Dilarang memplagiat karya!
"Dia memilih kakakku..." --Hawa--
"Dan aku memilihmu. Bukan karena tidak ada pilihan lain, Hawa. Tapi karena memang hanya kamu yang aku mau." --Ramadan--
Hawa terpaksa menelan kenyataan pahit saat Damar--sahabat sekaligus laki-laki yang dicintainya, justru melamar Hanum--kakak kandungnya.
Di tengah luka yang menganga, hadir Ramadan sebagai penyejuk jiwa. Tak sekadar menawarkan cinta, Ramadan juga menjadi kompas yang menuntun Hawa keluar dari gelapnya kecewa menuju cahaya ketulusan yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 15 Naif
Happy reading
Hawa duduk termenung di depan kamar. Atensinya tertuju pada dedaunan yang berayun pelan.
Pandangannya kosong, bibirnya terkunci rapat, namun otaknya gaduh.
Sesekali ia menghela napas panjang. Meraba dadanya sambil membisikkan nama Rama.
Tak ada getar di sana.
Ia bersyukur sekaligus merasa tersanjung dicintai lelaki bermata teduh itu. Tapi, skeptisisme seolah masih mengurungnya, mengunci pintu hati yang dulu pernah diketuk oleh Damar melalui perhatian manis.
Hawa meyakini, perasaannya pada Rama saat ini hanya sebentuk kekaguman, rasa nyaman, dan... butuh.
Ia butuh teman untuk berbagi batin; seseorang yang sudi mendengar keluh kesah dan mampu mengokohkan jiwanya yang rapuh.
"Allah, jika memang dia yang terbaik, buka hatiku untuk menerima. Namun, jika dia hadir sebagai ujian, jangan biarkan aku terjebak dalam angan semu," pintanya pada Sang Maha Cinta. Sepasang mata indahnya terpejam sejenak, merasakan kehadiran Illahi dalam setiap tarikan napas.
Seketika, angin malam berembus lembut menyentuh pipinya, seakan menjadi jawaban tenang atas doanya.
"Non, kok belum tidur?"
Hawa terhenyak saat mendengar suara Ijah. Ia refleks menoleh ke arah asal suara, mengunci atensi pada satu titik--wajah Ijah yang terbingkai senyum.
"Bi Ijah..."
"Sedang melamunkan siapa, Non?" goda Ijah. "Mas Rama ya?"
Hawa mengulas senyum tipis, menepuk pelan sofa di sebelahnya, mempersilahkan Ijah untuk duduk bersamanya.
Hening merayap turun, sebelum akhirnya Hawa kembali bersuara.
"Tadi, kami berbincang. Dia bilang, aku adalah sosok yang selalu ia pinta di sepertiga malam. Alasan kenapa ia menolak ratusan proposal cinta dari perempuan yang memujanya, tak terkecuali seorang Ning--putri Kyai."
"Masya Allah. Itu berarti, Non Hawa teramat spesial bagi Mas Rama," sahut Ijah. Senyumnya merekah, diiringi binar tulus yang terpancar dari sepasang matanya.
Sesaat Hawa terdiam. Matanya mengejap. Menahan rasa panas yang mulai merayap.
"Aku merasa... dia terlalu sempurna untukku, Bi. Dan aku masih takut untuk melangkah bersamanya. Luka yang ditorehkan Damar belum sepenuhnya mengering; butuh waktu lama untuk sekadar belajar percaya lagi."
Ijah menarik napas panjang. Menatap lekat sorot mata Hawa yang mulai meredup. Membawa jemari sang nona ke dalam genggaman.
"Hati yang patah memang butuh waktu untuk pulih, tapi kadang obatnya bukan sekadar waktu, melainkan kehadiran orang yang tepat. Mas Rama sudah membuktikan ketulusannya dengan menepis ratusan pilihan demi memilih Non Hawa. Jangan sampai penyesalan datang karena kita terlalu sibuk memeluk duri masa lalu."
Kata-kata Ijah seperti air dingin yang menyiram api gelisah di dada Hawa. Genggaman tangannya terasa hangat, meluluhkan keraguan yang menyelimuti batin.
Namun ada hal besar yang harus diperjuangkan jika ia memutuskan melangkah bersama Rama; restu ayah dan bundanya.
Di tempat lain...
Damar memejamkan mata rapat-rapat. Tangannya terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Ingatan tentang kebersamaan Hawa dan Rama tadi pagi masih menghuni benaknya tanpa ampun, kian meruntuhkan niatnya untuk menjadikan Hanum sebagai istri.
"Arghhhh!" Damar mengerang frustrasi. Ia meluapkan amarah sekaligus cemburu dengan membanting tumpukan undangan yang sudah siap sebar.
Ia menyesal telah mengambil keputusan impulsif; melamar Hanum demi sebuah siasat semu agar bisa tetap berada di dekat Hawa.
Tanpa ia sadari, langkah itu justru menjadi bumerang--meruntuhkan dunia gadis yang ia cinta sekaligus menghancurkan hidupnya sendiri dan juga... perempuan bergelar 'calon istri'.
"Hawa..." bisiknya pelan. Ia merapalkan nama itu berulang kali, mencoba mencari ketenangan di tengah reruntuhan keputusan yang ia buat sendiri.
Setelah berhasil mengais ketenangan, Damar bertekad menemui kedua orang tuanya yang saat ini tengah berbincang di ruang keluarga.
Ia ingin mengutarakan niatnya untuk membatalkan pernikahannya dengan Hanum.
Namun saat kakinya berpijak di ambang pintu, suara Hawa tiba-tiba terngiang di telinga. Memaksa langkahnya terhenti mati.
"Kamu jahat, Dam! Kamu tega mengorbankan perasaan orang yang nggak punya salah apa-apa. Apa pun alasanmu, caramu ini salah! Dan aku nggak akan pernah maafin kamu kalau sampai hidup Kak Hanum hancur gara-gara kamu!"
Kata-kata itu menancap dalam di kepala, membuat niatnya seketika goyah.
"Damar..." gumam Maharani saat indra penglihatannya menangkap Damar yang tampak terpaku di ambang pintu.
Ia beranjak--meninggalkan suaminya yang tengah sibuk menerima telepon dari kerabat, lalu melangkah menghampiri putra semata wayangnya--Damar Aksara.
"Ada apa?" Maharani menelisik wajah Damar. "Kamu sakit?" tanyanya lagi saat menyadari wajah Damar yang tampak pucat pasi.
Damar menggeleng pelan. Bibirnya seolah terkunci rapat, berat untuk sekadar mengeluarkan satu kata saja.
"Bun, Damar minta waktu untuk bicara," ucapnya lirih, nyaris menyerupai bisikan.
Maharani mengerutkan dahi, menelisik manik mata putranya yang tampak mengembun. "Bicara mengenai apa?"
"Pernikahan Damar dengan Hanum..." Damar menjeda ucapannya. Ia menelan ludah dengan susah payah, berusaha mengais sisa-sisa keberanian yang masih ia miliki.
"Damar ingin pernikahan itu dibatalkan." Kalimat itu jatuh pelan, namun sanggup meledakkan amarah di dada sang bunda.
Maharani menarik napas panjang, menatap tajam mata sang putra.
"Jangan berbicara sembrono, Damar! Pernikahanmu dengan Hanum tinggal menghitung hari, undangan juga sebagian besar sudah disebar. Apa kamu tega mencoreng nama baik keluarga kita dan keluarga calon istrimu?" ujarnya memuntahkan amarah. Nada suaranya mengeram rendah, sarat akan peringatan.
Setiap kata yang meluncur deras dari bibir Maharani menghujam tepat di ulu hati Damar, meruntuhkan keberanian yang baru saja ia kumpulkan, dan memaksanya kembali menelan pil pahit dari keputusannya sendiri.
"Kalau sampai kamu nekat mengacaukan pernikahanmu dengan Hanum, Bunda tidak akan segan-segan menghakimi Hawa di depan banyak orang, tentang betapa pembawa petaka dirinya bagi hidupmu dan keluarganya!"
"Bun..." suara Damar tertahan di kerongkongan.
"Camkan kata-kata Bunda! Jangan sampai gadis itu tercekik rasa bersalah, bahkan mungkin... memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri hanya karena ulah konyolmu!"
Damar menyerah. Ia pasrah.
Kini ia hanya bisa membisu, membiarkan dirinya terbelenggu dalam pernikahan tanpa cinta, demi memastikan Hawa tidak pernah mendengar alasan sebagian orang membencinya.
Tak ada lagi kata yang terucap.
Damar memutar tumit. Menyeret kakinya--meninggalkan ruang keluarga dengan bahu yang merosot layaknya seorang kesatria yang kalah sebelum berperang.
Di bawah lampu kamar yang temaram, ia duduk bersandar pada dinding yang dingin. Sepasang matanya terpaku pada selembar foto usang; ia dan Hawa dalam balutan seragam putih-abu, tersenyum tanpa beban.
Bibir Damar melengkung getir saat bayangan masa lalu menari di ingatan. Namun, di balik keindahan itu, ada harga mahal yang harus ia tebus.
Sejak lama, Maharani telah menebar ancaman agar ia menjauh dari Hawa. Damar yang keras kepala selalu membantah, bersikeras menyembunyikan getar cintanya di balik topeng persahabatan.
Hingga akhirnya, sang bunda memberikan ultimatum terakhir: pergi selamanya dari hidup Hawa, atau menikahi Hanum.
Damar yang terbutakan ego memilih yang kedua--mengira dengan menikahi Hanum, ia masih bisa menjaga Hawa dari jarak dekat. Sebuah keputusan naif yang kini justru menjadi alat penghancur bagi kebahagiaannya sendiri.
🍁🍁🍁
Bersambung
yg dikira perintis ternyata pewaris 😂😂
boleh lah kasih thr kami para pembacamu ini
upps..belum apa² dah komen