Suaminya berkhianat, anaknya di tukar dan dihabisii. Selama lima tahun dia merawat anak suami dan selingkuhannya yang bahkan tinggal satu atap dengannya berkedok sebagai pengasuh.
Bahkan dirinya diracuni oleh pelayan kepercayaannya. Ratih, berakhir begitu tragis. Dia pikir dia adalah wanita paling malang di dunia.
Namun nasib berkata lain. Ketika dia membuka mata, dia berada tepat dimana dia akan melahirkan.
Saat itu Ratih bersumpah, dia akan membalas suaminya yang brengsekk itu. Dia akan mengambil bunga dari setiap perbuatan suami dan semua yang telah menyakitinya dan anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Ditolak
Ketika Fandi pulang kerja, dan pergi ke ruang laundry. Sarah mengadukan semua yang dilakukan oleh Ratih padanya.
"Mas, lihat ini. Aku bahkan belum makan malam. Pekerjaanku banyak sekali!" keluh Sarah.
Fandi yang melihat banyaknya selimut dan mantel yang harus dicuci oleh Sarah pun berpikir kalau Ratih pasti melakukan semua itu dengan sengaja. Selama ini bahkan yang di antar ke tempat laundry saja tidak sebanyak itu.
"Kamu sabar dulu ya, ibumu kan sedang berusaha mengusir pengasuh itu. Nanti aku juga akan membujuknya untuk menjadikanmu pengasuh Rafa!"
"Cepatlah mas, tanganku pegal sekali!"
"Yang mana yang pegal? biar aku pijat ya..."
"Mas, bukan disitu, kamu nakal sekali...!"
Sementara Ratih di kamarnya, masih bersama dengan bi Asih.
"Nyonya besar sudah menjelaskan semuanya pada saya, nyonya. Untuk tidak percaya pada tuan dan bibi Erma!" kata bibi Asih.
Ratih mengangguk.
"Satu lagi bi, jangan percaya pada Sarah. Pelayan bagian laundry itu juga. Pokoknya jangan biarkan orang-orang menyentuh Rafa. Jangan pernah biarkan mereka bersama Rafa tanpa pengawasan bibi!"
"Baik nyonya!"
Bibi Asih memang tidak mengerti apa yang terjadi di rumah ini. Yang jelas dia bekerja untuk Ratih dan Maya. Karena itu, hanya perintah dari dua orang itu saja yang akan dia dengarkan dan dia patuhi.
"Oh ya, kalau ada sesuatu yang terjadi ke depannya. Jangan panik, dan jangan biarkan mereka menghakimi bibi. Telepon aku! jika aku berada di luar! jangan biarkan bibi Erma semena-mena pada bibi meski dia kepala pelayan di sini!"
Bibi Asih kembali mengangguk.
"Baik nyonya!"
"Bibi bisa istirahat, biasanya Rafa hanya akan bangun sekali atau dua kali saja! aku bisa mengatasinya!"
"Baik nyonya!"
Bibi Asih segera keluar dari kamar Ratih. Dan tak lama kemudian, pintu kamar itu terbuka lagi.
Ceklek
"Sayang!"
Ratih menoleh dan membenarkan jubah tidurnya.
"Iya mas, ada apa? kamu pulang terlambat lagi ya? pasti lelah kan? seharusnya kamu langsung istirahat!"
Fandi yang tadinya mau mendekati Ratih, menghentikan langkahnya.
"Iya aku baru pulang. Pekerjaan di kantor..."
"Sangat banyak ya?" sela Ratih.
"Iya sayang, sangat banyak. Maaf ya, seharusnya aku lebih banyak meluangkan waktu untukmu dan Rafa!"
"Tidak apa-apa mas. Kamu bekerja juga untuk masa depan Rafa kan? ya sudah, kamu istirahat saja! aku juga mau tidur!"
Ratih bahkan mengatakan semua itu tanpa beranjak dari kursinya. Sebenarnya Fandi agak merasa heran. Biasanya istrinya itu kalau Fandi masuk kamar, akan selalu langsung menyambutnya. Memijatnya dan memberikan apapun yang Fandi minta. Tapi saat ini, Fandi bahkan merasakan kesan kalau Ratih seperti malas bicara pada Fandi.
"Sayang, sebenarnya kamu kenapa?" tanya Fandi.
Ratih menoleh dengan santai ke arah Fandi. Pertanyaan itu memang pasti dia dengar.
"Aku?" tanya Ratih menghela nafas panjang.
Ratih pun berdiri dan menghampiri suaminya yang dia nikahi karena di anggap menolongnya. Tapi ternyata Fandi bukan pria itu. Ratih juga tidak ingin mencaritahu. Pria itu pergi, berarti memang sama sekali tidak ingin bertanggung jawab. Untuk apa Ratih mencarinya.
"Mas, kamu ingat tidak? dulu kamu pernah bilang, supaya aku juga harus mengerti kamu. Kamu sudah lelah di perusahaan, aku masih terus merengek, makan saja menunggu kamu pulang. Mau kemana-mana minta kamu antarkan, padahal ada supir. Aku juga bisa mengemudi sendiri, iya kan? setelah aku pikir-pikir, kamu benar, mas. Aku tidak boleh terus membuatmu kerepotan, aku mau mandiri sekarang. Jadi kamu tidak terlalu lelah!" kata Ratih.
Fandi mencoba memperhatikan Ratih. Tapi sepertinya memang Ratih bukan sedang marah. Doa mengatakannya sambil tersenyum.
"Benarkah?" tanya Fandi.
"Benar sekali! mas bisa istirahat sekarang. Aku juga mau tidur. Aku akan mengantarmu sampai pintu!"
Fandi kembali heran. Bukankah sama saja kalimat itu adalah kalimat untuk mengusir Fandi keluar secepatnya.
"Sayang, kamu tidak berpikir yang aneh-aneh kan. Selama ini aku memang sibuk, jadi tidak begitu memperhatikanmu. Tapi aku selalu berusaha..."
"Iya mas, aku tahu!" sela Ratih.
Sesungguhnya Ratih sudah muak mendengarkan Fandi. Lebih muak lagi melihat wajah Fandi. Pria yang ternyata sangat buruk.
"Tapi kamu minta aku pindah kamar, dulu itu kan aku tidak menyentuhmu karena..."
"Mas, aku paham. Aku hamil saat itu, kamu tidak mau kenapa-kenapa dengan anak kita. Aku paham!" sela Ratih lagi, "tapi sekarang aku juga baru melahirkan kan? tidak baik kalau aku menggunakan alat kontrasepsii dan semacamnya saat aku menyusui Rafa. Jadi selama aku menyusui Rafa, kamu bisa cari hiburan di luar. Tidak masalah, tapi perhatikan kebersihan dan kesehatanmu ya!"
Fandi terkejut bukan main. Dulu saja dia melirik ke arah wanita lain. Ratih mengamuk dan berdrama sampai pulang ke rumah orang tuanya. Sekarang, istrinya yang posesif itu mengatakan padanya untuk mencari hiburan di luar. Dia sungguh sulit percaya.
'Malah bengong! aku sudah tidak bisa menahannya, melihatnya dengan jarak sedekat ini lima menit lagi, aku bisa muntah!!' Ratih sungguh ilfil habis-habisan pada Fandi.
"Mas, aku lelah sekali. Kita bicara lagi besok ya!" kata Ratih yang sedikit memberikan dorongan pada Fandi, supaya pria itu cepat keluar dari kamarnya.
Ratih tersenyum setelah Fandi berhasil dia dorong perlahan sampai keluar dari kamar.
"Selamat malam mas!" kata Ratih.
Ceklek
Ratih langsung menutup pintu dan mengunci kamarnya. Bahunya turun dengan cepat, dia lega sekali. Dia nyaris tak bisa menahannya tadi. Sungguh muak sekali melihat Fandi.
Hanya saja, dia butuh beberapa tahun lagi. Supaya kedua manusia yang dulu menukar bayinya Ratih dan menjadikannya pengemis itu merasakan rasa sakit yang sama dengannya.
Dan di luar pintu. Fandi masih memandang heran ke arah pintu kamar Ratih.
"Dia menolakku? cih, tak tahu malu. Wanita kotor sepertimu menolakku? awas saja, kalau aku punya kesempatan mengambil alih semuanya. Aku akan pastikan langsung menyingkirkan mu!" gumamnya pelan.
Fandi pun pergi dari sana dengan kesal. Dia kembali ke kamar Sarah. Untungnya Ratih menempatkan kamar Sarah di luar rumah utama. Jika tidak, rumahnya pasti akan terasa tidak nyaman, karena di buat tempat mesumm oleh suaminya dan simpanan suaminya itu.
***
Bersambung...
biar Sarah jadi gila 🤣
Bahwa Rafa dan Ben banyak banget kemiripannya..
Perlu di selikidiki nih fakta kebenarannya..
Kalau perlu, Rafa & Ben melakukan tes DNA..
Untuk mengungkapkan fakta yg sebenarnya..
Bahwa malam kejadian itu, Ben lah yang bersama nya..
Bukan Fandi yg me ngaku² yg menolong nya..
Hingga Ratih terpedaya oleh tipuan Fandi padanya..
Jadi penasaran, bagaimana kisah awal kejadian nya.. 🤔
Tanpa menyadarinya, cinta tumbuh begitu saja di dalam hati 2 insan manusia..
Semisal tadinya hanya menganggap teman biasa saja..
Namun karena selalu bersama, terbiasa ada, dan saling mengenal 1 sama lainnya..
Maka saat itulah muncul rasa ketertarikan di hatinya..
Seseorang menyadari bahwa itu adalah perasaan cinta, ketika mereka berdua mulai ada rasa kehilangan salah satunya..
Dengan status teman di awalnya, justru kita bisa mengenal lebih baik tentang masing² karakter & kepribadiannya..
Berbeda dengan mereka yg langsung status pacaran di awalnya, terkadang justru lebih berpotensi untuk menerima orang yang salah dalam hidupnya..
Kenapa..?
Karena ketika kau menerima seseorang dengan status pacar, maka kau mengira bahwa seolah-olah dialah jodohmu yg sesungguhnya.. 😁
Begitu pula perselingkuhan, yg terbiasa selingkuh gak akan jera sebelum datang nya penyakit mematikan, dan di rajam sampai mati.. 🤭
Jangan kau mencintai karena ketampanan, sebab ketampanan bisa lenyap termakan usia..
Namun cintai lah dia karena akhlaknya, karena dia tak kan mudah tergoda..
Dan cintai lah dia karena karakter & sifatnya, karena kau tak kan punya alasan lagi untuk membencinya..
Karena dia yg setia, tak kan memandang mu sebelah mata...
Dia yg sayang padamu, tak kan tega membuat mu terluka..
Dan dia yg mencintaimu dengan tulus, tak kan pernah membuat mu kecewa..
Assseeekk.. 💃🏻💃🏻🤭
Namun jangan kau kira semua orang baik padamu.. "
Percaya boleh.. Waspada tetap..
Sebab terkadang justru orang terdekat lah yg paling sering & tega membuat mu terluka dan kecewa karenanya..
Bukan lah begitu..? 😊
Kau minta di hargai sebagai suami..
Sedangkan Ratih sebagai istri tak pernah kau hargai..
Kau malah berselingkuh di belakang istri..
Kau berpura-pura baik di depan istri..
Namun kau menginginkan istri mu mati..
Apa suami seperti itu pantas untuk di hargai..
Bahkan kau sendiri adalah tipe lelaki yg gak tau diri dan gak punya hati..
Tidur saja sana kau Fandi, jangan pernah terbangun lagi dari mimpi² hingga kau mati.. 😏😁
Sejak kapan dia punya jiwa keibuan..
Jika dia punya, kenapa bayi Naufal dia tumbal kan..
Padahal Rafa & Naufal sama² bayi yg tak berdosa, justru kau menjual anak mu sendiri demi keuntungan..
Yasudah, nikmati saja hari² mu seperti itu, yg menyakitkan..