Bagaimana jika orang yang kamu cintai malah dijodohkan dengan kakakmu sendiri?
Lalu cinta itu tumbuh di tempat yang salah dan harus disembunyikan dari semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13 - Secrets
Ruang rapat besar Natura Foods dipenuhi oleh para kepala divisi dan beberapa staf senior. Meja panjang berbentuk oval berlapis kayu cokelat mengilap itu tampak berwibawa, dihiasi botol air mineral dan cangkir kopi hitam yang berasap tipis. Aroma kopi memenuhi udara, bercampur dengan rasa tegang yang ikut merayap di dada saya. Layar proyektor di dinding depan sudah menyala, menampilkan slide pembuka: Final Meeting – Launching Produk Baru.
Aku duduk bersama tim marketing di sisi kiri ruangan. Pak Arman ada di ujung, sementara Fera dan Riki di sebelahku. Merry, Dina, dan Beni menempati kursi paling dekat pintu. Caca dari tim R&D juga hadir, duduk agak di belakang.
Di kursi utama, Henry sudah duduk tegak dengan jas hitamnya yang rapi. Kemeja putih dan dasi biru tua membuatnya terlihat dingin sekaligus berwibawa. Tatapan matanya tajam, mengawasi seluruh ruangan, membuat siapa pun yang ditatap akan menunduk tanpa sadar. Di sisi kanannya, sekretaris pribadinya, Dimas Setyawan, sudah siap dengan laptop dan buku catatan.
“Baik, mari kita mulai,” suara Henry terdengar tenang tapi berwibawa, membuat ruangan seketika hening. “Produk tteokbokki dan jjajangmyeon instan kita sudah siap untuk dipasarkan. Hari ini kita harus memutuskan strategi terakhir sebelum peluncuran. Lili, silakan awali dengan presentasi tagline yang kamu rancang.”
Aku merasakan jantungku berdetak lebih cepat. Meski sudah terbiasa bicara di depan banyak orang, kali ini rasanya berbeda. Tatapan Henry membuat seakan-akan hanya aku seorang yang ada di ruangan itu.
“Baik, Pak.” jawabku sambil berdiri, berusaha menahan gemetar. Aku melangkah ke depan layar, membawa laptop. Tumit sepatuku menimbulkan bunyi pelan di lantai kayu, dan itu saja sudah membuatku semakin sadar kalau semua mata sedang mengikuti gerakku.
Aku menghela napas, lalu tersenyum. “Selamat pagi semuanya. Hari ini saya akan memaparkan tagline dan konsep promosi yang sudah kami siapkan.”
Slide pertama muncul.
“맛있게, 쉽게, 행복하게.”
Beberapa kepala langsung saling berpandangan. Ada bisikan kecil dari arah divisi distribusi dan keuangan.
“Lia, itu tadi bahasa apa?” tanya kepala divisi distribusi.
“Betul. Bisa dijelaskan artinya?” tambah kepala divisi keuangan, nadanya kritis.
Aku menatap mereka dengan senyum tenang, meski telapak tangan aku berkeringat. “Itu bahasa Korea. Artinya: Lezat, mudah, dan membahagiakan. Saya memilih bahasa Korea karena makanan ini identik dengan budaya Korea. Banyak masyarakat, terutama generasi muda, mengenal tteokbokki dan jjajangmyeon dari drama atau variety show. Dengan tagline ini, kita ingin menghubungkan rasa otentik dengan perasaan bahagia saat menikmatinya—tapi dalam bentuk instan yang terjangkau.”
Beberapa orang mulai mengangguk-angguk. Fera sempat tersenyum memberi dukungan. Merry dan Dina bahkan saling menyenggol kecil, mungkin kagum aku bisa bicara selancar itu.
Tapi kepala divisi distribusi masih mengangkat alis. “Kenapa harus bahasa asing? Apakah tidak khawatir masyarakat tidak mengerti?”
Aku menegakkan bahu. “Pertanyaan bagus, Pak. Kami tidak hanya menampilkan tulisan bahasa Korea. Di bawahnya akan ada terjemahan bahasa Indonesia, jadi semua orang bisa paham. Bahasa asing ini hanya sebagai daya tarik visual. Bagi konsumen muda, ini terasa keren dan kekinian. Untuk konsumen umum, artinya tetap mudah dimengerti.”
Hening sejenak. Lalu suara Caca dari belakang memecah suasana. “Saya setuju. Justru kalau hanya pakai bahasa Indonesia, nuansa khasnya bisa hilang. Produk ini memang harus menonjolkan identitasnya.”
Pak Arman ikut menimpali, “Benar. Saya sudah meninjau materi ini sebelumnya. Menurut saya tagline ini cukup kuat. Tinggal dikemas dalam promosi yang membumi.”
Henry menyilangkan tangan di dada, matanya tidak lepas dariku. “Jadi, Lili, menurutmu tagline ini mampu merepresentasikan keseluruhan produk kita?”
“Ya, Pak.” Aku menatap layar, lalu kembali pada Henry. “Produk ini lahir dari ide sederhana: membawa makanan yang selama ini hanya bisa dilihat di layar kaca menjadi nyata, bisa dinikmati siapa pun. Tteokbokki dan jjajangmyeon instan ini bukan hanya soal rasa, tapi juga pengalaman. Kami ingin semua kalangan—dari pelajar sampai pekerja—merasakan kebahagiaan dengan harga yang terjangkau.”
Ruangan seolah menahan napas. Aku bisa melihat Riki bertepuk tangan kecil, lalu buru-buru menghentikannya karena sadar suasana masih formal.
Henry mengetuk meja pelan, lalu mengangguk. “Baik. Lanjutkan ke strategi promosi.”
Aku mengganti slide. Kalender penuh tanda warna muncul di layar. “Kami merencanakan soft launching melalui media sosial satu minggu sebelum produk resmi masuk pasaran. Ada teaser video berdurasi tiga puluh detik yang menunjukkan cara mudah memasak produk ini. Target utama kita: konsumen usia lima belas sampai tiga puluh lima tahun. Platform yang digunakan: Instagram, TikTok, dan YouTube Shorts.”
“Bagaimana dengan iklan televisi?” tanya kepala divisi humas.
“Itu akan dilakukan saat grand launching, setelah awareness terbentuk di media sosial. Kami juga sudah menyiapkan kerja sama dengan beberapa influencer pecinta kuliner Korea. Mereka akan membuat konten review yang menunjukkan kelezatan dan kepraktisan produk.”
Caca menambahkan, “Dari sisi R&D, kami menyiapkan kemasan menarik: merah-oranye untuk tteokbokki, hitam-emas untuk jjajangmyeon. Ada ilustrasi karakter lucu untuk menarik generasi muda.”
Diskusi berlangsung cukup panjang. Ada pertanyaan soal harga jual, distribusi ke minimarket, hingga kerja sama dengan supermarket besar. Aku menjawab satu per satu, sesekali melirik catatan. Tapi setiap kali mata aku tak sengaja bertemu dengan Henry, tubuhku terasa panas. Tatapannya terlalu intens.
Setelah hampir dua jam, rapat mencapai kesimpulan. Henry merapatkan kedua tangannya di meja. “Baik, saya rasa semua sudah jelas. Lili, ide dan presentasimu sangat solid. Kita jalankan sesuai rencana. Untuk distribusi, saya minta divisi terkait pastikan tidak ada kendala. Tim marketing, siapkan materi promosi dalam satu minggu. Ada tambahan?”
Tidak ada yang menjawab. Semua menggeleng.
“Kalau begitu, rapat selesai. Terima kasih atas kerja keras kalian.”
Kursi-kursi bergeser, suara gesekan kayu bercampur dengan langkah kaki yang tergesa. Beberapa orang langsung keluar ruangan sambil membawa map. Aku menghela napas panjang, akhirnya lega juga rapat selesai. Bahuku terasa kaku, pegal karena menahan tegang sejak tadi.
“리아야, 잘했어. 최고. (Lia, bagus. Hebat.) “Caca menepuk bahuku sambil tersenyum bangga.
“고마워. (Makasih.)” Aku membalas singkat.
Belum sempat rasa lega itu benar-benar meresap, Henry tiba-tiba berdiri. Dimas mengikutinya dari belakang. Mereka berjalan ke arahku. Aku refleks merapatkan berkas, jantungku berdetak tak karuan.
“Kamu bicara dengan sangat baik tadi.” Suara Henry tenang, penuh wibawa. “Saya tahu kamu gugup, tapi kamu berhasil.”
Aku bisa merasakan wajahku memanas. “Terima kasih, Pak.”
Henry tersenyum samar, hampir tak terlihat tapi entah kenapa mampu membuatku goyah. “Kamu memang selalu bisa membuat ide sederhana jadi sesuatu yang besar.” Ia berhenti sebentar, tatapannya menusuk langsung ke mataku. “Sejak dulu, kamu selalu seperti itu, Lili.”
Deg. Jantungku seperti meloncat keluar. Aku buru-buru menunduk, pura-pura sibuk merapikan kertas. “Saya hanya berusaha menjalankan tugas dengan baik.”
Henry tertawa kecil, nadanya hangat. “Saya suka kamu yang seperti itu.”
Aku terpaku. Apa tadi aku tidak salah dengar? Ucapannya terasa… terlalu jujur.
Sebelum aku bisa menanggapi, suara Merry memecah suasana. “Pak, kenapa Bapak selalu memanggil Mbak Lia dengan ‘Lili’?”
Aku terlonjak. “Merry! Kenapa kamu tanya gitu?”
“Aku penasaran, Mbak.” jawabnya polos.
“Aku juga penasaran.” timpal Caca cepat.
Aku menoleh tajam. “Caca, jangan ikut-ikutan.”
Merry menatap Henry, tak mau mundur. “Ayo, Pak, jawab.”
Henry terlihat sedikit kaku sebelum akhirnya menjawab pelan, “Karena saya suka nama itu.”
Aku buru-buru menghela napas lega. Untung bukan jawaban yang lebih dari itu. Tapi Merry malah semakin berani.
“Bapak suka nama itu, atau suka sama Mbak Lia?”
Deg. Dunia seakan berhenti sejenak. Aku, Caca, Henry, bahkan Dimas sama-sama terkejut.
“Merry!” Aku panik. “Maafkan kelancangan Merry, Pak. Dia memang kepo.”
“Tidak apa-apa.” jawab Henry tenang.
Namun Merry tak menyerah. “Tolong jawab, Pak.”
“Cukup, Merry!” seruku sambil meraih laptop, bersiap menyeretnya keluar.
Caca tiba-tiba menimpali, “Saya juga penasaran. Bapak selalu baik ke Lia, tapi rasanya bukan seperti bos ke karyawan.”
Aku mendesah kesal. “차차, 그만해. 다시 말하지 마. (Caca, stop. Jangan ngomong lagi.)”
“왜? 난 궁금하잖아. (Kenapa? Aku penasaran.)”
Aku menatapnya putus asa. “너는 알지? 그는 나를 좋아하지 않아. (Kamu tahu, kan? Dia nggak suka aku.)”
“난 안 믿어. 그는 너를 좋아하지 않지만 너에게 친절하게 대해준다. (Aku nggak percaya. Dia nggak suka kamu tapi dia baik sama kamu.)”
Dadaku terasa sesak. Kata-kata itu menohok tepat di tempat yang paling aku sembunyikan. Tanganku bergetar. “차차야… 그는… 내 언니랑…. (Caca… dia… sama kakakku…)
Aku berhenti. Lidahku kelu, kata-kata selanjutnya seperti menolak keluar.
“네 언니, 왜? (Kakakmu, kenapa?)” Caca mendesak, suaranya meninggi.
Aku terdiam. Nafasku tercekat, mataku panas. Aku tak sanggup menjawab.
“대답해, 라이야… 사장님이랑 네 언니가 왜? (Jawab, Lia… Pak Henry dan kakakmu kenapa?)”
Pertanyaan itu menusuk tepat di dadaku. Sakit. Terlalu sakit.
Tanpa bisa lagi menahan air mata, aku langsung berlari keluar ruangan.
“Lia!” seru Caca, suaranya panik.
Tapi aku tak peduli. Hatiku sudah terlalu kacau. Rahasia tentang Henry dan Ana… terlalu menyakitkan untuk kuucapkan, bahkan pada sahabatku sendiri.