Di tengah beban hidup yang menghimpit, Xiao Han— pemuda 22 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga, berjuang mati-matian menghidupi ibunya yang lumpuh serta membiayai pendidikan adik perempuannya yang baru kelas 1 SMP. Gaji sebagai tukang antar surat tak pernah cukup untuk menutupi biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari.
Dengan putus asa namun tekad kuat, Xiao Han akhirnya membuka jasa panggilan pria, dan mempromosikannya secara diam-diam di media sosial. Awalnya hanya sebagai cara bertahan hidup, layanan ini perlahan membawanya masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: pertemuan-pertemuan rahasia, rahasia klien, dan batasan moral yang terus diuji.
Hingga suatu malam, satu panggilan khusus datang, sebuah pengalaman yang tak terduga, penuh risiko, dan emosi yang mengubah segalanya. Pertemuan itu bukan hanya mengguncang hidupnya saat ini, melainkan juga membuka pintu menuju masa depan yang akan mengubah kehidupannya secara drastis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Pagi itu tepat pukul 08:55, Xiao Han sudah berdiri di depan pagar hitam rumah Vina di Jl. Mawar Elok No. 12. Dia membawa tas kecil berisi handuk bersih, minyak pijat netral yang biasa dia pakai, dan sebotol lotion aromaterapi lavender yang dia beli pagi tadi di minimarket dekat kontrakan. Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya, bukan karena takut, tapi karena ingatan akan pemandangan kemarin sore: tubuh Vina yang perlahan terbuka di ambang kamar.
Pintu pagar terbuka otomatis begitu dia menekan bel. Vina sudah menunggu di teras, mengenakan kimono mandi putih tipis yang panjangnya hanya sampai pertengahan paha. Rambut cokelatnya tergerai basah, seolah baru mandi. Senyumnya lembut, tapi matanya penuh antisipasi.
"Mas Xiao Han tepat waktu. Masuk."
Dia mengantar Xiao Han langsung ke lantai atas tanpa banyak bicara. Kamarnya masih sama seperti kemarin: tempat tidur king size dengan seprai putih bersih, aroma lavender samar dari diffuser yang sudah menyala, cahaya pagi yang lembut menyusup melalui tirai tipis. Di meja samping ada botol minyak esensial berlabel "ylang-ylang" dan "jasmine", lilin kecil yang belum dinyalakan, serta handuk tambahan yang sudah dilipat rapi.
Vina berhenti di tengah kamar, menoleh ke Xiao Han.
"Saya sudah mandi air hangat tadi pagi. Kulit saya masih lembab. Mulai dari refleksi kaki dulu, lalu punggung, lalu... seluruh tubuh. Saya ingin full sensual, Kak. Tidak perlu buru-buru. Saya bayar 8 juta karena saya ingin merasakan setiap detiknya."
Xiao Han mengangguk pelan, suaranya tetap tenang meski dadanya berdegup. "Baik, Mbak Vina. Silakan berbaring telungkup dulu. Saya mulai dari kaki."
Vina melepas ikatan kimono mandinya dengan satu tarikan lembut. Kain sutra itu meluncur ke lantai seperti air terjun pelan, memperlihatkan tubuh telanjangnya sepenuhnya.
Tubuh Vina adalah lukisan hidup yang sempurna dalam kesederhanaannya. Kulitnya putih susu dengan sedikit rona keemasan alami di bahu dan lengan, bukti dia kadang berjemur pagi di taman belakang. Pinggangnya ramping, melengkung lembut menuju pinggul yang berisi tapi tidak berlebihan, membentuk garis hourglass yang alami dan menggoda. Dua gunung kecil tapi tegas di dadanya naik-turun pelan mengikuti napasnya yang mulai cepat, puncaknya merah muda lembut seperti kelopak mawar muda. Perutnya rata dengan garis samar otot halus yang terlihat saat dia bernapas dalam, tanda dia rutin olahraga ringan, mungkin yoga atau pilates. Kakinya panjang dan proporsional, betisnya berlekuk indah, paha bagian dalam halus tanpa cela. Di antara kedua pahanya, danau surga yang rapi dan bersih, hanya ditumbuhi sedikit bulu halus yang hampir tak terlihat, seperti kabut tipis di pagi hari.
Dia berbaring telungkup di atas handuk besar yang sudah disiapkan, kepala menghadap ke samping, rambut cokelatnya tersebar di bantal. Tubuh bagian belakangnya bulat sempurna, naik sedikit saat dia menyesuaikan posisi, memperlihatkan garis belah yang halus dan mengundang.
Xiao Han menuang minyak ylang-ylang ke telapak tangannya, menggosok hingga hangat. Dia mulai dari telapak kaki Vina, jari-jarinya menekan titik refleksi dengan tekanan sedang, memijat perlahan dari tumit ke jari kaki. Vina menghela napas panjang, tubuhnya langsung melemas.
"Bagus... seperti itu..." desahnya pelan.
Xiao Han naik ke betis, lalu paha belakang. Jari-jarinya meluncur lembut di kulit yang licin karena minyak, kadang menekan lebih dalam di titik-titik tegang, kadang hanya mengusap ringan seperti belaian. Saat tangannya mendekati pangkal paha, Vina sedikit membuka kakinya lebih lebar, undangan diam yang jelas.
Dia melanjutkan ke punggung. Minyak jasmine dituangkan langsung ke tulang belakang Vina, lalu tangan Xiao Han mengikuti alur itu, dari bahu ke pinggang, lalu kembali naik dengan gerakan melingkar. Otot-otot kecil di punggung Vina bergetar pelan setiap kali jempolnya menekan titik akupresur. Napas Vina semakin berat, sesekali disertai desahan kecil yang tak bisa ditahan.
"Balik badan, Mbak," kata Xiao Han pelan setelah hampir setengah jam.
Vina berbalik dengan gerakan lambat, seperti kucing yang malas tapi penuh godaan. Kini dia telentang sepenuhnya. Dua gunung kecil itu naik-turun lebih jelas sekarang, puncaknya mengeras karena udara sejuk dan antisipasi. Perutnya bergerak pelan, dan danau surga di antara pahanya sudah sedikit berkilau karena minyak dan kelembaban alami tubuhnya.
Xiao Han mulai dari perut, jari-jarinya mengusap melingkar di sekitar pusar, lalu naik ke bawah dada, menghindari dua gunung itu dulu. Vina menggigit bibir bawahnya, matanya setengah tertutup.
"Sentuh aku di mana saja, Kak..." bisiknya. "Jangan ragu."
Xiao Han menuang minyak lagi, kali ini langsung ke dada Vina. Tangannya meluncur lembut di atas dua gunung nirwana itu, melingkar, mengusap, kadang menekan pelan di sekitar puncak tanpa langsung menyentuhnya. Vina melengkungkan punggung, mengerang pelan. Saat akhirnya jempolnya menyentuh puncak yang mengeras itu, tubuh Vina bergetar hebat, kakinya membuka lebih lebar lagi.
Tangan satunya turun ke perut bawah, lalu ke paha dalam. Jari-jarinya menyusuri garis selangkangan, mendekati danau surga yang sudah basah. Dia tidak langsung masuk, hanya mengusap pinggirnya dengan lembut, melingkari titik sensitif di atasnya dengan ujung jari yang licin minyak. Vina menggeliat, pinggulnya naik menyambut sentuhan itu.
"Lebih... dalam..." desahnya, suaranya hampir memohon.
Xiao Han menurunkan kepalanya pelan, bibirnya menyentuh kulit perut Vina dulu, lalu turun semakin ke bawah. Lidahnya menyusuri garis pinggir danau surga, mengeksplorasi setiap lipatan dengan lambat dan penuh perhatian. Vina mengerang lebih keras, tangannya meraih rambut Xiao Han, menekannya lebih dalam.
Sensasi itu luar biasa, hangat, basah, manis. Tubuh Vina bergetar seperti daun di angin kencang. Xiao Han menggunakan jari dan lidah secara bergantian, menemukan ritme yang membuat napas Vina semakin tak beraturan. Saat akhirnya dia memasukkan satu jari dengan lembut, Vina menjerit kecil, tubuhnya menegang hebat.
Puncak datang seperti ombak besar, Vina melengkung keras, namanya keluar dari bibir Xiao Han dalam desahan panjang, tubuhnya bergetar hebat beberapa detik sebelum akhirnya melemas sepenuhnya di atas seprai yang sudah kusut.
Xiao Han naik pelan, berbaring di sampingnya. Vina membuka mata perlahan, wajahnya memerah, napas masih tersengal.
"Itu... luar biasa," katanya pelan, tangannya menyentuh pipi Xiao Han. "Kamu... lebih dari yang aku bayangkan."
Xiao Han hanya tersenyum tipis. Di dadanya, rasa puas bercampur dengan rasa bersalah yang semakin familiar. Dia tahu, setelah ini, batas antara "pekerjaan" dan "keinginan" semakin kabur lagi.
Dan dia tidak yakin bisa kembali ke garis itu.