Karina rela melepaskan identitas dan membuang kemewahan yang dimilikinya sebagai putri tunggal keluarga Wijaya hanya untuk bersama Agus, ia jatuh cinta pada Agus karena kebaikan dan kejujurannya.
Pernikahannya tampak begitu sempurna dan bahagia, hingga Agus pun sudah menjadi pria sukses berkat dukungan dan bantuan Karina. Sayangnya dengan kesuksesannya, Agus justru terlena dan mengkhianati pernikahan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun itu.
Bagaimana kisah selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada pernikahan Karina dan Agus? Apa yang akan dilakukan Karina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nona Karina! Gawat!
Wajah Agus berubah menjadi ungu kebiruan, perpaduan antara amarah yang meledak dan rasa malu yang sudah mencapai puncaknya. Agus merasa seperti dit*l*nj*ng* di depan seluruh negeri saat mendengar fakta tentang rumah di Solo dan utang judinya dibongkar di hadapan kamera wartawan, Agus kehilangan kendali atas akal sehatnya.
"Kau berbohong! Kau memfitnahku!" teriak Agus histeris dan mencoba menerjang ke arah Karina dengan tangan yang mencakar udara.
"Kau hanya wanita pendendam yang ingin melihatku hancur! Semua aset itu... semua kekayaan itu... adalah milikku! Kau mencurinya dariku dengan kekuatan Grup Wijaya!" lanjut Agus.
Faisal dengan sigap menahan tubuh Agus, namun Agus meronta-ronta seperti binatang yang terpojok. "Lepaskan aku, brengsek! Kau pasti simpanan Karina kan? Mereka pasti memberikanmu jabatan agar kau bisa meniduri istriku!" teriak Agus.
Plakkk!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Agus. Bukan dari Faisal, melainkan dari Karina.
Suasana lobi yang riuh tiba-tiba hening seketika. Karina berdiri dengan napas yang teratur, namun matanya memancarkan api yang bisa menghanguskan siapa pun.
"Jaga mulutmu, Agus! Faisal tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang terjadi antara kita, karena semua yang terjadi saat ini karena dirimu sendiri. Harusnya kau sadar setelah apa yang terjadi, sayangnya kau tetap sama seperti dulu," ucap Karina.
Agus terhuyung dan memegangi pipinya yang terasa panas dan berdenyut, tamparan itu tidak seberapa dibanding rasa malu yang kini menguliti harga dirinya di depan puluhan pasang mata dan lensa kamera.
Agus menatap Karina dengan tatapan kosong, seolah baru menyadari bahwa wanita di depannya benar-benar telah menjelma menjadi sosok yang tidak terjangkau oleh tangannya yang kotor.
"Keamanan, bawa dia keluar. Serahkan ke pihak kepolisian, karena dia sudah mengganggu dan membuat keributan di kantor Wijaya grup," perintah Karina dingin dan tidak lagi menatap Agus.
Petugas keamanan segera meringkus Agus yang lemas tanpa perlawanan lagi. Saat diseret melewati pintu putar, Agus sempat menoleh dan melihat Karina yang kembali berjalan anggun didampingi Faisal. Mereka tampak begitu serasi, sebuah gambaran kekuasaan dan kesetiaan yang seharusnya menjadi miliknya jika saja ia tidak membiarkan keserakahan membutakan matanya.
"Karina! Aku akan kembali! Kamu tidak bisa membuangku begitu saja!" teriak Agus yang semakin menjauh dan suaranya tenggelam oleh deru mesin mobil di jalanan.
Di dalam lift menuju ruang kerjanya, Karina menghela napas panjang, Faisal menyentuh bahunya lembut. "Kamu hebat, Karina. Kamu menghadapinya dengan kepala tegak," ucap Faisal.
Karina tersenyum tipis, "Aku hanya menyelesaikan apa yang sudah menggangguku, Faisal. Tapi... aku ingin semuanya benar-benar berakhir hari ini, aku lelah melihat Agus," ucap Karina.
"Kamu tenang saja, aku akan pastikan berkas tentang penahanannya akan segera keluar dan dia pasti akan mendekam di penjara untuk waktu yang lama," ucap Faisal.
"Terima kasih, Faisal. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kamu tidak ada di sisiku selama ini," gumam Karina sembari menyandarkan kepalanya sejenak di bahu pria itu saat pintu lift tertutup dan memberikan privasi sesaat dari hiruk-pikuk dunia luar.
"Aku akan selalu di sini, Karina. Selalu," balas Faisal dengan suara rendah yang menenangkan.
Pintu lift terbuka di lantai eksekutif, namun momen tenang itu segera pecah ketika Yessi berlari kecil menghampiri mereka dengan wajah yang pucat pasi. Napasnya tersengal, menandakan ia baru saja berlari dari ruang pantauan keamanan.
"Nona Karina! Gawat!" seru Yessi.
Karina segera menegakkan tubuhnya, firasat buruk menyergap jantungnya. "Ada apa, Yessi? Jangan bilang ini soal Agus lagi," tanya Karina.
"Bukan Agus, Nona. Tapi Ibu Ratmi," ucap Yessi.
Yessi menyodorkan ponselnya yang menampilkan rekaman cctv dari gerbang sekolah. "Dia baru saja mendatangi sekolah Nona Ella dan Nona Aisha, dia mengamuk di depan gerbang dan menuntut untuk bertemu dengan Nona Ella dan Nona Aisha. Keamanan sekolah sedang berusaha menahannya, tapi dia terus berteriak dan menyebut-nyebut nama Nona sebagai anak durhaka yang menculik cucunya," lapor Yessi.
Wajah Karina yang semula tenang kini berubah menjadi seputih kertas, "Beraninya dia..." geram Karina.
Saat Karina ingin pergi, tiba-tiba Faisal meahannya. "Ada apa, Faisal? Aku harus segera ke sekolahnya Ella dan Aisha dan membereskan wanita tua itu," tanya Karina.
"Biar aku saja," ucap Faisal.
Karina menatap Faisal dengan mata yang menyiratkan kecemasan sekaligus amarah yang tertahan, "Tidak, Faisal. Ini urusanku, wanita itu sudah menghinaku selama dua puluh tahun dan sekarang dia berani menyentuh garis merahku yaitu anak-anakku!" tolak Karina.
Faisal memegang kedua bahu Karina, tatapannya mengunci manik mata wanita itu dengan ketegasan yang menenangkan. "Karina, dengarkan aku. Jika kamu datang ke sana sekarang dengan statusmu sebagai pimpinan Grup Wijaya yang baru saja viral karena menampar Agus, media akan menggoreng ini menjadi drama keluarga yang buruk. Mereka akan menyebutmu menindas ibu mertua yang sudah lansia, itu akan memengaruhi citra perusahaan dan yang lebih penting, akan membuat Ella dan Aisha merasa tertekan di sekolah," ucap Faisal yang mencoba meyakinkan Karina.
Karina terdiam, napasnya memburu. Logika Faisal tepat sasaran, namun insting keibuannya memberontak. "Biar aku yang menanganinya sebagai pengacaramu, aku akan membawa tim hukum dan perintah penahanan resmi. Aku akan memastikan dia pergi dari sana tanpa menimbulkan keributan lebih lanjut dan aku akan menjemput Ella serta Aisha dengan aman, kamu tetap di sini dan pantau semuanya dari ruang kendali, jadi percayalah padaku," lanjut Faisal.
Karina akhirnya mengangguk lemah, "Tolong, Faisal... jangan biarkan dia bicara sepatah kata pun pada anak-anak, aku tidak ingin telinga mereka dikotori oleh racun wanita itu lagi," ucap Karina.
"Aku janji," ucap Faisal sebelum berbalik dan memberi instruksi cepat pada Yessi untuk menyiapkan mobil.
Di depan gerbang sekolah internasional tempat Ella dan Aisha menuntut ilmu, suasana tampak sangat kacau. Ibu Ratmi, dengan rambut yang acak-acakkan dan pakaian yang tidak lagi semewah biasanya, berteriak-teriak sambil memukul-mukul pagar besi.
"Keluar kalian! Ella! Aisha! Ini Nenek! Jangan mau disembunyikan oleh Ibu kalian yang jahat itu! Karina itu pencuri! Dia mencuri harta Ayah kalian!" teriak Ibu Ratmi histeris.
Beberapa orang tua murid yang sedang menjemput anak-anak mereka tampak berbisik-bisik, sementara petugas keamanan sekolah kewalahan karena Ibu Ratmi mulai melempari mereka dengan tas plastik berisi barang-barang kumuh.
Tiba-tiba, tiga mobil hitam mewah berhenti tepat di depan gerbang. Faisal keluar dengan aura yang sangat dingin, diikuti oleh empat pria berbadan tegap dan seorang pengacara junior yang membawa map tebal.
"Ibu Ratmi," panggil Faisal dan suaranya menggelegar di antara kebisingan itu.
Ibu Ratmi menoleh dan matanya yang merah menatap Faisal dengan benci, "Oh, jadi ini dia simpanan si Karina itu! Kamu ya yang mengajari dia jadi durhaka pada mertuanya? Di mana cucu-cucuku?" tanya Ibu Ratmi.
Faisal tidak terpancing, ia memberi isyarat pada pengacara juniornya. "Ibu Ratmi, atas nama Ibu Karina Wijaya dan Grup Wijaya, kami menyampaikan surat perintah penahanan darurat, anda dilarang berada dalam radius lima ratus meter dari Nona Karina dan juga anak-anak dari Nona Karina," ucap pengacara junior tersebut.
"Halah! Surat apa itu? Aku ini nenek mereka! Aku punya hak!" teriak Ibu Ratmi mencoba menerobos.
.
.
.
Bersambung.....
dibandingkan ditemukan agus dan Agus mengarang cerita utk balas dendam
emang dasar agus sudah gila