NovelToon NovelToon
KESEMPATAN KEDUA BAGI SEORANG IBU

KESEMPATAN KEDUA BAGI SEORANG IBU

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Kirana Seo, seorang penulis novel yang hidup pas-pasan, baru saja menyelesaikan bab terakhir novelnya yang tragis. Namun, alih-alih merayakannya, ia justru terbangun dalam tubuh karakter antagonis utama yang ia ciptakan sendiri: Gwyneth Valerine.
Terjebak dalam tubuh seorang "monster" yang terkenal dingin dan kejam, Kirana menyadari situasi berbahaya yang dihadapinya. Dua hari lagi, suaminya, Xavier Zhang, akan kembali, dan sebuah insiden kelam yang seharusnya meninggalkan trauma mendalam bagi putrinya, Amethysta Valerine, akan terjadi.

Bertekad untuk mengubah takdir, Kirana—dalam tubuh Gwyneth—memutuskan untuk menulis ulang kisah hidup mereka. Ia berusaha mendekati Amethysta kecil yang ketakutan, mengganti ketakutan dengan kasih sayang, dan berusaha mencegah tragedi yang telah ia tulis sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 — Tubuh yang Bukan Miliknya

...— ✦ —...

Langit-langit kamar itu putih.

Putih bersih, tanpa noda, tanpa retak. Begitu sempurna hingga terasa asing — tidak seperti langit-langit apartemen sempit di lantai empat gedung kumuh yang selama ini menjadi tempat Kirana Seo menatap kosong setiap malam, memikirkan tagihan listrik yang belum terbayar dan outline novel yang masih setengah jadi.

Ini bukan langit-langit kamarnya.

Kirana mengedipkan mata. Sekali. Dua kali. Kepalanya berdenyut pelan, seperti baru bangun dari mimpi yang terlalu panjang. Ia mencoba menggerakkan jari-jarinya — terasa berat, tidak seperti biasa. Seluruh tubuhnya terasa asing, seperti mengenakan pakaian orang lain yang dua ukuran terlalu besar.

Perlahan, ia duduk.

Dan dunia bergerak.

Cermin besar berbingkai emas di hadapannya memantulkan seseorang yang bukan dirinya. Seorang wanita dengan tulang pipi tinggi, rambut hitam legam tergerai panjang hingga pinggang, dan bibir tipis berwarna merah gelap meski tanpa lipstik. Wajah itu cantik — cantik yang menyimpan dingin, seperti patung marmer yang indah namun tidak pernah hangat disentuh matahari.

Kirana mengangkat tangan.

Wanita di cermin itu juga mengangkat tangan.

"Tidak…" suara yang keluar dari bibirnya bukan suaranya. Lebih rendah. Lebih dalam. Lebih dingin.

Jantungnya mencelos.

Ia mengenal wajah itu.

Tentu saja ia mengenal wajah itu — ia yang menciptakannya. Setiap lekuk, setiap bayangan, setiap ekspresi beku yang ia tuliskan selama berbulan-bulan. Wajah yang ia gambarkan dengan kata-kata sebagai "cantik tanpa jiwa, indah tanpa kasih." Wajah tokoh antagonis utama dalam novel yang baru dua minggu lalu ia selesaikan babnya yang terakhir.

Gwyneth Valerine.

"Ini tidak mungkin," bisiknya pada bayangan di cermin. "Ini tidak — ini tidak nyata."

Tapi tangan yang ia genggam terasa nyata. Seprai sutra di bawahnya terasa nyata. Bau wewangian mahal yang melayang di udara — seperti bunga lili dicampur kayu cedar — terasa sangat nyata hingga perutnya mual.

Kirana menutup matanya. Ia mencoba mengingat. Terakhir kali ia sadar, ia sedang duduk di depan laptopnya, menyelesaikan bab penutup novelnya. Bab di mana Gwyneth Valerine — tokoh ibu kejam yang selama ratusan halaman menyiksa putrinya sendiri — akhirnya mati. Dibunuh oleh tangan Amethysta, sang putri, yang sudah tidak lagi mampu menahan tahun-tahun trauma.

Ia menuliskannya dengan tangan gemetar. Bukan karena sedih, tapi karena setelah berbulan-bulan hidup bersama tokoh-tokoh ini dalam kepala, mengakhiri segalanya terasa seperti kehilangan yang aneh.

Lalu... gelap.

Dan kini ia di sini.

Di dalam tubuh monster yang ia ciptakan sendiri.

Kamar itu besar — jauh lebih besar dari apartemennya yang sempit. Furnitur berwarna krem dan emas, lampu gantung kristal, dan jendela setinggi dua meter yang menghadap taman yang terawat dengan sempurna. Ini rumah — bukan, ini *mansion* — keluarga Valerine. Kirana mengenalinya karena ia yang merancangnya dalam imajinasinya, menuliskan setiap detail arsitekturnya sebagai latar belakang cerita.

Dengan langkah ragu, ia turun dari ranjang. Kakinya menyentuh lantai marmer yang dingin. Ia berjalan menuju meja rias, membuka laci perlahan — dan menemukan sebuah jurnal bersampul kulit hitam.

Milik Gwyneth.

Tangannya gemetar saat membukanya. Tulisan tangan yang rapi dan kaku memenuhi halaman-halamannya — catatan harian, jadwal, memo. Kirana menelusuri tanggalnya. Matanya melebar.

Hari ini adalah dua hari sebelum Xavier Zhang — suami Gwyneth, ayah Amethysta — kembali dari perjalanan bisnis panjangnya ke luar negeri.

Kirana menutup jurnal itu keras-keras.

Ia ingat. Ia sangat ingat bagian ini dalam novelnya.

Dua hari sebelum kepulangan Xavier adalah waktu di mana Gwyneth — Gwyneth yang asli, Gwyneth yang kejam — melakukan salah satu adegan paling gelap dalam cerita. Sebuah insiden yang meninggalkan bekas yang tidak akan pernah hilang dari ingatan Amethysta kecil. Insiden yang menjadi akar dari seluruh trauma sang putri.

"Tidak," gumam Kirana pada dirinya sendiri, pada kamar yang sunyi, pada tubuh yang bukan miliknya. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."

Ketukan pelan di pintu membuat Kirana terlonjak.

"Ma… Mama?"

Suara itu kecil. Ragu. Seperti seseorang yang tidak yakin apakah diperbolehkan untuk berbicara.

Kirana menahan napas. Ia tahu suara itu. Ia juga yang menciptakannya — suara seorang anak perempuan berusia tujuh tahun yang sudah belajar sejak dini bahwa lebih aman untuk tidak bersuara.

"Masuk," kata Kirana. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.

Pintu terbuka perlahan. Dan di ambang pintu itu berdiri seorang gadis kecil dengan rambut hitam dikepang dua, mengenakan gaun putih dengan pita merah jambu di pinggang. Wajahnya bulat, pipinya montok, dan ia memiliki bola mata berwarna ungu yang indah — ungu seperti amethyst, seperti namanya.

Amethysta Valerine.

Kirana tidak bergerak. Tidak bisa bergerak. Selama ini Amethysta hanyalah kumpulan kata-kata di atas layar laptopnya — "gadis kecil dengan mata ungu yang selalu menatap takut" — tapi kini gadis itu berdiri nyata di hadapannya, dan bola mata ungu itu memang menatap takut. Takut padanya. Takut pada Gwyneth.

Takut pada ibunya sendiri.

Dada Kirana terasa seperti diremas.

"Ada apa, Amethysta?" tanyanya pelan, berhati-hati memilih kata.

Gadis kecil itu tampak terkejut. Alisnya naik sedikit — mungkin tidak biasa dipanggil namanya secara langsung, atau mungkin tidak biasa dengan nada suara seperti itu. Nada yang tidak dingin. Nada yang tidak mengancam.

"A-aku hanya ingin tahu… apakah Mama sudah sarapan," bisik Amethysta. Tangannya menggenggam ujung gaunnya. Knuckle-nya memutih.

Kirana menatap tangan kecil itu dan sesuatu di dalam dadanya patah dengan cara yang tidak bisa ia jelaskan.

Anak ini… datang menanyakan apakah ibunya sudah sarapan. Bukan meminta diperhatikan. Bukan meminta kasih sayang. Hanya memastikan sang ibu baik-baik saja — padahal sang ibu tidak pernah sekali pun memperlakukannya dengan baik.

"Aku belum," jawab Kirana akhirnya. "Maukah kamu sarapan bersamaku?"

Amethysta berkedip. Satu kali. Dua kali. Seolah kata-kata itu adalah bahasa asing yang perlu ia terjemahkan terlebih dahulu.

"B-bersama… Mama?"

"Ya." Kirana mencoba tersenyum. Ia tidak yakin apakah otot-otot wajah Gwyneth masih ingat cara tersenyum, tapi ia mencoba.

"Bersama Mama."

Mereka sarapan dalam keheningan yang aneh.

Bukan keheningan yang mencekam seperti yang biasa Amethysta rasakan — keheningan yang penuh dengan ketakutan menunggu ledakan. Ini berbeda. Lebih ringan. Amethysta duduk di kursinya dengan punggung tegak, matanya sesekali melirik ke arah Kirana dengan ekspresi yang tidak bisa Kirana artikan sepenuhnya. Bukan ketakutan — atau setidaknya, tidak hanya ketakutan. Ada sesuatu yang lain di sana. Keheranan, mungkin. Kebingungan yang waspada.

Kirana makan dengan pelan. Ia mencoba membiasakan diri dengan tangan yang lebih panjang dari miliknya, dengan cara duduk yang berbeda, dengan rasa makanan yang terasa terlalu mewah di lidah yang biasa makan mi instan.

Sementara itu, satu bagian dari otaknya bekerja dengan cepat.

Dua hari. Ia punya dua hari sebelum Xavier pulang. Dua hari untuk memahami situasi ini, untuk memetakan apa yang harus dilakukan, untuk memastikan bahwa insiden yang seharusnya terjadi malam ini — insiden yang ia tuliskan dengan tangan sendiri — tidak akan terjadi.

Ia adalah penulisnya. Ia tahu setiap adegan. Setiap plot twist. Setiap bencana yang menanti di balik setiap halaman kehidupan keluarga ini.

Dan ia bertekad untuk mengubah semuanya.

Gwyneth Valerine dalam novelnya mati di tangan putrinya sendiri — akhir yang tragis untuk karakter yang tidak pernah bisa berubah, yang tidak pernah mau berubah. Tapi Kirana bukan Gwyneth. Ia hanya seorang gadis berusia tiga puluh tahun yang tidak punya pekerjaan tetap, yang menulis novel untuk membayar tagihan, yang tidak pernah punya rencana untuk masuk ke dalam ceritannya sendiri.

Tapi ia sudah di sini sekarang.

Dan jika ia harus hidup dalam cerita ini, ia tidak akan hidup sebagai villainnya.

"Amethysta."

Gadis kecil itu mengangkat kepalanya dengan cepat, reflek ketakutan yang sudah tertanam dalam.

Kirana menahan rasa sakitnya melihat itu, dan berkata dengan suara setenang yang ia bisa, "Setelah sarapan, maukah kamu menunjukkan padaku taman belakang? Aku dengar ada pohon dengan buah yang bagus di sana."

Amethysta menatapnya lama. Sangat lama. Lalu, sangat pelan — sangat hati-hati, seperti seseorang yang tidak percaya apa yang dilihatnya — sudut bibirnya terangkat sedikit.

Mungkin bukan senyum. Mungkin hanya bayangan dari kemungkinan sebuah senyum.

Tapi bagi Kirana, itu sudah cukup untuk memulai.

...✦ ✦ ✦...

...— Bersambung —...

1
Anonymous
Cerita yg filosofis banget. Dan dalem banget. Bagus 👍🏻👍🏻
AinaAsila: terimakasih 🙏😄
total 1 replies
Freg ftu
mantap 💪
AinaAsila: terimakasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!