Cerita tentang Najma, gadis 24 tahun yang sedang mengusahakan hidupnya untuk jadi semenarik mungkin. Tapi, bayang-bayang masa lalu dari cowok di masa kuliahnya, serta persahabatan yang kandas karena cinta segitiga buat Najma harus menghindar dari segalanya. Tanpa Najma sadari, ada cowo aneh yang ngejar Najma dan buat hidupnya jadi tarik-menarik beneran
Najma dan Masa Lalunya
Di kafe kopi lokal favorit kami.
Kami bertiga sudah berada di meja bundar langganan, seakan-akan pemiliknya tahu bahwa meja bundar dan tiga kursi tinggi ini sudah ada yang punya. Seakan-akan kami membeli meja dan kursi serta tanah di bawahnya untuk tidak diduduki siapapun.
Sebelum tiga minuman kami datang, kami selalu terdiam dengan nyaman. Magi sibuk melihat semua media sosialnya karena seharian sibuk mengajar dan membaca buku rekomendasi dari para seniornya. Sedangkan Iman, ia terlalu asyik memainkan kamera rakitan yang selalu saja ia temukan di internet. Aku tak pernah mengerti untuk apa ia membawanya ke tempat seramai ini.
Kalau aku, rasanya sangat nyaman melamun sambil mengamati kegiatan mereka berdua dalam diam dan tanpa pikiran.
Pesanan kemudian datang bersamaan. Matcha Iced Blended pesanan Magi, Iced Americano pesanan Iman, dan Iced Chocolate Mint punyaku yang tak bisa tergantikan. Aku sangat menghargai dengan penuh rasa hormat kepada setiap pemilik kafe yang memiliki menu Chocolate Mint. Terima kasih!
“Najma, gimana pitching lo? Lancar?”
“Nggak begitu. Gue telat.”
“Yah, kok telat sih? Udah tahu klien lo yang ini kejam abis.”
“Yap. My bad. Perut gue sakit dari semalem karena kebanyakan makan bakso. Ditambah gue begadang ngerjain tuh kerjaan.”
“Baksonya yang banyak atau sambelnya, Ma?” Iman masih mengutak-atik kameranya tetapi berani bertanya padaku.
“Sambel!” seruku ketus.
“Haha! Rasain lo, Man. Emang enak!” seru Magi sambil terkekeh.
“Gue kok nggak ngerti ya sama si Najma. Kerjaannya sama gue ketus terus. Gue pernah hutang seratus juta sama lo, ya?”
“Nggak tau ya, tapi liat muka lo gue sebel aja.”
“Tapi tadi kan di telepon lo nggak liat muka gue. Tapi ketus juga.”
“Ih, au ah!” Aku menyeruput minumanku ngebut.
“Nanas, lo mau liat sesuatu, nggak? Eh, tapi jangan deh.”
“Apaan?” mukaku yang penasaran mendekat kepada ponsel Magi. Lalu, seketika waktu seperti berputar tak terkendali. Aku merasa semua yang hadir di sekitarku hancur dan tertarik menuju poros bumi. Terhisap hingga tak tersisa. Angin dan getaran yang super hebat beredar di sekelilingku. Magi dan Iman, tubuh mereka tertarik menuju langit hingga lepas semua pakaiannya, juga kafe tempatku berada, semua terhisap ke atas langit yang begitu ribut.
Lalu, di dunia ini tinggal aku, kursi, dan ponsel Magi yang kupegang dengan gemetar.
Aga, baru saja resmi menjadi seorang suami dari pacarnya.
Bhagawad, sang pria yang pernah membolak-balikkan duniaku di masa kuliahku. Ia kini suami orang.
**
Najma umur dua satu, di saat heboh skripsi.
“Pak Ison. Buku Psikologi Komunikasi-nya Bapak Djalal kok nggak ada, ya?” tanyaku agak nyaring mengingat penjaga perpus yang bernama Bapak Horison ini terkadang hilang fokus, apalagi jika menghadapiku.
“Kenapa?” tanyanya lagi memintaku mengulang.
“Pak, Psikologi Komunikasi lagi dipinjem, ya?” tanya seorang lelaki disampingku.
Bapak Horison pun langsung beranjak dari kursinya dan mencari di tumpukan buku yang baru saja dikembalikan oleh para peminjam. Ia pun mengambil buku kuning dan menunjukkannya pada kami.
“Cuman satu.” Ujarnya pelan. Ucapannya barusan menandakan aku harus berebut dengan pria di sampingku yang tak kuketahui namanya.
“Tinggal satu, tuh. Lo mau juga?” tanyanya padaku.
“Iya. Gue butuh buat skripsi.”
“Kalau gue, butuh buat tugas.”
“Gue butuh sekarang karena besok udah harus bimbingan.”
“Gue juga berhubung tugas dikumpulin besok.”
“Kenapa lo nggak pinjem temen lo aja?”
“Lo sendiri?”
Aku menghadapnya cukup geram. “Dipake sama mereka.”
“Sama.” jawabnya singkat.
“Jadi siapa nih yang mau minjem?” sela Pak Horison bertanya pada kami.
“Najma, Pak. Saya yang pinjem duluan, kan?”
“Bhagawad, Pak. Saya yang butuh duluan.”
Apa?
“Kalau nggak gini aja, ada satu yang pinjem bukunya. Terus yang satu lagi fotokopi bab yang diperlukan saja. Beres, dua-duanya dapat.” saran Pak Horison memecah perang dingin kami.
“Setuju.” jawabnya singkat. Lalu ia duduk di bangku belakangku. Aku mengikuti langkahnya dengan mataku, dan ketika ia menangkapnya, ia malah menanyakan tingkahku dengan ekspresi mata dan alisnya yang tebal itu.
“Iya, Pak. Pakai nama Najma.”
“Najma?” panggil seseorang dari belakang.
“Iya?” akupun menoleh padanya.
Ia pun tersenyum, jantungku seakan berhenti selama lima detik.
**
“Jangan lama-lama fotokopinya.”
Aku pun menunggu Bhagawad yang begitu santai berbincang pada pegawai fotokopi kampus dan terlihat sedang bercanda tawa. Ia tak tahu betapa aku ingin segera pulang dan mengerjakan sisa bab dua yang harus kuselesaikan sampai malam ini.
“Terima kasih, Najma.”
Aku agak terkejut ia bisa memanggil namaku dan sangat indah didengar. “Iya, sama-sama.”
“Udah bab berapa?” tanyanya agak menunduk padaku. Ia memang cukup tinggi dan begitu menarik.
“Bab dua. Semoga besok bisa bergerak ke bab selanjutnya.”
“Amin.” Jawabnya sambil tersenyum lagi.
Entah kenapa setiap ia tersenyum aku ingin sekali mengobservasi mengapa senyumnya bisa begitu pas di wajah itu.
Adakah pekerjaan resmi sebagai observator khusus senyuman Bhagawad?
Aku ingin melamar.
Ia pun pergi sambil memasukkan berkas fotokopiannya ke dalam tas gendong hitamnya. Sedangkan aku, hanya diam mematung menyaksikan kepergiannya hingga tak terlihat lagi.
**
Najma ketika sibuk skripsi
“Najma.” seseorang menyebut namaku lirih.
Aku lihat di depanku, ternyata Bhagawad sang pemilik senyuman indah. Senangnya bukan kepalang.
“Hei. Kok di sini?”
“Belajar. Tugas banyak banget. Gini deh namanya ngejar mata kuliah yang nggak sempet diambil.”
“Sempet cuti?”
Ia mengangguk tersenyum dan membuka beberapa buku cetak dan catatannya. Aku tak sadar malah memperhatikan gerak-geriknya dibanding meneruskan bacaanku yang entah dimana ujungnya.
“Baca apa?” tanyanya lagi lirih.
“Oh, Analsis Wacana Kritis. Gue mau lihat sudut pandang dari metode ini.”
“Bagus.”
Bisa tidak jika tak usah tersenyum di setiap kata yang kamu ucapkan, Bhagawad?
“Silakan lanjutkan. Gue nggak akan ganggu.” Serunya lalu menuju halaman buku yang ia tuju dan bergegas mencatatnya pada kertas folio kosong.
Namun, entah mengapa pemandanganku di depan jauh lebih menarik daripada buku tiga ratus halaman dengan sampul abu-abu tua ini. Seseorang yang begitu indah dan menakjubkan. Wajah yang kecil dengan bentuk hati itu, rambut yang rapi namun berponi dan tidak berlebihan, juga kacamata yang begitu sempurna menutupi matanya yang kecil, semua tampak saling melengkapi proporsi tubuhnya yang tinggi kurus dan tegap. Sungguh indah karunia Tuhan dan aku bersyukur bisa menyaksikannya sekarang.
“Kenapa?” ujarnya pelan. Aku tersadar ia cukup terganggu dengan tatapan mataku seakan-akan memindai seluruh bagian dirinya.
“Ah, gue ngeliatin jam tangan lo.”
Aga tersenyum dan langsung memperhatikan jam di tangan kirinya. “Kenapa dengan jam gue?”
“Oh, jam itu favorit gue karena dipakai sama idola gue.”
“Siapa?”
“G-Dragon.”
“Siapa?” tanyanya lagi tak yakin.
“Musisi asal Korea. Rapper.”
“K-Pop?”
“Bisa jadi.”
“Lo K-poper? Seseorang yang suka dengan segala hal berbau Korea?” tanyanya sembari tertawa.
“Bisa dibilang iya namun juga bisa dibilang nggak.”
“Kenapa?”
Aku diam sejenak. Ini ketiga kalinya ia bertanya ‘kenapa’ kepadaku.
“Bisa dibilang iya karena G-Dragon adalah bagian dari dunia K-Pop. Juga bisa dibilang nggak karena cuma dia yang gue tahu.”
Bhagawad tersenyum kecut dan langsung menatap buku yang sedang ia baca. Sayangnya, aku tak suka senyumnya barusan. Terasa intimidatif dan sangat menghinaku.
“Maksudnya?” kuutarakan ketidaksukaanku padanya.
Bhagawad menoleh lagi dan memandangku dengan senyuman simpulnya. Rupanya ia tak mengerti.
“Maksudnya?” Ia balik bertanya.
“Yap. Maksudnya? Ada yang salah dengan kalimat-kalimat gue tentang menjadi seorang K-Poper?”
“Loh, nggak kok.”
“Terus maksudnya elo tersenyum seperti itu?”
“Apa? Gue nggak melakukan apa-apa.”
Entah kenapa, pertama kalinya dalam hidupku aku merasa begitu sebal pada orang yang sedari awal aku kagumi hanya karena masalah senyum yang kulihat. Baru kutahu juga saat ini bahwa ada jenis senyuman yang begitu buruk di dunia. Semua bunga matahari yang biasanya melingkari wajah Bhagawad di saat aku melihat wajahnya gugur seketika dan semuanya berubah jadi cabang-cabang pepohonan kering yang begitu ringkih dan akan cepat terkoyak walau hanya disentuh oleh kekuatan tangan yang tak seberapa. Aku sebal sekali.
Aku bergegas membereskan apapun yang kutaruh di meja ke dalam tas gendongku dan kulihat wajah Bhagawad dengan sangat kesal. Aku ingin mengumpat di depannya namun kutahan karena sedang di perpustakaan, juga karena aku tak begitu mengenalnya. Juga, sebenarnya, karena wajahnya begitu menyenangkan untuk dipandangi walau sedang kesal sekalipun.
Aku berjalan cepat menuju luar ruangan dan menutup pintu perpustakaan dengan gusar. Berjalan penuh amarah menuju kursi bawah pohon rindang di plasa kampus, aku mencoba untuk meredam rasa kesalku pada seseorang yang beberapa menit lalu mampu memutar balikkan duniaku serasa di taman penuh dengan bunga matahari.
Sebenarnya, jika kupikir dengan jernih, apa salahnya jika ia tersenyum penuh penghakiman seperti itu? Itu hak Bhagawad, bukan?
Benar, itu haknya secara penuh. Perasaan dan penghakiman yang ada dalam otaknya adalah terserah dia. Aku tak berhak menginterupsi apapun anggapannya tentang topik Kpop tersebut.
Maka, benar juga jika aku marah seperti ini. Aku berhak marah karena ini sepenuhnya hakku. Ia menyakiti perasaanku dengan senyuman penghakiman seperti itu.
Lebih tepatnya, aku kecewa karena aku nyaris menyukainya, namun perasaan itu dinodai oleh senyum penuh penilaian sepihak yang ia miliki dan langsung ia serang kepadaku segamblang itu.
Apa hebatnya punya wajah tampan tapi menyebalkan?
“Najma.”
Aku menoleh ke arah kiriku. Tak bisa kusembunyikan raut wajahku yang terkejut dengan kehadirannya yang begitu tak terduga.
“Maaf ya. Gue nggak ngerti sih kenapa lo ngambek. Tapi, gue minta maaf, ya.”
Aga duduk di sampingku dan mengatakan kalimat tersebut sambil menawarkan jari kelingking kanannya padaku.
Tahukah aku masih sangat kesal padamu, Bhagawad?
Tahukah jika menawarkan jari kelingking sebagai simbol perdamaian adalah norak dan kekanak-kanakan?
Nyatanya, dalam diam aku menyambut jari kelingkingnya dan kusematkan jariku sambil menatapnya. Senyumnya seperti air terjun, aku langsung merasa sejuk dan segar menatapnya sedekat ini.
“Sekarang, bilang sama gue ada apa. Kenapa gue membuat lo kesal?”
Entah kenapa aku jadi malu tentang amarahku padanya. Hal paling berani yang aku lakukan saat ini hanyalah memandang ke depan dan berusaha tidak memiliki kontak mata dengannya.
“Hanya, gue merasa lo menertawakan gue. Makanya gue kesal.”
“Kok bisa?”
Aku menjauhkan tubuhku dengan jarak maksimal dari kursi taman dan berusaha menatap matanya baik-baik.
Ya Tuhan, senyuman itu.
“Gue berpikir, apa yang salah dengan gue menyukai seseorang yang menurut lo memalukan. Yap, gue rasa lo pasti merasa idola gue nggak keren karena terlihat cantik dan bencong. Itu karena lo nggak tahu sama sekali tentang idola gue. Apa latar belakangnya, apa yang mendasari alasan gue begitu suka sama dia sampai tahu jam tangan lo dan dia itu sama merek dan warnanya. Untuk itu gue merasa lo sudah menghakimi gue dengan senyuman lo yang terbaca sangat merendahkan gue. Makanya gue tanya maksud lo tersenyum seperti itu, tapi lo nggak mengerti. Maka itu gue kesal banget sama reaksi lo. Gue harus menginterpretasi apa yang lo pikirin tentang hal yang gue sukai.”
Bhagawad hanya mendengarkan dengan setengah mulutnya yang terbuka. Ia begitu fokus menatapku.
“Katakanlah gue sekarang sedang men-judge lo, tapi toh gue udah berusaha bertanya. Sayangnya, lo merasa ini bukan big deal dan menganggap gue berlebihan. Tapi tahukah lo, hanya karena ketidaktahuan lo tentang sesuatu nggak berarti membuat lo dengan bebas menghakimi kesukaan atau ketidaksukaan seseorang. Cuma karena hal tersebut berbeda dengan selera lo, bukan berarti lo bisa tersenyum sekecut itu kan? Bukan berarti lo harus bereaksi seperti itu, kan?”
Bhagawad masih diam dan begitu fokus melihatku.
“Bhagawad.”
“Panggil gue Aga aja.” Responnya tenang. Aku menunduk dan tak tahu harus melakukan apa. Sebenarnya aku ingin berdiri dan pergi dari tempat ini, tapi tubuhku rasanya bertambah berat sejumlah satu ton. Aku tak bisa bergerak.
Aga memberi jari kelingking kanannya sekali lagi padaku. “Gue minta maaf, ya. Gue nggak tahu gue sudah menyakiti lo. Gue nggak tahu gue separah itu. Maaf ya.”
“Apa maksudnya jari kelingking ini?”
“Ini simbolis aja sih supaya permintaan maaf gue kekunci. Jadi, masalah kita selesai.”
“Oh, oke.”
Lalu kita pun baikan.
Lalu pertama kalinya aku yakin bahwa Aga tidak hanya hadir hari ini di kehidupanku.
**
Kembali ke waktu kini di kafe kopi.
“Lo nggak seharusnya ngasih liat itu, Gi. Sekarang liat kan Najma jadi patung.” ujar Iman sambil terus merakit mainan kameranya.
“Najma! WOY! Kenapa lo hanya diam membisu?!” Magi menggoyang-goyangkan tubuhku.
“Jangan nangis ya, Ma. Lagi nggak beli tisu.” hibur Iman ala kadarnya.
Aku dengan sekuat tenaga mencoba merespon sahabat-sahabatku yang mulutnya kadang harus disumpal handuk fiber optic, terutama Iman. Tapi, nyatanya aku tak bisa. Kenyataan lebih berat dari dugaanku. Aku tak nafsu untuk minum Chocolate Mint lagi, atau melakukan apapun. Bahkan mungkin aku tak ingin hidup hanya untuk malam ini.
“Bhagawad nikah, Gi.”
“Iya. Sabar ya, Ma. Bukan jodoh. Dia bukan yang terbaik buat lo. “
“Alah, cowok brengsek masih aja disesali.”
Aku dan Magi bersamaan menoleh ke arah Iman. Ia bahkan tidak bisa menolongku merasa lebih baik walau hanya lima menit saja, atau setidaknya membuatku lupa dengan apa yang baru saja kulihat di dalam ponsel Magi.
Di luar kalimat Iman yang tidak berperasaan, ia memang benar. Bhagawad adalah lelaki yang brengsek. Namun, dibalik atas semua hal yang ia lakukan kepadaku, Aga berhasil memberiku koleksi kenangan yang kini malah menghantuiku di setiap saat aku merasa hampa dan tak tertolong.
Iman memang benar, Aga adalah lelaki paling brengsek yang pernah kukenal. Ia mampu membuatku menangis ketika ia hanya memegang tanganku. Aga yang selalu lari menghampiriku di saat aku membutuhkannya malah membuatku jatuh sakit karena terus memikirkan ketidakmungkinan kami bisa bersama di masa depan. Aga yang selalu mengatakan jika ia menyayangiku terbukti tak pernah meninggalkan kekasihnya di ujung kutub sebelah sana hanya karena mereka telah lama berpacaran dan sudah melakukan hal-hal jauh di luar pengetahuanku.
Mungkin aku bisa mengerti mengapa Iman kesal sekali terhadap Aga walau ia hanya mendengar ceritaku saja.
Magi dan Iman belum pernah bertemu Aga secara tatap muka.
“Najma. Gue kasih tahu sama lo sebagai sesama manusia ya. Bukan sebagai teman atau cowok yang punya kepribadian berbeda sama lo. Tapi sebagai manusia. Sarannya, MOVE ON. Lo tuh terlalu berharga buat cowok yang jelas-jelas tahu kualifikasi lo tapi malah tetap setia sama cewek psikopat kayak begitu.”
“Iman, lo bisa nggak sih nggak sejahat itu kalau ngomong?” ujarku agar khawatir.
“Ya terserah sih, karena gue tahu banget kondisi ketika lo di cyber-bully sama cewek ini, just my two cent. Nothing matters.”
Yap, aku mengalami banyak momen yang spektakuler semenjak aku mengenal Aga. Bahkan, aku mengerti bahwa dunia sinetron bisa dibawa ke dalam dunia nyata. Atau, mungkin penyerapan skenario sinetron bisa menginspirasi tindakan seseorang kepada orang lain. Tapi aku tidak menduga bahwa aku bisa merasakan langsung hal-hal yang luar biasa dari segi baik dan buruk terhadapku karena satu orang saja.
Bodohnya, perasaanku terhadap Aga tetap tidak berubah.
**