Di tengah beban hidup yang menghimpit, Xiao Han— pemuda 22 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga, berjuang mati-matian menghidupi ibunya yang lumpuh serta membiayai pendidikan adik perempuannya yang baru kelas 1 SMP. Gaji sebagai tukang antar surat tak pernah cukup untuk menutupi biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari.
Dengan putus asa namun tekad kuat, Xiao Han akhirnya membuka jasa panggilan pria, dan mempromosikannya secara diam-diam di media sosial. Awalnya hanya sebagai cara bertahan hidup, layanan ini perlahan membawanya masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: pertemuan-pertemuan rahasia, rahasia klien, dan batasan moral yang terus diuji.
Hingga suatu malam, satu panggilan khusus datang, sebuah pengalaman yang tak terduga, penuh risiko, dan emosi yang mengubah segalanya. Pertemuan itu bukan hanya mengguncang hidupnya saat ini, melainkan juga membuka pintu menuju masa depan yang akan mengubah kehidupannya secara drastis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Xiao Han berlari cepat menuju sumber suara benturan, kemeja seragamnya masih setengah terbuka, napasnya tersengal karena adrenalin yang tiba-tiba melonjak. Air kolam masih menetes dari kakinya yang basah, tapi dia tidak peduli. Insting penjaga keamanan yang selama ini hanya patroli ringan kini berubah jadi mode bertahan hidup.
Di halaman belakang, dekat pagar samping yang menghadap gang sempit, seorang pria bertopeng hitam pakaian serba hitam sedang memanjat masuk melalui celah jendela kecil gudang belakang. Dia membawa tas ransel hitam dan crowbar kecil di tangan kanan. Begitu melihat Xiao Han, pencuri itu langsung berbalik, mata di balik topeng melebar kaget.
“Jangan gerak!” bentak Xiao Han, suaranya tegas meski jantungnya berdegup kencang.
Pencuri itu tidak menurut. Dia langsung melempar crowbar ke arah Xiao Han—alat besi itu melayang cepat, tapi Xiao Han menghindar dengan gerakan refleks, alat itu menghantam pagar besi di belakangnya dengan bunyi dentang keras.
Xiao Han maju cepat. Pencuri itu berbalik, mencoba melarikan diri ke arah pagar belakang, tapi Xiao Han lebih cepat. Dia menangkap kerah baju hitam itu dari belakang, menarik kuat sampai pencuri tersandung dan jatuh ke rumput basah.
“Jangan lawan!” Xiao Han memperingatkan lagi, tangannya memegang lengan pencuri erat-erat.
Tapi pencuri itu ganas. Dia memutar tubuh, menyikut perut Xiao Han dengan siku tajam. Xiao Han meringis sakit, tapi tidak melepaskan. Pencuri itu kemudian menendang lutut Xiao Han, membuat pria itu tersungkur sebentar. Xiao Han berguling cepat, menghindari tendangan kedua yang mengarah ke kepala.
Mereka berdua berdiri lagi, saling tatap di bawah cahaya lampu taman yang redup. Pencuri itu mengeluarkan pisau lipat kecil dari saku celana, bilahnya berkilau di bawah bulan.
“Jangan deket-deket, atau aku tusuk!” ancamnya, suaranya teredam topeng tapi penuh ancaman.
Xiao Han tidak mundur. Dia mengambil posisi bertahan, tangan terangkat, kaki sedikit membuka—gerakan dasar bela diri yang pernah dia pelajari dari teman di kampung dulu.
Pencuri maju duluan, menusuk ke arah perut Xiao Han. Xiao Han menepis tangan itu dengan lengan kiri, lalu balas memukul perut pencuri dengan tinju kanan keras. Pukulan itu mengenai tepat, membuat pencuri terhuyung mundur sambil memegang perut.
Xiao Han tidak memberi kesempatan. Dia maju lagi, menangkap pergelangan tangan yang memegang pisau, memelintir kuat sampai pisau jatuh ke rumput. Pencuri berteriak kesakitan, tapi langsung balas meninju wajah Xiao Han. Tinju itu mengenai pipi kiri, membuat Xiao Han mundur selangkah, bibirnya berdarah.
Xiao Han mengusap darah itu, matanya menyala. Dia maju lagi, kali ini lebih cepat. Tendangan rendah mengenai betis pencuri, membuat pria itu jatuh berlutut. Xiao Han langsung menekan bahu pencuri ke bawah, memelintir lengan ke belakang dengan gerakan kuncian sederhana tapi efektif.
“Sudah! Jangan gerak lagi!” bentak Xiao Han, napasnya tersengal.
Pencuri itu berusaha meronta, tapi Xiao Han menekan lebih kuat. Dari dalam rumah, Rina berlari keluar dengan kimono sutra yang masih setengah terbuka, ponsel sudah di tangan.
“Polisi! Saya sudah telpon polisi! Mereka dalam perjalanan!” teriak Rina, suaranya tegas meski wajahnya pucat.
Pencuri itu berhenti meronta, napasnya tersengal. Xiao Han tetap menahan posisi kuncian sampai suara sirene polisi terdengar dari kejauhan.
Tak lama kemudian, dua mobil patroli masuk ke halaman depan. Empat polisi berlari ke belakang, pistol di tangan.
“Jangan gerak! Polisi!” teriak salah satu petugas.
Xiao Han melepaskan pencuri itu pelan, mundur sambil mengangkat tangan. Pencuri itu langsung diborgol dan ditarik berdiri.
Rina mendekat ke Xiao Han, tangannya gemetar menyentuh lengan pria itu.
“Kamu… baik-baik saja? Bibirmu berdarah.”
Xiao Han mengusap bibirnya, tersenyum tipis meski sakit.
“Nggak apa-apa, Mbak. Dia sudah ditangkap.”
Polisi mendekat, salah satunya menepuk bahu Xiao Han.
“Terima kasih, Mas. Anda selamatkan rumah ini. Kami bawa dia ke kantor. Nanti minta keterangan ya.”
Xiao Han mengangguk. Rina berdiri di sampingnya, kimono sutranya masih terbuka sedikit, tapi dia tidak peduli. Matanya menatap Xiao Han dengan campuran kagum dan sesuatu yang lebih dalam.
Malam itu, rumah yang tadinya sepi kini penuh cahaya lampu sirene dan suara polisi. Pencuri bertopeng hitam dibawa pergi, meninggalkan Xiao Han dan Rina di tepi kolam yang masih basah oleh air dan darah kecil dari bibir Xiao Han.