"Aku tahu kamu bukan dia. Dan sekarang, bayar harga penyamaranmu dengan menjadi istriku."
Demi nyawa ibunya, Alana nekat menyamar menjadi kakaknya untuk bekerja pada Arkananta, CEO kejam yang dijuluki "Monster Es". Namun, Arkan justru menjebaknya dalam pernikahan kontrak untuk menghadapi ular-ular di keluarganya.
Dari puncak kemewahan hingga titik terendah saat Arkan dikhianati dan terusir dari hartanya, Alana tetap bertahan. Bersama, mereka membangun kembali kekaisaran dari nol untuk membalas dendam pada setiap pengkhianat.
Saat rahasia identitas terbongkar dan dunia membuang mereka, mampukah cinta sang sekretaris pengganti menjadi kekuatan terakhir sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekutu di Balik Kabut
Pagi itu, Jakarta diselimuti kabut tipis yang enggan beranjak, seolah-olah alam sedang ikut menyembunyikan rahasia-rahasia yang mulai membusuk di dalam mansion Arkananta. Pecahan jam tangan tua di lantai ruang kerja Arkan semalam telah dibersihkan oleh para pelayan yang tutup mulut, namun aromanya—aroma masa lalu yang kelam—masih tertinggal di udara.
Alana terbangun dengan perasaan waswas yang mencekik. Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat wajah pria di foto itu: Adrian. Ia merasa seolah-olah sepasang mata sedang mengawasinya dari balik dinding-dinding mewah ini. Alana tidak bisa lagi hanya diam menjadi pion yang menunggu perintah Arkan. Jika ia ingin selamat, ia harus tahu siapa sebenarnya yang sedang ia hadapi.
Setelah memastikan Arkan berangkat ke kantor untuk menghadapi kekacauan saham A-Genesis, Alana memanggil Baskara.
"Tuan Baskara, saya ingin tahu dari mana paket jam tangan itu dikirim," ucap Alana dengan nada yang tegas, meniru otoritas Arkan. "Jangan katakan ini pada Tuan Arkan. Dia sudah terlalu terbebani. Saya harus tahu siapa yang mengancam kita."
Baskara ragu sejenak. Kesetiaannya pada Arkan tidak perlu diragukan, namun ia juga mulai melihat Alana sebagai sosok yang memiliki keberanian unik. "Paket itu dikirim melalui kurir pribadi dari sebuah alamat di kawasan SCBD, Nona. Sebuah kantor hukum bernama 'Veritas Global'. Namun, saya curiga itu hanyalah perusahaan cangkang."
"Siapkan mobil. Saya akan ke sana sebagai Elena Arkananta," perintah Alana.
Pertemuan yang Tidak Terduga
Kantor Veritas Global tampak sangat tenang untuk sebuah tempat yang mengirimkan ancaman maut. Alana melangkah masuk dengan kacamata hitam besar dan tas bermerek, memancarkan aura nyonya besar Arkananta. Namun, saat ia melangkah menuju resepsionis, pintu lift terbuka dan sesosok wanita yang sangat ia kenal melangkah keluar dengan senyum penuh kemenangan.
Bianca Adiwangsa.
Bianca membeku sejenak melihat Alana, namun dengan cepat ia menguasai diri. "Elena? Kejutan yang sangat menarik. Sedang apa 'istri teladan' sepertimu di kantor hukum yang menangani sengketa warisan internasional seperti ini?"
Darah Alana berdesir. Sengketa warisan internasional. Itu adalah kata kunci yang sangat spesifik.
"Aku bisa menanyakan hal yang sama padamu, Bianca. Bukankah kau seharusnya sibuk di kantor Arkananta untuk merger kita?" Alana membalas dengan nada tajam.
Bianca tertawa, suaranya merdu namun terasa seperti sembilu. Ia mendekati Alana dan berbisik tepat di telinganya. "Aku baru saja bertemu dengan seorang 'investor baru'. Seseorang yang memiliki hak yang jauh lebih besar atas Arkananta daripada suamimu yang dingin itu. Kau sedang bermain di sisi yang salah, Alana."
Nama asli Alana kembali disebut. Alana merasakan kakinya lemas, namun ia tetap berdiri tegak. Bianca sudah bertemu dengan Adrian. Ini bukan lagi sekadar kecurigaan; ini adalah konspirasi untuk menggulingkan Arkan dari dalam.
Di Balik Pintu Rahasia (Alur Menuju Bab 157)
Berdasarkan road map yang telah kita susun untuk mencapai Bab 157, momen ini adalah pemicu bagi Arc Aliansi Gelap (Bab 29-50).
Pengkhianatan Bianca (Bab 29-35): Alana menyadari bahwa Bianca tidak hanya ingin merger, tapi ia ingin menukar Arkan dengan Adrian. Bianca menganggap Adrian lebih mudah dikendalikan atau mungkin... Adrian adalah pria yang sebenarnya ia cintai sepuluh tahun lalu.
Identitas Ganda Alana (Bab 40-60): Alana akan mulai mendekati Adrian secara diam-diam—bukan untuk mengkhianati Arkan, tapi untuk menjadi mata-mata. Ini akan menciptakan ketegangan romantis yang rumit; Adrian mulai tertarik pada "versi baik" dari Elena (yaitu Alana), menciptakan cinta segitiga yang berbahaya antara dua saudara kembar dan satu wanita.
Keterlibatan Kakek (Bab 70-100): Seiring berjalannya bab, akan terungkap bahwa Kakek Arkananta sengaja membiarkan Bianca bertemu Adrian untuk menguji siapa di antara kedua cucunya yang paling layak memimpin dinasti.
Konfrontasi di Restoran Tersembunyi
Alana mengikuti Bianca secara diam-diam setelah pertemuan di kantor hukum itu. Bianca menuju ke sebuah restoran privat di lantai teratas sebuah hotel butik. Dengan bantuan Baskara yang melacak sinyal ponsel Bianca, Alana berhasil masuk ke area VIP dengan menyamar sebagai pelayan.
Dari balik tirai, Alana melihat mereka. Bianca duduk berhadapan dengan seorang pria yang mengenakan topi fedora dan mantel hitam panjang. Wajah pria itu tidak terlihat jelas, namun suaranya... suaranya adalah versi yang lebih serak dan bergetar dari suara Arkan.
"Arkan sudah mulai panik dengan A-Genesis," ucap pria itu—Adrian. "Tapi itu baru permulaan, Bianca. Aku ingin dia merasakan kehilangan yang lebih besar. Aku ingin dia melihat wanita itu—Alana—berlutut di depanku dan memohon untuk nyawanya."
"Kenapa kau begitu terobsesi pada Alana, Adrian?" tanya Bianca dengan nada cemburu. "Dia hanyalah pion pengganti yang ditemukan Arkan di jalanan."
"Karena dia memakai wajah wanita yang menghancurkan hidupku, tapi dia memiliki mata yang jujur. Aku ingin tahu seberapa cepat kejujuran itu akan membusuk di bawah tanganku," jawab Adrian dingin.
Alana hampir saja menjatuhkan nampan yang ia bawa. Adrian tidak hanya ingin menghancurkan Arkan secara finansial, tapi ia ingin merusak jiwa Alana sebagai bentuk balas dendam pada Elena yang asli.
Kembali ke Pelukan yang Dingin
Malam harinya, Alana kembali ke mansion dengan tubuh gemetar. Ia menemukan Arkan sedang duduk di ruang tamu yang gelap, hanya ditemani sebotol wiski yang tinggal setengah.
"Dari mana kau, Alana?" tanya Arkan tanpa menoleh. Suaranya terdengar hancur.
Alana tidak sanggup berbohong lagi. Ia menjatuhkan dirinya di samping Arkan dan memeluk pria itu dari belakang. "Aku melihatnya, Tuan. Aku melihat Bianca bersama Adrian. Mereka sedang merencanakan sesuatu yang besar untuk menghancurkan Anda."
Arkan terdiam. Ia meletakkan gelasnya dan berbalik, menatap Alana dengan mata yang penuh dengan keputusasaan. "Aku sudah tahu. Baskara melaporkan kepergianmu ke kantor hukum itu. Kenapa kau begitu nekat, Alana? Kenapa kau tidak membiarkan aku yang menghadapi iblis ini sendiri?"
"Karena saya tidak mau kehilangan Anda!" seru Alana, air matanya tumpah. "Anda menyelamatkan hidup saya dan ibu saya. Saya tidak akan membiarkan hantu dari masa lalu mengambil semuanya dari Anda."
Arkan menarik Alana ke dalam pelukannya, mencium keningnya dengan penuh rasa haru yang jarang ia tunjukkan. Namun di balik pelukan itu, Arkan membisikkan sesuatu yang membuat Alana menyadari betapa panjangnya perjalanan mereka menuju Bab 157 nanti.
"Jika Bianca sudah memihak Adrian, maka merger ini adalah jebakan. Kita harus menghancurkan merger ini dari dalam, meskipun itu artinya kita akan kehilangan separuh dari kekayaan Arkananta. Apakah kau siap hidup sebagai pelarian bersamaku jika rencana ini gagal, Alana?"
Alana menatap mata Arkan, melihat kesungguhan yang luar biasa di sana. "Saya tidak pernah memiliki kekayaan ini, Tuan. Yang saya miliki hanyalah Anda. Saya siap."
Di kejauhan, di paviliun belakang, Elena yang asli tertawa sendiri sambil mengelus perutnya yang masih rata, sebuah rahasia besar yang belum diketahui siapa pun—rahasi yang akan meledak di Bab 45 dan mengubah seluruh peta permainan. Elena mengandung, dan hanya dia yang tahu siapa ayah dari bayi itu: Arkan, ataukah Adrian yang sempat ia temui secara rahasia sebelum insiden Danau Jenewa?
Malam itu, di bawah langit Jakarta yang kini diguyur hujan deras, dua jiwa yang terluka saling menguatkan di tengah kepungan musuh. Perang besar Arkananta baru saja memasuki babak paling mematikan.