Katanya sakit hati seseorang itu adalah ketika dia diam dan pergi tanpa banyak bicara. Itu yang di lakukan Anjas, dia sakit hati pada istrinya yang selingkuh, tapi bukan pergi untuk menata hati yang hancur, dia justru pergi ke dukun untuk membalas sakit hati.
"Saya ingin dia mati Mbah"
"Ada penyiksaan yang lebih mematikan dari kematian"
"Apa itu Mbah?"
"Rasa cinta yang tak berbalas"
"Bagaimana saya melakukannya?"
"Teluh... Pelet mati"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengaruh di mulai
Triana terus merasa gelisah dalam tidurnya, wajah Anjas terus teringat di kepalanya, tak pernah hilang meskipun Triana sudah memejamkan mata mencoba untuk tidur.
"Kenapa aku terus mengingat Anjas, dulu aku tidak seperti ini, dan kenapa sekarang dia terlihat begitu gagah, semakin gagah" batin Triana
"Seharusnya dialah yang merasa gelisah karena aku meninggalkan dia, dia begitu mencintaiku dulu dan aku yakin sekarang pun masih, tapi kenapa tadi dia terlihat tenang, seolah kami tidak pernah mengenal satu sama lain"
"Aku harus menemuinya besok, aku ingin membujuknya lagi, aku ingin menyentuh tubuhnya yang sekarang semakin bagus, pasti sangat menyenangkan bisa kembali merasakan miliknya yang dulu begitu memuaskan, meskipun dia kaku, tapi aku tidak bisa memungkiri, miliknya lebih besar dari milik mas Hengki"
"Dia harus luluh lagi padaku, kalau perlu aku akan menggunakan cara lama untuk menjebaknya, aku akan berpura pura menangis karena dia tidak akan tahan melihat aku menangis.
"Sayang, kamu kenapa? apa kamu masih mau?" tanya Hengki
"Tidak mas, kamu sangat kasar tadi, aku sampai kelelahan" jawab Triana
"Maaf ya, padahal biasanya kamu begitu menyukai permainan kasarku, mungkin karena kamu sedang hamil sekarang, aku akan lebih lembut nanti" bujuk Hengki memeluk Triana
"Mas..."
Entah kenapa tiba tiba saja Triana melihat Hengki seperti Anjas, tangannya langsung mengusap pipi Hengki membuat Hengki mengira kalau Triana menginginkan pertempuran di atas kasur lagi. bibir mereka saling bersilaturahmi dan saling melumat, sampai saat tautan itu terlepas, Triana melenguh karena Hengki menyedot boba miliknya.
"Eungh... mas Anjas, aku sangat merindukanmu..."
"Apa kamu bilang!" bentak Hengki langsung berhenti dari aksinya.
"Hah.. apa mas?"
"Kamu panggil aku apa tadi?" tanya Hengki
"Mas Hengki"
"Tidak, kamu tadi memanggil nama Anjas!"
"Kamu pasti salah dengar, aku tidak mungkin..."
"Aku tidak tuli Triana! ingat baik baik, aku berselingkuh dengan kamu karena kamu merayuku lebih dulu, kamu bilang permainan ranjang Anjas terlalu kaku, kamu suka yang lebih menantang dan liar, tapi apa sekarang? kamu menyebut namanya lagi setelah empat tahun kalian berpisah!" bentak Hengki
"Tapi mas.. aku pasti tidak sengaja, aku memikirkan tas yang di pakai Adisti tadi, makanya aku terus memikirkan dia!"
"Aku tidak perduli dengan apapun alasan kamu Triana, tapi kamu sudah membuatku kesal sekarang!"
Hengki pergi ke luar kamarnya, dia akan tidur di kamar tamu dan membiarkan Triana sendiri di kamar mereka. Setelah tiga tahun memutuskan untuk menikah, ini adalah pertama kalinya Triana kembali meyebut nama Anjas selain karena kesal tidak mendapatkan harta gono gini yang besar, Triana hanya di berikan uang sebesar seratus juta saja oleh Anjas, itupun dalam bentuk receh karena Anjas ingin merendahkan Triana dan Hengki.
"Kenapa aku tidak bisa menghilangkan wajah Anjas dari kepalaku!"
××××××××××
Pagi hari di rumah Anjas.
"Kak, kemarin pak Dandi bilang kalau showroom miliknya membutuhkan mobil warna hijau, untuk maskawin pernikahan keponakannya katanya" ucap Juno
"Sudah di pilih merek dan model mobil yang di pilih?" tanya Anjas
"Sudah"
"Nanti kak Anjas hubungi pak Alif supaya di handle oleh dia" jawab Anjas
"Papa, apa yang antar Adis sekolah Om Juno lagi?" tanya Adisti
"Tidak, papa yang akan antar kamu, papa mau ke pembukaan showroom baru Om Raka" jawab Anjas
"Holee, nanti antal sampai ke kelas ya pa, Adis mau di antal papa ke kelas sepelti teman temannya Adis" ucap Adisti.
"Iya, mulai sekarang papa akan antar Adis sampai ke dalam kelas" jawab Anjas
"Papa.."
"Iya"
"Mama Adis sudah meninggal ya? teman Adis tanya mama Adis kemana, telus Adis bilang nggak ada, dan dia bilang mama Adis sudah meninggal kalau nggak ada" tanya Adisti membuat Anjas dan Juno berhenti dari aktifitas mereka bersiap ke kantor.
"Iya sayang, mama kamu sudah meninggal, tapi tidak di sini makanya makamnya tidak ada di sini" jawab Anjas membuat Juno terkejut
"Kak.."
"Dia memang sudah mati untukku Juno, aku tidak berbohong pada Adis" ucap Anjas pelan
Pembahasan sensitif itu di hentikan, Juno berangkat sendiri ke kantor sementara Anjas mengantar Adisti ke sekolah. biasanya kalau bukan Juno yang mengantar, Adisti akan di antar oleh Lilis dan di tunggu di sana sampai Adisti pulang.
Di TK Maharani.
"Ayo pa, Adis kenalkan dengan ibu gulu Adis, wanginya sama dengan papa" ajak Adisti setelah mereka sampai di sekolah TK Adisti.
"Iya nak, sebentar papa mau ambil handphone papa dulu" jawab Anjas merasa gemas karena anaknya itu terlihat begitu bersemangat.
Mereka berjalan berdampingan dengan tangan kecil Adisti yang di genggam tangan besar Anjas, para ibu ibu yang juga baru sampai mengantar anak mereka langsung menatap ke arah dua ayah dan anak yang membuat suasana pagi mereka terasa hangat. yang janda bahkan segera merapikan penampilannya supaya terlihat menarik di depan Anjas.
"Bu gulu!" panggil Adisti berlari ke arah Anjas
"Adis sudah datang, cantik sekali murid ibu ini" ucap seorang perempuan berhijab berjongkok untuk memeluk Adisti.
"Bu gulu, hali ini papa antal Adis sampai ke kelas" ucap Adisti semangat
"Benarkah? mana?" tanya guru Adisti
"Itu, sedang telepon, papa!" panggil Adisti dan Anjas melambaikan tangannya sambil tersenyum.
"Itu..."
"Itu papa Adis Bu gulu, tampan kan? wanginya sama sepelti ibu gulu" ucap Adisti
"Kamu bisa saja kalau bicara" jawab guru Adisti tersenyum ke arah Anjas yang sudah mulai mendekat.
"Kamu..." kaget Anjas
"Iya, ini saya, kemarin terima kasih atas bantuan bapak, saya tidak tahu kalau anda adalah ayahnya Adis" jawab perempuan berhijab yang ternyata adalah Aisyah, orang yang di tolong Anjas saat insiden pembegalan
"Bagaimana kondisi ayah kamu?" tanya Anjas
"Alhamdulillah baik pak, setelah di operasi lambungnya berangsur membaik" jawab Aisyah
"Papa ibu gulu sakit? Jadi kalena itu ibu gulu dua hali tidak ke sekolah?" tanya Adisti
"Iya papanya ibu guru sakit, jadi harus ibu jaga" jawab Aisyah
"Padahal saya cukup sering antar Adis sekolah, tapi memang hanya sampai gerbang sekolah saja, mungkin kalau dulu saya antar sampai masuk ke kelas pasti saya akan bersikap lebih baik lagi pada ibu guru" ungkap Anjas
"Aisyah, panggil Aisyah saja pak" jawabnya
"Aisyah apa?"
"Aisyah Firdaus Rasyidin"
"Saya Anjas Ardian" ucap Anjas mengulurkan tangannya tapi Aisyah hanya mengatupkan kedua tangannya sambil mengangguk sopan.
"Dia berbeda..." batin Anjas