NovelToon NovelToon
Bangkitnya Menantu Terhina

Bangkitnya Menantu Terhina

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: megga kaeng

Mereka menyebutnya menantu sampah.
Lelaki tanpa harta. Tanpa kekuasaan. Tanpa kehormatan.
Ia dipermalukan di meja makan, ditertawakan di depan pelayan, dan istrinya… memilih diam.
Tapi mereka lupa satu hal.
Darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah biasa.
Saat ia mati dalam kehinaan, sesuatu bangkit bersamanya.
Bukan cinta. Bukan ampun.
Melainkan kutukan kuno yang menuntut darah keluarga itu satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megga kaeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 – MENANTU TANPA NAMA

Hujan turun sejak sore, rintiknya halus tapi dingin, seperti ejekan yang tak pernah diucapkan dengan keras. Defit Karamoy berdiri di teras rumah itu, rumah yang seharusnya sudah bisa ia sebut rumah sendiri, namun sampai hari ini tetap terasa seperti bangunan asing yang menolak kehadirannya.

Ia memegang plastik hitam berisi lauk sederhana ikan asin dan tempe goreng. Murah. Bau. Tidak pantas untuk rumah sebesar ini, begitu kata ibu mertuanya kemarin.

Pintu kayu jati terbuka sedikit. Cahaya lampu ruang makan tumpah ke teras, memperlihatkan meja panjang dengan kursi-kursi empuk. Keluarga itu sudah duduk rapi. Tertawa. Hangat. Lengkap.

Kecuali satu kursi.

“Kamu baru pulang?” suara itu dingin, tanpa menoleh. Ayah mertuanya, Pak Armand, memotong daging dengan pisau perak. Gerakannya pelan, terukur, seolah setiap irisan adalah keputusan penting.

“Iya, Pak,” jawab Defit pelan. Suaranya hampir tenggelam oleh hujan.

Tatapan mata itu akhirnya terangkat. Tajam. Mengukur. Lalu berhenti sebentar di plastik hitam di tangan Defit.

“Kerja seharian cuma bawa itu?”

Nada suaranya datar, tapi Defit tahu itulah bentuk penghinaan yang paling disukai lelaki itu.

Defit menelan ludah. “Maaf… gaji saya belum cair.”

Tawa kecil terdengar dari ujung meja. Bukan tawa lepas. Lebih seperti desahan yang sengaja dilepaskan.

“Selalu saja alasan,” kata ibu mertua, Bu Ratna, sambil menyendok sup hangat ke mangkuk porselen. “Kalau begini terus, anak saya makan apa?”

Defit menoleh pada istrinya.

Maya.

Perempuan yang dulu menatapnya dengan mata berbinar saat mereka menikah diam-diam. Perempuan yang menggenggam tangannya dan berjanji akan bertahan bersama, apa pun yang terjadi.

Kini Maya hanya menunduk. Jemarinya menggenggam sendok. Tidak membela. Tidak menatap. Tidak berkata apa-apa.

Dan di situlah sesuatu di dada Defit retak sedikit lagi.

“Sudah,” kata Pak Armand akhirnya. “Kamu makan di belakang saja. Jangan merusak selera makan.”

Tidak ada amarah dalam suara itu. Justru karena itulah kata-kata itu terasa lebih kejam.

Defit mengangguk. Ia selalu mengangguk. Sejak pertama kali melangkah ke rumah ini sebagai menantu tanpa harta, tanpa jabatan, tanpa nama keluarga besar.

Ia berjalan ke dapur belakang. Ruangan sempit, lembap, hanya diterangi satu lampu kuning redup. Di sinilah ia biasa makan. Sendiri. Di atas meja kayu yang kakinya sudah goyah.

Ia duduk, membuka plastik, dan memandangi makanan itu lama sekali.

Beginikah hidupku sekarang?

Di luar, suara tawa kembali pecah dari ruang makan. Suara piring beradu. Gelas diangkat. Kehangatan yang tak pernah menyentuhnya.

Defit menyuapkan nasi ke mulut, tapi rasanya hambar. Tenggorokannya terasa sempit. Ada panas yang naik ke mata, tapi ia menahannya. Menangis di rumah ini hanya akan menambah satu alasan bagi mereka untuk merendahkannya.

Malam semakin larut. Hujan berubah deras.

Ketika Defit selesai makan dan mencuci piringnya sendiri, ia melangkah keluar ke halaman belakang. Udara dingin menyambut. Bau tanah basah menguar kuat.

Di sudut halaman, berdiri pohon tua. Akar-akar besarnya mencuat dari tanah, seperti tulang belulang raksasa yang tak pernah dikubur dengan layak.

Defit berdiri di bawahnya, memejamkan mata.

Ia tidak tahu kenapa dadanya terasa sesak malam ini. Lebih berat dari biasanya. Seolah ada sesuatu yang menumpuk, menekan dari dalam, meminta dilepaskan.

“Apa aku salah menikah?” bisiknya pada hujan.

Tidak ada jawaban.

Namun… angin tiba-tiba berembus aneh. Tidak kencang, tapi berputar, berdesir di sekitar akar pohon. Defit membuka mata.

Untuk sesaat hanya sesaat ia merasa tanah di bawah kakinya bergetar pelan. Sangat halus. Hampir tak terasa.

Ia menggeleng. Mungkin hanya capek.

Langkah kaki terdengar dari belakang. Maya berdiri di ambang pintu dapur, memeluk dirinya sendiri.

“Kamu… jangan terlalu dipikirkan,” katanya pelan. Tidak mendekat. “Ayah memang begitu.”

Defit menatapnya. Ada seribu kata di tenggorokannya. Tentang rasa sakit. Tentang harga diri yang diinjak setiap hari. Tentang kesepian yang semakin menggerogoti.

Namun yang keluar hanya satu kalimat.

“Aku sudah berusaha, May.”

Maya terdiam. Lalu berkata lirih, “Aku tahu.”

Tapi matanya berkata sebaliknya.

Ia kembali masuk ke rumah. Pintu tertutup. Bunyi klik kecil itu terdengar sangat keras di telinga Defit.

Ia kembali sendirian.

Hujan turun makin deras. Di bawah pohon tua itu, Defit merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya bukan marah, bukan sedih.

Melainkan… kosong.

Dan di dalam kekosongan itu, samar-samar, seperti ada bisikan yang muncul dari dalam tanah.

Pelan. Berat. Tua.

Bertahanlah sedikit lagi…

Defit menggigil. Ia menoleh cepat. Tidak ada siapa-siapa.

Namun entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa malam ini bukan sekadar malam penghinaan biasa.

Ada sesuatu yang sedang menunggunya.

Dan hidupnya… baru saja mulai runtuh.

1
kurnia
up thor
grandi
awal yang menarik semoga,
terus menarik ceritanya 👍
megga kaeng: trimakasih🙏
total 1 replies
grandi
jangan gantung ya thor🙏
megga kaeng: siap🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!