

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Balas Dendam
Popularitas:604
Nilai: 5
Nama Author: De Veronica

Sinopsis Bab

Kedatangan Alexey Liebert ke kampus elite Icheon langsung mengguncang keseimbangan yang selama ini mapan. Sosoknya yang dingin, tertutup, dan mencolok dengan aura berbahaya segera menarik perhatian, sekaligus memicu bisik-bisik kagum dan rasa terusik di kalangan mahasiswa. Namun di balik statusnya sebagai mahasiswa baru rekomendasi internasional, Alexey menyimpan masa lalu kelam: putra pewaris dunia bayangan yang kembali ke Icheon bukan semata untuk kuliah, melainkan untuk tujuan tersembunyi yang berakar pada kematian ibunya delapan tahun lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon De Veronica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Amarah dan Bibir

"Saya ingin menyampaikan keprihatinan saya terhadap sistem kampus kita yang sepertinya sudah tidak kompeten lagi," ucap Junhwan dengan lantang, suaranya bergema di seluruh auditorium.

"Bagaimana bisa kampus sekelas ini memindahkan siswa baru ke kelas elite tanpa melalui tes atau seleksi yang seharusnya? Ini sangat tidak adil bagi mahasiswa lain."

Haerim mendengus kesal sambil melipat tangannya di dada.

"Dasar bodoh," umpatnya dengan nada jengkel. "Junhwan pikir dia siapa? Mau jadi pahlawan keadilan? Menyebalkan sekali..."

"Siswa baru yang saya maksud adalah Alexey Liebert," ungkap Junhwan sambil menunjuk ke arah Alexey dengan tatapan menuduh.

"Dan tidak hanya itu, dia bahkan telah melakukan kekerasan terhadap saya!?"

"Rektor Minsook, apa yang dikatakan putra saya ini benar?" tanya Kim Jinhwa dengan nada serius sambil menatap tajam ke arah Minsook. "Ada kekerasan di kampus ini dan Anda tidak tahu apa-apa?"

Minsook langsung berdiri dari kursinya dengan wajah pucat dan gugup. Keringat mulai membasahi pelipisnya.

"S-saya... saya tidak tahu apa-apa tentang masalah ini, Pak Kim," jawabnya terbata-bata sambil berusaha mempertahankan senyum profesionalnya. "Ini baru pertama kali saya dengar. Tidak ada laporan resmi yang masuk ke kantor saya mengenai insiden kekerasan..."

"Kalau begitu panggil anak itu ke sini," perintah Kim Jinhwa dengan nada dingin namun tegas. "Saya ingin mendengar penjelasannya langsung."

Minsook langsung bergegas turun dari panggung dengan langkah tergesa-gesa, wajahnya pucat pasi. Ia menghampiri Alexey yang duduk tenang di kursinya.

"T-Tuan Liebert," panggilnya dengan suara bergetar dan gugup. "Tolong... tolong naik ke panggung sekarang. Bapak Kim Jinhwa ingin berbicara denganmu."

Alexey bangkit dari kursinya dengan tenang, tanpa menunjukkan rasa takut atau gugup sedikit pun. Ia berjalan menuju panggung dengan langkah tegap dan percaya diri, lalu duduk di kursi yang tadi diduduki Minsook.

Sementara itu, Kim Jinhwa yang duduk di antara para investor tiba-tiba terdiam. Matanya membulat, ia menatap Alexey dengan tatapan tidak percaya.

"Apa aku salah lihat?" gumam Jinhwa dalam hati. "Dia... sangat mirip dengan Seoyon."

Kang Mira mendekatkan wajahnya ke Haerim dan berbisik pelan dengan nada serius.

"Haerim, benarkah Alexey memukul Junhwan?" tanyanya sambil menatap putrinya dengan tatapan menyelidik.

"Santai aja, Mom," jawab Haerim dengan nada enteng sambil melambaikan tangannya. "Alexey cuma nakut-nakutin doang kok. Pura-pura mau nendang karena Junhwan ganggu dia duluan."

Kim Jinhwa berusaha mengendalikan dirinya, menarik napas dalam-dalam.

"Mahasiswa," ucapnya dengan nada berusaha tenang. "Apa benar yang dikatakan putra saya? Apa kamu benar-benar melakukan kekerasan terhadapnya?"

"Tidak," jawab Alexey datar, tatapannya menatap langsung ke mata Kim Jinhwa tanpa rasa takut sedikit pun. "Saya tidak melakukan kekerasan terhadap Junhwan."

Junhwan langsung menghampiri mereka dengan langkah tergesa-gesa, wajahnya memerah menahan emosi.

"Papa, dia berbohong!" seru Junhwan sambil menunjuk ke arah Alexey. "Alexey jelas-jelas mengancamku waktu itu! Dia memang tidak memukul, tapi dia hampir menendangku! Itu tetap kekerasan, Papa!"

"Diam, Junhwan," perintah Kim Jinhwa dengan nada tegas namun tetap tenang, tangannya terangkat memberi isyarat kepada putranya untuk mundur.

Haerim tiba-tiba beranjak dari kursinya dengan cepat dan berjalan menghampiri mereka. Wajahnya terlihat kesal namun tetap terkendali.

"Junhwan, kamu yang salah duluan!" jelas Haerim dengan nada tegas sambil menatap Junhwan tajam. "Kamu yang duluan mau mukul Alexey waktu itu. Alexey cuma bela diri. Jangan putar balik fakta seenaknya!"

"Apa yang kamu katakan itu benar, Nona Kang?" tanya Kim Jinhwa sambil menatap Haerim dengan pandangan serius dan menyelidik.

"Benar, Paman Kim," jawab Haerim tegas tanpa ragu. "Junhwan yang duluan mau mukul Alexey. Semua murid di kelas jadi saksi. Mereka semua tahu apa yang sebenarnya terjadi waktu itu."

"Berlutut," perintah Kim Jinhwa dengan nada dingin dan tegas sambil menatap tajam ke arah putranya. "Berlutut di depan mahasiswa ini dan minta maaf. Sekarang."

"Apa? Papa, aku—" Junhwan mencoba menolak dengan wajah tidak percaya, suaranya bergetar antara marah dan malu.

"Berlutut. Sekarang," ulang Kim Jinhwa sekali lagi, kali ini nadanya lebih dingin dan mengintimidasi. "Jangan buat Papa mengulanginya untuk ketiga kalinya, Junhwan."

Junhwan akhirnya berlutut di depan Alexey dengan tubuh gemetar. Seluruh auditorium terdiam menyaksikan pemandangan ini.

"Maaf... Alexey," ucapnya dengan suara tertahan.

"Sialan kau, Alexey," umpatnya dalam hati sambil menundukkan kepala. "Aku tidak akan melupakan penghinaan ini. Kau akan membayarnya. Aku bersumpah akan menghancurkanmu suatu hari nanti..."

"Siapa namamu?" tanya Kim Jinhwa dengan nada yang terdengar santai.

"Alexey Liebert," jawab Alexey datar, tatapannya tidak bergeming sedikit pun dari pandangan Kim Jinhwa.

"Liebert..." gumam Kim Jinhwa sambil mengangguk pelan, seolah baru memahami sesuatu. "Pantas saja kamu masuk rekomendasi kelas elite. Ternyata kamu bagian dari keluarga elit London. Senang bertemu denganmu, Alexey."

Ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.

Namun tatapan mereka beradu tajam seperti dua predator yang baru saja memulai perang. Tidak ada kehangatan.

Alexey menerima jabat tangan itu dengan genggaman yang sama dinginnya.

Setelah acara di auditorium selesai, Alexey langsung berjalan menuju belakang gedung dengan langkah cepat, seolah ingin menjauh dari keramaian. Haerim segera mengikutinya dengan langkah tergesa-gesa.

"Alexey, tunggu!" panggil Haerim sambil mengejar. Begitu berhasil nyusul, ia langsung bertanya dengan nada khawatir. "Kamu nggak apa-apa? Aku tahu tadi pasti berat banget buat kamu..."

Haerim menghela napas panjang sambil menggelengkan kepalanya.

"Keluarga Kim emang nyebelin," gerutunya kesal. "Terutama Junhwan. Dasar anak manja yang nggak bisa terima kalah. Nyusahin orang lain terus..."

"Tidak," jawab Alexey datar, suaranya dingin tanpa emosi. "Karena mereka hanya semut biasa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

Haerim tiba-tiba meraih kedua tangan Alexey dengan lembut, membuatnya berhenti melangkah. Wajahnya cemberut dengan bibir yang sedikit dimonyongkan.

"Tapi aku nggak suka lihat kamu diinterogasi kayak gitu tadi," ucapnya dengan nada ngambek namun tulus. "Rasanya kesal banget."

Alexey tiba-tiba melangkah maju, menyudutkan Haerim ke tembok dengan gerakan cepat namun terkendali. Jarak mereka sangat dekat, hingga Haerim bisa merasakan napas Alexey.

"Kenapa kamu begitu peduli denganku?" bisik Alexey dengan nada rendah dan dingin, tatapannya menusuk langsung ke mata Haerim. "Apa maumu sebenarnya, Haerim?"

Haerim terdiam sejenak, wajahnya semakin memerah karena jarak yang terlalu dekat. Dalam kepanikannya, ia tanpa sadar keceplosan.

"Mungkin... mungkin karena kata Mommy, kamu mirip banget sama sahabat Mommy dulu," ucapnya tanpa berpikir, suaranya bergetar. "Jadi... aku ngerasa ada sesuatu yang... familiar dari kamu..."

Begitu menyadari apa yang baru saja ia katakan, mata Haerim langsung melebar. Ia buru-buru menutup mulut dengan tangan, menyesal sudah bicara terlalu banyak.

"Apa maksudmu?" tanya Alexey dengan nada mendesak, tatapannya semakin tajam. "Jelaskan. Siapa sahabat ibumu yang kamu bilang mirip denganku?"

"A-aku... aku salah bicara!" ucap Haerim terburu-buru sambil berusaha melepaskan diri, wajahnya merah padam. "Lupakan saja! Aku mau pergi—"

Namun Alexey dengan cepat menarik lengan Haerim kembali, menyudutkannya lebih dalam ke tembok. Tanpa peringatan, ia membungkuk dan mengecup bibir Haerim dengan dalam—ciuman yang penuh intensitas dan emosi terpendam.

Haerim awalnya kaget, matanya membulat lebar. Namun perlahan, ia memejamkan mata dan membalas ciuman itu dengan kikuk dan amatir, tangannya meremas kemeja Alexey dengan gemetar.

Setelah Alexey melepaskan ciumannya, Haerim terdiam dengan napas terengah-engah. Wajahnya merah padam, bibirnya sedikit bengkak.

"A-Alexey..." rengeknya pelan dengan suara yang hampir seperti bisikan, nadanya malu dan gugup. "Kenapa kamu... tiba-tiba..."

Tangannya masih meremas kemeja Alexey, tidak berani menatap langsung ke matanya.

"Ayo pulang," ajak Alexey dengan nada santai seolah tidak terjadi apa-apa, tangannya sudah melepaskan Haerim dan berjalan duluan menuju parkiran.

Haerim masih terdiam di tempatnya beberapa detik, jantungnya berdegup kencang tidak karuan. Ia memegang dadanya sendiri, mencoba menenangkan napasnya yang masih belum teratur.

Akhirnya ia mengikuti Alexey dengan langkah pelan, wajahnya masih memerah dan deg-degannya belum reda sama sekali.

"Apa yang baru saja terjadi..." batinnya sambil sesekali melirik ke punggung Alexey yang berjalan di depannya. "Jantungku rasanya mau copot..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!