Dua jiwa yang terjepit di antara tuntutan menjadi "Pria Baja" dan "Wanita Porselen" bertemu dalam sebuah kepura-puraan yang menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuntutan ahli waris
Satu minggu setelah "inspeksi" mendadak itu, sebuah paket besar tiba di rumah selatan. Bukan meja jati yang dijanjikan Baskoro, melainkan sebuah kotak kayu berisi jamu-jamu tradisional dan suplemen kesehatan dari luar negeri dengan label "Fertility Booster". Pengirimnya? Ibu Laras, dengan catatan kecil: "Demi masa depan klan, jangan ditunda-tunda."
Laras menatap kotak itu di meja dapur seolah itu adalah tumpukan granat yang siap meledak.
"Sepertinya mereka mulai tidak sabar," suara Arka terdengar dari arah tangga. Ia baru saja pulang dari kantor, masih mengenakan kemeja yang rapi, namun dasinya sudah dilepas.
"Ini gila, Arka," Laras menunjuk kotak itu dengan dagunya. "Kita baru menikah hitungan minggu, dan mereka sudah mengirimkan suplemen kesuburan. Apa mereka pikir kita ini mesin pabrik?"
Arka berjalan mendekat, membaca sekilas label di botol-botol itu, lalu menghela napas panjang. "Bagi Ayahku, seorang pemimpin tidak dianggap lengkap kalau belum punya penerus. Dia tidak butuh anak yang bahagia, dia butuh 'aset' baru untuk dipamerkan dua puluh tahun lagi."
Malam itu, mereka terpaksa hadir di jamuan makan malam formal yang disebutkan Baskoro sebelumnya. Restoran hotel berbintang itu dipenuhi asap cerutu dan obrolan tentang saham serta politik. Di tengah makan malam, Jenderal Baskoro mengangkat gelasnya, namun matanya tertuju pada perut Laras.
"Jadi, Arka," suara Baskoro terdengar berat di antara denting piring. "Papa harap kalian tidak menunda terlalu lama. Kolega-kolega Papa sudah banyak yang menimang cucu. Seorang pria baru benar- benar menjadi pria saat dia melihat darah dagingnya sendiri meneruskan namanya."
Meja makan mendadak hening. Ibu Laras ikut menimpali dengan nada yang seolah bercanda namun menusuk. "Iya, Laras. Karier itu penting, tapi jangan sampai 'rahimmu dingin' karena terlalu sibuk di lapangan proyek. Usiamu sudah sangat matang untuk memberikan kami cucu."
Laras merasakan mual yang luar biasa. Ia merasa tubuhnya bukan lagi miliknya, melainkan milik publik yang berhak mengatur fungsinya. Ia melirik Arka. Pria itu mencengkeram gelas wiskinya hingga buku jarinya memutih sebuah tanda bahwa serangan panik itu sedang mencoba menerobos pertahanannya lagi.
"Kami sedang fokus menata rumah dan pekerjaan, Pa," jawab Arka, suaranya terdengar sedikit bergetar, meski ia mencoba menutupinya dengan nada formal.
"Pekerjaan bisa didelegasikan, Arka!" potong Baskoro tajam. "Jangan beri aku alasan klise. Papa beri waktu kalian satu tahun. Kalau tidak ada kabar baik, Papa sendiri yang akan membawa kalian ke spesialis terbaik di Singapura."
Itu bukan saran. Itu adalah ultimatum.
Saat mereka kembali ke rumah selatan malam itu, suasana di dalam mobil terasa mencekik. Begitu masuk ke dalam rumah, Arka langsung menuju dapur, menuangkan air es dan meminumnya dengan rakus.
"Arka, kamu oke?" Laras mendekat, khawatir melihat napas Arka yang mulai tidak teratur.
"Aku muak, Laras!" Arka membanting gelasnya ke wastafel tidak pecah, tapi bunyinya memekakkan telinga. "Satu tahun? Dia pikir dia siapa? Bahkan untuk urusan yang paling pribadi di ranjang pun dia merasa punya hak untuk menentukan tanggalnya!"
Laras berdiri mematung. Ini adalah kali pertama Arka meledak sefrontal ini soal "urusan ranjang". Keheningan kemudian menyelimuti mereka, sebuah keheningan yang penuh dengan kecanggungan karena mereka berdua sadar: Pasal 4 mereka sedang di ujung tanduk.
"Kita nggak bisa terus-terusan mengelak, Ka," bisik Laras. "Kalau satu tahun berlalu dan aku nggak hamil, mereka akan mulai ikut campur lebih dalam. Mereka akan menyalahkan aku, atau mereka akan memaksamu melakukan tes kesehatan yang akan membongkar semua trauma mentalmu."
Arka membalikkan badan, menatap Laras. Cahaya temaram dapur membuat bayangan mereka memanjang di lantai semen. "Lalu apa maumu? Kamu mau kita... melanggar kontrak itu? Melanggar Pasal 4?"
Pertanyaan itu menghujam jantung Laras. Ia melihat Arka bukan sebagai mitra konspirasi lagi, tapi sebagai seorang pria yang sangat kesepian dan tertekan. Ada dorongan aneh di dalam dirinya untuk memeluk pria itu, bukan karena gairah, tapi karena rasa kasihan dan solidaritas yang terlalu dalam.
"Aku nggak tahu, Arka," jawab Laras jujur, suaranya nyaris hilang. "Tapi kalau kita mau menang melawan mereka, kita harus punya rencana yang lebih kuat daripada sekadar 'menunggu satu tahun'."
Arka mendekat, langkahnya pelan. Ia berhenti tepat di depan Laras. Wangi parfumnya yang maskulin bercampur dengan aroma kecemasan. Ia menunduk, menatap Laras dengan tatapan yang sangat intens.
"Bagaimana kalau kita pura-pura lagi?" bisik Arka. "Kita bilang kamu sedang program, atau kita buat alasan medis. Tapi kita tetap pada kontrak kita. Aku nggak mau menyentuhmu hanya karena diperintah oleh seorang Jenderal."
Laras mengangguk, namun ada bagian kecil di hatinya yang merasa sedikit... kecewa? Atau mungkin lega? Ia sendiri tidak yakin. "Oke. Kita gunakan alasan medis. Aku akan cari dokter yang bisa kita 'ajak kerja sama' untuk mengeluarkan surat keterangan bahwa kita butuh waktu."
"Deal," ujar Arka, namun ia tidak menjauh. Ia justru meletakkan tangannya di dinding di belakang kepala Laras, mengurung wanita itu dalam ruang sempit.
"Tapi Laras... kalau suatu saat nanti tekanan ini menjadi terlalu berat untukmu... kalau kamu merasa nggak sanggup lagi menjalani sandiwara ini... katakan padaku. Aku akan lepaskan kamu, meskipun itu artinya aku harus hancur di tangan ayahku."
Laras menengadah, menatap mata Arka yang tampak sangat tulus. "Kita masuk ke lubang ini bareng-bareng, Ka. Kita keluar pun harus bareng-bareng."
Malam itu, mereka tidur di kamar masing-masing dengan pikiran yang berkecamuk. Tuntutan ahli waris itu telah membuka sebuah kotak Pandora yang membuat mereka menyadari bahwa pernikahan kontrak ini tidak sesederhana yang mereka bayangkan.
Di balik tembok beton mereka, ada perasaan-perasaan yang mulai tumbuh liar, merayap di sela-sela Pasal dan Ayat kontrak yang mereka buat sendiri. Tuntutan cucu menjadi katalis yang memaksa mereka memikirkan kedekatan fisik. Sandiwara mereka kini harus masuk ke ranah yang sangat privat.