Terjerat utang ratusan juta dan ancaman pernikahan paksa, Alisha kehilangan segalanya termasuk kenangan dari kekasihnya. Di tengah keputusasaan, ia bertemu Aruna, wanita kaya berwajah identik yang menawarkan kontrak gila: Bertukar hidup demi pelunasan utang.
Alisha terjun ke dunia mewah yang palsu, namun tantangan sesungguhnya adalah kakak laki-laki Aruna. Pria dingin namun sangat penyayang itu mulai mencurigai perubahan pada "adiknya" sosok yang kini tampak lebih lembut dan tulus. Di balik kemegahan yang dingin, Alisha menyadari bahwa menjadi orang lain jauh lebih berbahaya daripada menjadi miskin saat ia mulai mempertaruhkan hatinya pada pria yang kini menjadi pelindungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Labirin Rahasia dan Jejak Masa Lalu
Pintu baja di balik rak buku itu menutup dengan bunyi klik yang solid, mengunci Alisha dan Gathan dalam keheningan yang kedap. Alisha menahan napas saat lampu-lampu di langit-langit menyala satu per satu secara otomatis. Di hadapannya, sebuah ruangan futuristik terbentang luas, kontras dengan nuansa klasik perpustakaan di luar tadi.
Ini bukan sekadar ruangan, ini adalah pusat saraf. Alisha menatap deretan monitor yang berjajar di meja panjang melengkung. Di layar-layar itu, puluhan sudut rumah Ardiansyah terpampang jelas. Gerakan pelayan di dapur, langkah kaki penjaga di gerbang depan, bahkan sudut lorong yang gelap, semuanya terekam secara real-time.
Alisha merasakan bulu kuduknya meremang. Ia baru menyadari bahwa selama ini setiap gerak-geriknya diawasi, kecuali di tempat-tempat privasi seperti kamar mandi atau ruang ganti.
Di rumah ini, privasi adalah kemewahan yang tidak ada harganya, batin Alisha ngeri. Ia harus benar-benar menjaga aktingnya bahkan saat ia merasa sedang sendirian di kamarnya.
Di sisi lain, di dalam kamar sempit milik Alisha, Aruna asli duduk dengan tablet di pangkuannya. Senyum tipis terukir di bibirnya saat melihat apa yang ditangkap oleh kamera di jam tangan Alisha.
"Langkah yang bisa ditebak, Kak," gumam Aruna pelan.
Ia tahu Gathan pasti akan membawa "Aruna yang hilang ingatan" ke tempat ini. Baginya, komputer dan kode-kode rumit adalah bahasa ibu. Namun, ia juga sadar bahwa Alisha, gadis yang memiliki kepribadian 180 derajat berbeda darinya, pasti sedang gemetar ketakutan saat ini. Alisha adalah jiwa yang lembut, sedangkan ruangan itu adalah manifestasi dari kedinginan logika Aruna.
"Ini adalah duniamu, Na," ucap Gathan sembari mengusap salah satu monitor.
"Kamu yang membangun sistem keamanan ini setelah Papa meninggal. Kamu bilang, kita tidak boleh percaya pada siapa pun di rumah ini kecuali mata digital yang tidak bisa berbohong."
Alisha hanya mengangguk kaku, berpura-pura seolah ada fragmen ingatan yang mencoba masuk ke kepalanya.
"Aku... aku yang membuat semua ini?" tanyanya dengan nada tidak percaya.
Gathan tersenyum bangga.
"Ya. Kamu adalah perisai keluarga ini."
Gathan kemudian menuntun Alisha menuju sebuah bilik di sudut ruangan yang dibatasi oleh kaca tebal kedap suara. Begitu pintu geser terbuka, aroma pelumas senjata dan mesiu yang samar menusuk hidung Alisha. Di sana terdapat dua jalur latihan menembak dengan sasaran yang bisa diatur jaraknya. Rak di dinding memajang beberapa senjata api yang tampak terawat dengan sangat baik.
"Tempat ini... untuk apa, Kak?" tanya Alisha dengan suara yang sedikit bergetar.
Gathan mengambil sebuah pistol semi-otomatis, memeriksa magasinnya dengan gerakan yang sangat mahir sebelum meletakkannya kembali.
"Ini tempat latihan menembak. Kamu mungkin tidak ingat, tapi dulu, Mama dan Papa sering menghabiskan waktu berdua di sini. Ini adalah tempat favorit mereka."
Mata Alisha membelalak. Ia merasa dunianya seolah terbalik. Di kepalanya, pasangan suami istri biasanya menghabiskan waktu romantis dengan makan malam atau menonton film. Tapi orang tua Ardiansyah? Mereka menghabiskan waktu berkualitas dengan melepaskan peluru ke sasaran tembak. Siapa sebenarnya orang tua mereka? Keluarga macam apa yang aku masuki ini? tanya Alisha dalam hati. Ia mulai menyadari bahwa darah yang mengalir di tubuh Aruna bukan sekadar darah bangsawan kaya raya, melainkan darah petarung.
"Kamu dulu sangat hebat dalam menembak jarak dekat, Na. Kamu bilang, suara letusan peluru adalah satu-satunya hal yang bisa membuat kepalamu tenang dari kebisingan dunia," lanjut Gathan dengan tatapan yang menerawang jauh, seolah merindukan sosok adiknya yang dulu.
Alisha merasa sesak. Semakin Gathan bercerita, semakin ia merasa bersalah karena telah membohongi pria setulus ini. Namun, ia tidak punya jalan kembali.
Setelah meninggalkan ruang tembak, Gathan membawa Alisha ke sebuah pintu kayu kecil yang tersembunyi di balik panel dinding. Pintu itu sangat tidak mencolok, namun begitu dibuka, Alisha terkejut mendapati dirinya sudah berada di sebuah kamar yang sangat luas dan maskulin. Aroma kayu cendana dan parfum maskulin yang familiar segera menyapa indra penciumannya.
Mereka keluar tepat dari balik sebuah cermin besar yang terpasang di samping meja kerja. Alisha memandang sekeliling dengan bingung. Kamar ini didominasi warna gelap, abu-abu arang dan hitam, dengan furnitur minimalis namun sangat mahal.
"Ini... kamar siapa?" tanya Alisha dengan suara lirih.
Gathan tidak langsung menjawab. Ia meraih tangan Alisha, menggenggamnya erat seolah takut gadis itu akan menghilang lagi.
Tatapannya melembut, menghilangkan kesan dingin yang biasanya ia tunjukkan pada dunia luar.
"Ini kamar Kakak, Na," jawab Gathan pelan.
Alisha tersentak. Jantungnya berpacu liar. Berada di ruang pribadi Gathan terasa jauh lebih mengintimidasi daripada berada di ruang rahasia penuh komputer tadi. Kamar ini adalah tempat paling intim bagi Gathan, tempat di mana ia melepaskan topeng "pewaris Ardiansyah" dan menjadi dirinya sendiri.
"Pintu rahasia itu menghubungkan kamarmu, kamarku, dan perpustakaan," jelas Gathan sembari membawa Alisha mendekat ke jendela besar yang menghadap ke taman. "Ini dibuat agar jika terjadi sesuatu yang buruk di rumah ini, kita bisa saling mencapai satu sama lain tanpa diketahui oleh siapa pun. Terutama mereka."
Gathan memutar tubuh Alisha agar menghadapnya. Ia menaruh kedua tangannya di bahu Alisha, menatap langsung ke dalam manik mata gadis itu.
"Kakak tahu semuanya terasa sangat asing bagimu sekarang. Kamu mungkin merasa seperti orang luar di rumahmu sendiri. Tapi ingat satu hal, Na... kamar ini, ruangan rahasia tadi, dan Kakak sendiri... kami adalah rumahmu yang sebenarnya. Jangan pernah ragu untuk datang ke sini jika kamu merasa takut atau tertekan oleh Elena dan yang lainnya."
Alisha hanya bisa terpaku. Jarak mereka begitu dekat hingga ia bisa melihat pantulan dirinya di mata hitam Gathan. Deru napas Gathan terasa hangat di keningnya. Alisha merasa terjebak. Di satu sisi, ia ingin lari sejauh mungkin karena takut hatinya akan goyah. Namun di sisi lain, ia merasakan sebuah kehangatan yang belum pernah ia dapatkan seumur hidupnya. Kasih sayang seorang kakak yang begitu posesif, protektif, sekaligus rapuh.
"Aku akan mencoba... mengingatnya, Kak," bisik Alisha akhirnya.
Gathan tersenyum, sebuah senyuman yang sangat langka yang hanya ditujukan untuk satu orang. Ia mengusap pipi Alisha pelan dengan ibu jarinya sebelum melepaskan pegangannya.
"Sudah cukup untuk hari ini. Kamu harus istirahat. Mari, Kakak antar kembali ke kamarmu melalui jalan ini."
Alisha mengikuti Gathan melewati pintu rahasia itu kembali, namun pikirannya tertinggal di kamar gelap milik Gathan. Ia menyadari bahwa misi ini bukan hanya soal berpura-pura menjadi orang lain. Ini adalah soal bertahan hidup di tengah labirin rahasia sebuah keluarga yang jauh lebih berbahaya dari yang pernah ia bayangkan. Dan yang paling menakutkan bagi Alisha bukanlah senjata atau kamera pengawas itu, melainkan perasaannya sendiri yang mulai tumbuh di tempat yang salah.
semoga bisa bertahan sampai akhir ceritanya y thor..
semangat ✊✊