Seorang pemuda yang sejak lahir telah ditakdirkan menderita. Bakatnya dicuri, keluarganya dihancurkan, ia dijual sebagai budak. Namun dari abu kehancuran itu, ia bangkit sebagai api yang membakar segalanya.
Xu Hao bukan pahlawan biasa. Ia adalah pemberontak sejati, seseorang yang menolak takdir, menentang kehendak Langit, dan menempuh jalannya sendiri: Dao Pemberontakan. Dengan kekuatan ini, ia mampu melampaui batas-batas kultivasi konvensional, menghancurkan hukum alam, dan bahkan melukai makhluk yang dianggap dewa.
Namun di balik keganasannya, tersimpan luka yang tak pernah sembuh. Cintanya pada Lianxue, gadis yang setia menanti ribuan tahun, menjadi satu-satunya cahaya dalam kegelapan. Dan saat cahaya itu padam, Xu Hao kehilangan segalanya. Enam ribu tahun ia terpuruk dalam kegilaan, hanya mampu menyebut satu nama: Xue'er.
"Ayah ibuku dibunuh. Cintaku mati di pelukanku. Takdir telah mempermainkanku! Kini giliranku mempermainkan takdir."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arena Bawah Tanah Kota Feng Yuan
Mereka sampai di sebuah ruangan besar bawah tanah. Di tengah ruangan ada arena berbentuk lingkaran dengan diameter seratus meter, dikelilingi oleh pagar energi transparan. Di sekeliling arena, ratusan orang duduk di kursi-kursi batu atau berdiri berkelompok. Semuanya memancarkan aura dewa.
Xu Hao mengamati sekeliling. Dewa Bumi bintang tiga, bintang empat, bintang lima. Bahkan beberapa orang di sudut ruangan memancarkan tekanan yang membuat Xu Hao merasakan bahaya. Mungkin mereka bintang tujuh atau delapan.
Zhang Hu melangkah ke tengah ruangan, menarik perhatian banyak orang. Beberapa orang menoleh, lalu tersenyum sinis.
"Lihat lihat! Zhang Hu datang lagi!" seru seorang pria gendut dengan suara keras. "Apa kau bawa petarung baru lagi? Yang kemarin sudah mati, yang minggu lalu juga mati. Berapa banyak nyawa yang mau kau korbankan, Komandan?"
Yang lain tertawa. "Dia selalu membawa orang orang aneh. Katanya petarung kuat, tapi selalu mati di ronde pertama!"
Zhang Hu tersenyum lebar, tidak tersinggung sama sekali. Dia menepuk pundak Xu Hao.
"Hari ini berbeda, Tuan-Tuan! Aku membawa pendatang baru! Seorang pemberani yang percaya diri!"
Semua orang menatap Xu Hao. Beberapa mengerutkan kening, yang lain tersenyum mengejek.
"Dewa Bumi bintang tiga? Itu petarung? Di arena ini, bintang tiga adalah umpan!"
"Dia akan mati dalam sepuluh detik!"
"Zhang Hu, kau benar benar gila!"
Xu Hao diam saja. Matanya menyapu ruangan, memperhatikan setiap sudut, setiap wajah, setiap kemungkinan ancaman. Wajahnya tetap dingin.
Zhang Hu berbisik di telinganya, "Kau lihat mereka? Mereka meremehkan kita. Tapi aku punya firasat, kau berbeda. Tolong, menangkan ini. Aku malu terus diejek seperti ini."
Xu Hao menatapnya tajam. "Kau mempermainkanku? Membawaku ke tempat seperti ini tanpa menjelaskan apa pun?"
Zhang Hu mengangkat kedua tangannya. "Hei, hei, tenang. Ini kesempatanmu. Jika kau bisa menang, aku akan memberikan apa pun yang kau mau. Identitas, informasi, sumber daya. Aku orang yang menepati janji."
"Dewa bintang lima bicara seperti itu pada dewa bintang tiga?" Xu Hao tersenyum dingin. "Aku bisa membunuhmu sekarang jika kau berbohong."
Zhang Hu terkekeh. "Tunjukkan kelayakanmu dulu. Jika kau bisa menang di arena ini, baru kita bicara."
Pembawa acara, seorang pria kurus dengan kumis tipis, melompat ke panggung kecil di samping arena. Suaranya keras memenuhi ruangan.
"Hadirin sekalian! Hari ini kita kedatangan peserta baru! Seorang pemberani yang siap menunjukkan taringnya! Silakan turun ke arena!"
Xu Hao melangkah maju. Dia tidak terburu buru, tidak ragu. Setiap langkahnya mantap, seolah menginjak tanah musuh. Saat dia mencapai tengah arena, semua suara mereda.
Xu Hao membuka mulut. Suaranya dingin, memotong keheningan.
"Siapapun itu, maju. Aku Xu Hao, datang ke sini untuk membunuh."
Hening.
Lalu tiba tiba ruangan meledak dalam tawa.
"Anak muda sombong!"
"Kau tahu di mana kau berada? Ini arena bawah tanah Feng Yuan!"
"Bocah bintang tiga bicara besar!"
Namun di antara tawa itu, beberapa orang hanya tersenyum tipis, mengamati Xu Hao dengan mata menyipit. Mereka yang kuat tidak tertawa. Mereka memperhatikan.
Seorang pria kurus dengan wajah tirus melompat turun ke arena. Di dahinya, empat bintang bersinar terang.
"Baiklah Tuan Muda Xu," katanya dengan senyum licik. "Jangan kecewakan diriku. Aku sudah lama tidak merasakan daging segar."
Pembawa acara berseru dengan semangat meledak ledak.
"Wah wah wah! Hari ini sangat menarik! Turnamen bawah tanah kita didatangi Dewa Bumi yang sangat percaya diri! Sekarang mari kita lihat sejauh mana dia bisa melangkah! Karena itu... Taruhan bisa dimulai sekarang!"
Semua orang langsung bergerak ke meja taruhan di pojok ruangan. Kantong kantong kristal ilahi dikeluarkan dari cincin penyimpanan. Kristal ilahi rendah dan tinggi ditumpuk di atas meja, memantulkan cahaya redup.
Zhang Hu bergerak paling cepat. Dia mengeluarkan satu kantong besar dari cincinnya, meletakkannya di meja dengan bunyi berat.
"Ini sebagian harta milik keluarga Zhang! Aku pertaruhkan hari ini!"
Semua orang tertegun, lalu tertawa.
"Kau gila Zhang Hu! Harta keluarga kau pertaruhkan untuk petarung bintang tiga?"
"Dia benar benar sudah kehabisan akal!"
Zhang Hu menatap mereka dengan keyakinan. "Ini untuk pertarungan pertama. Tidak perlu banyak bicara!"
Pembawa acara tersenyum lebar. Suaranya menggema.
"Baiklah! Karena taruhan di pertarungan pertama dipenuhi semangat, maka siapapun yang menang taruhan hari ini hanya akan dikenakan pajak sepuluh persen dari kami!"
Semua orang yang bertaruh tertegun. Mata mereka membelalak. Beberapa wanita menjerit haru. Pria pria kuat menangis tersedu sedu.
"Sepuluh persen? Biasanya empat puluh persen!"
"Ini mukjizat!"
"Ini hadiah dari Dewa Primordial!"
Zhang Hu mengepalkan kedua tangannya, wajahnya memerah. Dia berteriak sekencang tenaganya.
"Hei Xu Hao! Jika kau bisa memenangkan pertarungan ini, aku rela menjadi budakmu!!!"
Suara itu menggema di seluruh ruangan.
Semua orang terdiam.
Sunyi.
Lima detik berlalu. Sepuluh detik.
Beberapa orang mengelap keringat dingin di dahi mereka. Yang lain menelan ludah dengan susah payah. Pembawa acara sampai harus ditopang oleh dua pelayan wanita agar tidak jatuh pingsan.
Dan di tengah keheningan itu, suara Xu Hao terdengar jelas.
"Aku menolaknya."
Pembawa acara langsung tersadar. Matanya membelalak, lalu tinjunya menghantam udara hingga ruang retak.
"Huaaaaaaaaaaa!!! Luar biasa!!! Ini gila! Sungguh gila!!!"
Semua orang tersadar dari keterkejutan mereka. Ruangan langsung dipenuhi tawa terbahak bahak. Ada yang memegang perut, ada yang menepuk paha, ada yang sampai terjatuh dari kursi.
"Zhang Hu! Kau ditolak jadi budak!"
"Rendahan sekali!"
"Petarungmu bahkan tidak mau kau jadi budaknya!"
Zhang Hu hanya tersenyum kecut, menggelengkan kepala.
Pembawa acara mengangkat tangannya, menghentikan tawa. Suaranya menggelegar.
"Sekarang... Mulailah pertarungan pertama!!!"
Semua mata tertuju ke arena.
Pria kurus bintang empat itu tersenyum. Tangannya bergerak, membentuk segel. Energi ilahi berkumpul di sekitarnya.
Xu Hao mengayunkan tangannya.
Gerakannya santai. Seperti mengusir lalat.
Detik berikutnya, kepala pria kurus itu hancur.
Bukan pecah. Bukan meledak. Hancur menjadi partikel daging dan tulang yang berhamburan. Tubuhnya masih berdiri beberapa detik sebelum akhirnya roboh.
Xu Hao mengulurkan tangan. Jiwa pria itu, berupa bola cahaya redup, ditarik paksa keluar dari tubuh yang sekarat. Jiwa Dewa Bumi itu meronta, berteriak tanpa suara. Xu Hao tidak peduli. Dia menengadah, membuka mulut, dan menelan jiwa itu utuh utuh.
Di Dantiannya, Dao Pemberontakan bekerja cepat. Jiwa itu dihancurkan, energinya diserap, esensinya dimurnikan. Semua berlangsung dalam hitungan detik. Kultivasi Xu Hao yang baru saja mencapai bintang tiga beberapa jam lalu, kini merambat naik. Bintang keempat mulai terbentuk di dahinya.
Sunyi.
Luar biasa sunyi.
Semua orang terpaku. Mulut mereka terbuka, tapi tidak ada suara keluar. Bahkan bernafas pun terasa berat.
Seorang pria gendut dengan perut buncit tiba tiba menunjuk Xu Hao dengan jari gemetar.
"Dia... dia sesat! Sangat sesat! Ini dibenci oleh Hakim Dewa!"
Pembawa acara tersadar dari pingsan ringannya. Dia menatap pria gendut itu dengan tatapan kosong, lalu menjawab dengan suara serak.
"Sesat perut gendutmu itu! Kita semua di sini dewa dewa sesat!"
Pria gendut itu menggaruk kepalanya, lalu tertawa canggung.
"Hahaha, aku lupa! Aku juga dewa sesat!"
Semua orang tersadar. Sorak sorai meledak memenuhi ruangan.
"Luar biasa!"
"Dia menelan jiwa!"
"Itu teknik iblis murni!"
"Dia lebih sesat dari kita!"
Xu Hao berdiri di tengah arena, tidak bergerak. Matanya dingin menatap penonton. Suaranya kembali terdengar, memotong keributan.
"Ada lagi yang mau maju?"
Semua orang hening. Mata mereka menyipit, mencoba menganalisis apa yang baru saja terjadi. Serangan apa itu? Kenapa begitu mudah? Dewa Bumi bintang tiga membunuh bintang empat dalam satu gerakan?
Seorang pria kekar dengan wajah penuh bekas luka melompat turun. Di dahinya, lima bintang bersinar.
"Aku lawan kau!"
Zhang Hu, yang sejak tadi hanya terpaku, tiba tiba tersadar. Dia berlari ke meja taruhan, mengeluarkan semua kristal ilahi yang baru saja dia menangkan.
"Aku pasang semua! Semua untuk Xu Hao!"
Orang orang terkejut. Mereka ragu ragu. Tapi akhirnya, karena tidak ingin ketinggalan, beberapa orang ikut bertaruh. Kali ini taruhan jauh lebih besar dari sebelumnya.
Pertarungan dimulai.
Pria kekar itu tidak memberi kesempatan. Dia langsung menyerang dengan tinju penuh energi ilahi. Tinju itu bisa menghancurkan gunung. Xu Hao bergerak sedikit menghindar. Lalu tangannya bergerak.
PLAK!
Kepala pria itu hancur. Xu Hao menelan jiwanya. Bintang kelima di dahinya mulai terbentuk samar.
Sunyi lagi.
Pertarungan ketiga. Dewa Bumi bintang enam maju. Seorang wanita dengan rambut perak. Dia lebih hati hati. Menggunakan teknik jarak jauh. Xu Hao menghindari tiga serangan, lalu sekali ayunan tangan, kepala wanita itu hancur. Jiwa ditelan. Bintang kelima semakin jelas.
Keempat. Bintang tujuh. Seorang lelaki tua dengan jubah hitam. Dia memanggil bayangan bayangan iblis. Xu Hao mengayunkan tangan. Bayangan itu hancur. Kepala lelaki tua itu hancur. Jiwa ditelan.
Kelima. Bintang tujuh lagi. Enam. Bintang delapan.
Setiap pertarungan berlangsung sama. Satu ayunan tangan. Satu kepala hancur. Satu jiwa ditelan.
Hingga Xu Hao mengalahkan sepuluh musuh.
Bintang di dahinya kini mencapai delapan. Dewa Bumi bintang delapan. Dalam satu jam, dia naik lima tingkat. Energi di tubuhnya bergolak hebat, tapi Dao Pemberontakan menekan semuanya tetap stabil.
Arena sunyi total. Tidak ada yang berani turun lagi.
Semua orang menatap Xu Hao dengan campuran takut dan kagum. Di sudut ruangan, beberapa Dewa Bintang sembilan dan sepuluh yang sejak tadi hanya diam, kini mulai memperhatikan dengan serius. Mata mereka menyipit, mencoba mengukur kedalaman Xu Hao.
Zhang Hu tersungkur di lantai. Tubuhnya gemetar. Air mata mengalir di wajahnya. Dia merangkak mendekati Xu Hao, lalu membenturkan kepalanya ke lantai berulang kali.
"Terima kasih! Terima kasih! Ampuni aku! Ampuni aku karena membawamu ke tempat ini! Aku tidak tahu kau segila ini! Ampuni aku!"
Xu Hao menatapnya datar. "Berdiri."
Zhang Hu langsung berdiri, masih gemetar.
"Identitas," kata Xu Hao singkat. "Informasi. Itu janjimu."
Zhang Hu mengangguk cepat cepat. Dia mengumpulkan semua kristal ilahi yang dia menangkan. Tumpukan yang sangat banyak, cukup untuk membuat keluarga kaya raya selama ratusan tahun, lalu memasukkannya ke cincin penyimpanan.
"Ikut aku," katanya dengan suara masih bergetar. "Kita bicara di kediaman keluarga Zhang. Dengan tenang."
Xu Hao mengangguk. Dia melangkah meninggalkan arena, diikuti Zhang Hu yang berjalan agak di belakang, seperti pelayan mengikuti tuannya.
Semua orang di ruangan itu hanya bisa terdiam, menatap punggung Xu Hao yang menjauh. Malam ini, nama Xu Hao akan tersebar di kalangan bawah tanah Kota Feng Yuan. Seorang Dewa Bumi bintang tiga yang dalam satu jam naik ke bintang delapan, membunuh sepuluh lawan dengan satu gerakan, dan menelan jiwa mereka seperti camilan.
dan Tahta tertinggi untuk Cinta adalah Cinta kpd Tuhan
"...sepertinya pertarungan kita setahun yang lalu tidak memberikan efek jera padamu"