" Tinggalkan saja pacarmu itu. Tampangnya saja seperti tukang galon"
"OHH tidak boleh menghina manusia begitu pak. Biar seperti tukang galon, tapi cinta saya melebihi samudra"
"Halah paling juga nanti kamu nyesal"
Haruna Kojima gadis keturunan Jepang yang biasa di panggil Nana. Setiap hari harus mendengarkan mulut judes bos nya. Siap lagi kalo bukan Abian Pangestu, pria bermulut pedas tidak pandang bulu laki-laki maupun perempuan dimatanya sama. Tapi untungnya Nana punya kesabaran setebal skripsi anak teknik. Jadi ucapan judes sang bos hanya seliweran angin lewat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gitar Spanyol
Setelah seharian hanya berbaring di kasur, meratapi nasib. Pagi ini, ia bangun dengan tekad baru. Tidak ada lagi Nana yang lembek. Ia memulas wajahnya dengan make-up yang sediki. Mengenakan setelan kerja terbaiknya, dan menguncir rambutnya dengan sangat rapi. Nana kembali ke setelan awal: asisten CEO yang tangguh.
Namun, begitu ia membuka pintu kostnya, pemandangan menjijikkan langsung merusak paginya.
Rian berdiri di sana. Wajahnya kusut, rambutnya berantakan, dan ia masih mengenakan jaket yang sama seperti dua hari lalu. Begitu melihat Nana, matanya langsung berbinar penuh harap.
Nana tidak berhenti. Ia mengunci pintu kamar kostnya dengan tenang, lalu melangkah melewati Rian begitu saja seolah-olah pria itu hanyalah tumpukan sampah yang belum diangkut petugas kebersihan.
"Na! Nana, tunggu!" Rian mengejar, mencoba meraih lengan Nana, namun Nana menepisnya langsung.
"Na, aku mohon... dengerin aku dulu. Kejadian di hotel itu... itu cuma khilaf, Na. Aku khilaf karena aku merasa kesepian kamu tinggal kerja terus," ucap Rian sambil memasang wajah paling memelas yang dia punya.
Nana berhenti melangkah, namun ia tidak menoleh. Ia menarik napas pendek, lalu memutar tubuhnya perlahan. Matanya menatap Rian dengan tatapan yang jauh lebih dingin .
"Khilaf?" Nana terkekeh getir. "Khilaf itu kalau kamu salah pakai sandal orang di masjid, Rian. Tapi kalau kamu pakai uang tabungan pacarmu buat nyewa perempuan di hotel mewah, itu namanya bukan khilaf. Itu namanya tabiat binatang."
"Na, aku tahu aku salah! Tapi aku sayang banget sama kamu. Kasih aku kesempatan sekali lagi, aku janji bakal berubah. Aku bakal kerja keras!" Rian nyaris berlutut.
"Kerja keras? Buat apa? Buat nyewa LC yang lebih mahal? Dengar ya, Rian. Kesabaran saya sudah habis. Sekarang, mending kamu pergi sebelum saya panggil keamanan"
"Tapi Na, aku nggak punya uang lagi! Motor aku ditarik karena aku telat bayar cicilan...."
"Bagus. Berarti kamu bisa jalan kaki ke neraka," balas Nana telak.
"Nana, kamu kok jadi jahat begini sih?! Pasti gara-gara bos kamu yang sombong itu, kan?!" bentak Rian mulai frustrasi.
TIIIIIIIDDDDD!!!!
Suara klakson mobil yang sangat keras dan panjang memecah perdebatan mereka. Sebuah mobil Range Rover hitam yang mengkilap sudah terparkir di sana, menghalangi jalan. Kaca mobil bagian belakang turun perlahan, menampakkan sosok Abian yang duduk dengan angkuh.
"Haruna," panggil Abian.
"Saya bayar kamu untuk jadi asisten saya, Masuk ke mobil sekarang. Kita sudah telat lima menit gara-gara drama picisanmu itu."
"Dengar itu?" Nana tersenyum sinis pada Rian.
"Bos saya sudah jemput. Dan bedanya dia sama kamu? Dia jemput saya pakai mobil yang cicilannya sudah lunas, bukan pakai uang hasil nipu pacar."
Nana melangkah mantap menuju mobil Abian, meninggalkan Rian yang mematung dengan wajah merah padam menahan malu.
Abian tetap fokus menatap jalanan di depannya, namun bibirnya mulai bergerak memberikan interogasi pagi yang tajam.
"Jadi," suara Abian memecah keheningan, "apa kamu sudah resmi memutuskan pria mokondo itu? Atau kamu masih butuh waktu satu atau dua abad lagi untuk merenungkan sampahmu itu?"
"Sudah, Pak. Sangat resmi," jawab Nana tegas, meski ada sisa sesak di dadanya. "Mulai detik ini, nama dia sudah saya hapus dari daftar manusia di hidup saya."
Abian mendengus, sebuah senyum miring tersungging di wajahnya. "Bagus. Akhirnya otakmu itu kembali berfungsi."
"Saya bukan orang bodoh yang jatuh di lubang yang sama dua kali, Pak," balas Nana sambil membuka tabletnya untuk memeriksa jadwal. "Dan terima kasih sudah menjemput saya. Bapak tidak perlu repot-repot sebenarnya."
"Saya tidak sedang berbaik hati, Haruna," potong Abian cepat.
Nana hanya bisa menggelengkan kepala. Memang, di balik tindakan menolongnya, Abian selalu punya cara untuk tetap terlihat angkuh.
Abian kembali menatap ke depan saat lampu berubah hijau. "Lupakan pria itu. Hari ini ada meeting dengan dewan komisaris. Saya ingin kamu tampil lebih tajam dari biasanya."
Nana tersenyum, kali ini senyum tulus. "Siap, Pak Bos."
......................
Nana sedang berdiri di samping meja kerja bosnya, dengan cekatan menyusun berkas-berkas laporan audit yang akan dipresentasikan sejam lagi.
Abian menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran, memperhatikan Nana yang sedang membungkuk sedikit untuk merapikan map di ujung meja. Tatapan Abian yang biasanya sedingin es, kali ini terlihat sedikit usil.
"Na," panggil Abian tiba-tiba.
"Ya, Pak? Ada berkas yang kurang?" jawab Nana tanpa mengalihkan pandangan dari pekerjaannya.
Abian memperhatikan penampilan Nana dari atas ke bawah. Sekretarisnya itu mengenakan kemeja putih yang dimasukkan ke dalam rok span hitam pakaian standar kantor yang sebenarnya sangat pas di tubuh Nana yang ramping.
"Saya baru sadar," ucap Abian sambil mengetuk-ngetuk dagunya dengan pulpen.
"Pantas saja si pria mokondo itu selingkuh sama LC."
Gerakan tangan Nana terhenti. Ia mendongak, menatap Abian dengan kening berkerut. "Maksud Bapak apa ya? Apa hubungannya pengkhianatan dia sama pekerjaan saya sekarang?"
Abian mendengus remeh, bibirnya membentuk seringai tipis yang menyebalkan. "Ya ada hubungannya. Kamu itu terlalu lurus, Na. Bukan cuma sifatmu, tapi badanmu juga. Dilihat dari samping, kamu itu tepos. Rata seperti papan gilasan. Mungkin dia bosan melihat pemandangan yang cuma satu dimensi setiap hari."
Nana melebarkan matanya. Kalau orang lain yang bicara begitu, mungkin Nana sudah melempar sepatu hak tingginya. Tapi karena ini Abian bos yang mulutnya memang sudah disekolahin di pabrik cabai Nana justru menarik napas panjang dan berkacak pinggang.
"Maaf ya, Pak Bos yang terhormat," balas Nana.
"Bapak itu kalau bicara harus pakai kacamata dengan minus yang benar. Saya ini bukan tepos, tapi punya tubuh yang proporsional. Kalau Bapak perhatikan baik-baik, body saya ini tipe gitar Spanyol, ya!"
Abian tertawa pendek, tawa yang terdengar sangat meremehkan. "Gitar Spanyol? Gitar Spanyol merk apa yang bentuknya lurus begitu? Itu mah bukan gitar Spanyol, Na. Itu penggaris besi yang dipaksa pakai baju kantor."
"Bapak!" Nana menghentakkan map ke meja.
"Ini namanya slim fit dan elegan! Bapak saja yang seleranya terlalu rendah, mungkin Bapak lebih suka model botol sirup yang meliuk-liuk nggak jelas?"
"Saya sukanya yang berkelas, bukan yang rata seperti masa depan Mantan mu itu," sahut Abian santai tanpa merasa berdosa.
Nana mendengus keras, kembali merapikan berkasnya dengan sedikit kasar. "Terima kasih atas pujiannya, Pak. Tapi ingat ya, gitar Spanyol saya ini mahal harganya."
Abian hanya tersenyum tipis melihat Nana yang sedang ngedumel sambil bekerja. Entah kenapa, merosting Nana jauh lebih menyenangkan daripada membaca laporan.
"Sudah, jangan cemberut terus. Cepat selesaikan itu, atau kamu saya suruh lembur sampai besok pagi," ucap Abian menutup perdebatan dengan kemenangan di tangannya.
Nana ga ada teman laki Thor kayanya asik deh kalau satu tempat kerja ketemu teman lama