NovelToon NovelToon
Bumi Dan Hal - Hal Yang Belum Usai

Bumi Dan Hal - Hal Yang Belum Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

persahabatan sederhana dari anak SMA ,yang mulai menumbuhkan benih cinta tapi ego masa muda mereka lebih tinggi dari pada rasa cintanya.ada hal yang ingin di sampaikan tapi tak mungkin Untuk di utarakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Tentang Kursi yang Tergeser dan Aroma Persaingan di Udara

Selasa pagi biasanya adalah hari yang paling netral. Dia tidak punya beban upacara seperti hari Senin, tapi juga belum punya aroma akhir pekan seperti hari Jumat. Namun bagi saya, Selasa ini terasa seperti sebuah medan perang yang sudah dibersihkan dari mayat-mayat, tapi bau mesiu masih tertinggal di udara. Saya berjalan menuju kelas dengan perasaan yang aneh, ada semacam ketenangan yang dipaksakan di dalam dada saya.

Saat saya masuk ke kelas, saya mendapati pemandangan yang tidak biasa. Kursi saya—kursi yang sudah dua tahun ini menjadi saksi bisu lamunan-lamunan saya—sudah berpindah posisi. Kursi itu sekarang berada di depan, tepat di samping meja Arkan. Dan di posisi bangku saya yang lama, di barisan belakang yang nyaman, sudah ada kursi lain yang diduduki oleh teman sekelas yang biasanya duduk di pojok kiri.

"Bumi! Maaf ya, tadi saya yang minta tukar posisi sama kamu," Arkan menyapa saya dengan senyum yang sangat "pemimpin". Dia berdiri di dekat meja barunya, terlihat sangat rapi dengan seragam yang disetrika licin. "Kata Bu Ratna, buat koordinasi mading biar lebih gampang, saya butuh duduk dekat Kayla. Kamu tidak keberatan kan duduk di depan?"

Saya menatap kursi itu. Di depan. Tepat di bawah hidung guru. Tempat di mana debu-debu tidak bisa menari dengan bebas karena selalu terganggu oleh kapur tulis. Saya lalu menoleh ke arah Kayla. Dia sedang menunduk, sibuk memainkan ujung bukunya, tidak berani menatap mata saya.

"Tidak masalah, Kan. Kursi itu cuma benda mati. Di mana pun saya duduk, saya tetap Bumi yang sama," jawab saya dengan nada sedatar mungkin. Saya berjalan ke barisan depan, meletakkan tas saya dengan suara berdebum yang disengaja.

Dara, yang bangkunya tetap di barisan belakang karena tidak ada yang berani menggeser "wilayah astronominya", menatap saya dari jauh. Dia tidak bicara, tapi dari tatapannya saya tahu dia sedang berkata: Lihat, meteorit itu mulai menggeser lempeng tektonikmu.

Pelajaran dimulai. Kimia. Pak Herman mulai menuliskan rumus-rumus molekul yang bentuknya seperti sarang laba-laba. Biasanya, saya akan menghabiskan waktu ini dengan mencuri pandang ke arah rambut Kayla dari belakang. Tapi sekarang, karena saya duduk di depan, saya hanya bisa melihat papan tulis yang penuh dengan angka-angka dingin.

Di belakang saya, saya bisa mendengar bisikan-bisikan kecil. Suara Arkan yang menjelaskan sesuatu tentang mading kepada Kayla. Suara tawa kecil Kayla yang tertahan. Rasanya seperti ada semut yang merayap di punggung saya, gatal tapi tidak bisa digaruk.

"Bumi, fokus ke depan. Jangan sampai ikatan kovalen ini putus karena kamu terlalu banyak menoleh ke belakang," Pak Herman menegur saya tanpa menoleh dari papan tulis. Beliau sepertinya punya mata di belakang kepala.

"Maaf, Pak. Saya cuma sedang menghitung jarak aman agar tidak terjadi ledakan emosional... maksud saya, ledakan kimiawi," jawab saya. Seisi kelas tertawa, kecuali Kayla dan Arkan.

Saat istirahat, saya tidak langsung keluar. Saya sengaja berlama-lama merapikan alat tulis. Saya ingin melihat apa yang akan mereka lakukan.

"Bumi, kamu mau ikut kami ke kantin?" tanya Kayla ragu-ragu. Dia sudah berdiri di samping meja saya, sementara Arkan menunggu di depan pintu sambil memainkan kunci motor sport-nya.

"Terima kasih, Kay. Tapi saya sudah ada janji sama Dara untuk membahas tentang Lubang Hitam. Katanya kalau terlalu dekat, bisa tersedot dan tidak bisa kembali lagi," kata saya sambil berdiri.

Kayla menghela napas panjang. "Kamu masih marah ya soal kursi itu? Itu cuma sementara, Mi. Biar urusan mading cepat kelar."

"Saya tidak marah, Kay. Saya malah senang. Di depan sini udaranya lebih segar, tidak terlalu banyak polusi suara dari bisikan-bisikan mading," jawab saya sambil melenggang pergi meninggalkan Kayla yang masih terpaku.

Saya menemui Dara di taman belakang. Dia sedang memegang sebuah teropong kecil, mencoba melihat sesuatu di langit siang yang terang.

"Siang-siang begini cari apa, Dara? Bintang kan tidak kelihatan kalau ada matahari," tanya saya sambil duduk di rumput.

"Bintang selalu ada, Bumi. Matahari cuma terlalu berisik dengan cahayanya sehingga bintang yang lebih jauh tidak terlihat. Sama seperti kamu sekarang," jawab Dara tanpa melepaskan teropongnya. "Kamu sedang tertutup oleh cahaya Arkan yang terlalu terang di mata Kayla."

"Lalu saya harus apa? Menjadi gerhana?"

"Jangan menjadi gerhana. Gerhana itu cuma sebentar. Menjadilah malam. Saat matahari terbenam, orang-orang akan sadar bahwa bintang-bintang jauh lebih indah dan abadi daripada satu matahari yang membosankan," kata Dara. Dia menurunkan teropongnya, lalu menatap saya. "Mau lihat?"

Saya mengambil teropong itu. Saya tidak melihat bintang. Saya melihat seekor burung gereja yang sedang berusaha membangun sarang dari ranting-ranting kecil yang hampir patah. Burung itu gigih sekali. Jatuh, diambil lagi. Jatuh lagi, diambil lagi.

"Burung itu seperti kamu, Bumi. Terus berusaha membangun apa yang sudah hancur," gumam Dara.

Sore harinya, saat bel pulang berbunyi, hujan turun dengan sangat deras. Bukan gerimis romantis ala film remaja, tapi hujan yang marah. Angin kencang membuat dahan-dahan pohon di sekolah bergoyang hebat.

Saya berdiri di lobi sekolah, memandangi Si Kumbang yang basah kuyup di parkiran. Saya tidak membawa jas hujan. Di samping saya, Kayla juga sedang berdiri menunggu jemputan. Arkan tidak terlihat. Katanya dia ada urusan mendadak dengan OSIS wilayah.

"Bumi, kamu pulang naik apa? Hujan begini Si Kumbang pasti mogok kalau kena air sebanyak itu," tanya Kayla. Nada bicaranya sudah kembali lembut, seperti Kayla yang dulu.

"Saya akan tunggu sampai hujannya bosan. Biasanya hujan di Bandung itu gampang bosan kalau tidak ada yang memperhatikan," jawab saya sambil memasukkan tangan ke saku jaket.

"Bareng aku saja yuk? Tadi Ayah telepon, katanya sudah di jalan mau jemput pakai mobil. Kita antar kamu sampai depan rumah," tawar Kayla.

Itu adalah tawaran yang sangat menggiurkan. Menghabiskan waktu di dalam mobil bersama Kayla, mencium bau parfum toko kuenya, dan bicara tentang hal-hal tidak penting seperti dulu. Tapi, saat saya baru mau mengangguk, saya melihat Arkan keluar dari ruang guru dan menghampiri Kayla.

"Kay! Untung belum pulang. Ayah kamu tadi telepon aku, katanya beliau kejebak macet total di Pasteur dan tidak bisa jemput. Beliau minta aku yang antar kamu pulang pakai mobil jemputan OSIS yang baru saja sampai," kata Arkan dengan napas yang sedikit terengah.

Kayla menoleh ke arah saya, lalu kembali ke Arkan. "Oh, gitu ya? Tapi Bumi..."

"Bumi bisa ikut juga kalau mau. Tapi mobilnya kecil, di belakang sudah penuh sama barang-barang mading yang harus saya bawa ke percetakan. Mungkin agak sempit," kata Arkan sambil melirik saya. Senyumnya seperti bilang: Kamu tidak akan mau ikut di antara tumpukan kertas itu.

Saya tersenyum tipis. "Terima kasih, Kan. Tapi saya lebih suka basah kuyup bersama Si Kumbang daripada kering tapi merasa sempit di mobil orang lain. Pulanglah, Kay. Jangan sampai seragam rapi kamu itu kena setetes pun air hujan."

"Bumi, beneran tidak apa-apa?" Kayla tampak sangat tidak tega.

"Beneran. Hujan itu berkah, Kay. Cuma orang yang ketakutan yang menganggapnya sebagai musuh," kata saya.

Saya melihat mereka masuk ke dalam mobil jemputan OSIS. Mobil itu bergerak perlahan meninggalkan gerbang sekolah. Kayla sempat menoleh dari kaca jendela, menatap saya dengan tatapan yang sulit saya artikan—sedih, bersalah, atau mungkin dia mulai menyadari bahwa saya benar-benar sedang membangun jarak.

Saya berlari menuju parkiran, menaiki Si Kumbang, dan menyalakannya. Seperti biasa, dia butuh tiga kali tendangan sampai akhirnya mesinnya menderu. Saya memacu motor saya menembus hujan deras. Air menghantam wajah saya, dingin dan perih, tapi rasanya sangat jujur.

Di tengah jalan, motor saya benar-benar mogok di depan sebuah toko buku tua yang sudah tutup. Saya menuntun motor itu ke emperan toko, berteduh sendirian. Saya membuka tas, mengambil buku astronomi Dara. Saya melihat tulisan di halaman depannya: Jangan lupa cara berputar pada porosnya sendiri.

Saya tertawa di tengah suara hujan.

"Kumbang, kamu lihat kan? Menjadi Bumi itu memang harus basah, harus kedinginan, dan harus mandiri. Tidak ada mobil jemputan OSIS untuk kita," bisik saya pada motor saya.

Malam itu, saya sampai di rumah dengan keadaan menggigil. Ibu langsung memarahi saya sambil memberikan handuk hangat dan teh jahe. Di kamar, saya melihat ponsel saya bergetar.

Pesan dari Kayla: Bumi, sudah sampai rumah? Maaf ya tadi. Aku beneran merasa tidak enak.

Saya tidak membalas. Saya meletakkan ponsel itu di atas meja belajar. Saya mengambil sebuah kertas, lalu menuliskan satu kalimat: Jarak antara aku dan kamu sekarang bukan lagi soal kilometer, tapi soal siapa yang lebih dulu memilih untuk berhenti peduli.

Nama saya Bumi. Dan hari ini, saya belajar bahwa kehujanan sendirian itu jauh lebih terhormat daripada berteduh di bawah payung yang orangnya tidak benar-benar menginginkan kita di sana.

saya yang tidur dengan selimut tebal, mendengarkan suara hujan yang mulai mereda, menyadari bahwa besok saya harus bangun dan kembali duduk di bangku depan, tepat di depan semua orang yang sedang berusaha menggeser dunia saya.

1
nickm
cerita ini layak dibuat film
nickm
cerita yang luar biasa, aku akan menunggu metamorfosis bumi kedepannya
nickm
semakin menarik ceritanya
nickm
bagus sekali ceritanya, bahasa yang runtut, alur mengalir pasti
nickm
bagus sekali, paragraf pertama yang membuatku masuk ke dimensi cerita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!