SEKUEL DARI CINTA LAMA BELUM KELAR
Dalam kisah ini didominasi perjalanan cinta antara Sasa dan Sakti, restu orang tua dari Sakti yang belum juga turun, meski pernikahan mereka sudah berjalan kurang lebih 5 tahun, bahkan kedua anak Iswa sudah sekolah, namun hubungan mertua dan menantu ini tak kunjung membaik.
Kedekatan Sakti dan kedua anak mendiang adiknya, Kaisar, Queena dan Athar membuat Sasa overthinking dan menuduh Sakti ada fair dengan Iswa. Setiap hari mereka selalu bertengkar, dan tuduhan selingkuh membuat Sakti capek.
Keduanya memutuskan untuk konsultasi pernikahan pada seorang psikolog yakni teman SMA Sakti, Mutiara,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PINJAM MAMA
Tak hanya Iswa yang dibuat mama terharu oleh rencana Athar, sang Oma juga ikutan mewek karena melihat cucunya begitu mendamba kehadiran papa Kaisar.
Oma juga sempat bertanya kamu mau punya papa baru? Dan Athar bilang gak mau papa baru, cuma mau pinjam papa Davin saja. Rasanya hati Oma seperti diremas sakit tak terkira. Anak sekecil Queena dan Athar tumbuh tanpa timangan sang papa. Meski ada Opa dan Popo, tetap saja kehadiran papa kandung yang bisa menemani mereka tidur setiap saat sangat diharapkan.
"Kamu beneran gak mau menikah lagi, Wa?" tanya mama sembari mengupas mangga, malam ini Iswa dan kedua anaknya menginap di rumah utama, karena Athar ingin tidur bersama poponya. Mungkin efek pinjam papa Davin gak terwujud.
Setiap ada pertanyaan itu, Iswa langsung menggeleng. "Kenapa?" tanya mama memastikan untuk kesekian kalinya.
"Iswa masih belum punya pikiran untuk punya suami baru, meski demi kelengkapan anggota keluarga bagi anak-anak, Ma. Masih belum move on dari Mas Kaisar. Bisa dibilang, Iswa malas memulai pendekatan, beradaptasi dimulai dari 0, belum tentu lelaki itu bisa sayang sama Queena dan Athar. Iswa belum siapa saja menghadapi drama akibat menikah dengan membawa dua anak. Lagian Mas Kai juga sudah sangat mencukupi apa kebutuhan kami, Ma. Gak mungkin Iswa dapat untuk kedua kalinya sosok suami yang baik, perhatian, mapan, dan usil seperti Mas Kai. Khawatir Iswa yang malah menjadi istri toxic karena membandingkan Mas Kai dengan suami baru Iswa."
Mama hanya tersenyum. "Ya kalau itu laki-laki dari luar, kalau dengan Sakti?" mama memberanikan diri menyodorkan putra sulungnya. Meski kemarin sempat membuat baper anak orang, Mutiara yang diaku mama sebagai calon mantu.
"Iswa ingat betul bagaimana Mas Kai dulu merengek, takut kalau aku naksir Bang Sakti atau sebaliknya, karena kata Mas Kai, kita tuh mirip. Makanya aku gak mau membuat Mas Kai sedih juga. Maaf, Ma. Anak mama masih terlalu Iswa cintai," ujarnya sembari mengusap air mata.
Mama mengelus punggung tangan sang menantu, tak jadi melanjutkan mengupas mangga. "Mama cuma mau kalian bahagia, gak ada tujuan lain. Sungguh, mendengar Athar yang mau pinjam papa temannya, mama nelangsa sekali. Sejak bayi, Athar gak pernah merasakan gendongan Kaisar. Mama pikir dia ingin papa baru," ucap beliau tak kuasa menahan tangis.
"InsyaAllah anak-anak tidak menuntut papa baru, Ma. Mereka hanya kangen, entahlah Ma, mungkin karena cinta Mas Kai sama aku sangat besar, sehingga aku juga mau menjaga cintanya saja. Saat Mas Kai dikubur dulu, Iswa memang pernah tercetus gak mau menikah lagi. Lebih baik membesarkan Queena dan Athar, agar menjadi anak yang baik, dan penuh cinta seperti papanya. Sejak saat itu, hidup Iswa sudah mati, Ma. Cuma Mas Kai saja yang dikubur, harapan, cita-cita dan keinginan Iswa sudah gak penting, tapi Iswa berdiri dan masih sehat begini hanya karena anak-anak saja, Ma."
"Mama tahu, mama bisa merasakan kamu hidup untuk mereka," ujar mama sembari memeluk menantunya itu. Ada rasa lega, dan bahagia karena Kaisar masih dicintai Iswa begitu besar.
Pembicaraan kedua perempuan ini didengar oleh Sakti, ia tersenyum tipis, ada rasa iri pada mendiang sang adik, karena Kaisar dicintai begitu hebat dan tulus oleh istrinya. Memang Iswa sudah jodoh Kaisar selamanya mungkin, sampai sudah lima tahun berlalu pun, Sakti tidak punya kesempatan untuk memiliki Iswa.
"Harusnya kamu dengar ucapan Iswa ini, Sa. Agar kamu tidak overthinking padanya, aku tidak akan bisa menggantikan posisi Kai di hati Iswa sampai kapan pun," gumam Sakti kembali ke kamar, niatnya ingin mengambil air tak jadi, lebih baik kembali bermain dengan dua ponakannya saja.
Setelah drama pinjam papa dianggap selesai oleh Iswa, kini kepala perempuan itu kembali dibuat puyeng oleh sebuah chat yang bisa ia tebak berasal dari papa Davin.
Selamat siang, mohon maaf sebelumnya. Saya papa Davin, teman sekelas Mas Athar. Saya mendapat nomor mama Mas Athar di grup kelas. Sekali lagi mohon maaf, anak saya kemarin mendapat cookies cokelat dari Mas Athar, katanya buatan mama Mas Athar. Sekarang anak saya, Davin, opname di rumah sakit, panas katanya minta pinjam mamanya Mas Athar. Mohon maaf sebelumnya 🙏🙏🙏.
Pastinya papa Davin sudah mentok, menghadapi permintaan sang putra, sampai chatnya pun seperti tak enak hati. "Drama bocil kok gak selesai-selesai sih," ujar Iswa sembari memegang pelipisnya. Ia tahu maksud papa Davin chat ini agar Iswa menjenguk Davin sembari membuat cookies seperti kemarin. Ya memang, weeekend kemarin, Iswa sengaja membuat agenda cookies time bersama Queena dan Athar, dan Athar hari senin membawa sekotak cookies, tak tahu kelanjutannya akan seperti ini.
"Pasti Athar kasih cookies sembari bilang ini buatan mamaku, cookiesnya enak, dibuat penuh cinta, coba deh!" begitu Elin membayangkan Athar ceriwis pada teman-temannya. "Kaisad banget ya, Wa!" lanjut Elin masih dengan tawa gemas pada bocah laki-laki ganteng itu.
"Iya, asbunnya Athar mirip sama Mas Kai," ujar Iswa.
Keesokan hari, Iswa menyempatkan menjenguk Davin ke rumah sakit setelah mengantar kedua anaknya, sembari membawa kue bolu pisang yang ia buat tadi malam, Iswa bilang pada Athar besok akan menjenguk Davin ke rumah sakit sembari membawa bolu ini. Begitu pintarnya Athar, yang bahagia karena sang mama berniat menjenguk temannya, meski dia tidak diizinkan ikut ke rumah sakit, masih kecil dilarang ke rumah sakit, kata Iswa dan dipatuhi Athar. Athar pun bersemangat melumat pisang kepok agar bolunya semakin enak, manis, dan harum.
Iswa bertemu dengan nenek Davin, dan beliau langsung gembira saat mengetahui bahwa yang datang adalah mama Athar, sampai-sampai lengan Iswa dipegang erat oleh nenek Davin.
"Tante boleh peluk?" tanya Davin terlihat begitu bahagia setelah bertemu dengan mama Athar. Iswa tersenyum, melihat Davin rasa keibuannya muncul layaknya memeluk Athar.
"Boleh, dong!" ucap Iswa mendekat, lalu memeluk Davin dengan sayang. Iswa mengelus punggung gemoy Davin, dan yang membuat Iswa terenyuh, saat Davin berkata oh begini ya rasanya dipeluk mama.
Rasanya hati Iswa tak karuan, ia mendadak berkaca-kaca, teringat dia kehilangan orang tua sekaligus, kehilangan Kaisar, dan ternyata ada yang lebih menyedihkan hati, seorang anak yang tak pernah mendapat pelukan sang ibu.
"Aku bahagia, bolehkah aku memanggil tante mama? Aku gak punya mama sejak bayi, kata Athar mamanya baik, cantik, terus sayang banget sama Athar dan Queena, aku mau juga disayang tante!" rengek Davin, Iswa hanya tersenyum sembari mengacak rambut Davin.
"Teman Athar boleh memanggil mama juga ke tante. Oh ya, kata Athar kamu suka sekali cookies buatan tante, ini tante bawakan!" ucap Iswa sembari menunjukkan sekotak bolu pisang.
"Wah, aku mau makan, mau makan!" ujar Davin semangat, sang nenek langsung lega sekali. Beliau langsung sigap mengambilkan piring agar sang cucu makan bolu tersebut. Namun, Iswa sadar sarapan dari rumah sakit belum tersentuh.
"Tapi sebelum makan bolu, perutnya harus diisi dengan makan nasi dulu, agar tak sakit, karena bolunya manis."
"Iya, tante tapi aku makan kalau disuapin Tante!"
Iswa mengangguk, lalu dengan telaten menyuapi Davin dengan lahap. Ah, hanya perhatian kecil dari pinjam mama Athar membuat kondisi Davin pun membaik.
eh kok g enak y manggil nya