Nala Aristha hanyalah "putri yang tidak diinginkan" di keluarga Aristha. Selama bertahun-tahun, ia hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang sempurna, Bella.
Ketika keluarga Aristha terancam bangkrut, satu-satunya jalan keluar adalah memenuhi janji pernikahan tua dengan keluarga Adhitama. Namun, calon mempelai prianya, Raga Adhitama, dirumorkan sebagai pria cacat yang kejam, memiliki wajah hancur akibat kecelakaan, dan temperamen yang mengerikan.
Bella menolak keras dan mengancam bunuh diri. Demi menyelamatkan nama baik keluarga, Nala dipaksa menjadi "mempelai pengganti". Ia melangkah ke altar dengan hati mati, bersiap menghadapi neraka.
Namun, di balik pintu kamar pengantin yang tertutup rapat, Nala menemukan kebenaran yang mengejutkan. Raga Adhitama bukanlah monster seperti rumor yang beredar. Dia adalah pria dengan sejuta rahasia gelap, yang membutuhkan seorang istri hanya sebagai tameng.
"Jadilah istriku yang patuh di depan dunia, Nala. Dan aku akan memberikan seluruh dunia in
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Langkah yang Terpatah dan Mahkota yang Berat
Pagi itu, aroma antiseptik di ruang ICU terasa jauh lebih tajam dari biasanya, seolah-olah bau itu mencoba mengingatkan siapa pun di dalamnya bahwa perjuangan hidup dan mati masih berlangsung. Cahaya matahari masuk melalui celah gorden dengan cara yang sedikit lebih terang, menyinari butiran debu yang terbang pelan di atas tempat tidur Raga. Nala berdiri di dekat jendela, menatap ke arah halaman rumah sakit yang dipenuhi oleh mobil pengawal dan beberapa kerumunan orang yang tampak mencurigakan di depan gerbang utama.
Nala menghembuskan napas panjang. Ia tahu siapa orang-orang itu. Mereka adalah para jurnalis dan mata-mata dari perusahaan pesaing yang sedang menunggu berita tentang kejatuhan Adhitama Group. Sejak berita kecelakaan itu menyebar, posisi saham perusahaan menjadi sasaran empuk spekulasi. Semua orang ingin tahu apakah sang raja benar-benar telah tumbang atau masih memiliki sisa kekuatan untuk kembali duduk di tahtanya.
"Nyonya Muda, tim dokter sudah siap untuk memulai latihan gerak pertama bagi Tuan Muda," ucap Sera yang masuk ke ruangan dengan sangat pelan. Suaranya terdengar sangat hati-hati, seolah takut mengganggu ketenangan yang sedang diusahakan Nala.
Nala berbalik dan mengangguk kecil. "Biarkan mereka masuk, Sera. Mas Raga sudah bangun sejak tadi. Dia sedang menunggu."
Nala berjalan mendekati tempat tidur. Raga menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Di balik perban putih yang menutupi seluruh wajahnya kecuali mata dan mulut, Raga tampak seperti pejuang yang baru saja kembali dari medan perang yang paling mengerikan. Meskipun fisiknya hancur, sorot matanya masih menunjukkan api yang sama, meski kali ini ada sedikit bintik kecemasan yang ia coba sembunyikan rapat-rapat.
Pintu terbuka, dan Dokter Gunawan masuk bersama dua orang terapis fisik yang membawa beberapa alat bantu penyangga. Wajah para tenaga medis itu tampak sangat serius. Mereka tahu bahwa pasien di hadapan mereka bukan hanya seorang konglomerat, tetapi seorang pria yang memiliki tekad yang sangat keras dan ego yang sangat besar.
"Selamat pagi, Tuan Raga. Hari ini kita akan mencoba sesuatu yang sangat mendasar. Kita hanya akan mencoba mendudukkan Anda di tepi tempat tidur dan melihat bagaimana saraf tulang belakang Anda merespons posisi tegak," ucap Dokter Gunawan dengan nada yang sangat tenang dan profesional.
Raga hanya memberikan kedipan mata singkat sebagai tanda setuju. Ia ingin segera bergerak. Ia membenci rasa tidak berdaya ini lebih dari apa pun di dunia.
"Nyonya Nala, saya mohon Anda berada di sisi kiri Tuan Raga. Dukungan emosional sangat penting untuk memicu sistem sarafnya bekerja lebih baik," tambah sang dokter.
Nala segera mengambil posisi di samping Raga. Ia memegang tangan suaminya yang besar. Telapak tangan Raga terasa dingin dan sedikit gemetar, sesuatu yang jarang sekali terjadi. Nala mengeratkan genggamannya, mencoba menyalurkan keberanian yang ia miliki melalui sentuhan kulit mereka.
Latihan dimulai. Kedua terapis itu perlahan-lahan mulai mengubah posisi tempat tidur Raga menjadi miring. Mereka menyangga punggung Raga dengan sangat hati-hati menggunakan bantal-bantal besar. Saat tubuh Raga mulai terangkat dari posisi berbaringnya, Nala bisa mendengar suara erangan tertahan dari balik perban suaminya. Suara itu terdengar sangat menyakitkan, seperti gesekan tulang yang dipaksa bekerja saat belum siap.
"Pelan-pelan saja, Tuan Raga. Tarik napas secara teratur. Jangan melawan rasa sakitnya, tapi coba ikuti alirannya," instruksi salah satu terapis dengan suara yang lembut.
Wajah Raga yang terlihat hanya di bagian mata tampak memerah. Keringat dingin mulai bercucuran dari dahi yang tidak tertutup perban. Nala merasa hatinya seolah disayat melihat suaminya yang dulu begitu perkasa kini harus berjuang hanya untuk sekadar duduk. Ia menyeka keringat di dahi Raga menggunakan kain lembut, gerakannya sangat hati-hati agar tidak mengganggu posisi kepala suaminya.
"Mas, kamu bisa. Sedikit lagi," bisik Nala tepat di samping telinga Raga.
Raga menggigit bibirnya kuat-kuat. Rasa sakit di punggungnya terasa seperti ribuan jarum yang ditusukkan sekaligus ke sumsum tulang belakangnya. Ia mencoba menggerakkan kakinya, namun rasanya seperti mencoba menggerakkan dua batang beton yang tertanam di dalam tanah. Sangat berat dan seolah tidak terhubung dengan otaknya.
Setelah hampir sepuluh menit perjuangan yang sangat melelahkan, Raga akhirnya berhasil dalam posisi duduk meski disangga sepenuhnya oleh bantal dan tangan para terapis. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat.
"Cukup untuk hari ini. Kita tidak boleh memaksakan lebih dari ini karena peradangan di sarafnya masih ada," ucap Dokter Gunawan setelah memeriksa tekanan darah Raga yang melonjak naik.
Para terapis kembali membaringkan Raga dengan sangat perlahan. Begitu tubuhnya menyentuh seprai yang lembut, Raga memejamkan matanya rapat-rapat. Seluruh tubuhnya tampak gemetar karena kelelahan fisik yang luar biasa. Ia merasa sangat terhina oleh kondisi tubuhnya sendiri. Seorang pria yang biasanya menguasai ratusan karyawan kini tidak bisa menguasai kakinya sendiri.
"Mas, itu awal yang bagus. Dokter bilang peradanganmu berkurang. Itu kemenangan kecil bagi kita hari ini," ucap Nala sambil mengusap tangan Raga yang masih kaku.
Raga membuka matanya perlahan, menatap langit-langit ruangan dengan tatapan kosong. "Lumpuh," bisik Raga. Suaranya sangat parau dan terdengar sangat pahit.
"Tidak, Mas. Kamu tidak lumpuh. Kamu hanya sedang pulih. Kamu melompat dari lantai tiga puluh, ingat? Tubuhmu butuh waktu untuk pulih," tegas Nala. Ia tidak ingin Raga jatuh ke dalam lubang keputusasaan.
Pembicaraan mereka terhenti saat Pak Hadi masuk dengan langkah yang sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia membawa beberapa surat kabar pagi dan sebuah surat resmi dengan segel perusahaan. Wajah Pak Hadi tampak sangat tegang.
"Nyonya Muda, saya mohon maaf mengganggu waktu istirahat Tuan Muda. Namun, ada situasi mendesak di kantor pusat. Beberapa anggota dewan direksi meminta pertemuan darurat siang ini. Mereka ingin memastikan apakah kepemimpinan sementara di bawah tangan Anda benar-benar sah secara hukum dan mampu menjaga stabilitas perusahaan," lapor Pak Hadi.
Raga mencoba untuk bangkit lagi mendengar laporan itu, namun rasa sakit di punggungnya memaksanya untuk tetap berbaring. Matanya memancarkan kemarahan yang meluap-luap. Para direksi itu seperti burung pemakan bangkai yang menunggu mangsanya melemah sebelum menyerang.
"Mereka ingin menantangku?" geram Raga dengan suara yang serak.
"Mereka tidak menantangmu, Mas. Mereka hanya sedang ketakutan karena tidak tahu siapa yang memegang kendali," sahut Nala dengan nada yang sangat tenang. Ia berdiri dan merapikan pakaiannya. "Pak Hadi, siapkan mobil. Saya yang akan menemui mereka siang ini."
Raga menoleh ke arah Nala dengan pandangan terkejut. "Nala, jangan. Mereka bukan orang-orang yang bisa kau hadapi dengan kelembutan. Mereka akan mengulitimu hidup-hidup di ruang rapat itu."
Nala mendekati Raga, membungkuk sedikit untuk menatap mata suaminya dalam-paling. "Mas, selama ini kamu yang melindungiku. Sekarang, biarkan aku yang melindungi apa yang menjadi milikmu. Aku bukan lagi Nala yang takut pada bayangan sendiri. Aku adalah istrimu. Aku akan menunjukkan pada mereka bahwa Adhitama Group tidak sedang kosong."
Raga terdiam melihat ketegasan di mata Nala. Ada rasa bangga yang menyelinap di antara rasa sakitnya. Gadis yang dulu ia anggap hanya sebagai alat kontrak kini telah berubah menjadi perisai yang paling kuat.
"Sera, ikut denganku. Bawa semua dokumen hukum yang sudah disiapkan pengacara perusahaan semalam," perintah Nala kepada Sera yang sejak tadi berdiri di depan pintu.
"Siap, Nyonya Muda," jawab Sera dengan nada yang sangat hormat.
Sebelum keluar dari ruangan, Nala mencium punggung tangan Raga cukup lama. "Istirahatlah, Mas. Jangan pikirkan apa pun. Saat aku kembali nanti, aku pastikan mereka semua sudah menutup mulut mereka."
Kantor pusat Adhitama Group tampak sangat megah di bawah terik matahari siang. Nala melangkah keluar dari mobil dengan dikawal oleh Sera dan empat orang pengawal berseragam hitam lainnya. Wartawan yang berkumpul di depan lobi segera menyerbu, namun tim keamanan dengan sigap membuat barisan pelindung yang kokoh. Nala tidak berhenti untuk menjawab satu pun pertanyaan. Ia berjalan terus dengan langkah yang mantap, suara sepatu hak tingginya berbunyi nyaring di atas lantai marmer lobi, menciptakan irama otoritas yang sangat kuat.
Di dalam ruang rapat utama di lantai paling atas, suasana terasa sangat dingin. Sepuluh orang pria paruh baya dengan setelan jas mahal sudah duduk melingkari meja oval besar. Mereka tampak sedang berbisik-bisik, namun seketika terdiam saat pintu besar ruangan itu terbuka lebar.
Nala masuk dan langsung menuju ke kursi utama, kursi yang biasanya diduduki oleh Raga. Ia tidak segera duduk, melainkan berdiri di sana sambil menatap setiap wajah direksi satu per satu. Keheningan yang panjang terjadi, sebuah teknik diam yang ia pelajari dari cara Raga mengintimidasi lawan bicaranya.
"Selamat siang, para Tuan sekalian. Saya dengar ada kegelisahan yang sangat besar di ruangan ini sehingga kalian merasa perlu memanggil saya ke sini di saat suami saya sedang berjuang untuk sembuh," buka Nala dengan suara yang sangat stabil dan tidak bergetar sedikit pun.
"Nyonya Nala, kami menghargai kehadiran Anda. Namun, Anda harus mengerti bahwa pasar saham tidak mengenal rasa iba. Kami butuh kepastian kepemimpinan. Anda hanyalah seorang istri, bukan seorang pebisnis. Bagaimana kami bisa yakin Anda mampu mengambil keputusan strategis?" tanya salah satu direktur senior dengan nada yang sedikit meremehkan.
Nala tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat sangat elegan namun dingin. Ia meletakkan tumpukan dokumen tebal di atas meja dengan suara debuman yang cukup keras.
"Tuan-tuan, saya mungkin bukan seorang pebisnis dengan pengalaman puluhan tahun seperti Anda sekalian. Namun, saya memegang surat kuasa penuh yang ditandatangani oleh Raga Adhitama sebelum kecelakaan itu terjadi, yang memberikan hak veto kepada saya atas semua keputusan strategis jika terjadi kondisi darurat," ucap Nala.
Ia membuka salah satu halaman dokumen tersebut. "Selain itu, saya sudah meninjau laporan keuangan minggu ini. Saya melihat ada beberapa dari Anda yang mencoba melakukan penjualan aset secara sepihak dengan alasan stabilisasi. Jika saya menemukan ada satu saja transaksi yang merugikan perusahaan, saya tidak akan ragu untuk menggunakan hak saya untuk memecat Anda semua dan menempuh jalur hukum atas pengkhianatan terhadap mandat perusahaan."
Ruangan itu mendadak menjadi sangat sunyi. Para direksi itu tidak menyangka bahwa wanita yang mereka anggap hanya sebagai pajangan cantik ini bisa bicara dengan begitu tajam dan memiliki data yang akurat di tangannya.
"Apakah ada pertanyaan lain? Atau kalian ingin saya membacakan rincian pelanggaran etika yang baru saja saya temukan di divisi logistik pagi ini?" tanya Nala lagi sambil menatap tajam ke arah direktur logistik yang langsung menundukkan kepala.
"Tidak ada, Nyonya Muda. Kami... kami hanya ingin memastikan semuanya baik-baik saja," jawab direktur senior tadi dengan suara yang jauh lebih rendah dan sopan.
"Bagus. Kalau begitu, rapat ini selesai. Mulai hari ini, setiap keputusan harus melalui meja saya. Jika saya tidak menyetujui, maka keputusan itu tidak sah. Pak Hadi akan menjadi perpanjangan tangan saya di sini. Sekarang, silakan kembali ke pekerjaan Anda masing-masing dan pastikan harga saham kita kembali stabil sebelum pasar tutup sore ini," perintah Nala.
Nala berbalik dan keluar dari ruangan itu tanpa menunggu jawaban lagi. Begitu pintu ruang rapat tertutup, Nala bersandar di dinding koridor sejenak. Ia memejamkan matanya, merasakan jantungnya yang berdegup sangat kencang. Tangannya sedikit gemetar karena adrenalin yang luar biasa.
"Anda melakukannya dengan sangat sempurna, Nyonya," puji Sera yang berdiri di sampingnya.
"Aku hanya meniru apa yang akan dilakukan Mas Raga jika dia ada di kursinya, Sera," bisik Nala. "Ayo kita kembali ke rumah sakit. Aku tidak ingin Mas Raga menunggu terlalu lama."
Kembali ke rumah sakit, malam sudah mulai turun. Nala mendapati Raga sedang tertidur, namun wajahnya tampak sedikit lebih rileks dari sebelumnya. Nala duduk di samping tempat tidur, memandangi perban putih yang masih membungkus wajah suaminya.
Ia meraih tangan Raga dan menciumnya. "Semuanya sudah aman di kantor, Mas. Tidak ada yang berani menantangmu lagi. Sekarang, kamu hanya perlu fokus untuk bangun dan berjalan kembali ke arahku."
Tiba-tiba, Nala merasakan genggaman tangan Raga yang sangat lemah di jarinya. Raga tidak membuka mata, namun ia memberikan tekanan kecil yang menandakan bahwa ia mendengar setiap kata yang diucapkan Nala.
Penantian ini memang masih panjang. Perban di wajah Raga baru akan dibuka dalam beberapa minggu lagi. Latihan fisiknya mungkin akan memakan waktu berbulan-bulan. Namun malam itu, di dalam ruangan yang sunyi tersebut, Nala menyadari satu hal. Mereka bukan lagi dua orang yang terikat oleh kontrak yang dingin. Mereka adalah dua jiwa yang sedang saling menopang di tengah puing-puing badai, menunggu saat di mana mereka bisa berdiri tegak bersama di bawah sinar matahari yang baru.
Nala menyandarkan kepalanya di tepi tempat tidur, menggenggam tangan Raga erat-erat, dan perlahan ikut terlelap dalam doa yang tulus. Masa depan mungkin masih penuh kabut, namun setidaknya malam ini, mereka memiliki satu sama lain sebagai cahaya penunjuk jalan.
ceritanya bagu😍