"Aku menceraikanmu, Hana. Hari ini, detik ini, saat ini juga."
Hana Anindita terpaku, tangannya yang gemetar mengusap perutnya yang sudah memasuki bulan ketujuh.
Di hadapannya, Bima Erlangga - pria yang berjanji akan menjaganya sehidup semati - menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.
Demi mengejar cinta masa lalunya yang kembali, Bima tega membuang belahan jiwanya sendiri. Bima mengira Hana akan bersimpuh di kakinya, memohon agar tidak ditinggalkan demi janin di rahimnya.
Namun, dugaannya salah besar. Hana hanya tersenyum tipis, mengemasi barang-barangnya, dan pergi tanpa menoleh lagi.
Saat Bima mulai menyadari bahwa Clarissa tidak sesempurna bayangannya, dan saat Hana mulai bersinar di tangan pria lain, sanggupkah Bima menjilat kembali ludah yang telah ia buang?
Atau selamanya ia hanya akan menjadi orang asing bagi anak yang dulu ia tolak kehadirannya?
Kita simak cerita selanjutnya yuk di karya Novel => Karma Suami Durhaka.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
"Apa kabar, Sahabat Literasi? Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa kita baru akan menyadari nilai sesuatu setelah kita kehilangannya. Di episode ini, Bima akhirnya dihadapkan pada kenyataan yang paling pahit, sebuah kehidupan baru yang lahir tanpa restunya, dan sebuah kebahagiaan yang tumbuh subur di atas luka yang ia tanam. Mari kita saksikan bagaimana selembar foto mampu meruntuhkan benteng kesombongan seorang pria."
.
.
Ruang kerja Bima yang luas kini terasa seperti penjara bawah tanah yang pengap. Lampu meja yang remang-remang menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti jemari hantu yang mencekik dinding.
Di atas meja jati yang mahal, sebuah map hitam terbuka lebar, mengeluarkan isinya yang lebih tajam daripada belati, kumpulan foto hasil investigasi Heru, sang detektif.
Bima duduk membeku. Tangannya yang biasanya cekatan menandatangani kontrak miliaran rupiah, kini gemetar hebat saat memegang selembar foto berukuran 4R.
Dalam foto itu, Hana berdiri di depan sebuah ruko sederhana yang asri. Ia mengenakan daster rumahan yang bersih, rambutnya yang dulu selalu tertata kaku di salon kini dibiarkan terikat asal, namun wajahnya... wajah itu bersinar.
Hana sedang menggendong seorang bayi laki-laki berselimut biru yang sedang tertawa. Dan yang paling menghancurkan Bima adalah senyuman Hana.
Itu adalah senyum lebar yang memperlihatkan deretan giginya yang rapi, senyum yang penuh dengan kelegaan, kebanggaan, dan cinta yang murni.
Senyum yang sudah bertahun-tahun menghilang dari rumah mereka di Jakarta sejak ambisi Bima mulai mengubur nuraninya.
"Dia sudah melahirkan..." suara Bima keluar sebagai bisikan yang pecah.
Bima menyentuh permukaan foto itu, tepat pada wajah mungil bayi yang digendong Hana. Bayi itu memiliki garis rahang yang sangat mirip dengannya, namun dengan mata teduh milik ibunya.
"Sudah berapa lama, Heru?" tanya Bima tanpa menoleh.
Heru, yang berdiri di kegelapan sudut ruangan, berdehem kecil. "Bayi itu diperkirakan berusia tiga bulan, Pak. Namanya Aditya Saka. Laporan medis dari puskesmas setempat mencatat bahwa Ibu Hana melahirkan secara normal di sebuah klinik bidan desa, di tengah malam... sendirian."
Kata sendirian menghantam Bima seperti godam. Ia teringat malam itu, malam saat ponselnya bergetar di kelab malam dan Clarissa memaksanya untuk mengabaikannya.
Jadi, saat ia sedang bersulang dengan sampanye mahal, Hana sedang mempertaruhkan nyawa di atas ranjang klinik desa yang sederhana untuk melahirkan darah dagingnya.
"Kenapa dia tersenyum sesenang itu?" geram Bima, kemarahan mulai menutupi rasa bersalahnya. "Kenapa dia terlihat seolah-olah hidupnya sempurna tanpa aku? Harusnya dia menderita! Harusnya dia merangkak kembali kepadaku!"
"Pak Bima," sela Heru dengan nada datar namun menusuk, "Ibu Hana tidak terlihat seperti orang yang sedang merangkak. Dia justru terlihat seperti orang yang baru saja bebas dari penjara."
Bima membanting foto itu ke meja. "Diam kau! Kau tidak tahu apa-apa!"
Di luar ruangan, Clarissa berdiri dengan telinga menempel di pintu kayu yang tebal. Ia telah mendengar semuanya.
Amarah membakar dadanya. Ia tidak menyangka bahwa Bima masih terobsesi mencari tahu tentang "wanita kampung" itu.
Clarissa membuka pintu dengan kasar, membuat Bima tersentak dan refleks menutup map investigasinya.
"Jadi ini alasanmu tidak mau keluar makan malam denganku?" pekik Clarissa. "Kamu masih memikirkan anak itu? Anak yang bahkan tidak menginginkanmu sebagai ayahnya?"
"Clarissa, keluar! Ini urusan kantorku!" bentak Bima.
"Urusan kantor? Kamu membayar detektif mahal hanya untuk melihat foto mantan istrimu yang sedang menyusui? Kamu sakit, Bima!" Clarissa mendekat, matanya berkilat penuh kebencian. "Ingat ya, Bima. Bisnismu sedang di ujung tanduk. Investor mulai bertanya-tanya kenapa pimpinan Erlangga Group tampak tidak fokus. Jika kamu terus begini, bukan hanya Hana yang hilang, tapi semua hartamu akan lenyap!"
Clarissa meraih salah satu foto yang terjatuh di lantai, foto Aditya Saka. Dengan gerakan cepat yang penuh dengki, ia merobek foto itu menjadi dua di depan mata Bima.
"Hentikan kenangan bodoh ini, atau aku yang akan memastikan Hana dan bayinya tidak akan pernah tenang di desa itu!" ancam Clarissa dengan suara yang merendah, penuh racun.
Bima menatap robekan foto di lantai. Untuk sesaat, ia ingin menampar Clarissa. Namun, ketakutannya akan kehilangan dukungan sosial dan modal dari koneksi Clarissa kembali membungkamnya. Ia adalah tawanan dari pilihannya sendiri.
"Pergilah, Clar. Aku akan segera keluar," ucap Bima dengan nada yang sangat lelah.
Setelah Clarissa pergi dengan bantingan pintu yang keras, Bima berlutut. Ia mengambil dua robekan foto itu dan mencoba menyatukannya kembali. Ia melihat wajah Saka yang terbelah tepat di bagian tengah.
Itulah gambaran hidup Bima sekarang, terbelah. Antara dunia gemerlap yang menuntut hartanya, dan sebuah ruko kecil di Sukamaju yang menyimpan hatinya yang tertinggal.
~~
Sementara itu, di Sukamaju, suasana sangat kontras. Hana baru saja menyelesaikan pesanan kue untuk kantor kecamatan.
Ia duduk di teras rukonya yang diterangi lampu kuning hangat, sambil menyusui Saka yang sudah mulai mengantuk.
Saka melepaskan hisapannya dan menatap Hana dengan mata bulat yang bening, lalu memberikan sebuah senyum ompong yang sangat lucu.
"Kenapa, Sayang? Mau tidur?" bisik Hana. Ia mencium kening bayinya yang beraroma susu dan bedak bayi.
Tiba-tiba, dr. Adrian datang dengan sepeda motor tuanya. Ia membawa sebuah bungkusan kecil berisi vitamin untuk Hana.
"Malam, Hana. Belum tidur?" tanya Adrian sambil melepas helmnya.
"Belum, Dok. Saka sepertinya masih mau main. Dokter sendiri, baru pulang dari puskesmas?"
Adrian duduk di kursi bambu di teras, menjaga jarak yang sopan namun tatapannya tak bisa menyembunyikan rasa kagum.
"Iya. Melelahkan, tapi melihat kalian berdua di sini, rasanya lelah saya hilang setengah."
Hana tersenyum, senyum yang nampak tersipu. "Dokter terlalu banyak belajar dari buku gombal ya?"
Mereka tertawa bersama. Di Sukamaju, Hana tidak butuh berlian atau pesta miliaran rupiah. Ia hanya butuh seseorang yang menghargainya sebagai manusia, bukan sebagai aksesori penunjang status sosial.
Hana tidak menyadari bahwa di ujung jalan yang gelap, sebuah mobil hitam dengan kaca gelap sedang terparkir. Itu adalah asisten Heru yang masih melakukan pemantauan.
Ia merekam tawa Hana dan Adrian, sebuah rekaman yang akan dikirimkan kepada Bima malam itu juga.
Bima yang menerima video itu di Jakarta, merasa dunianya runtuh. Ia melihat mantan istrinya, tertawa dengan pria lain di tempat yang ia anggap kotor.
Namun, di matanya, Hana tampak lebih cantik daripada model mana pun yang pernah ia kencani.
"Dia tertawa..." Bima meremas ponselnya. "Dia memberikan tawa itu pada pria desa itu, bukan padaku."
Obsesi Bima kini berubah bentuk. Bukan lagi ingin memamerkan kemiskinan, melainkan sebuah keinginan posesif yang berbahaya. Ia merasa Hana masih miliknya. Ia merasa Saka adalah miliknya.
...----------------...
**To Be Continue** ....