NovelToon NovelToon
TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak / Nikahmuda
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Akrom Kafa Bihi

Demi melunasi hutang ayahnya, Aluna Maheswari terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arkan Wijaya — CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh wanita mana pun. Pernikahan itu hanya sandiwara selama satu tahun. Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Tanpa perasaan. Namun siapa sangka, di balik sikap dinginnya, Arkan menyimpan luka masa lalu yang kelam. Dan Aluna… adalah satu-satunya wanita yang perlahan mencairkan hatinya. Masalahnya, mantan tunangan Arkan kembali. Dan rahasia besar tentang kematian ibu Arkan mulai terungkap. Kontrak mereka mungkin hanya satu tahun. Tapi perasaan? Tidak ada tanggal kedaluwarsa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akrom Kafa Bihi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pemain Ketiga

Lampu darurat merah masih berkedip di sepanjang lorong kantor.

Cahaya itu membuat bayangan semua orang terlihat panjang dan tidak stabil di lantai marmer.

Di tengah lorong, mereka berdiri saling berhadapan.

Aluna.

Arkan.

Alvino.

Surya.

Dan wanita yang baru saja mengubah seluruh permainan.

Cemalia.

Hitungan waktu masih berjalan di layar kecil di dinding.

01:46:52

Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik.

Aluna menatap Cemalia dengan tajam.

“Kau bilang kau pemain ketiga.”

Cemalia tersenyum tipis.

“Benar.”

Arkan melangkah maju satu langkah.

“Kau tidak punya hak apa pun dalam sistem keluarga ini.”

Cemalia menatapnya, ekspresinya tenang.

“Apakah kau benar-benar yakin?”

Arkan tidak menjawab.

Namun rahangnya mengeras.

Aluna memperhatikan keduanya.

Ada sejarah panjang di antara mereka.

Sejarah yang belum sepenuhnya ia pahami.

Alvino menyandarkan bahunya ke dinding.

“Baiklah,” katanya santai. “Ini mulai menarik.”

Cemalia menoleh padanya.

“Kau pasti Alvino.”

“Dan kau pasti wanita yang membuat hidup Arkan berantakan.”

Cemalia tertawa kecil.

“Aku tersanjung.”

Surya berdeham gugup.

“Kita punya masalah yang lebih besar.”

Ia menunjuk layar waktu.

01:45:39

“Tes masih berjalan.”

Cemalia melirik layar itu sekilas.

“Oh, tentu saja.”

Ia kembali menatap Aluna.

“Ayahmu memang selalu suka membuat tekanan waktu.”

Aluna menyilangkan tangan.

“Berhenti berputar-putar.”

“Apa yang sebenarnya kau inginkan?”

Cemalia menatapnya beberapa detik.

Lalu ia berkata pelan,

“Aku ingin Konsorsium.”

Jawaban itu begitu langsung hingga membuat lorong terasa lebih sunyi.

Arkan langsung berbicara.

“Itu tidak akan pernah terjadi.”

Cemalia tidak terlihat tersinggung.

Ia hanya menatap Aluna.

“Pertanyaan sebenarnya bukan apakah aku bisa mendapatkannya.”

“Tapi apakah kau cukup kuat untuk menjaganya.”

Aluna tidak mundur.

“Kau meremehkanku.”

Cemalia tersenyum tipis.

“Aku tidak pernah meremehkan musuhku.”

Alvino mengangkat tangan.

“Maaf memotong drama keluarga ini.”

Ia menunjuk layar waktu.

01:44:11

“Kalau kita terus berdiri di sini, sistem akan memilih pemenang sendiri.”

Surya mengangguk cepat.

“Benar. Kita harus menuju arsip keluarga.”

Arkan menatap Cemalia.

“Kau tidak ikut.”

Cemalia tertawa pelan.

“Oh, Arkan…”

Ia melangkah lebih dekat.

“Jika ini benar-benar tes terakhir Konsorsium…”

Tatapannya beralih ke Aluna dan Alvino.

“…maka aku sudah menjadi bagian dari permainan sejak lama.”

Aluna merasakan ada sesuatu yang tidak beres.

“Apa maksudmu?”

Cemalia memiringkan kepala sedikit.

“Ayahmu tidak hanya menguji dua pewaris.”

“Dia juga menguji siapa yang cukup pintar untuk menyusup ke dalam permainan.”

Alvino mengerutkan kening.

“Kau bilang ayah kami tahu tentangmu?”

Cemalia tidak menjawab langsung.

Sebagai gantinya, ia mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya.

Sebuah kartu hitam.

Ia mengangkatnya.

Lampu merah memantul di permukaannya.

Surya langsung menegang.

“Itu…”

Arkan juga mengenalinya.

“Impossible.”

Aluna menatap kartu itu.

“Apa itu?”

Alvino menjawab pelan.

“Kartu akses level pendiri.”

Surya menggeleng keras.

“Itu hanya dimiliki oleh generasi pertama Konsorsium.”

Cemalia tersenyum.

“Tepat sekali.”

Aluna merasakan hawa dingin menjalar di tubuhnya.

“Bagaimana kau mendapatkannya?”

Cemalia mendekat beberapa langkah.

“Karena seseorang memberikannya padaku.”

“Siapa?” tanya Aluna.

Cemalia menatapnya dalam-dalam.

“Ayahmu.”

Lorong itu langsung terasa seperti membeku.

Arkan menggeleng.

“Itu kebohongan.”

Cemalia menatapnya lembut.

“Sayangnya tidak.”

Ia memutar kartu itu di antara jarinya.

“Beberapa tahun sebelum dia meninggal… ayah Aluna menemuiku.”

Aluna merasakan dadanya menegang.

“Untuk apa?”

Cemalia menatapnya dengan mata tajam.

“Untuk memastikan Konsorsium tidak jatuh ke tangan yang salah.”

Alvino tertawa pendek.

“Dan menurutnya kau adalah pilihan yang tepat?”

Cemalia mengangkat bahu.

“Mungkin bukan pilihan pertama.”

“Tapi pilihan yang cukup berbahaya.”

Arkan maju satu langkah.

“Kenapa dia tidak pernah memberitahu kami?”

Cemalia menatapnya.

“Karena kau terlalu emosional.”

Arkan hampir menjawab, tapi Aluna mengangkat tangan.

“Cukup.”

Ia menatap Cemalia.

“Jika ayah benar-benar memberimu akses… kenapa kau tidak mengambil alih sejak dulu?”

Cemalia tersenyum misterius.

“Karena aku tidak diundang untuk memimpin.”

Ia menunjuk layar waktu.

“Tes itu baru dimulai sekarang.”

Surya berbisik pelan,

“Ini gila…”

Hitungan waktu terus berjalan.

01:41:28

Aluna berpikir cepat.

Jika Cemalia benar…

Maka ayahnya memang merancang sesuatu yang jauh lebih besar.

Permainan tiga pemain.

Bukan dua.

Alvino memperhatikan Aluna.

“Apa keputusanmu, saudari?”

Aluna menatapnya.

“Kita tetap menuju arsip.”

Arkan langsung mengangguk.

“Setuju.”

Surya mengikuti.

Namun Alvino mengangkat alis.

“Dan dia?”

Ia menunjuk Cemalia.

Aluna menatap wanita itu beberapa detik.

Lalu berkata,

“Dia ikut.”

Arkan langsung menoleh.

“Aluna—”

“Kita tidak punya waktu untuk perang di lorong.”

Ia menatap Cemalia.

“Tapi jangan salah.”

“Jika kau mencoba sesuatu…”

Cemalia tersenyum tenang.

“Aku tahu.”

Ia melirik Arkan.

“Dia akan menembakku.”

Arkan tidak tersenyum.

“Tanpa ragu.”

Cemalia terlihat hampir menikmati ancaman itu.

“Baiklah.”

Ia melangkah menuju lift.

“Kalau begitu kita harus bergerak.”

Lift terbuka kembali.

Kali ini mereka semua masuk.

Pintu tertutup perlahan.

Saat lift mulai turun menuju parkiran—

Tidak ada yang berbicara.

Hanya suara mesin lift yang berdengung.

Surya melihat layar kecil di dalam lift.

Hitungan waktu terus berjalan.

01:39:55

Ia menelan ludah.

“Kita punya kurang dari dua jam untuk menyelesaikan ini.”

Alvino bersandar santai di dinding lift.

“Cukup waktu untuk menghancurkan dunia kecil ayah kita.”

Arkan tidak menanggapinya.

Tatapannya tertuju pada Cemalia.

Wanita itu berdiri di sudut lift.

Tenang.

Terlalu tenang.

Seolah semua ini hanyalah bagian dari rencana panjangnya.

Lift akhirnya terbuka di parkiran bawah tanah.

Udara dingin langsung menyambut mereka.

Lampu neon redup menerangi deretan mobil yang hampir kosong.

Arkan berjalan menuju mobil hitamnya.

“Kita naik ini.”

Namun sebelum mereka sampai—

Lampu parkiran tiba-tiba berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Lalu mati.

Seluruh parkiran tenggelam dalam kegelapan.

Surya langsung berhenti.

“Apa lagi sekarang…”

Lampu darurat menyala beberapa detik kemudian.

Cahaya merah redup kembali memenuhi ruangan.

Namun kali ini—

Ada sesuatu yang berbeda.

Suara mesin mobil terdengar dari kejauhan.

Bukan satu.

Beberapa.

Arkan langsung menegang.

“Semua berhenti.”

Dari ujung parkiran—

Lampu depan beberapa mobil menyala bersamaan.

Cahaya putih menyilaukan menembus kegelapan.

Aluna menyipitkan mata.

Beberapa pria keluar dari mobil-mobil itu.

Berpakaian hitam.

Langkah mereka teratur.

Terlatih.

Arkan berbisik pelan,

“Ini bukan keamanan gedung.”

Alvino tersenyum tipis.

“Sepertinya ada yang tidak sabar memulai permainan.”

Pria-pria itu berhenti beberapa meter dari mereka.

Salah satu maju ke depan.

Ia membuka jaketnya.

Di dalamnya terlihat senjata.

Surya menelan ludah.

“Kita benar-benar dalam masalah.”

Cemalia memperhatikan semua itu dengan ekspresi tenang.

Lalu ia berkata pelan,

“Tidak.”

Semua orang menoleh padanya.

Ia tersenyum kecil.

“Mereka bukan masalah.”

Salah satu pria di depan kelompok itu berbicara.

“Target ditemukan.”

Ia menatap langsung ke arah Aluna.

“Perintahnya jelas.”

“Bawa pewaris hidup-hidup.”

Arkan langsung berdiri di depan Aluna.

“Terlambat.”

Alvino juga melangkah maju.

“Sepertinya kita harus bekerja sama.”

Hitungan waktu di layar lift masih terlihat dari jauh.

01:37:10

Dan untuk pertama kalinya sejak permainan dimulai—

Mereka menyadari sesuatu.

Tes ini tidak hanya tentang kecerdasan.

Ini juga tentang bertahan hidup.

END BAB 27 🔥

1
jenny
aku bingung Thor...
di bab 2 dijelaskan klo ayah Aluna tidak bisa hadir di pernikahan Aluna karena kesehatan yang belum stabil, tapi di bab ini menjelaskan klo ayah Aluna meninggal di tempat proyek? yang benar mana nih?
𝔅𝔩𝔞𝔠𝔨 𝔐𝔞𝔪𝔟𝔞☬♆: Coba dibaca ulang deh kak🤭
total 1 replies
Veline
Semangat Author untuk Karya nya 🔥🔥💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!