NovelToon NovelToon
Braja Geni

Braja Geni

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Pusaka Ajaib
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Lahir pada malam 1 Suro setelah dikandung dua belas bulan, seorang bayi menjadi incaran para pendekar aliran hitam dan putih. Di tengah pertumpahan darah, ia menghilang dari dunia manusia.
Diasuh oleh makhluk mitos di rimba purba, ia tumbuh dengan ilmu yang tak dikenal perguruan mana pun. Ia belajar dari angin, dari api, dan dari naluri alam.
Saat dewasa, Braja Geni kembali ke dunia persilatan.
Kehadirannya menggemparkan jagat kanuragan. Jurusnya tak berpihak pada putih maupun hitam—ia adalah kekuatan baru yang mengancam keseimbangan.
Namun di balik kesaktiannya, tersembunyi rahasia kelahiran dan takdir besar yang akan menentukan arah dunia persilatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Malam ketiga akhirnya datang.

Bulan menggantung sempurna di langit. Bulat, utuh, dan bercahaya terang. Sinarnya jatuh ke wajah-wajah mereka yang kelelahan. Mata ketiganya terasa berat, seolah diganduli batu kali. Kelopak mereka bergetar menahan kantuk yang semakin menjadi.

Sesekali Laras tak sadar matanya melayu… lalu hampir terpejam.

“Laras! Jangan tertidur! Kau akan gagal!” seru Braja tegas.

Laras tersentak, napasnya tercekat.

“Hampir saja…” gumamnya pelan, berusaha menegakkan kepalanya kembali.

“Hey, Braja. Biarkan saja dia molor. Kenapa kau membantunya?” ucap Jatisangkar santai.

Braja menoleh tajam.

“Kau ini aneh, Kakang Jati. Kau mau adikmu gagal?”

Jatisangkar mendengus.

“Biarlah dia gagal. Wanita itu tempatnya di dapur. Kasur. Dapur. Kasur. Untuk apa belajar silat?”

Ucapan itu tajam dan culas.

Laras menatapnya dengan kesal.

“Itulah pikiran pria kolot seperti kamu, Kang.”

Perdebatan mereka belum selesai ketika tiba-tiba—

Auuuuuuuuuuuu…

Lolong serigala terdengar panjang dari kejauhan.

Angin mendadak berhenti.

Langit yang tadinya cerah perlahan berubah. Sinar bulan yang putih kini memerah… seperti dilumuri darah.

Ki Baraya yang memantau dari atas pohon membuka matanya perlahan.

“Purnama Kliwon… akhirnya datang,” gumamnya dalam hati.

Ia berkelebat turun, berdiri tak jauh dari mereka.

“Kalian bertiga, jangan sampai tertidur. Satu saja tertidur… kalian gagal semuanya. Paham?”

“Paham, Yah,” jawab mereka serempak, meski suara mulai terdengar lemah.

Suasana malam itu berbeda.

Heningnya terasa hidup.

Sinar purnama merah menyelimuti wajah mereka seperti selimut darah tipis. Udara terasa berat. Kepala mereka pening. Pandangan mulai kabur.

Sinar bulan itu seakan menarik kesadaran mereka… menjauh dari jati diri masing-masing.

Dan perlahan… halusinasi pun dimulai.

Jatisangkar tiba-tiba tak lagi berada di hutan.

Ia berdiri di dalam istana megah.

Dindingnya berlapis emas. Lantainya mengilap seperti cermin. Ia duduk di singgasana raja yang tinggi dan agung.

Tubuhnya mengenakan pakaian kebesaran berhiaskan permata. Mahkota emas bertengger di kepalanya.

Di sekelilingnya berdiri para selir dan permaisuri yang cantik jelita, tersenyum manja padanya. Para pengawal berlutut. Rakyat bersorak memuji namanya.

“Hidup Baginda Jatisangkar! Raja teragung di semesta!”

Dadanya mengembang.

Inilah yang ia inginkan.

Kekuasaan.

Pengakuan.

Semua tunduk padanya.

Namun dari kejauhan, samar-samar terdengar suara Ki Baraya bergema dalam benaknya—

“Musuh terberat adalah dirimu sendiri…”

Singgasana itu terasa semakin nyaman.

Terlalu nyaman.

Dan kantuk yang sejak tadi ia lawan… kini berubah menjadi godaan yang manis.

Sementara itu, di dunia nyata, Laras dan Braja melihat Jatisangkar tersenyum-senyum sendiri seperti orang linglung. Kadang tangannya menunjuk ke udara kosong, kadang tertawa pelan tanpa sebab.

“Kakang Jati… apa yang terjadi padamu? Hei?” tanya Laras cemas.

Jatisangkar tak merespons. Matanya semakin melayu. Kepalanya mulai terangguk-angguk seperti hendak terlelap.

Braja panik.

“Kang, jangan tidur! Kaaang!”

Namun kelopak mata itu terus turun. Dagunya hampir menyentuh dada.

“Bahaya… woiii, Barokokooook! Banguuuun!” teriak Laras keras.

Mendengar sebutan yang paling ia benci, Jatisangkar tersentak.

“Huaaaah! Bajingan! Aku raja! Hahaha! Mana singgasanaku? Siapa yang berani memanggilku barokokok? Akan kuhukum cambuk!” teriaknya masih setengah sadar.

Laras mendengus.

“Pala kau yang dicambuk. Hampir saja kau tertidur dan membuat kita semua gagal, Kang!”

Braja menatapnya serius.

“Kang Jati… kau tadi mungkin sedang bermimpi?”

Jatisangkar menggeleng keras.

“Tidak! Aku tidak tertidur. Itu bukan mimpi. Semuanya terasa nyata. Istana… singgasana… suara rakyat… semua jelas di mataku.”

Braja terdiam sejenak. Ia menengadah menatap bulan purnama yang kemerah-merahan. Kabut tipis berputar rendah di sekitar mereka. Udara terasa ganjil, seperti bergetar pelan.

“Hmmm… inilah ujiannya,” ucap Braja perlahan. “Kita akan dipaksa menghadapi diri kita sendiri.”

Laras mengangguk pelan.

“Kau benar, Kang. Yang kita lihat barusan bukan dunia luar… tapi isi hati kita.”

Angin berembus lirih.

Sinar purnama merah itu seperti menembus dada mereka, mengorek keinginan terdalam yang tersembunyi.

Jatisangkar terdiam.

Singgasana itu masih terasa nyata dalam ingatannya.

Dan untuk pertama kalinya… ia mulai sadar bahwa musuhnya bukan Braja, bukan Laras, bukan bahkan dunia.

Melainkan ambisinya sendiri.

Berbeda dengan Jatisangkar, beberapa saat kemudian Laras tiba-tiba berteriak sendiri.

“Hiyaaaat! Hiyaa! Mampus kau, bedebah! Ilmuku lebih tinggi darimu! Akan kumusnahkan kau! Kuhancurkan! Kubumihanguskan! Heyaaa!” teriaknya dalam igauan halusinasi.

Wajahnya tegang seperti benar-benar sedang bertarung.

Jatisangkar melongo.

“Ini kenapa lagi anak ini? Kehabisan obatkah?” gumamnya bingung.

“Sepertinya Laras mulai berhalusinasi,” sahut Braja dengan wajah cemas.

Perlahan, mata Laras mulai menguncup. Kepalanya menunduk sedikit demi sedikit.

“Lihat itu! Matanya mulai tertutup! Hei, Laras! Jangan tidur! Woy, bangun! Kau mau membuat kita gagal?!” seru Jatisangkar.

“Laras, kuatkan jiwamu!” ujar Braja keras. “Itu hanya bayangan! Lawan!”

Namun Laras terus menunduk.

Dan makin menunduk.

“Waduh, ini kacau! Gimana ini, Braja? Kita bisa gagal!” Jatisangkar mulai panik.

“Aku juga tak tahu, Kang! Laraaaasss!” teriak Braja panjang.

Tak ada respons.

Tubuh Laras sudah hampir lunglai.

Dalam kepanikan itu, tiba-tiba Jatisangkar mendapat ide liar.

“Hey! Katakan kau suka padanya! Cepat! Sebelum terlambat!” bisiknya tergesa.

Braja terbelalak.

“Apa?! Tapi… tapi…”

“Kalau kau masih pakai ‘tapi’, kita semua gagal! Cepat, Braja!” desak Jatisangkar semakin panik.

Braja menelan ludah. Wajahnya memerah. Jantungnya berdegup lebih kencang dari saat latihan api.

“B-baiklah… Laras…” suaranya gemetar. “Aku… suka kamu.”

Seolah petir menyambar—

Jrenggg!

Mata Laras terbuka lebar. Melotot.

“Apa?? Kau serius, Braja?” tanyanya tajam.

Laras kini sepenuhnya terjaga.

Tak ada rasa syukur dalam hati Braja meski melihat Laras bangun. Justru keringat dingin mengalir di pelipisnya. Jantungnya tak lagi berdebar karena ujian… melainkan karena pengakuan yang terlanjur terucap.

Ia menoleh ke Jatisangkar dengan tatapan ingin mencekik.

Jatisangkar hanya mengangkat bahu, berusaha menahan senyum nakalnya.

Di kejauhan, Ki Baraya yang menyaksikan semuanya menyipitkan mata.

“Menarik…” gumamnya pelan.

Malam Purnama Kliwon itu bukan hanya membuka unsur mereka.

“Maaf, Laras… aku dipaksa Kakang Jati supaya kau terbangun. Ibu… Ayah… oh—Ayah? Ibu… itukah kalian? Jangan pergi… aku ikut…”

Belum selesai Braja menyusun kalimatnya, pandangannya mendadak kosong. Sorot matanya berubah sayu. Nafasnya melambat.

Ia telah terseret ke dalam bayang semu miliknya sendiri.

Di hadapannya kini berdiri dua sosok yang begitu ia rindukan.

Seorang lelaki tegap dengan tatapan hangat. Seorang perempuan lembut dengan senyum yang tak pernah ia lupakan.

Ayah dan ibunya.

Mereka membelai rambut Braja perlahan. Sentuhan itu terasa nyata. Hangat. Penuh kasih.

“Braja… kami datang,” ujar sang ayah dengan suara berat yang akrab di telinganya. “Dan kelak… kita akan bertemu kembali.”

Braja gemetar.

“Ayah… Ibu… kalian benar-benar di sini…”

Sang ayah menatapnya dalam-dalam.

“Ingatlah satu nama, Braja. Warok Gondosupit Dialah yang merenggut nyawa kami.”

Suara itu bukan sekadar bayangan kosong. Itu ruh asli Ki Martanu yang menyusup ke dalam ruang halusinasi Purnama Kliwon.

Wajah Braja berubah. Duka bercampur bara.

Ibunya tersenyum lembut, meski matanya menyimpan kesedihan.

“Kami tak bisa lama-lama, Nak. Purnama Kliwon telah memanggil kami kembali. Ketahuilah… kami selalu menyayangimu.”

Braja ingin meraih tangan mereka. Namun jari-jarinya hanya menyentuh udara tipis.

“Jangan tertidur, Braja,” lanjut Ki Martanu. “Kau ditakdirkan menjadi pendekar yang akan menumpas kemungkaran. Jangan biarkan dendam membutakan hatimu. Jadilah api yang menerangi… bukan yang membakar tanpa kendali.”

Perlahan, tubuh kedua ruh itu mulai memudar. Cahaya merah purnama menyelimutinya.

“Tidak… Ayah! Ibu! Jangan pergi!” seru Braja putus asa.

Sosok itu semakin samar. Senyum terakhir ibunya terpatri dalam ingatannya.

“Sampai jumpa lagi, Nak…”

Dan mereka pun lenyap.

Di dunia nyata, air mata mengalir dari sudut mata Braja.

“Tidak… Ibu… Ayah… jangan tinggalkan aku…” lirihnya dengan suara pecah.

1
raigor
semangat thor...cerita nusantara
👁Zigur👁: thanks 🙏
total 1 replies
abdulR
😍👍💪ok
anggita
like👍2☝☝iklan buat novel laga lokal
👁Zigur👁: thanks kak anggit.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!