NovelToon NovelToon
Mereka Mengira Aku Buta

Mereka Mengira Aku Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Balas Dendam
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Khanza

Elena adalah seorang tunangan dari pria bernama Marcus Leonhardt, dia adalah asisten di perusahaan pria itu. Suatu ketika Marcus membawa seorang perempuan bernama Selena Vaughn yang seorang konsultan komunikasi. Di suatu malam mobil yang di kendarai Elena ada yang mengikuti dan terjadilah BRUUKKK , kecelakaan…dimana Elena akhirnya sadar dan dia membuat keputusan berpura - pura buta. Apakah semua akan terungkap? Siapakah yang mengikuti Elena? Dan bagaimanakah kisah Elena selanjutnya?

On going || Tayang setiap senin, rabu & jumat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Uji Kendali

Marcus memutuskan untuk berhenti menunggu.

Instingnya sudah terlalu lama berisik, dan ia bukan tipe pria yang membiarkan suara itu tumbuh menjadi keraguan. Pagi datang dengan udara yang terasa lebih dingin dari biasanya. Matahari masuk lewat jendela kamar kerja, tapi tidak membawa ketenangan.

Laptop di depannya menyala sejak pagi. Layar menampilkan rekaman akses internal lapisan terdalam sistem yang bahkan sebagian direktur tidak tahu keberadaannya. Marcus menelusuri log demi log dengan kesabaran seorang pemburu.

Tidak ada kesalahan besar. Tidak ada jejak kasar.

Hanya… pola. Akses kecil. Teratur. Hampir tidak signifikan jika dilihat sepintas. Namun Marcus tidak melihat sepintas. Ia melihat ritme. Dan ritme itu… terlalu manusiawi.

Tangannya berhenti di mouse. Waktu akses terakhir.

Tiga menit sebelum ia pulang tadi malam. Marcus mengingat lorong sunyi. Dapur. Elena yang berdiri membilas cangkir. Terlalu tenang. Ia menutup laptop perlahan. Jika Elena memang bermain maka ia melakukannya sambil berdiri tepat di hadapannya.

Dan Marcus tidak yakin apakah itu membuatnya marah atau tertarik.

Sarapan berlangsung dalam keheningan yang rapi.

Elena duduk di tempat biasa. Posturnya sempurna. Tangannya bergerak tanpa ragu saat menyentuh sendok, cangkir, piring. Tidak ada satu gerakan pun yang terlihat seperti pencarian arah.

Marcus mengamatinya tanpa berusaha menyembunyikan hal itu.

“Kau terlihat sibuk,” kata Elena ringan.

Marcus mengangkat alis. “Aku memang sibuk.”

“Kau menatapku sejak aku duduk.”

Nada itu netral. Bukan menuduh. Hanya observasi.

Marcus tersenyum tipis. “Aku memastikan kau tidak menjatuhkan kopi.”

Elena terkekeh pelan. “Kalau aku menjatuhkannya, itu berarti aku sengaja.” Jawaban itu ringan namun ada sesuatu di baliknya yang membuat Marcus berhenti bernapas sepersekian detik.

Permainan kata.

Atau peringatan.

Ia tidak menanggapi. Hanya meminum kopinya perlahan, sambil mencatat satu hal Elena tidak pernah terlihat defensif. Dan orang yang tidak defensif biasanya memegang kendali.

Di kantor, Selene sudah menunggu sebelum Marcus masuk. Ia berdiri terlalu tegak. Tangannya memegang tablet dengan tekanan yang tidak biasa.

“Kita perlu bicara,” katanya pelan.

Marcus menutup pintu tanpa menjawab.

Selene langsung menyalakan layar tablet. Grafik akses muncul. “Ada seseorang yang membaca jalur arsip lama. Bukan mengambil. Hanya membaca.”

Marcus tidak terlihat terkejut. “Kau tahu siapa?” tanyanya.

Selene ragu.

Hanya sepersekian detik—tapi Marcus melihatnya.

“Bilang.”

Selene menelan ludah. “Aksesnya… menggunakan kredensial internal tingkat rendah. Tapi jalurnya… diarahkan.”

“Diarahkan oleh siapa?”

Sunyi.

“Selene.”

“Aku tidak tahu,” katanya akhirnya. Terlalu cepat.

Marcus melangkah mendekat.

“Kalau kau tidak tahu,” katanya pelan, “berarti seseorang sedang bermain di belakangmu.”

Tekanan kalimat itu terasa seperti tangan di tenggorokan.

Selene menarik napas. “Aku bisa menutup jalurnya.”

“Tidak,” kata Marcus.

Selene menatapnya.

“Biarkan terbuka,” lanjut Marcus. “Aku ingin melihat sampai sejauh mana dia berani.”

Selene tidak bertanya siapa “dia”. Karena mereka berdua sudah memikirkan nama yang sama.

Dan menyebutnya terasa seperti mengakui sesuatu yang belum siap mereka hadapi.

...****************...

Sore itu, Elena menerima kunjungan yang tidak diumumkan. Langkah Adrian berhenti di ambang ruang tamu. Matanya langsung memindai ruangan sebelum duduk.

“Kau mempercepat ritme,” katanya pelan.

Elena tidak menyangkal.

“Marcus mulai menguji sistem,” lanjut Adrian. “Dia membiarkan akses tetap terbuka.”

Elena tersenyum tipis. “Tentu saja.”

Adrian menggeleng kecil. “Itu berarti dia sedang memancing.”

Elena menyandarkan punggung. “Dan aku sedang berenang ke arah kailnya.”

Adrian menatapnya lama. “Ini bukan permainan kecil lagi.”

“Tidak pernah kecil,” jawab Elena tenang. “Hanya terlihat begitu dari luar.”

Ia berdiri, berjalan menuju jendela.

“Marcus tidak takut kehilangan uang,” katanya. “Dia takut kehilangan kendali. Jadi aku tidak menyentuh uangnya.”

“Lalu?”

“Aku menyentuh rasa pastinya.”

Adrian menghembuskan napas. “Itu lebih berbahaya.”

Elena tersenyum samar. “Persis.”

Malam turun lebih cepat dari yang Elena sadari.

Rumah terasa berbeda ketika Marcus pulang. Ada energi yang tidak terlihat, tapi terasa seperti listrik statis di udara diam, namun siap menyambar.

Elena duduk di sofa dengan buku terbuka di tangannya. Ia tidak benar-benar membaca. Ia mendengarkan.

Langkah Marcus terdengar dari lorong. Berat. Terukur. Tidak tergesa tapi juga tidak santai. Ia berhenti beberapa detik sebelum masuk ruang tamu. Mengamati. Elena merasakan tatapan itu seperti sentuhan.

“Kau pulang lebih cepat,” katanya tanpa menoleh.

Marcus bersandar di ambang pintu. “Aku ingin memastikan rumah masih berdiri.”

Elena tersenyum kecil. “Sejauh ini… ya.”

Sunyi jatuh.

Marcus berjalan mendekat. Ia berdiri cukup dekat untuk melihat detail—gerakan mata Elena, arah kepalanya, cara napasnya naik turun. Tidak ada keraguan. Tidak ada tanda seseorang yang hidup dalam kegelapan.

“Bagaimana harimu?” tanyanya.

“Tenang,” jawab Elena. “Terlalu tenang.”

Marcus mengangkat alis. “Kau tidak suka tenang?”

“Aku suka kejujuran,” katanya ringan. “Dan ketenangan jarang jujur.”

Kalimat itu menggantung di antara mereka.

Marcus menatap buku di tangannya. “Kau membaca?”

“Berpura-pura,” jawab Elena santai. “Kadang orang lebih jujur saat mengira aku tidak memperhatikan.”

Marcus tertawa kecil. Namun matanya tetap tajam.

Ia duduk di kursi seberang, menjaga jarak yang cukup untuk melihat seluruh tubuh Elena.

“Kau membuat banyak orang gugup akhir-akhir ini,” katanya.

Elena menutup buku perlahan. “Orang gugup biasanya menyimpan sesuatu.”

“Dan kau tidak?”

Elena menoleh ke arahnya. Tatapan itu tepat sasaran. “Aku menyimpan banyak hal,” katanya tenang. “Bedanya… aku tahu kapan harus membukanya.”

Marcus merasakan sesuatu bergerak di dadanya.

Bukan marah. Bukan takut. Ketertarikan yang berbahaya. Ia berdiri.

“Kau berubah,” katanya.

Elena mengangguk kecil. “Aku berkembang.”

Marcus mendekat satu langkah lagi.

“Perkembangan sering kali menyakitkan,” katanya pelan.

Elena tersenyum tipis. “Terutama bagi orang yang tidak siap.”

Mata mereka bertemu. Tidak ada yang mundur. Tidak ada yang berkedip. Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, Marcus merasa seperti berdiri di depan seseorang yang tidak bisa ia prediksi.

Dan Marcus membenci sekaligus menikmati perasaan itu.

Di kamar kerja, Marcus menutup pintu lebih keras dari yang ia sadari. Tangannya langsung menuju laptop. Log akses menyala kembali. Dan di sana

gerakan baru. Akses kecil. Cepat. Bersih. Sedang berlangsung. Sekarang. Marcus menahan napas.

Jari-jarinya bergerak cepat, menelusuri jalur digital itu seperti mengikuti jejak kaki di pasir basah.

Ritmenya… familiar.

Tenang.

Percaya diri.

Seolah pelaku tahu tidak sedang dikejar. Marcus memperbesar jendela pemantauan. Lokasi akses:

internal.

Rumah.

Marcus membeku.

Perlahan, sangat perlahan, ia mengangkat kepala ke arah pintu kamar kerja.

Sunyi.

Hanya dengung sistem.

Namun sekarang suara itu terasa seperti detak jantung.

Marcus berdiri.

Langkahnya ringan saat membuka pintu. Lorong gelap. Ruang tamu kosong. Buku Elena masih di meja.

Marcus berjalan ke arah kamar. Pintu terbuka sedikit. Lampu redup. Elena duduk di tepi ranjang.

Tangannya kosong. Tatapannya mengarah lurus ke depan.

“Kau mencariku?” tanyanya pelan.

Marcus menahan ekspresi. “Kau tidak tidur?”

“Belum.”

“Kenapa?”

Elena mengangkat bahu kecil. “Ada hal yang terasa… bergerak.”

Marcus berdiri di ambang pintu, mengamatinya.

Tidak ada ponsel. Tidak ada laptop. Tidak ada apa pun. Namun log masih berjalan. Marcus merasakan logika dan instingnya bertabrakan.

“Tidurlah,” katanya akhirnya.

Elena mengangguk.

“Kau juga,” jawabnya.

Marcus menutup pintu. Dan kembali ke kamar kerja.

Log berhenti. Persis saat pintu tertutup. Marcus menatap layar.

Sunyi.

Tidak ada jejak baru. Tidak ada kesalahan. Sempurna. Terlalu sempurna. Ia duduk perlahan.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Marcus tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Di balik pintu kamar, Elena membuka mata. Tangannya bergerak pelan ke bawah bantal.

Sebuah perangkat kecil tersembunyi di sana.

Layarnya gelap sekarang. Ia menekannya sekali.

Mati total. Elena menghembuskan napas panjang.

Detak jantungnya stabil. Ia tidak tersenyum. Tidak perlu.

Permainan ini bukan tentang kemenangan cepat.

Ini tentang membuat lawan meragukan kenyataan mereka sendiri. Dan Marcus baru saja mulai mempertanyakannya.

Elena berbaring. Menutup mata. Membiarkan malam menyelimuti rumah yang penuh rahasia itu.

Karena ia tahu besok…

Marcus akan bangun dengan satu kebutuhan baru:

jawaban.

Dan Elena akan memastikan jawaban itu semakin sulit ditemukan. Jam menunjukkan lewat tengah malam ketika Marcus masih duduk di kursi kerjanya.

Lampu ruangan redup, hanya layar laptop yang menyinari wajahnya. Log sistem tetap bersih. Terlalu bersih. Seolah seseorang sengaja menghapus bukan hanya jejak—tetapi kemungkinan bahwa jejak itu pernah ada.

Marcus memutar ulang rekaman keamanan internal.

Lorong. Ruang tamu. Tangga. Tidak ada pergerakan mencurigakan. Tidak ada siapa pun. Namun instingnya tidak tenang. Ia memutar ulang lagi.

Dan lagi, pada putaran kelima, sesuatu menarik perhatiannya—bukan gerakan, melainkan ketiadaan.

Selama dua belas detik, rekaman terasa… hampa. Tidak ada noise visual. Tidak ada distorsi. Bahkan kamera paling stabil pun memiliki “napas” kecil dalam rekamannya. Yang ini tidak. Marcus memperbesar frame. Tetap bersih. Terputus dengan rapi. Tangannya berhenti di mouse. Seseorang tidak hanya masuk ke sistemnya. Seseorang memahami sistemnya. Dan itu jauh lebih berbahaya.

Marcus bersandar, rahangnya mengeras. Dalam hidupnya, kendali adalah fondasi. Tanpa itu, semua yang ia bangun hanyalah ilusi mahal.

Dan malam ini fondasi itu retak.

Di kamar, Elena belum benar-benar tidur.

Ia berbaring tenang, napas teratur, namun pikirannya bergerak tajam. Ia bisa merasakan perubahan atmosfer rumah—ketegangan yang mengalir seperti arus bawah tanah. Marcus sedang mencari. Bagus. Ia ingin Marcus merasakan sensasi yang selama ini ia ciptakan untuk orang lain: ketidakpastian.

Elena menggeser sedikit posisi tangannya di bawah selimut. Perangkat kecil itu sudah tidak aktif, namun kehadirannya cukup menenangkan. Bukan karena alatnya. Karena kontrolnya. Ia mengingat ekspresi Marcus di ambang pintu tadi. Keraguan sekilas. Itu adalah retakan pertama yang benar-benar ia lihat di dirinya.

Dan retakan, sekecil apa pun, selalu punya arah.

Elena membuka mata, menatap langit-langit yang gelap. Permainan ini belum tentang menjatuhkan.

Belum. Ini tentang membuat Marcus mempertanyakan setiap langkahnya sendiri. Setiap suara. Setiap keheningan. Dan ketika seseorang mulai meragukan realitasnya ia sudah setengah kalah.

Elena memejamkan mata kembali. Tidur datang perlahan. Di kamar kerja, Marcus masih terjaga. Dua orang. Satu rumah. Dan malam yang sama namun dengan perang yang berbeda. Besok, mereka akan bangun dengan wajah tenang. Seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal keduanya tahu sesuatu telah dimulai. Dan tidak ada yang akan berhenti sekarang.

Menjelang subuh, rumah itu terasa seperti menahan napas. Marcus akhirnya menutup laptop, bukan karena selesai melainkan karena ia tahu pencarian malam ini tidak akan memberinya jawaban. Hanya lebih banyak pertanyaan. Dan Marcus tidak pernah menyukai posisi itu. Ia berdiri, berjalan ke jendela. Kota mulai berubah warna, garis fajar tipis memotong langit. Dunia bersiap memulai hari baru.

Namun di dalam rumah ini, hari baru bukan berarti awal.

Melainkan kelanjutan dari sesuatu yang sudah bergerak terlalu jauh untuk dihentikan. Marcus memejamkan mata sejenak. Untuk pertama kalinya, ia tidak memikirkan strategi. Ia memikirkan kemungkinan kalah. Dan pikiran itu lebih mengganggunya daripada ancaman apa pun.

Di kamar, Elena membuka mata pada saat yang hampir bersamaan. Seolah mereka terhubung oleh perang yang tak terlihat.

Dan pagi pun datang, membawa senyum yang akan mereka pakai untuk menyembunyikan niat yang semakin tajam.

1
Kaka's
pembohong kamu marcus horison...
Serena Khanza: kiper indo 😭
total 1 replies
Sean Sensei
asli sedikit kah? kok aku bacanya kurang puas ya /Sob/
Serena Khanza: maklum kak awal awal masih dikit 🤭🤣

baru belajar nulis 🤭🤭
total 1 replies
Hunk
Ya aku juga menunggu hasil nya elena🤣
Serena Khanza: perlahan lahan meledak kak 🤭
total 1 replies
Hunk
Mantap bukti nya banyak banget ples kuat.
cimownim
cara Elena menghadapi laki-laki udah keren cerdas banget ya
Serena Khanza: Elena menghadapi laki-laki dengan diam dan tenang 🤭
total 2 replies
APRILAH
kehangatan di dalam kegelapan
Tiara Bella
skrng ngurigain Selena ya Marcus....
Tiara Bella: hooh ...
total 2 replies
Hunk
Alasan umum untuk semua orang yg telat "Jalanan macet"
Sean Sensei
/Sweat/ : belum di update mungkin google map nya
Kaka's
saya suka narasi seperti ini. karna langsung sy praktekkan sesuai instruksinya.. terangkat tipis 🤭🤭
Kaka's: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Khusnul Khotimah
sampek sini q blom paham yg jd masalah itu pa?kok sampek segitunya ...ni masalah harta/warisan kah?perselingkuhan?.ato penghianatan?
Khusnul Khotimah: oooooohhhh.... gtu ditunggu kelanjutanya thor.
total 2 replies
Panda
mau pindahin aset kayanya marcus
Jing_Jing22
nggk sabar buka bab selanjutnya. pengen tau nasib tuh dua orang
Jing_Jing22
target mulai masuk kedalam rencana elena
CACASTAR
dialognya kenapa masih kaku Thor.. harusnya semakin lama di antara mereka tentunya semakin dekat. bahkan atasan dan bawahan sekalipun makin tahun pasti makin akrab. Kata sapaannya pun akan menggunakan kata sapaan yg lebih akrab walaupun sopan.
Serena Khanza: iya kak makasih masukannya 👍🏻😊

next aku perbaiki lagi di penulisan supaya bisa lebih natural lagi 😊😊
total 1 replies
APRILAH
Otewe gofood aja deh, ngeri kalo pesen gitu 😄
Kaka's
sudah terlambat marcus horison... su terlambat...
Serena Khanza: wkwkwk 🤭🤭
total 3 replies
Hunk
Elena menurut ku keren banget. Dokumen aj bisa sampai dia ingat isi nya. Padahal mungkin halaman nya banyak banget.👍
Serena Khanza: soalnya dia asisten marcus
total 1 replies
Hunk
Dia sendiri ga nyaman udah berbohong./Shame/
Murdoc H Guydons
Obat buat apa? Mata kabur segitu mah ga ngefek di kasi obat.. 🤭
Murdoc H Guydons: oh iy ya.. haha..
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!