Enam belas tahun lalu, ia menyimpan rasa pada seorang perempuan yang tak pernah ia temui secara nyata.
Waktu berlalu, hidup menuntutnya dewasa,
namun perasaan itu tak pernah benar-benar pergi.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali,
perempuan itu telah menjadi ibu dari tiga anak,
dan ia dihadapkan pada cinta yang tak lagi sederhana.
Di antara keyakinan, tanggung jawab, dan logika,
ia harus menjawab satu pertanyaan paling berat dalam hidupnya:
apakah cinta cukup untuk memulai segalanya dari awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilacPink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersama Disya
****************
Sejak percakapan itu, hidupku terasa lebih ringan.
Tidak ada lagi bayangan yang menekan dada,tidak ada lagi pertanyaan yang berputar-putar di kepala. Hana sudah berada di tempat yang semestinya bersama keluarganya. Dan aku masih seperti ini. Seperti baru memulai langkah.
Disya datang tanpa memaksa. Tanpa mengusik luka lama. Ia hanya hadir, dengan caranya yang tenang dan sabar.
Aku mulai menyadari sesuatu ternyata membuka hati bukan tentang melupakan sepenuhnya, tapi tentang memberi kesempatan pada masa depan. Dan mungkin…kali ini aku siap.
Pagi itu aku bertemu Disya di kantor. Kami memang satu kantor, tapi entah kenapa suasana hari ini terasa berbeda. Ia menghampiriku sambil tersenyum, lalu menyodorkan sebuah tas kecil berisi bekal.
“Raka, ini bekal buat sarapan. Kalau kamui udah sarapan, masih bisa buat makan siang,” katanya pelan.
“Aku buatin makanan favorit kamu… semoga suka ya.” Ia tertawa kecil, sedikit canggung.
“Aku udah usaha banget loh masak, padahal aku nggak bisa masak,” lanjutnya sambil tertawa,
“Semoga kamu nggak sakit perut ya, Ka 😄😄”
Aku menerima bekal itu tanpa banyak kata.
Hanya senyum singkat yang kupaksakan, meski dadaku terasa sedikit sesak. Disya terlalu baik.
Dan justru karena itu, hatiku belum siap.
Ada bagian dari diriku yang ingin melangkah maju,
namun ada juga yang masih tertinggal di belakang bersama kenangan yang belum sepenuhnya pudar. Aku tahu, membuka hati bukan soal menemukan orang baru. Tapi tentang berani melepaskan yang lama. Dan untuk itu… aku masih belajar.
Apalagi bayang-bayang Hana di mall itu. Wajahnya, caranya berdiri bersama anak-anaknya, lalu suaminya yang datang menjemput semua itu masih menempel di kepalaku. Aku tahu, seharusnya tak ada lagi harapan. Tapi entah kenapa, ada bagian kecil dari diriku yang pernah berdiri di sana… di tempat itu…bersamanya.
Dan ya… itu gila. Gila karena aku tahu itu mustahil,
namun bayangan itu tetap hidup, berisik, dan sulit diusir. Aku menunduk, menertawakan diriku sendiri. Rasa ini bukan tentang ingin memiliki
melainkan tentang kenangan yang belum sepenuhnya rela dilepas.
“Makasih banyak ya, Dis,” kataku sambil menerima bekal itu.
“Kok kamu repot-repot masak begini? Kamu masak jam berapa, sih? 😄”
Aku mencoba terdengar santai, seolah semuanya biasa saja. Padahal di dalam hati, ada rasa hangat yang pelan-pelan muncul dan rasa bersalah kecil karena aku belum sepenuhnya hadir.
Disya tersenyum sambil berjalan pelan menuju ruangannya.
“Ah nggak apa-apa, Ka,” katanya santai.
“Aku masak subuh tadi, sekalian bangun pagi juga,” ia tertawa kecil.
“Anggap aja latihan masak… kalau nggak enak jangan dimakan semua ya 😄”
Langkahnya tetap ringan, seolah tak ingin membuatku merasa berutang apa pun.
Dan justru di situ aku merasa… semakin berat.
Disya memang lebih muda dariku. Selisih usia kami lima tahun. Tapi sejak awal aku sudah keberatan kalau dipanggil “bapak”. Aku tidak mau terdengar lebih tua dari usiaku sendiri. Jadi ia hanya memanggil namaku.
“Raka.”
Sederhana, tanpa jarak, tanpa beban.
Dan entah kenapa, panggilan itu terdengar lebih nyaman di telingaku.
Tak terasa, dengan pekerjaan yang menumpuk, waktu sudah menunjukkan pukul lima sore.
Sebagai supervisor operasional, pekerjaanku memang sering menuntut fokus dan waktu lebih, membuat hari-hariku hampir selalu padat.
Hari ini aku memilih pulang tepat waktu.
Disya juga bersiap di jam yang sama.
“Raka, pulang bareng yuk,” katanya.
“Atau kalau nggak capek banget, kita mampir ke mall itu buat makan malam.”
Aku mengangguk pelan.
“Oke, boleh… ya sudah, kamu bareng aku sekalian di mobilku.”
Kami berjalan berdampingan keluar dari kantor.
Langkah kami sejajar, tapi jaraknya terasa canggung.
Di perjalanan, mobil melaju pelan ditemani musik yang mengalun lirih. Tak ada obrolan, hanya diam yang terasa kikuk. Hubungan kami masih kaku seperti dua orang yang sama-sama ingin melangkah, tapi belum tahu seberapa jauh harus maju.
Mobilku berhenti di area parkiran mall. Mesin dimatikan, tapi aku belum langsung turun.
Aku menarik napas dalam-dalam, seolah sedang menyiapkan diri untuk sesuatu yang bahkan belum terjadi.
Disya membuka pintu lebih dulu, langkahnya ringan, tanpa tahu apa yang sedang berkecamuk di kepalaku.
“Kita makan di tempat itu aja ya,” katanya sambil menunjuk ke arah dalam mall.
Aku menoleh mengikuti arah telunjuknya.
Dan dadaku langsung menegang. karna disya menunjukkan sebuah banner restoran yang sama dengan hana.
Tempat itu. Bahkan sebelum kami melangkah, bayangannya sudah lebih dulu menghantam pikiranku. Aku mengangguk pelan, meski tenggorokanku terasa kering.
“Oke,” jawabku singkat.
Kami berjalan berdampingan menyusuri parkiran. Suara langkah kami berpadu dengan deru mobil yang keluar masuk. Aku mencoba menenangkan diri, tapi hatiku justru semakin berisik.
Tenang, Raka. Ini cuma tempat makan.
Tapi aku tahu, bukan sekadar tempat. Di sinilah kemarin aku berdiri terlalu lama, menatap kehidupan yang bukan lagi milikku.
Langkahku melambat sesaat.
Bukan karena lelah, tapi karena ada bagian dari diriku yang belum siap naik ke lantai itu lantai di mana kenangan masih menggantung.
“Raka… kamu sering makan di sini, nggak?”
Disya memulai obrolan ringan saat kami sudah duduk dan selesai memesan menu.
Aku tersenyum kecil, berusaha terlihat santai.
“Jarang sih makan di sini. Tapi pernah,” jawabku.
“Biasanya kalau ke mall aku cuma belanja, habis itu makan di luar. Pecel lele,” kataku sambil tertawa kecil 😄
Disya ikut tertawa.
Obrolan kami terdengar biasa saja.
Padahal di balik meja itu, hatiku masih sibuk menenangkan diri berpura-pura bahwa tempat ini tak menyimpan apa-apa.
Akhirnya kami banyak mengobrol.
Bukan obrolan penting, hanya hal-hal sepele yang membuat suasana jadi ramai dan terasa lebih ringan.
Selesai makan malam, aku mengantar Disya pulang sampai rumahnya. Ia berpamitan dengan senyum yang hangat, tanpa tuntutan apa pun.
Aku melanjutkan perjalanan pulang sendirian.
Lelah hari ini benar-benar terasa. Bukan hanya tubuhku, tapi juga hatiku. Dan aku harus jujur pada diriku sendiri maaf, soal hati… aku masih belum bisa merasakan getaran apa pun untuk Disya.
Aku menghela napas panjang. Mungkin memang belum waktunya. Atau mungkin aku masih butuh belajar melepaskan sepenuhnya.
“Huft,” desahku pelan, sebelum mobilku menghilang di jalan malam.