NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Dan CEO

Wanita Bercadar Dan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: ALNA SELVIATA

Di balik cadar itu, tersimpan surga yang tak pernah Adrian bayangkan.
​Aisha tahu, mencintai seorang CEO seperti Adrian adalah mengundang badai ke dalam hidupnya yang tenang. Ia dicaci, difitnah, bahkan diuji dengan kehilangan. Namun, keteguhan hati Adrian membuatnya bertahan. Adrian bukan lagi pria sombong yang mengejar dunia; ia adalah pria yang rela menjadi kuli demi menebus dosa masa lalu.
​Jalan menuju penebusan ini panjang dan berliku. Saat restu ibu menjadi dinding penghalang yang tinggi, dan masa lalu kembali menagih janji, mereka belajar bahwa satu-satunya cara untuk tetap bersama adalah dengan melibatkan Sang Pemilik Hati. Karena bagi Adrian, Aisha bukan sekadar pilihan, ia adalah takdir yang ingin ia bawa hingga ke surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

BAB 33

RUANG KOSONG DI BALIK KACA

​Malam itu, Jakarta tampak seperti hamparan sirkuit elektronik dari jendela apartemen penthouse Adrian. Cahaya lampu kota berkedip-kedip, sibuk, dan berisik. Namun, di dalam ruangan seluas tiga ratus meter persegi itu, kesunyian terasa begitu padat hingga menyakitkan telinga.

​Adrian duduk di lantai marmer yang dingin, mengabaikan sofa kulit minotti seharga mobil mewah yang berada tepat di belakangnya. Di depannya, sebotol wiski mahal yang biasanya menjadi pelariannya kini berdiri tak tersentuh. Ia menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang menjulang dari lantai hingga langit-langit.

​Pria di dalam pantulan itu tampak asing. Pria itu memiliki segalanya—kekuasaan yang mulai pulih, harta yang tak habis tujuh turunan, dan wajah yang dipuja banyak orang. Namun, Adrian melihat mata pria itu, dan ia hanya menemukan lubang hitam yang menganga.

​"Bukan karena Aisha," bisiknya pada kekosongan. "Ini bukan lagi soal dia."

​Selama ini, Adrian mengira ia berubah untuk memenangkan hati seorang wanita. Ia belajar adab agar dianggap pantas, ia mengembalikan harta agar dimaafkan, dan ia bersujud agar diterima. Namun, penolakan keras Zulkifli tadi pagi adalah cermin yang menghancurkan ilusi itu. Jika perubahannya hanya demi Aisha, maka saat Aisha tidak bisa ia miliki, seharusnya ia kembali menjadi Adrian yang dulu—dingin, rakus, dan ateis.

​Tapi ia tidak bisa kembali.

​Pikiran tentang kembali ke hidupnya yang lama terasa seperti membayangkan masuk kembali ke dalam peti mati yang sempit. Hidup yang hanya berisi angka, transaksi, dan kemenangan tanpa makna. Hidup yang kosong.

​Adrian berdiri dengan gerakan kaku. Ia berjalan menuju lemari besarnya yang berisi deretan jas pesanan khusus dari London dan Milan. Ia menyentuh bahan wol halus itu, lalu perlahan ia menarik satu per satu jas tersebut dari gantungan dan melemparkannya ke lantai.

​Ia melakukan hal yang sama pada koleksi jam tangannya, sepatu kulit handmade, dan parfum-parfum mahal. Semuanya tampak seperti sampah di matanya. Benda-benda ini adalah berhala yang selama ini ia sembah, benda-bela yang ia gunakan untuk menambal lubang di jiwanya yang sebenarnya tidak pernah tertutup.

​"Aku butuh udara," gumamnya.

​Ia mengambil sebuah tas ransel tua yang sudah bertahun-tahun tidak ia sentuh. Ia hanya memasukkan beberapa helai kemeja sederhana, celana kain, peralatan mandi, dan satu benda yang kini paling ia hargai: sebuah Al-Qur'an kecil yang diberikan Fikri secara diam-diam.

​Adrian tidak meninggalkan memo untuk Sarah. Ia tidak menelepon pengacaranya. Ia hanya meletakkan kunci apartemen dan kartu aksesnya di atas meja makan, lalu melangkah keluar.

​Pukul satu dini hari, Adrian sampai di sebuah pemukiman padat penduduk yang letaknya beberapa kilometer dari rumah Aisha—cukup dekat untuk merasa ada di lingkungan yang sama, namun cukup jauh agar tidak terlihat seperti sedang menguntit.

​Ia menyewa sebuah kamar kontrakan kecil berukuran tiga kali empat meter. Dindingnya hanya dicat putih kusam dengan lantai semen yang tidak rata. Kamar itu hanya berisi sebuah kasur tipis dan satu lampu bohlam kuning yang berkedip.

​Pemilik kontrakan, seorang pria paruh baya bernama Pak RT, menatap Adrian dengan curiga. "Anda serius mau tinggal di sini, Mas? Mas ini kelihatannya orang kaya."

​Adrian tersenyum tipis, sebuah senyum yang jujur tanpa ada maksud manipulasi bisnis. "Saya baru saja menyadari kalau saya tidak punya apa-apa, Pak. Saya hanya butuh tempat untuk memulai dari awal."

​Setelah Pak RT pergi, Adrian duduk di kasur tipisnya. Ia bisa mendengar suara tetangga sebelah yang sedang mengomel, suara motor yang lewat di gang sempit, dan aroma masakan dari warung tenda di depan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Adrian merasa benar-benar ada. Ia tidak lagi terlindungi oleh dinding kaca kedap suara. Ia menyentuh realitas yang kasar.

​Ia merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar yang memiliki noda bekas bocoran hujan.

​"Hidupku kosong," akunya dalam hati. "Dua puluh delapan tahun aku membangun menara, tapi aku lupa membangun pondasi di dalam hatiku sendiri."

​Air matanya jatuh, bukan karena sedih ditolak Zulkifli, tapi karena rasa haru yang aneh. Ia merasa lega karena tidak perlu lagi menjadi "Adrian Aratama sang Singa Properti". Ia merasa bebas karena tidak ada lagi yang harus ia buktikan kepada dunia.

​Keesokan paginya, Adrian bangun sebelum Subuh tanpa alarm. Ia pergi ke musholla kecil di dekat kontrakannya. Di sana, ia bertemu dengan para kuli bangunan, supir ojek, dan pedagang pasar. Ia sholat di barisan belakang, meniru gerakan orang di sampingnya dengan penuh ketelitian.

​Seusai sholat, ia tidak langsung pulang. Ia mendekati seorang pria tua yang sedang membersihkan halaman musholla.

​"Pak, apakah di sekitar sini ada lowongan kerja?" tanya Adrian.

​Pria itu menatap tangan Adrian yang halus. "Kerja apa, Mas? Mas sepertinya bukan orang lapangan."

​"Apa saja, Pak. Menjadi kuli angkut, mencuci piring, atau membersihkan sisa bangunan. Saya kuat."

​Pria itu terkekeh. "Ada proyek renovasi sekolah di blok sebelah. Mereka butuh orang untuk mengangkut puing dan semen. Tapi upahnya kecil, Mas. Cuma cukup untuk makan dan bayar kontrakan."

​"Itu sudah lebih dari cukup bagi saya," jawab Adrian mantap.

​Hari itu, Adrian Aratama—pria yang biasanya mengarahkan proyek bernilai triliunan—mulai mengangkut sak semen seberat lima puluh kilogram di pundaknya. Kulitnya yang bersih mulai memerah terbakar matahari. Telapak tangannya yang biasa memegang pena mahal mulai melepuh dan berdarah. Keringat membanjiri kemeja sederhananya hingga basah kuyup.

​Saat ia beristirahat di jam makan siang, duduk di atas tumpukan batu bata sambil memakan nasi bungkus seharga sepuluh ribu rupiah, ia merasa sebuah kepuasan yang luar biasa. Setiap suap nasi itu terasa lebih nikmat daripada steak wagyu di restoran bintang lima. Setiap tetes keringatnya terasa seperti penebusan atas dosa-dosa masa lalunya.

​Ia melihat tangannya yang kotor oleh debu semen dan darah. Ia tersenyum.

​"Aisha," bisiknya dalam hati. "Sekarang aku mengerti. Menghargai sesuatu itu bukan dengan membelinya, tapi dengan mengusahakannya dengan keringat sendiri."

​Satu minggu berlalu. Transformasi Adrian mulai merambah ke dalam jiwanya. Di malam hari, setelah lelah bekerja fisik, ia duduk di pojok kontrakannya dengan lampu remang, mencoba mengeja huruf-huruf di Al-Qur'an kecilnya. Ia merasa seperti anak kecil yang baru belajar bicara.

​Ia mulai menyadari bahwa penolakan Zulkifli adalah anugerah. Jika Zulkifli menerimanya saat itu, Adrian mungkin akan menjadi "orang beriman" yang palsu—orang yang berbuat baik hanya untuk mendapatkan restu. Sekarang, ia melakukan ini karena ia butuh. Ia butuh Tuhan untuk mengisi ruang kosong yang selama ini ia coba isi dengan harta.

​Suatu sore, saat ia sedang mengangkut material, ia tanpa sengaja melihat Aisha dan Fikri lewat di jalan raya dekat lokasi proyek dengan motor. Aisha tidak melihatnya. Adrian segera menunduk, menutupi wajahnya dengan topi kusam yang ia pakai.

​Ia tidak ingin Aisha melihatnya sekarang. Ia belum siap. Ia tidak ingin Aisha menganggap ini sebagai pertunjukan untuk menarik simpati. Ia ingin saat mereka bertemu nanti, ia bukan lagi seorang CEO yang sedang "menyamar" jadi orang miskin, melainkan seorang pria yang jiwanya sudah benar-benar setara dengan kesederhanaan Aisha.

​Fikri sempat menoleh ke arah kerumunan pekerja bangunan, seolah merasakan sesuatu yang familiar, namun motor terus melaju.

​Adrian kembali memanggul sak semennya. Beban itu terasa berat, tapi hatinya terasa ringan. Ia telah menemukan menara baru yang ingin ia bangun—sebuah menara spiritual yang tidak akan bisa diruntuhkan oleh pengkhianatan atau kebangkrutan.

​"Aku tidak melakukan ini untuk memantaskan diri bagimu, Aisha," gumam Adrian sambil melangkah naik ke tangga bambu. "Aku melakukan ini untuk memantaskan diri di hadapan Penciptamu. Karena jika aku sudah pantas di mata-Nya, maka ke mana pun takdir membawaku, aku tidak akan pernah merasa kosong lagi."

1
Fittar
mantap...
victoria harus diberi pelajaran
Fittar
bersatu pasti kalian kuat adrian aisha
Fittar
good job adrian
Fittar
semangat adrian dan aisha
Fittar
semangat adrian
Fittar
bagus ceritanya
Pat imah
Ceritanya menarik, tapi itu belum ada endiingnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!