Terjerat utang ratusan juta dan ancaman pernikahan paksa, Alisha kehilangan segalanya termasuk kenangan dari kekasihnya. Di tengah keputusasaan, ia bertemu Aruna, wanita kaya berwajah identik yang menawarkan kontrak gila: Bertukar hidup demi pelunasan utang.
Alisha terjun ke dunia mewah yang palsu, namun tantangan sesungguhnya adalah kakak laki-laki Aruna. Pria dingin namun sangat penyayang itu mulai mencurigai perubahan pada "adiknya" sosok yang kini tampak lebih lembut dan tulus. Di balik kemegahan yang dingin, Alisha menyadari bahwa menjadi orang lain jauh lebih berbahaya daripada menjadi miskin saat ia mulai mempertaruhkan hatinya pada pria yang kini menjadi pelindungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Kesepakatan di Tepi Jurang
Sepuluh menit yang diberikan Aruna baru berjalan dua menit ketika ponsel di saku Alisha bergetar hebat. Nama "Aliando" berkedip di layar. Dengan tangan gemetar, Alisha menggeser tombol hijau.
"Halo, Ali?"
"Kak! Kak Alisha di mana?! Jangan pulang sekarang, Kak!" Suara Aliando terdengar pecah dan serak, napasnya memburu di sela ringisan menahan sakit.
Jantung Alisha mencelos. "Ali, ada apa? Kenapa suara kamu begitu?"
"Darwis, Kak... tua bangka brengsek itu datang ke rumah!" Aliando berteriak, suaranya bergetar karena amarah yang memuncak.
"Dia bawa kotak-kotak perhiasan emas. Dia bilang itu seserahan untuk melamar Kakak. Dia pikir keluarga kita semurah itu! Dia pikir Kakak bisa dibeli!"
Darah Alisha seolah berhenti mengalir.
"Terus... apa yang terjadi? Kamu nggak apa-apa, kan?"
"Ali hampir habisi dia, Kak! Kalau bukan karena Mama yang menangis memohon-mohon supaya Ali berhenti, sudah Ali pastikan tua bangka itu pulang dengan nyawa di ujung tanduk! Ali nggak peduli kalau setelah itu Ali harus masuk penjara atau mati di tangan anak buahnya! Ali nggak sudi kehormatan Kakak diinjak-injak seperti ini!"
"Ali, tenang dulu..." Alisha berusaha bicara meski suaranya sendiri bergetar.
"Nggak bisa, Kak! Anak buahnya pasang badan, jadi Ali hantam salah satu dari mereka sampai mukanya hancur. Sekarang mereka mengancam akan meratakan rumah kita kalau Kakak tidak muncul malam ini juga untuk menemui Darwis. Dia terobsesi sama Kakak, dia mau Kakak sekarang juga! Jangan pulang, Kak! Lari sejauh mungkin!"
Deg.
Kepala Alisha mendadak berdenyut hebat. Rasa takut dengan tawaran yang diberikan Darwis kemarin menghantuinya kini menjelma menjadi monster nyata. Bayangan Darwis dengan senyum menjijikkannya seolah menari di depan mata, sementara bayangan Aliando yang babak belur karena melindunginya membuat hatinya hancur berkeping-keping.
Alisha menurunkan ponselnya dengan lemas. Ia tidak lagi mampu menjawab teriakan panik Aliando yang terus memanggil namanya di seberang sana. Fokusnya kini hanya pada satu titik, sosok wanita yang berdiri tenang beberapa meter darinya.
Aruna masih di sana, mengamati dari balik kacamata hitamnya seolah sedang menonton drama picisan yang membosankan.
"Waktu memang tidak pernah berpihak pada orang miskin, bukan?" suara Aruna memecah keheningan, dingin dan penuh kemenangan.
"Adikmu punya nyali, tapi nyali saja tidak bisa membayar utang sembilan puluh juta atau menghentikan peluru dari anak buah Darwis."
Alisha menatap Aruna dalam-dalam. Menatap 'fotokopi' wajahnya sendiri yang kini terlihat seperti satu-satunya rakit di tengah badai. Ia meremas tali tasnya hingga buku-buku jarinya memutih. Logikanya mati, digantikan oleh naluri melindungi sang adik dan keluarganya.
"Aku terima," ucap Alisha, suaranya pelan namun tajam.
"Aku akan menjadi kamu."
Senyum Aruna tersungging di balik masker sutranya, terlihat dari sudut matanya yang sedikit berkerut. "Pilihan yang cerdas, Alisha. Turunlah dari rooftop ini. Sebuah mobil hitam sudah menunggumu di lobi utara. Kita akan menandatangani kontrak dan melenyapkan masalahmu dalam sekejap."
Setelah mengatakan itu, Aruna berbalik dan melangkah pergi dengan keanggunan seorang ratu, meninggalkan Alisha sendirian di tengah deru angin yang makin kencang.
Alisha memejamkan mata erat-erat, merapalkan doa yang terasa getir di lidahnya. Ia hanya berharap, jalan pintas yang ia ambil demi menyelamatkan Aliando dan harga diri keluarganya tidak membawanya menuju neraka yang lebih gelap.
semoga bisa bertahan sampai akhir ceritanya y thor..
semangat ✊✊