"Jangan sentuh apa pun. Jangan duduk di sofa sebelum mandi. Dan singkirkan remah kerupuk itu dari jangkauan radar saya!" — Calvin Harvey Weinstein.
Nirbita Luminara Rein mengira hidupnya sudah berakhir saat orang tuanya pergi dan kakaknya, Varro, menyatakan mereka bangkrut. Tapi ternyata, penderitaan yang sesungguhnya baru dimulai saat ia "digadaikan" oleh kakaknya sendiri kepada Calvin—CEO jenius yang punya alergi akut pada segala sesuatu yang tidak rapi.
Bagi Calvin, Nirbi adalah sumber kuman berjalan. Bagi Nirbi, Calvin adalah kulkas dua pintu yang cerewetnya minta ampun. Namun, di balik semprotan disinfektan dan aturan ketatnya, Calvin menyimpan rahasia: Ia sudah jatuh cinta pada "si kuman kecil" ini sejak insiden pelukan salah sasaran di kampus dulu.
Bisakah rumah super steril Calvin bertahan dari badai keberantakan Nirbi? Atau justru hati Calvin yang akhirnya "terkontaminasi" cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Sterilisasi Hama Bernama Veyra
Pagi itu, suasana kantor Weinstein Group terasa mencekam. Suhu AC seolah turun hingga titik beku. Calvin masuk ke ruangannya tanpa menyapa siapa pun, tapi semua orang tahu satu hal: Bos besar mereka sedang dalam mode "pembasmi".
Nirbita duduk di mejanya dengan plester kecil di sudut bibir. Ia berusaha fokus pada tumpukan kertas, tapi matanya sesekali melirik pintu ruangan Calvin.
"Nirbita, masuk," suara Calvin terdengar dari interkom.
Nirbi masuk dengan ragu. "Iya, Pak Bos? Mau kopi stroberi lagi?"
Calvin menatapnya datar. "Duduk di sana. Jangan bicara apa pun, cukup tonton saja."
Tak lama kemudian, pintu diketuk. Veyra Dista masuk dengan senyum lebar, menenteng tas branded keluaran terbaru. Ia sama sekali tidak tahu bahwa maut sedang menantinya.
"Calvin sayang! Akhirnya kamu mau ketemu aku. Kamu tahu nggak, kemarin aku ketemu pelayanmu ini di kafe murahan, dia—"
"Duduk, Veyra," potong Calvin tajam.
Veyra duduk, melirik Nirbi dengan sinis. "Kenapa dia ada di sini? Ini kan urusan bisnis kita."
Calvin menyandarkan punggungnya, lalu meletakkan sebuah map hitam di meja. "Bisnis? Mari kita bicara bisnis. Pagi ini, saya sudah menarik seluruh investasi Weinstein Group dari perusahaan ayahmu. Saya juga sudah membatalkan kontrak kerjasama pengadaan material untuk proyek di Jakarta Selatan."
Wajah Veyra seketika pucat pasi. "A-apa? Kenapa tiba-tiba, Vin? Kita kan sudah lama kerjasama!"
"Saya tidak suka bekerja sama dengan orang yang tangannya kotor," desis Calvin. Ia memutar sebuah tablet di meja, memperlihatkan rekaman CCTV area parkir kafe tadi malam. Di sana terlihat jelas Veyra sedang memberikan uang pada pria besar yang menyerang Nirbi.
Veyra gemetar. "Itu... itu cuma salah paham! Aku cuma mau kasih dia pelajaran karena dia nggak sopan!"
"Satu tamparan di wajahnya," Calvin berdiri, berjalan mendekati Veyra dengan langkah pelan yang mengintimidasi. "Berarti satu kehancuran bagi aset keluargamu. Satu memar di tangannya, berarti penutupan satu anak perusahaanmu."
"Calvin! Kamu gila?! Demi gadis peminta-minta ini kamu mau hancurin aku?" teriak Veyra histeris.
Calvin berhenti tepat di depan Veyra. Ia mengeluarkan sapu tangan putih, lalu dengan gerakan tenang, ia mengusap meja di depan Veyra seolah-olah wanita itu baru saja menyebarkan virus mematikan.
"Dia bukan peminta-minta. Dia asisten pribadi saya. Milik saya. Dan kamu..." Calvin menatap Veyra dengan tatapan paling hina. "Kamu baru saja menyentuh sesuatu yang sangat saya jaga kebersihannya."
Calvin menekan tombol interkom. "Satpam, bawa wanita ini keluar. Dan pastikan semua barang yang pernah dia sentuh di kantor ini disemprot disinfektan. Saya tidak mau ada sisa hama di sini."
Veyra diseret keluar sambil berteriak-teriak tidak terima. Ruangan kembali sunyi.
Nirbi melongo. "Kak... eh, Pak Bos. Itu nggak kejauhan? Ayahnya Kak Veyra kan nggak salah."
Calvin kembali ke kursinya, wajahnya kembali tenang namun matanya masih tajam. "Dalam bisnis, jika kamu membiarkan satu kuman kecil hidup, dia akan merusak seluruh sistem. Saya hanya sedang melakukan sterilisasi."
Nirbi menunduk, memainkan ujung bajunya. "Makasih ya, Kak. Tapi aku jadi merasa nggak enak... gara-gara aku, Kakak jadi rugi investasi."
"Investasi bisa dicari lagi, Nirbita," sahut Calvin pendek. Ia menarik laci mejanya, mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi cokelat mahal. "Makan ini. Cokelat bisa meningkatkan mood dan membantu penyembuhan luka."
Nirbi menerima cokelat itu dengan mata berbinar. "Wah! Ini kan cokelat yang satu kotaknya seharga motor matic! Kakak beneran kasih buat aku?"
"Hanya karena saya tidak mau melihat wajah sedihmu yang merusak estetika ruangan saya," dalih Calvin, meski sebenarnya ia tadi malam mencarinya di toko khusus yang buka 24 jam.
Nirbi tertawa, lesung pipitnya muncul lagi. "Bilang aja perhatian! Makasih, Tuan Higienis kesayanganku!"
Calvin tertegun. Kesayanganku? Ia segera membuang muka, mencoba menyibukkan diri dengan dokumen agar Nirbi tidak melihat telinganya yang mendadak memerah.
"Kembali bekerja. Dan jangan berani-berani berpikir untuk pergi ke kafe itu lagi, atau saya sendiri yang akan mengikatmu di kursi meja kerjamu," gumam Calvin.
Nirbi menjulurkan lidahnya. "Iya, Pak Posesif!"
udah ngasih beban nitipin NOBITA eehh.. maksudku Nirbita...
nglunjak lagi..🤣🤣🤣🤣🤣
dari sahabat jadi musuh ini kah... bukan musuh dari awal.
Nirbita lucu banget ... ini bukan kembaran nya Nobita kan ??? /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
udah ini mah lucu lucu romantis gemes dan lebbayyy tapi aku suka