Di usia 24-th Paroline Benedicta adalah wanita yang paling banyak dibicarakan di kampusnya di Los Angeles. Menawan, kaya, dan penuh teka-teki, ia menyusuri lorong kampus bukan dengan tas desainer, melainkan dengan kereta bayi yang membawa Andreas Sunny yang berusia dua tahun. Rumor yang beredar sangat kejam, mereka bilang dia adalah sosialita yang jatuh, seorang gadis yang ditinggalkan kekasihnya setelah melakukan kesalahan yang ceroboh.
Kenyataannya, Paroline adalah wanita yang memegang teguh janjinya, membesarkan putra yatim piatu dari mendiang sahabatnya seolah anaknya sendiri. Ia telah menukar malam-malam liarnya dan gaun pesta sutranya dengan kekuatan tenang dari seorang ibu, mengubur masa lalu pemberontaknya demi memberikan kehidupan yang sempurna bagi Andreas.
Masuklah Fharell Desmon, mahasiswa baru berusia sembilan belas tahun sekaligus pewaris karismatik dari Desmon Group.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#29
Danesha Smith membanting pintu apartemen penthouse nya dengan napas yang memburu. Ia melemparkan kunci mobilnya ke atas meja marmer hingga dentingnya bergema di ruangan yang sunyi itu. Ia kemudian jatuh terduduk di sofa kulit mahal miliknya, menatap langit-langit dengan tatapan kosong, namun otaknya bekerja dengan kecepatan ribuan kilometer per jam.
Wajah Andreas Sunny terus terbayang-bayang. Mata itu... garis rahang itu... dan bagaimana cara bocah itu menatapnya tadi. Rasanya seperti melihat cermin masa kecilnya sendiri yang selama ini tersimpan di gudang memori ayahnya.
"Tidak mungkin..." gumam Danesha, suaranya parau. "Tapi... bagaimana jika iya?"
Pikiran konyol dan narsistik Danesha mulai merangkai kepingan puzzle yang salah arah. Obsesinya selama bertahun-tahun pada Paroline Benedicta kini melahirkan sebuah teori gila yang menurutnya sangat masuk akal.
Danesha memejamkan mata, mencoba menggali ingatan dari malam-malam liar sepuluh tahun yang lalu. Ia ingat betul bagaimana ia selalu mengejar Paroline dari klub satu ke klub lainnya. Ia ingat bau parfum Paroline yang memabukkan dan bagaimana wanita itu selalu terlihat paling bersinar di bawah lampu diskotik.
"Malam itu di The Vault..." bisik Danesha pada kegelapan. "Kami berdua sangat mabuk. Aku ingat aku menariknya ke area VIP. Dia menamparku, ya... tapi setelah itu? Apakah aku benar-benar berhenti? Atau apakah kami melakukan sesuatu yang memoriku hapus karena pengaruh alkohol?"
Danesha mulai meyakinkan dirinya sendiri. Baginya, mustahil Paroline yang liar tidak menyerah pada pesonanya malam itu. Ia berpikir bahwa mungkin saja terjadi sebuah penyatuan singkat yang tidak disadari, sebuah benih yang tertinggal saat pertahanan Paroline runtuh karena alkohol.
"Astaga!" Danesha berdiri dengan tiba-tiba, menyisir rambutnya dengan kasar. "Pantas saja! Pantas saja dia selalu menolak untuk tidur denganku lagi setelah itu. Dia malu... atau dia marah karena aku berhasil memilikinya saat dia tidak sadar!"
Logika Danesha yang bengkok mulai menyusun narasi baru, Paroline hamil anaknya, namun karena benci dan gengsi, Paroline memilih untuk menghilang dan menanggungnya sendiri. Dan sekarang, Paroline menggunakan Fharell Desmon sebagai tameng agar Danesha tidak bisa mengklaim haknya sebagai ayah biologis.
Danesha tertawa kecil, tawa yang terdengar hampir gila. "Pantas saja bocah itu terlihat mirip denganku. Dia memang benihku! Darah Smith mengalir di nadinya. Dan Paroline... dia sengaja menyembunyikannya dariku selama ini."
Ia berjalan menuju meja bar, menuangkan wiski ke dalam gelas dengan tangan yang sedikit gemetar. Pikirannya semakin liar. Ia membayangkan betapa hebatnya jika Andreas memang anaknya. Itu berarti dia telah menang atas Paroline. Dia telah memiliki wanita itu meski Paroline tidak mau mengakuinya.
"Dia menghinaku tidak bisa memuaskannya?" Danesha menyeringai kejam ke arah jendela yang menampilkan lampu-lampu kota. "Ternyata satu kali sentuhanku saja sudah cukup untuk membuat rahimnya terisi. Dia membohongiku! Dia membohongi dunia!"
Danesha sama sekali tidak terpikir soal Sania. Di matanya, Sania hanyalah selingan yang tidak berarti. Dalam dunianya yang egois, hanya Paroline-lah yang layak menjadi ibu dari anak-anaknya. Ia merasa Andreas terlalu tampan dan berkarisma untuk menjadi anak dari wanita biasa seperti Sania.
"Fharell Desmon hanya seorang pengasuh yang dibayar dengan status suami," gumam Danesha sinis. "Kau pikir kau menang, Rell? Kau hanya membesarkan anakku. Kau menciumi istriku dan memeluk putraku."
Rasa percaya diri Danesha yang sempat hancur oleh serangan bisnis Fharell, kini kembali bangkit dengan cara yang sangat keliru. Ia merasa memiliki kartu as. Jika Andreas adalah anaknya, maka dia punya hak asuh. Dia punya alasan untuk menghancurkan pernikahan Paroline dan Fharell dari dalam.
Ia mengambil ponselnya, jarinya gemetar saat mencari kontak detektif pribadinya. "Aku butuh tes DNA. Apapun caranya. Ambil sampel rambut atau air liur bocah itu. Aku harus membuktikan bahwa Andreas Sunny adalah seorang Smith."
Danesha menatap foto Andreas yang sempat ia ambil secara diam-diam dengan ponselnya saat di apartemen Fharell tadi. Ia membelai layar ponselnya. "Segera, Jagoan... Papa akan membawamu pulang. Dan Mommy-mu... dia akan berlutut memohon ampun karena telah menyembunyikan mu dariku."
Danesha menghabiskan minumannya dalam satu tegukan. Ia merasa seperti baru saja menemukan harta karun yang hilang. Di kepalanya, ia sudah membayangkan skenario di mana ia memenangkan hak asuh, merusak reputasi Desmon Group dengan skandal ayah palsu, dan akhirnya memaksa Paroline untuk kembali ke pelukannya demi anak mereka.
Ia tidak sadar bahwa kebenaran yang sesungguhnya jauh lebih menyakitkan daripada penolakan Paroline. Ia tidak tahu bahwa Andreas adalah putra Sania, wanita yang ia hancurkan hatinya demi mengejar bayangan Paroline.
"Kau sangat cantik, Paro... bahkan setelah melahirkan putra kita, kau makin cantik berlipat-lipat," gumam Danesha sambil menatap hampa ke arah kegelapan. "Ternyata tamparanmu dulu hanyalah cara untuk menutupi hasratmu padaku. Aku mengerti sekarang. Aku mengerti segalanya."
Malam itu, Danesha Smith tertidur dengan senyum kemenangan yang palsu. Ia tidak tahu bahwa ia sedang berjalan menuju jurang kehancuran yang telah disiapkan Fharell. Ia merasa sebagai pemenang, tanpa menyadari bahwa Fharell Desmon telah mengetahui kebenaran yang asli dan siap menghancurkan obsesi gila Danesha tepat di saat pria itu merasa paling di atas angin.
Perang ini bukan lagi soal uang atau perusahaan. Bagi Danesha, ini adalah soal klaim atas miliknya yang hilang. Dan bagi Fharell, ini adalah soal melindungi kesucian cinta dan identitas seorang anak dari pria yang bahkan tidak mengenali darah dagingnya sendiri jika bukan karena obsesi pada wanita lain.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰