Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.
Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.
Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.
"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyerangan Saat Mandi
Gemuruh hujan di luar jendela penthouse seolah menjadi musik latar yang sempurna bagi ketenangan yang semu. Di dalam salah satu kamar mandi utama yang luasnya menyamai kamar hotel bintang lima, uap air panas membubung tinggi, mengaburkan cermin-cermin besar yang melapisi dinding.
Maximilian berdiri di bawah guyuran shower, membiarkan air panas membasuh sisa darah kering dan kelelahan dari tulang-tulangnya. Luka sayat di lengannya perih terkena air, namun ia tidak meringis. Pikirannya sedang menyusun strategi untuk menghancurkan jalur logistik Valenti di pelabuhan besok pagi. Ia merasa aman karena sistem keamanan gedung ini adalah yang tercanggih—sampai sebuah ledakan halus terdengar dari ruang tengah.
Maximilian lupa satu hal: pengkhianatan selalu mencari celah terkecil.
"Aku harus mencari celah untuk menghancurkan Valenti. Dia bisa saja membunuh gadis itu di luar pengawasanku. Sudah seperti ini, aku tidak punya pilihan lain selain menggagalkan semua rencana jahat mereka terhadap gadis itu," gumam Max dengan nada yang rendah tapi terdengar sangat mematikan.
Di kamar utama, Rebecca Sinclair terbangun karena suara dentum yang tidak wajar. Bukan suara petir. Itu adalah suara peredam tembakan. Gadis itu terduduk tegak, menarik selimut sutra hingga ke dagunya. Jantungnya berpacu. Ia mendengar langkah kaki yang berat di ruang tengah, diikuti oleh suara benda pecah.
"Om?" bisik Rebecca gemetar. Tidak ada jawaban dari kamar mandi, hanya suara gemericik air yang konstan.
Tiba-tiba, pintu kamar utama ditendang hingga terbuka. Tiga pria berseragam taktis hitam dengan penutup wajah merangsek masuk. Mereka tidak membawa pistol, melainkan pisau komando dan alat setrum elektrik—senjata untuk menculik tanpa suara.
"Itu gadisnya! Ambil dia!" seru salah satu dari mereka.
Rebecca menjerit, mencoba turun dari ranjang, namun kakinya yang lemas membuatnya tersungkur. Salah satu pria mencengkeram rambutnya, memaksa Rebecca mendongak. "Ikut kami, Sinclair kecil. Bos Enzo sudah menunggumu."
Brak!
Pintu kamar mandi hancur berkeping-keping. Bukan dibuka, tapi dihantam dari dalam dengan kekuatan penuh.
Maximilian keluar dari kepulan uap hanya dengan sehelai handuk hitam yang melilit pinggangnya. Rambutnya basah kuyup, air menetes dari dada bidangnya yang penuh bekas luka lama. Wajahnya tidak menunjukkan amarah yang meledak-ledak. Sebaliknya, ia terlihat sangat tenang—ketenangan maut yang jauh lebih mengerikan.
"Aku sedang mandi," suara Maximilian rendah, bergema di ruangan itu. "Dan kalian merusak pintu favoritku."
"Maximilian! Jangan bergerak atau aku leher gadis ini putus!" teriak pria yang memegang Rebecca, sambil menempelkan pisau ke leher jenjang gadis itu.
Maximilian melangkah maju dengan santai, seolah-olah ia tidak melihat pisau yang mengancam nyawa Rebecca. Ia meraih sebotol wiski yang ada di meja nakas, menuangkannya ke dalam gelas kecil seolah sedang bersantai di bar.
"Potong saja kalau kau berani," ucap Maximilian sambil menyesap wiskinya. Matanya yang dingin menatap si penyandera dengan tatapan merendahkan. "Enzo mengirim amatir sepertimu? Kau tahu, jika dia mati, aku tidak perlu lagi pusing memikirkan biaya perlindungannya. Kau justru membantuku menghemat pengeluaran."
Rebecca terbelalak. Air matanya jatuh menetes ke mata pisau yang dingin. Dia benar-benar tidak peduli? Dia menyelamatkanku semalam hanya untuk membiarkanku mati sekarang?
Penyandera itu ragu. Tatapan Max yang acuh tak acuh membuatnya bingung. Namun, itu adalah celah yang ditunggu Maximilian.
Dalam satu gerakan yang sangat cepat, Maximilian melemparkan gelas wiski itu tepat ke wajah si penyandera. Saat pria itu refleks memejamkan mata, Max menerjang. Ia menarik pergelangan tangan pria itu, memutarnya hingga terdengar bunyi patahan tulang yang mengerikan, lalu menghantamkan lututnya ke wajah pria itu hingga terkapar.
Dua pria lainnya melepaskan tembakan peredam suara. Maximilian menyambar tubuh Rebecca, mendekapnya erat ke dalam dadanya, dan berguling di balik sofa besar yang terbuat dari kulit tebal.
"Om, Anda ...." Rebecca terengah-engah dalam dekapan Max. Ia bisa merasakan jantung pria itu berdetak stabil di balik dada telanjangnya yang masih basah. Aroma sabun maskulin bercampur uap panas menyelimuti Rebecca, memberikan rasa aman yang ganjil.
"Diam dan jangan bergerak," bisik Max. Suaranya tidak lagi acuh. Ada nada protektif yang sangat kuat di sana. Setelah yakin Rebecca aman di balik perlindungan sofa, Max berdiri kembali.
Ia menghadapi dua penyusup sisa dengan tangan kosong. Satu orang mencoba menusuk perutnya, namun Max menangkap tangan lawan, menghantamkan siku ke ulu hati pria itu, lalu membanting kepalanya ke lantai marmer hingga retak. Pria terakhir mencoba lari, namun Maximilian meraih sebuah lampu meja berbahan besi dan melemparkannya dengan akurasi mematikan. Lampu itu menghantam tengkuk si penyusup, menjatuhkannya seketika.
Suasana kembali hening, hanya menyisakan suara napas Rebecca yang tersengal-sengal.
Maximilian berjalan menuju tubuh pria pertama yang masih merintih. Max menginjak tangan pria itu dengan kaki telanjangnya, menekan luka tersebut tanpa belas kasihan.
"Katakan pada Enzo," Max membungkuk, menatap pria itu dengan mata iblis. "Jika satu saja orangnya menyentuh lantai penthouse-ku lagi, aku akan mengirim kepala Enzo dalam kotak es ke markas Valenti."
Max mengusir para penyusup yang masih hidup itu lewat tim keamanannya yang baru saja tiba. Setelah semua orang keluar, Maximilian berbalik menuju Rebecca. Gadis itu masih meringkuk di lantai, gemetar hebat menatap bercak darah yang mengotori sprei sutranya.
Maximilian mendekat, berlutut di depan Rebecca. Ia masih hanya mengenakan handuk, memperlihatkan luka baru di bahunya akibat gesekan peluru yang menyerempetnya tadi saat ia melindungi Rebecca.
"Om, bahu Anda berdarah," bisik Rebecca, tangannya yang gemetar terangkat ingin menyentuh luka itu, namun ia ragu.
Maximilian menangkap tangan Rebecca di udara. Ia menatap gadis itu intens. "Tadi Om bilang ... Om tidak peduli jika aku mati," ucap Rebecca dengan suara serak. "Kenapa Om menolong aku lagi?"
Maximilian terdiam sejenak. Ia menarik tangan Rebecca, memaksa gadis itu berdiri. Dengan gerakan yang terlihat kaku namun sebenarnya lembut, ia menarik Rebecca ke dalam pelukannya, membiarkan kepala gadis itu bersandar di dadanya yang telanjang.
"Di duniaku, Rebecca, mengakui bahwa aku peduli adalah hukuman mati," gumam Maximilian di atas rambut gadis itu. "Aku harus terlihat seolah kau tidak berharga di depan mereka, agar mereka tidak tahu bahwa kau adalah satu-satunya kelemahanku."
Rebecca terpaku. Jantungnya berdebar bukan lagi karena takut, tapi karena pengakuan jujur dari sang Mafia.
"Sekarang, mandi dan ganti pakaianmu. Kita tidak bisa tinggal di sini lagi," ucap Maximilian kembali ke nada bicaranya yang otoriter. Ia melepaskan pelukannya, seolah kehangatan tadi hanya fatamorgana.
"Lalu kita ke mana, Om?" tanya Rebecca patuh.
Maximilian menyeringai tipis, sebuah seringai yang menjanjikan badai bagi musuh-musuhnya. "Ke tempat di mana Enzo Valenti tidak akan pernah bisa menjangkaumu. Ke rumah masa kecilku di pegunungan. Di sana, tidak ada hukum selain hukumku."
𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩 𝐬𝐝𝐡 𝐬𝐥𝐡 𝐩𝐡𝐦 𝐢𝐧𝐢 🤣🤣🤣