NovelToon NovelToon
Subosito

Subosito

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: eko yepe

Seorang pemuda dengan kutukan api di dalam tubuhnya, membuat dirinya dibenci oleh seluruh warga desa.

Padahal di dalam hatinya, Subosito tak ingin melukai siapa pun dengan apinya.

Banyak pendekar yang mengincar kekuatan itu, untuk kepentingan pribadi mereka

Subosito mencoba untuk mengarungi dunia pendekar yang tidak mudah.

Bagaimana kisah perjuangan pemuda api itu dengan kutukan yang dimilikinya?

Ikuti keseruan kisahnya dalam 'Subosito'.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eko yepe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hutan Larangan

Terompet kerang raksasa menggema dari puncak menara tinggi Trowulan, suaranya membelah udara pagi yang dingin dan mengirimkan getaran ke seluruh Alun-Alun Utara.

Ratusan peserta yang telah lolos kualifikasi fisik, termasuk Subosito yang masih setia dengan identitas Sura-nya, digiring menuju gerbang raksasa di sisi timur kerajaan.

Dibalik gerbang itu, terbentang hamparan pepohonan yang saking rapatnya hingga tajuknya menelan cahaya matahari.

“Hutan Larangan,” bisik Jati yang hanya bisa mengantar hingga batas garis penjagaan prajurit. Mata yang tajam menatap cemas ke arah Sura. "Ingat, kakak. Di dalam sana bukan hanya kabut yang bisa membunuhmu. Tetaplah menjadi bayangan, jangan biarkan matahari itu terbit!"

Subosito hanya mengangguk kecil, memegang erat keping perunggu nomor 45 dibalik saku kain goninya. Di hadapannya, seorang Panglima Majapahit berjubah ungu berdiri di atas podium batu, membacakan titah Maharaja.

"Tugas kalian sederhana, juga mematikan," suara Panglima itu berwibawa nan dingin. "Di jantung hutan ini, kami telah menyebarkan lebih dari seribu lencana emas berbentuk bulat. Siapapun yang berhasil keluar dari hutan dengan membawa minimal lima lencana, berhak lolos ke babak berikutnya di hadapan Maharaja. Kalian memiliki waktu hingga fajar esok menyingsing!"

Panglima itu terdiam sejenak, senyum tipis yang sarat akan kesederhanaan tersungging di bibir. "Dan ketahuilah, di dalam Hutan Larangan, hukum alam berlaku. Tidak ada Saksi, tidak ada hakim. Apa pun yang terjadi di bawah naungan pohon-pohon raksasa itu, biarlah tetap terkubur di sana. Lencana tidak harus ditemukan di tanah; kalian boleh mengambil dari tangan peserta lain..., dengan cara apa pun. Ingat! Dengan cara apa pun!”

Riuh rendah segera pecah di antara para peserta. Kata-kata "dengan cara apa pun" adalah izin resmi untuk melakukan pembunuhan, ataupun perampasan.

Subosito merasakan hawa dingin yang tidak nyaman disela cuaca yang hangat. Pemuda itu melirik ke arah barisan peserta kasta tinggi. Di sana, Kesatria Naga Sisik Perak berdiri tegak, zirahnya memantulkan cahaya pagi yang redup dengan kilauan perak yang mengancam.

Sang Naga seolah tidak tertarik pada penjelasan Panglima; tatapan yang putih dan mengancam itu terus menyapu barisan peserta rendahan, seolah sedang mengendus mangsa yang siap disantapnya.

Begitu gerbang dibuka, ratusan pendekar melesat masuk ke dalam hutan bak anak panah yang terlepas dari busurnya. Subosito bergerak dengan langkah yang terukur, sengaja menjaga kecepatannya agar tetap terlihat seperti manusia biasa yang ketakutan, berjalan pincang dan membungkuk, layaknya kuli panggul.

Begitu melewati ambang pohon-pohon raksasa, dunia berubah.

Udara di dalam Hutan Larangan tidak hanya dingin, tapi juga berasa amis dan pahit. Kabut ungu tipis diturunkan di antara akar-akar gantung yang melilit dahan pohon seperti ular.

Ini bukan kabut alami; ini adalah uap racun yang diproduksi oleh lumut-lumut hitam yang menghisap energi kehidupan. Binatang-binatang di sini pun tak luput dari kutukan.

Subosito melihat seekor rusa dengan mata merah menyala dan taring panjang sedang mengunyah bangkai binatang lain—sebuah pemandangan yang selaras dengan hukum alam.

GRAWL!

Baru beberapa saat memasuki hutan, sebuah serangan datang dari arah semak belukar. Seekor kera raksasa dengan kulit yang terkelupas dan tulang-tulang yang menonjol keluar menerjang seorang pendekar dari tanah seberang yang berada di dekat Subosito.

Tanpa sempat berteriak, pendekar itu terlempar ke pohon beringin dengan dada yang robek. Kera itu bukan sekadar binatang yang kuat; gerakannya dituntun oleh sisa-sisa sihir hitam yang tertanam di dalam otaknya.

Subosito segera merunduk, bersembunyi di balik akar raksasa. Dia bisa merasakan api di punggung yang berdenyut hebat, meminta untuk digunakan agar menghangatkan tubuhnya dari racun kabut ini. Namun, pemuda itu menekannya dengan keras. Subosito mengingat teknik Tapa Pendem ; dirinya harus menjadi seperti mayat yang dikubur di dalam tanah, dingin dan tak terdeteksi.

Namun, ancaman sebenarnya bukan dari binatang-binatang itu.

"Satu lencana, serahkan lencanamu!" teriakan itu diikuti oleh bunyi benturan logam.

Di depannya, tiga orang pendekar sedang mengeroyok satu orang peserta muda. Mereka tidak sedang mencari lencana di jantung hutan; mereka sedang berburu dari peserta lain yang terlihat lemah. Aturan "boleh membunuh" telah mengubah hutan ini menjadi rumah jagal dalam sekejap.

Subosito memilih untuk memutar jauh, menghindari konflik sebisa mungkin. Dirinya bergerak tanpa suara, menggunakan indra pendengarannya yang tajam untuk mendeteksi pergerakan musuh sebelum mereka melihatnya.

Di tengah perjalanannya menuju jantung hutan, Subosito menemukan lencana emas pertama. Lencana itu tergantung pada dahan pohon yang dipenuhi duri beracun.

Dengan kelincahan fisik murni, Subosito mengumpulkan dan mengambilnya tanpa menyentuh duri tersebut. Satu lencana, dirinya butuh empat lagi.

Namun, semakin mendekati pusat hutan, kabut ungu semakin pekat. Jarak pandang berkurang drastis hingga hanya tersisa tiga langkah saja.

Di sini, kesunyian hutan menjadi mengerikan. Hanya terdengar suara tetesan getah pohon yang jatuh ke daun-daun yang tak kering sepenuhnya, atau suara langkah kaki yang sangat samar.

Tiba-tiba, telinga Subosito menangkap getaran yang berbeda. Bukan suara langkah kaki manusia yang kasar, melainkan ketukan kayu yang teratur di atas akar.

"Berhenti di sana, Sura," sebuah suara lembut yang dikenalnya memecah kabut.

Dari balik pepohonan raksasa, muncul Larasati. Gadis buta itu berjalan dengan tenang, tongkat cendananya mengetuk tanah dengan tepat, seolah gadis itu bisa melihat jalan setapak di tengah kabut yang paling pekat sekalipun. Pakaian putihnya tetap bersih, kontras dengan hutan yang kotor ini.

Subosito tetap diam, mempertahankan akting bisunya. Dirinya hanya menggerakkan sedikit kakinya untuk menunjukkan keberadaannya.

Larasati berhenti, wajahnya yang tenang beralih ke arah Subosito. "Kau sudah mendapatkan satu lencana. Namun, musuh yang kau takuti sedang memperpendek jarak. Kesatria Naga itu tidak sedang mencari emas, Sura. Dia sedang mencari jiwamu!"

Subosito tersentak, Larasati mendekat, suaranya kini merendah menjadi bisikan yang lirih. "Dia bukan manusia biasa lagi. Naga Sisik Perak telah dirasuki oleh kekuatan kuno yang haus akan cahaya matahari. Di alun-alun, dia mencium percikan api emasmu saat kau mengangkat batu itu. Sekarang, dia menggunakan indra naga peraknya untuk membedah kabut ini, mencari siapa pun yang memiliki detak jantung yang terlalu panas!"

Larasati menyentuh lengan Subosito. "Hutan ini adalah perangkap. Maharaja dan Mangkubumi bekerja sama untuk 'menyaring' orang-orang sepertimu. Jika kau menggunakan apimu untuk melawan binatang di sini, kau akan menyala seperti obor di tengah malam bagi penglihatan sang Naga. Tapi jika kau tidak menggunakannya, kau mungkin akan mati tercabik oleh binatang yang telah dikutuk ini!"

Subosito merasakan keringat dingin membasahi punggungnya. Dirinya menyadari betapa rumitnya posisi ini. Dia berada di dalam labirin maut di mana setiap pilihannya mengarah pada kehancuran.

“Gunakan insting tanahmu,” saran Larasati. "Gada Sungsang Aji yang ada di sayapmu bukan untuk menghancurkan, tapi untuk bersembunyi. Meleburlah menjadi satu dengan hutan ini. Dinginkan darahmu sampai ke titik beku!"

Tiba-tiba, terdengar sebuah raungan dahsyat yang bukan berasal dari gelombang binatang dari arah barat hutan. Pohon-pohon raksasa tampak bergetar, dan burung-burung gagak terbang menjauh dalam ketakutan. Udara tiba-tiba terasa dingin hingga membekukan uap napas.

"Dia sudah dekat," bisik Larasati dengan wajah serius. "Lari, Sura. Jangan ke jantung hutan dulu. Larilah ke arah sungai bawah tanah di utara. Air akan menyamarkan panasmu!”

Larasati kemudian menghilang kembali ke dalam kabut, meninggalkan Subosito dengan debaran jantung yang kian tak menentu. Dari kejauhan, dia melihat siluet perak yang bergerak dengan kecepatan kilat, mengurung pohon-pohon besar seolah-olah hanya berdiri kering. Kesatria Naga Sisik Perak sedang menuju ke arahnya, dan setiap langkah sang Naga membawa kematian bagi peserta mana pun yang berani menempuh perjalanan.

Subosito memutar arah, berlari secepat mungkin tanpa melepaskan energi sedikit pun. Di belakangnya, teriakan-teriakan peserta yang dibantai oleh sang Naga mulai terdengar, menyatu dengan kesunyian Hutan Larangan yang mengerikan.

Perburuannya bukan lagi tentang mendapatkan lencana, melainkan tentang bertahan hidup di depan saudaranya sendiri yang kini telah menjadi monster perak.

Hari pertama di Hutan Larangan baru saja dimulai, namun darah telah membanjiri akar-akar raksasa. Subosito kini harus berpacu dengan waktu sebelum Kesatria Naga Sisik Perak menemukannya di tengah pekatnya kabut beracun.

Bagaimana Subosito bisa mendapatkan empat lencana tersisa tanpa menarik perhatian Sang Naga? Dan apa yang sebenarnya direncanakan oleh Larasati, yang sepertinya tahu lebih banyak tentang seluk-beluk sayembara ini daripada peserta lainnya?

Jangan lewatkan kelanjutan ceritanya dalam Subosito.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!